Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia

Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia
31


__ADS_3

SEperti yang sudah Ana duga hadiah pemberian Dylan yang sempat dia tolak, akhirnya kembali datang lagi ke kediamannya.


"Sayang kau tidak mau melihat isinya?" tanya Luna sambil menatap ke arah kamar Ana.


Ana keluar dari kamarnya setelah mendengar ada keributan dari arah ruang tamu, "Ibu saja yang liat apa isi dari semua hadiah itu," jawab Ana sambil menuruni anak tangga.


"Astaga kau ini."


Ana langsung duduk di samping Luna yang sedang memangku satu kotak hadiah berukuran besar.


"Coba buka isinya bu, saya mau liat!" pekik Ana tak sabar.


"Baiklah mari kita buka."


Serek!


Setelah kotak hadiah itu terbuka sebuah gaun berwarna biru malam dengan hiasan bunga mawar yang mengelilingi bahu gaun itu terlihat begitu cantik, terbungkus dengan rapi didalam kotak itu.


"Astaga!" Luna terkejut, saat melihat gaun yang begitu cantik terlihat didalam kotak itu.


"Ini cantik sekali," Luna langsung mengeluarkan gaun itu dari kotaknya.


"Bagaimana sayang? Apa kau suka?" tanya Luna yang langsung menoleh ke arah Ana.


"Sayang?"


Ana tidak tau harus merespon bagaimana, ini adalah kali pertama dirinya melihat gaun yang begitu cantik, dirinya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya perasaan Teri jika dia tau bahwa Dylan mengirimkan gaun secantik ini.


"Ibu... Apa menurut ibu ini tidak berlebihan?" tanya Ana.


"Apa maksud mu sayang?"


"Ibu kan juga tau, kita ini... adalah kelurga yang sudah diusir dari Ibu Kota, lalu kenapa Putra Mahkota mengirimkan hadiah ini pada kita? Bukankah seharusnya dia mengirim ini pada Nona Kalika!" pekik Ana.


Luna tidak tau harus merespon bagaimana, dirinya sendiri pun dibuat diam dengan ucapan Ana yang masuk akal, matanya kembali menoleh ke tumpukan hadiah yang masih terbungkus rapi.


"Liat ini semua ibu? Apa ini semua masuk akal! Rasanya harga diri ini seperti diinjak-injak, setelah kita diusir dari Ibu Kota lalu kenapa kita kembali diperlakukan seperti ini lagi?"


"Sayang?"


"Ibu... Apa aku memang pantas menerima ini semua?" tanya Ana dengan tatapan yang sedang terluka, Luna hanya diam.


Tidak mau membuat Luna sedih, Ana kembali beralih ke tumpukan hadiah yang ada di sana, matanya langsung beralih kepada kotak hadiah yang berukuran sedang, dengan begitu penasaran Ana langsung membuka kotak hadiah itu.


Serek!


"Sepatu!"


Ana terdiam menatap isi kotak itu, sebuah sepatu berwana biru mudah, mirip sekali dengan desain gaun yang diberikan oleh Dylan.


"Sepertinya mereka sepasang," ucap Luna menatap sepatu itu.


Mendengar ucapan Luna, Ana hanya diam dirinya kembali beralih mengambil kotak hadiah yang berukuran kecil, dengan penuh penasaran dirinya langsung membuka kotak hadiah itu.


Srek!

__ADS_1


"Astaga!"


Mau itu Luna ataupun Ana mereka sama-sama dibuat diam saat melihat isi dari kotak itu, sebuah perhiasan yang begitu cantik dan elegan, terdiri dari anting, gelang, kalung, hingga cincin semuanya terlihat sangat cantik terbungkus rapi didalam kotak itu.


"Sayang liat ada suratnya," pekik Luna memperlihatkan isi surat itu pada Ana.


Dengan penuh penasaran, Ana pun langsung membuka lipatan surat itu dan membacanya.


Aku tau matahari itu terang, matahari juga sering dianggap sebagai lambang kekaisaran, tapi dibalik itu semua, apa kamu tau arti sebuah bintang? walaupun tidak begitu terang namun banyak orang yang menaruh harapan pada bintang yang jatuh.


Sama seperti mu, walaupun kita sudah terpisah jauh namun aku punya harapan untuk kita bisa kembali lagi seperti dulu, melihat bintang bersama, dan mengucapakan keinginan kita disaat bintang jatuh, walau kamu sudah dinilai jelek dimata orang, namun bagi ku kau masih menjadi penerang ku dimalam ini atau pun seterusnya, aku masih menganggap mu sebagai bintang ku, karena hanya kamu harapan ku saat ini.


^^^Dylan Reston^^^


Dengan tangan yang sedikit bergetar, Ana langsung meremas kuat kertas surat itu, membuat Luna yang melihatnya dibuat bingung.


"Ibu, apa menurut ibu kita pantas menerima ini semua?" tanya Ana tiba-tiba.


"Bukankah di Kekaisaran pakaian yang begitu glamor menandakan bahwa kedudukan orang itu lebih tinggi, dibanding pada pakaian biasa?"


"Sayang, kenapa tiba-tiba kau mengatakan hal itu?" tanya Luna bingung.


Ana sangat ingat dengan apa yang telah ditulis untuk menciptakan sebuah dunia yang telah dia bayangkan, didalam cerita yang dia buat di kekaisaran pakaian yang begitu glamor menandakan kedudukan dari seseorang, semakin glamor pakaian itu maka kedudukan orang itu dinilai tinggi, begitu juga dengan kekuasaan yang mereka punya.


"Apa saya salah bicara bu? Pakaian ini, perhiasan ini, sangat berlebihan jika aku yang merupakan nona yang telah diusir memakainya!"


"Sayang!" Luna dengan lembut langsung menggenggam tangan Ana.


"Tatap mata ibu nak, jika ini memang berat untuk mu, kita bisa untuk menolaknya!"


Dengan tersenyum, Luna langsung menganggukkan kepalanya, "Tentu saja bisa."


"Tapi bu, ini semua kan pemberian dari Putra Mahkota! Kelurga kerajaan!" pekik Ana.


"Tidak apa-apa nak, lebih baik ibu tersiksa lagi dari pada ibu harus kembali melihat mu kembali suram, ibu tidak mau itu kembali terjadi nak."


Melihat wajah Luna yang terlihat sedih, membuat dirinya merasa tidak enak karena telah membuat ibu Teri kembali sedih seperti ini.


"Rasanya menyakitkan sekali," lirih Ana.


...~*~...


Malam harinya sebuah kereta kuda yang didatangkan secara langsung dari Istana telah datang ke kediaman kelurga Ronan, untuk mengantar Ana ke Istana.


"Baik-baik lah di sana, jika kau sudah merasa tidak nyaman jangan ragu untuk pulang," ucap Regis sambil mengelus kepala Ana dengan lembut.


"Baik ayah, kalo begitu aku pergi dulu, sampai ketemu lagi," balas Ana yang langsung masuk kedalam kereta kuda.


Setelah Ana masuk kedalam kereta kuda, kusir yang menjadi teman perjalananya pun langsung menutup pintu kereta kuda itu.


Ana melambaikan tangannya ke arah kedua orang tua Teri saat kereta kuda yang dia tumpangi telah berjalan menjauh dari tempat dia tinggal.


"Ha..."


Mata Ana langsung tertuju pada pemandangan yang ada diluar, gelap, sunyi, dah terasa lembab, jika dia pikir-pikir lagi, ini adalah kali pertamanya setelah dia merasuki tubuh Teri bisa berkunjung ke Istana yang belum pernah sama sekali dia kunjungi.

__ADS_1


Buk!


"Aduh!"


Ana merintis kesakitan, saat jalan menuju istana tidak semulus yang dia bayangkan, matanya tiba-tiba saja melirik kembali ke arah jendela yang memperlihatkan sebuah bangunan yang begitu begah dan terang dari jauh.


"Apa itu istana?" tanya Ana.


Akhirnya kereta kuda yang dia tumpangi sampai juga dihalaman istana, seseorang yang tidak dia kenal langsung membukakan pintu kereta kuda untuk Ana keluar.


"Selamat datang di istana Homounculus, Nona Ronan," ucap Pelayan itu mempersilahkan Ana keluar.


Dengan penuh kehati-hatian Ana turun dari kereta kuda itu, dengan bantuan pelayan itu.


"Terima kasih," ucap Ana yang langsung melepas genggamannya pada tangan Pria itu.


Ana langsung dibuat terpaku dengan bangunan yang ada dihadapannya, bahkan dirinya sendiri pun masih tidak percaya bahwa dunia ini dia sendiri yang membuatnya.


"Luar biasa."


Disaat Ana ingin menaiki anak tangga tiba-tiba saja perasannya menjadi tidak enak saat dirinya merasakan ada banyak sekali pasang mata yang melirik ke arah dirinya.


"Liat itu, apa dia masih punya rasa malu untuk datang ke sini?"


"Astaga aku tidak percaya bahwa orang itu akan diundang?"


"Mana mungkin dia diundang, paling juga dia datang sendiri."


"Astaga, kalo ku tau orang itu ada di sini, aku lebih baik tidak usah datang."


"Apa mata para metri sudah buta? Masa pembunuh seperti dirinya diundang sih?"


Tidak tau harus melakukan apa Ana memilih untuk diam, saat banyak pasang mata yang melirik dirinya dengan tajam.


Buk!


"Aw..."


"Astaga! Kau ini kenapa berdiri ditengah jalan? apa kau tidak tau jalan ini untuk orang masuk, bukan untuk tempat melamun!" pekik seorang perempuan sambil menatap Ana dengan sinis.


Ana tidak menjawab, dirinya langung kembali berdiri saat orang itu mendorong tubuhnya dengan kuat.


"Dasar!"


Setelah perempuan yang mendorong Ana pergi, Ana langsung mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, jadi seperti ini rasanya direndahkan oleh orang-orang.


"Apa Anda tidak apa-apa?"


"Ya?"


Deg!


Orang ini....


TBC

__ADS_1


__ADS_2