
Dengan keriuhan yang sedang terjadi Teri dihadapkan dengan banyak sekali jenis mana yang mengelilingi dirinya.
Dari angin, api, tanaman, tanah, pedang, hingga penyembuhan, semua elemen mana itu mengelilingi dirinya yang membuat Teri sedikit bingung dengan ini semua.
"Kau bisa menyentuh elemen itu jika memang kau cocok dengannya, namun jika tidak mereka akan langsung hilang dihadapan mu!" ucap Raja Elf pada Teri.
Setelah Teri selsai mendengar penjelasan dari Raja Elf, dia pun dengan pelan langsung berjalan mendekati mana yang berwarna coklat tua di mana, mana itu melambangkan tanah.
Syut!
"Eh!"
Semua mata Elf yang mempunyai mana tanah itu langsung tersenyum lebar, disaat tangan Teri waktu menyentuh mana itu, mananya menghilang.
"Jangan cemas! Masih banyak para elemen yang bisa kau sentuh!" sahut Raja Elf dari jauh.
Mendengar itu Teri kembali mendekati salah satu mana yang jaraknya sangat dekat dengan dirinya.
Syut!
"Hihihi Hilang lagi," sahut para Elf yang sedang menertawakan Teri.
"Syutt... Diam kalo nanti di dengar oleh Yang Mulia kalian bisa kena tegur," sahut Elf yang lain.
Seketika suasana di tempat itu menjadi tegang di saat Teri lagi-lagi gagal dalam menyentuh salah satu elemen di sana.
Apa aku ini memang memiliki mana yang kuat?
Teri seperti tidak ingin lagi melanjutkan ritual ini sudah banyak sekali para elemen yang dia sentuh menjadi hilang, bahkan ejekan, serta bisikan dari para Elf terus mengganggunya dalam berkonsentrasi.
"Kenapa kau berhenti?" tanya Raja Elf dengan matanya menatap tajam wajah Teri.
"Yang Mulia maaf, sepertinya saya sudah tidak bisa lagi melanjutkan ritual ini," ucapnya yang langsung menundukkan kepalanya ke arah Raja Elf.
"Apa?"
"Seperti yang sudah kalian liat, tidak ada para elemen yang mau saya sentuh, setiap elemen yang saya sentuh pasti akan menghilang!"
Buk!
seketika Raja Elf itu langsung menghentakkan tongkat miliknya yang membuat tempat itu langsung bergetar dengan kuat, membuat semua penghuni di sana langsung dibuat diam.
"Masih ada tiga elemen yang belum kau sentuh, habiskan semua elemen itu maka ritual ini bisa dianggap selesai!" sahut Raja Elf dengan tegas.
Mendengar ucapan dari Raja Elf Teri pun dengan perasaan yang begitu berat kembali melanjutkan ritual itu, kali ini dirinya menyentuh elemen air, dan lagi-lagi elemen itu hilang, yang membuat mata Teri kembali tertutup rapat.
Hilang lagi.
Kali ini hanya tersisa dua elemen saja, dengan hati-hati tangan Teri langsung menyentuh elemen yang berwarna gelap itu.
Syut!
Hilang lagi?
__ADS_1
Kali ini hanya tersisa satu elemen saja, apakah elemen ini juga akan hilang, kalo pun memang ini hilang itu berarti dirinya bukanlah makhluk terkuat seperti yang Raja Elf itu katakan.
Pelan-pelan saja Teri.
Dengan penuh kehati-hatian Ana menyentuh elemen itu, bersamaan dengan matanya yang tertutup rapat.
"Wah..."
"Wow... Liat itu... Elemennya tidak hilang!"
"Dia sudah menemukan mana yang cocok dengan tubuhnya," sahut Elf yang lain.
Mendengar ucapan para Elf, mata Teri pun langsung terbuka secara perlahan-lahan disaat dirinya menyadari bahwa elemen yang tadi dia sentuh tidak menghilang.
"Luar biasa," pekik Teri yang langsung membesarkan kedua matanya karena terkejut.
Semua para Elf pun langsung bertepuk tangan, begitu juga dengan Cleo serta pengikutnya, mereka semua bersorak dengan keberhasilan Teri, wajah Teri terlihat bahagia saat dirinya mengetahui bahwa mana yang dia miliki adalah penyembuhan.
"Ha... Ha... Cantik cantik sekali," pekik Teri saat melihat tanda mana itu telah muncul di atas lengannya.
Raja Elf pun langsung tersenyum begitu pula dengan Ana yang ikut bahagia,, mereka berdua pun kembali berjalan mendatangi Teri yang saat itu masih berdiri ditengah-tengah lapangan.
"Hebat Teri, kau telah berhasil."
"Ku pikir tadi, aku tidak bisa menemukan mana yang cocok dengan ku," balas Teri sambil tersenyum tipis.
"Kerja bagus," ucap Raja Elf pada Teri.
Teri pun hanya tersenyum mendapatkan respon yang baik dari Raja Elf, kali ini giliran Ana yang akan diuji, Teri dan Raja Elf pun langsung menyingkir dari tengah lapangan.
Seperti yang sudah Raja Elf lakukan pada Teri, kali ini pun dirinya melakukan hal yang sama dengan apa yang dia lakukan pada Ana.
Buk!
Setelah tongkat Raja Elf dihentakkan para elemen pun langsung muncul mengelilingi tubuh Ana yang sedang berdiri di tengah-tengah lapangan.
"Baiklah lakukan sekarang!"
Mendapatkan perintah dari Raja Elf, Ana pun dengan sigap langsung berjalan menyentuh para elemen itu, satu-persatu elemen yang dia panggang menghilang disaat tangannya ingin menyentuh elemen itu, kejadian ini persis sekali dengan apa yang sudah Teri lakukan sebelumnya, apakah dirinya juga akan mengalami nasib yang sama persis seperti Teri?
Hanya tinggal satu elemen saja, apakah ini yang akan jadi mana ku?
Dengan perasaan ragu, Ana pun mencoba menyentuh elemen berwarna hitam itu, seketika suasana di tempat itu berbuah menjadi tegang disaat Ana mulai mendekati elemen itu.
Syut!
"Hah?"
Hilang? Elemennya hilang?
Mata Ana langsung terbuka lebar mengetahui bahwa tidak ada satupun elemen yang cocok dengan dirinya, mengetahui hal itu tentu saja membuat semua orang yang ada di sana termasuk para Elf menjadi riuh.
Tanpa terkecuali Teri yang seketika merasa kasian dengan Ana yang tiba-tiba saja menjadi bahan ejekan oleh para elf, bahkan Raja Elf pun hanya bisa diam melihat kejadian ini.
__ADS_1
"Tidak mungkin..."
Seketika Ana dibuat diam saat dirinya dibuat malu ditengah-tengah lapangan, mendengar ejekan dari para Elf tentu saja membuat pertahanannya seketika menjadi runtuh.
Ini mirip sekali dengan kejadian waktu aku di bully.
"Ana..."
Raja Elf dengan cepat langsung menghentikan langkah Teri yang saat itu ingin mendatangi Ana, mendapatkan larangan dari Raja Elf tentu saja hal itu membuat dirinya merasa marah.
"Tunggulah sebentar lagi..."
Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Raja Elf, mendapatkan larangan dari Raja Elf tentu saja membuat Teri menjadi tidak bisa melakukan apapun demi bisa melindungi Ana.
"Hah... kita buang-buang waktu saja menonton ini."
"Ku kira dia akan mendapatkan kekuatan yang hebat, ternyata dia hanya manusia biasa."
"Kalo memang seperti itu, lantas kenapa Yang Mulia mengatakan bahwa mereka mahluk yang luar biasa?"
"Hah... Bagaimana jika kita pergi saja? Ku rasa tonton ini sudah tidak menarik lagi," sahut salah satu Elf yang ada di sana.
"Kau benar."
Di saat para Elf ingin beranjak pergi tiba-tiba saja sebuah cahaya yang begitu menyilaukan patah mata datang menyinari tubuh Ana yang saat itu masih berdiri ditengah-tengah lapangan.
Melihat kejadian itu tentu saja membuat semua orang langsung terpaku, termasuk dengan Teri dan juga Cleo yang saat itu masih fokus menatap Ana.
"Apa yang sudah terjadi?" tanya beberapa Elf di sana.
Sebuah angin yang begitu kencang datang menyapu tempat itu, membuat beberapa orang termasuk kaum Elf langsung menutup wajahnya karena angin yang kencang itu.
"Anginnya kencang sekali," pekik beberapa kaum Elf.
"Sebenarnya angin dari mana ini?" tanya Elf yang lain.
Sruk!
Cukup lama angin itu, menyapu tempat itu hingga angin yang begitu kencang itu menghilang, membuat suasana di tempat itu seketika menjadi sunyi, serta kacau dengan banyak dedaunan yang bertebaran di sembarang tempat.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Semua terdiam melihat Ana yang masih berdiri tegak di tengah-tengah lapangan, Sedangkan Ana yang saat itu masih berdiri di tengah lapangan langsung membuka kedua matanya dengan pelan di saat dirinya merasakan tatapan dingin dari Raja Elf.
"Dialah yang ku bilang kuat!"
"Apa?" pekik Teri yang masih belum mengerti dengan ucapan Raja Elf.
Disaat mereka semua masih dibuat bingung dengan angin kencang tadi, tiba-tiba saja sebuah suara yang begitu kuat terdengar memenuhi tempat itu.
"AGH!!!!"
Siva
__ADS_1
TBC