
Sebelum Ana berenkarnasi ke dunia yang dia buat, Teri yang saat itu merasa tidak adil dengan tuduhan yang menimpa dirinya mencoba untuk mencari cara agar dia bisa terbebas.
Tentu saja Teri tidak akan mudah membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah, maka dari itu dia mencoba meminta tolong pada Ian untuk mendatangi seorang penyihir yang berada dekat dengan bagian Timur kerjaan, mendapatkan perintah dari Teri tentu saja dia tidak bisa menolak.
Setelah banyak waktu yang Ian lewati demi bisa menyelamatkan Teri, akhirnya dia bisa juga bertemu dengan penyihir itu di tempat yang sudah ditujukan oleh Teri.
Melihat kondisi dari penyihir itu seketika membuat Ian tidak yakin apakah benar ini penyihir yang dicari oleh nonanya, namun disaat dirinya ingin beranjak pergi dari tempat itu tiba-tiba saja penyihir itu memanggil Ian, yang membuat dia seketika langsung menghentikan langkah kakinya.
"Perempuan itu sedang dalam bahaya kan?" tanya Perempuan itu yang membuat Ian langsung terdiam.
"Apa anda tau nona saya?" tanya Ian langsung.
"Tentu saja aku tau, kau ke sini untuk menjemput ku bukan?"
Tidak tau harus bersikap bagaimana, melihat penyihir itu sudah tau tujuan dari dirinya, mau tidak mau Ian pun dengan perasaan berat hati langsung membawa penyihir itu pada Teri yang saat ini masih terkurung dipenjara bawah tanah.
Dengan menempuh perjalan yang cukup panjang akhirnya mereka sampai juga dipenjara bawah tanah, Ian serta penyihir itu langsung mendatangi sel tahanan Teri tentu saja mereka tidak datang berdua, ada prajurit kekaisaran yang ikut dengan mereka untuk mengawasi.
"Waktu kalian hanya 30 menit, setelah itu saya akan kembali memisahkan anda dengan tahanan!"
Buk!
Merasa kesal dengan prajurit itu, Ian dengan gelap mata langsung menarik kerah baju prajurit itu, disaat prajurit itu dengan berani menyebut Teri dengan tahanan.
"Tutup mulut mu itu, lancang sekali kau menyebut Nona Ronan sebagai tahanan!"
"Ian!"
Mendengar Teri yang meneriaki namanya membuat dia dengan kesal langsung mendorong kuat tubuh prajurit itu.
"Cih!"
"Senang bisa bertemu dengan anda lagi Nona Ronan," sapa penyihir itu dengan ramah.
"Tidak usah basa-basi aku meminta mu ke sini untuk meminta jawaban atas ramalan yang pernah kau perlihatkan pada ku!"
"Ah... Ramalan itu."
"Hmm, baiklah saya akan memberitahu pada anda kelanjutan soal ramalan itu, namun sebelum itu ada sesuatu yang ingin saya berikan pada anda."
"Apa?"
Wanita penyihir itu langsung mengeluarkan sebuah botol yang berisikan teh racikan dari dirinya.
"Apa itu?"
"Minumlah..."
Dengan ekspresi yang terlihat kebingungan Teri menerima botol air itu.
"Minumlah teh itu dulu, maka aku akan tau kelanjutan dari ramalan soal hidup mu," ucapnya yang membuat Teri dan Ian langsung terdiam.
__ADS_1
Dengan perasaan terpaksa akhirnya Teri pun langsung meminum teh itu, rasa pait dan juga masam tercampur menjadi satu saat teh itu mulai masuk kedalam mulutnya membuat dirinya secara tidak sadar langsung memuntahkan sebagian dari isi botol itu.
"Kenapa tidak anda habiskan nona?" tanya Ian sambil berbisik.
"Aku tidak suka, penyihir ini tidak pandai dalam meracik teh," jawab Teri dengan wajah yang terlihat masam.
Penyihir itu hanya tersenyum mendengar ucapan Teri, dirinya kembali memasukan tangannya kedalam tas bawahnya untuk mengambil bola kristal miliknya.
"Teh yang anda minum, sebenarnya bukan sebarang teh, teh itu dibuat untuk mencari tau ramalan apa yang akan terjadi pada diri anda nanti."
"Iya? Ah... Jadi Apa anda sudah tau soal ramalan saya untuk kedepannya?"
Penyihir itu tidak menjawab, dirinya dengan pelan memperlihatkan bola kristal itu pada Teri dan Ian, yang membuat mereka menjadi bingung kenapa penyihir ini memperlihatkan benda ini pada mereka.
"Pegang lah Nona, maka anda akan tau masa depan seperti apa yang akan anda lewati nanti," ucapnya pada Teri.
Dengan ragu-ragu Teri pun menyentuh bola kristal itu, hal pertama yang dia rasakan disaat dirinya menyentuh bola itu, dia sama sekali tidak merasakan efek apapun, sampai akhirnya dia melihat sebuah bayangan Ana didalam kepalanya.
"Egh... Kepala ku... Ini di mana?"
Teri menatap bingung sekitanya saat melihat keberadaan tempat yang dia kunjungi ini sangat berbeda dengan tempat dia tinggal.
Tak lama kemudian matanya tiba-tiba saja tertuju pada Ana yang sedang menangis di kamarnya, dirinya pun sedikit bingung kenapa dia bisa melihat hal-hal aneh seperti ini.
Bahkan tempat tinggal Ana pun terlihat sangat berbeda dengan tempat tinggalnya, sebenarnya tempat seperti apa yang dia kunjungi ini.
Tidak lama kemudian Teri melihat Ana berjalan ke arah meja kerjanya, di sana dia bisa melihat Ana yang sedang mengetik di laptop miliknya, walaupun dirinya tidak mengerti apa yang Ana tulis, namun dirinya bisa menebak bahwa saat itu Ana sedang menulis namanya, bahkan bukan hanya namanya saja, di sana juga ada menulis nama Dylan, Iris, dan Ian.
"Dylan pun mengusir Teri dengan tatapan yang begitu dingin, bahkan Dylan sama sekali tidak mau mendengar penjelasan dari Teri yang saat itu sedang berusaha membela dirinya!"
Deg!
Teri memundurkan langkah kakinya, saat suara-suara yang dikeluarkan oleh Ana mirip dengan kejadian yang baru-baru saja dia alami.
Bahkan Teri pun seakan dibuat mematung saat Ana terus menerus mengeluarkan kata-kata yang membuatnya seperti orang jahat.
"Berhenti.... Berhenti! AKU BILANG BERHENTI!"
Disaat Teri ingin menyentuh tubuh Ana, sebuah cahaya putih datang kembali menyelimuti penglihatannya, yang membuat dirinya kembali sadar ke dunianya.
Deg!
"Nona! Apa anda baik-baik saja?" pekik Ian saat melihat mata Teri kembali terbuka lebar.
Teri tidak menjawab dirinya hanya diam bersamaan dengan air matanya yang tiba-tiba saja keluar, melihat itu Ian dengan sigap langsung menyentuh tubuh Teri yang terlihat bergetar saat dirinya telah selesai melihat aktivitas Ana.
"Bagaimana? Apa yang anda liat di sana?" tanya penyihir itu sambil tersenyum.
"Itu... Itu tempat yang aneh, aku tidak pernah ke sana, apa tempat itu memang ada?" tanya Teri dengan badan bergetar.
"Saya pun tidak tau, karena saya sendiri tidak tau apa yang anda liat di sana."
__ADS_1
"Apa?"
Penyihir itu kembali diam dengan matanya yang masih fokus ke arah bola kristal miliknya, "Namun perlu kalian ketahui, di dunia ini tidak ada yang namanya tuhan!"
Deg!
"Apa?" pekik Ian dan Teri bersamaan.
"Dan di sini juga tidak ada yang namanya Dewa, karena... Semua orang yang hidup di dunia ini telah dikendalikan oleh satu orang yang berasal... bukan dari tempat ini."
"Apa... Tunggu... Apa Orang yang kau maksud itu, adalah orang yang aku liat tadi?" tanya Teri penasaran.
Dengan pelan penyihir itu menganggukkan kepalanya, yang membuat Teri semakin dibuat shock.
"Nona!" pekik Ian.
"Aku baik-baik saja Ian," jawab Teri yang masih berusaha untuk tetap kuat.
"Perlu kalian ketahui," Ian dan Teri kembali menolehkan kepala mereka ke arah penyihir itu.
"Hidup kalian penuh dengan penderitaan seperti ini bukan karena kesalahan kalian, melainkan ini semua sudah diatur oleh orang yang Nona liat tadi."
"A... Apa?"
"Anda ingin hidup bahagia kan? Jika anda ingin hidup bahagia maka anda harus bisa memaksakan diri untuk menolak semua perintah yang akan dia buat!"
"Perintah, perintah apa?" tanya Teri bingung.
Penyihir itu kembali tersenyum, "Anda harus tau 1 bulan lagi, dihitung mulai dari sekarang waktu persidangan anda akan dimulai!"
Deg!
"Selama persidangan itu berlangsung, berusahalah dengan keras agar hakim tidak mengabulkan permintaan terdakwa yang ingin menghukum mati diri Anda! Karena... Jika anda tidak bisa menggagalkan keputusan hakim, maka cerita ini akan terus berlanjut sesuai dengan keinginannya yang menginginkan anda mati!"
Deg!
Mata Teri langsung terbuka lebar begitu juga dengan Ian disaat mereka mendengar penjelasan dari penyihir itu.
"Tidak mungkin! Nona anda tidak usah mendengarkan ucapan penyihir ini, penyihir ini pasti sudah gila!" pekik Ian yang mulai panik.
"Tunggu Ian, aku masih ingin mendengar lebih lanjut ucapan dari dirinya," balas Teri yang membuat Ian langsung terdiam.
"Menurut anda, apa saya bisa mengubah keputusan dari hakim?"
"Tentu bisa, asal anda bertekad, anda pasti bisa mengubah jalan cerita yang dia buat."
Mendengar penjelasan Penyihir itu Teri kembali dibuat diam dengan pikirkan yang berkecamuk, tidak lama kemudian penyihir itu memberikan satu botol kecil padanya yang membuat Teri dan Ian menjadi terheran-heran.
"Apa ini?"
"Minumlah itu, jika anda telah berhasil memenangkan persidangan, itu adalah ramuan yang bisa mempertemukan anda dengan dia yang ada di sana!"
__ADS_1
"Apa!"
TBC