
Seorang perempuan dengan rambut berwarna kuning terang berjalan di sebuah lorong menara, yang berada di kediaman Kalika.
Brak!
Perempuan yang belum diketahui namanya itu langsung menolehkan kepalanya saat tiba-tiba saja pintu ruang kerjanya terbuka secara paksa, menampilkan wajah Iris yang saat itu terlihat begitu kesal.
"Aku ingin protes!"
Dengan wajah yang terlihat kesal perempuan itu langsung menatap wajah Iris yang sudah masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Nona... anda tidak boleh masuk!" ucap pelayan Iris yang merasa tidak nyaman dengan penghuni ruangan itu.
"Diam!" pekik Iris pada pelayannya.
"Sebaiknya kau keluar saja jika tidak bisa membantu, cih... Bikin repot saja," tekan Iris yang langsung membuat pelayan itu terdiam.
Kembali mata Iris menoleh ke arah perempuan itu yang dari tadi hanya diam saja melihat dirinya berdebat dengan pelayannya.
"Aku ingin protes!" Tekan Iris yang langsung berjalan mendekati perempuan itu.
Perempuan itu hanya diam memperhatikan wajah Iris yang terlihat begitu kesal, tangannya yang berada dibawah meja sudah terkepal kuat menahan emosi, saat jarak dirinya dengan Iris sudah semakin dekat.
"Aku ingin protes! Dengan apa yang sudah kamu berikan pada ku! Kau bilang akan membantuku untuk bisa mendapatkan Dylan, namun apa? Yang ada Dylan semakin gila dengan perempuan berengse* itu!"
"Tutup mulut mu!"
Deg!
Mata Iris langsung terbuka lebar saat mendengar ucapan dari perempuan itu, "Bukankah kemarin aku udah bilang, jika aku sedang berada di ruangan ini, maka jangan pernah untuk menganggu!" tekan perempuan itu yang langsung membuat Iris menjadi terdiam.
"Selagi aku bicara baik-baik, kau pilih keluar atau aku yang mengeluarkan?" tanyanya dengan tatapan yang begitu tajam.
"Nona sebaiknya kita keluar sekarang!" ucapan Pelayan Iris, yang masih berusaha untuk membawa Iris pergi dari hadapan perempuan itu.
"Hah! Apa saat ini kau telah mengusir ku?" tanya Iris tidak percaya.
Dengan begitu kesal, Iris menghempaskan tangan pelayannya yang saat itu sedang memeluk lengannya.
Brak!
Masih dalam keadaan tenang perempuan itu menatap dingin wajah Iris disaat, Iris dengan emosinya memukul meja kerja perempuan itu.
"Apa kau sadar hah! Saat ini kau ini siapa? Berani sekali dirimu yang tidak ada apa-apanya ini ingin mengusir ku? Memangnya kau pikir rumah ini punya mu hah!" pekik Iris yang sudah mulai emosi.
Seketika sebuah senyum tipis terbit dibibir perempuan itu, "Tidak ada apa-apanya?" tanyanya yang langsung menatap tajam wajah Iris.
Perempuan itu langsung berdiri dari tempat dia duduk, membuat pelayan itu seketika menjadi takut, disaat perempuan itu sudah berjalan mendekati mereka.
"Nona..."
Iris masih diam menatap perempuan itu, namun pelayannya dengan cepat langsung beranjak pergi untuk meyelamatkan dirinya.
Buk!
"Agh..."
__ADS_1
Sebuah darah segar langsung keluar dari mulut Iris, disaat perempuan itu secara tiba-tiba mengeluarkan sihir miliknya, membuat Iris yang saat itu tidak tau apa-apa langsung dibuat terlempar hingga tubuhnya menghantam kuat tembok rumahnya.
Tak
Tak
Tak
"Makhluk rendahan seperti kalian sebaliknya berdiam diri saja, selagi kami masih bersikap baik dengan kalian!"
"Egh!"
Dengan wajah yang masih datar, perempuan itu menginjak perut Iris yang saat itu masih terduduk dilantai.
"Turuti perintah ku, atau nyawa mu akan habis detik ini," ucapnya sambil mengeluarkan sebuah sihir ditangannya.
"Kau..." Dengan menahan rasa sakit, Iris menyentuh kaki perempuan itu yang semakin kuat menekan perutnya.
"Jawaban mu... Turuti perintah ku! Atau kau ku buat mati!" ucap Perempuan itu yang semakin kuat menginjak perut Iris.
"Agh... Ba... Baik..."
"Hmm..."
Dengan wajah yang sedikit tersenyum perempuan itu kembali berjalan ke arah kursi kerjanya, melihat perempuan itu yang sudah kembali, membuat Iris langsung menatap tajam ke arah perempuan itu.
Perempuan ini, adalah manusia yang paling gila!
"Owh... Ini soal permintaan mu!"
"Eh!"
"Dylan... Ah... Bukan Putra Mahkota itu! Sebaiknya kau datangi dia sekarang."
"Apa?"
"Dari yang aku liat, sebentar lagi jiwanya akan hancur karena terlalu obsesi dengan putri dari keluarga Ronan," ucapnya tersenyum yang langsung membuat Iris semakin emosi.
"Hah... Lagi lagi karena perempuan itu!"
Perempuan itu hanya diam menatap wajah Iris yang kembali memerah menahan emosi.
"Mengenai perempuan itu kau tidak perlu ambil pusing."
"Iya?"
"Perempuan itu yang kamu bilang pengganggu dirinya sudah pergi meninggalkan kerjaan ini tadi pagi."
Iris langsung terdiam saat perempuan itu mengatakan bahwa Teri serta Ana sudah pergi meninggalkan kerajaan ini tadi pagi.
"Perginya mereka membuat ku juga harus bersiap-siap, dalam menghadapi perang yang akan mendatang."
Deg!
Mata Iris langsung terbuka lebar mendengar perempuan itu mengatakan perang dengan gampang.
__ADS_1
"Apa maksud mu? Kenapa tiba-tiba jadi perang?"
Perempuan itu kembali tersenyum, "Perempuan yang bernama Teri itu.... Dia telah berani mengambil harta ku yang paling berharga!"
Deg!
"Apa? Harta?" tanya Iris bingung.
"Siapa pun dirinya dan sekuat apa pun kekuatan yang mereka punya, itu semua tidak ada apa-apanya dengan kekuatan yang ku miliki!"
Duar!
Dengan mata yang terbuka lebar Iris langsung memundurkan langkah kakinya, disaat sebuah bayangan hitam muncul menyelimuti badan perempuan itu.
"Se... Sebenarnya siapa kau ini?" tanya Iris yang mulai ketakutan.
......................
Disaat sore menjelang kereta kuda yang ditumpangi Ana serta Teri telah tiba di istana kerjaan Achilles, di saat Ana melihat istana kerjaan Achilles wajahnya tidak henti-hentinya untuk berucap kagum dengan bangunan tersebut.
"Selamat datang di kerjaan Achilles Nona Ronan," sapa seorang pria yang sama sekali belum Ana kenal.
"Ana..." bisik Teri pada Ana yang masih diam.
"Eh? Owh iya... Terima kasih juga atas sambutan anda..." sapa Ana yang langsung tersenyum kaku.
Astaga bodohnya aku, bisa-bisanya aku lupa bahwa tubuhku masih terjebak ditubuh Teri.
Melihat pria itu yang kembali tersenyum membuat Ana seketika ingin menangis saja disaat dirinya merasakan banyak sekali tatapan-tatapan aneh yang menusuk tubuhnya.
"Kalo begitu ada di mana Pangeran Achilles sekarang?" tanya Ana yang berusaha untuk tetap tenang.
"Beliau sudah menunggu anda di dalam, mari saya antar kalian semua kepada beliau," ajak pria itu.
Pria tua itu yang Ana tidak tau namanya, langsung membalikkan badannya untuk kembali berjalan menuntut Ana serta yang lainnya menuju tempat pangeran Achilles berada.
"Ana!" panggil Teri, dan Ana langsung menolehkan badannya.
"Iya?"
"Ana tolong nanti jika bertemu dengan kakak sepupu ku kau jangan melamun lagi seperti tadi, ingat! Yang tau tubuh kita tertukar itu hanya Ian dan Teo!" ucap Teri yang membuat Ana secara spontan langsung menghembuskan nafas kasar.
"Iya... Aku tau," jawab Ana.
Brak!
"Tuan No_"
Grap!
"Eh? EH?...."
Mata Ana langsung terbuka lebar begitu juga dengan Teri maupun Teo, sosok pria yang tidak Ana kenal tiba-tiba saja datang ke arahnya sambil memeluk tubuhnya dengan sangat kuat, melihat itu tentu saja membuat Teri seketika ingin menjambak rambut pria itu.
"Ah... Aku sangat merindukan mu adik ku..." pekiknya yang membuat Ana seketika ingin pingsan.
__ADS_1
Tolong aku...
TBC