Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia

Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia
51


__ADS_3

10 Tahun yang lalu Tessia menemukan Ana yang baru saja dibuang oleh kedua orang tuanya di gua tempat dirinya bertelur.


"Hik..."


Ibu kandung Ana secara spontan langsung memekik kaget dikala dirinya tidak sengaja melihat Tessia yang saat itu ada di dalam gua sedang menjaga telurnya.


Dia meninggalkan anaknya? Ah... Tidak dia membuang anaknya.


Mendapatkan Ana yang saat itu sedang menangis, Tessia dengan pelan menghampiri Ana yang saat itu masih berada di dalam keranjang.


Suara tangisan Ana kala itu membuat suasana didalam gua menjadi rame dengan suara tangisan Ana.


"Hmm... Bagaimana cara untuk membuatnya diam?" tanya Tessia bingung.


"Hey... Kau mau apa?" Tanya Tessia lagi, namun Ana hanya tetap menangis.


"Kasian..."


"Bagaimana cara agar bisa membuatnya diam?" tanya Tessia bingung.


"Huaaak."


"Astaga."


Tangisan Ana semakin menjadi-jadi membuat Tessia seketika langsung membuka kedua matanya karena terkejut.


"Sebaiknya aku datangi Arthur saja, sepertinya dia lebih memahami masalah kehidupan manusia."


Dengan cepat Tessia langsung terbang menuju wilayah Elf yang tidak jauh dari tempat dirinya tinggal.


"Ku rasa tidak bagus jika meninggalkan dirinya sendirian di sana?" ucap Tessia sambil melihat Ana yang masih menangis.


"Baiklah sebaiknya aku harus bergerak cepat!"


Tanpa pikir panjang Tessia kembali meninggikan badannya ke udara, agar bisa melihat pohon emas tempat kaum Elf tinggal.


...~*~...


"Yang Mulia, ada Ratu Tessia datang!" teriak salah satu Elf mendatangi Arthur.


"Apa?"


Dengan cepat Arthur keluar dari ruang kerjanya menuju halaman pohon emas, dimana disana sudah ada Tessia yang menunggu Arthur keluar.


"Yang Mulia ada masalah apa anda datang ke sini?" tanya Arthur yang sudah berjalan mendatangi Tessia.


"Ada masalah besar yang datang ke kehidupan ku Arthur, dan aku sangat membutuhkan bantuan mu."


"Apa? Masalah besar?"


Dengan cepat Tessia menganggukkan kepalanya, "Benar, ada manusia yang membuang anaknya ke tempat ku, entah apa maksud manusia itu, namun sekarang bayi itu terus menangis di sana."


"Apa?"


"Jadi maksud kedatangan ku ke sini untuk meminta tolong pada kalian, apakah kau bisa membuat bayi itu menjadi lebih tenang?" tanya Tessia yang membuat para Elf di sana menjadi terdiam.


"Hah?" tidak tau harus menjawab apa, dirinya sendiri pun juga sama bingungnya dalam mengurus bayi.


"Yang Mulia!" pekik salah satu Elf perempuan di sana.


Mendapatkan namanya dipanggil Tessia maupun Arthur sama-sama langsung menoleh ke arah Elf perempuan itu.


"Jika anda berkenan, saya bisa mengurus bayi itu di sini, saya akan menjaga bayi itu dengan sepenuh hati," jawabnya.


"Apa kau sungguh bisa mengurusnya?"


"Tentu saja Yang Mulia."


"Kalo begitu, kau! Ikutlah dengan ku, kita ambil bayi itu sekarang!" jawab Tessia yang langsung disetujui oleh Elf perempuan itu.


...~*~...


Semenjak hari itu Ana yang merupakan satu-satunya manusia di sana, dibesarkan dengan sepenuh hati oleh para Elf dan juga Tessia ibu angkatnya.

__ADS_1


Ana begitu disayang oleh kaum Elf, dirinya banyak diberi pelajaran akan dunia luar yang begitu berbahaya, serta mereka sangat melarang keras untuk Ana keluar dari wilayah Elf.


Hari terus berlalu, setiap hari Terssia selalu memantau perkembangan Ana dari hari ke hari.


Mendapatkan Ana yang terus tumbuh dengan sehat membuat Tessia yang melihatnya menjadi sangat senang, banyak hal yang Ana pelajari dari Tessia, dari berlatih belajar diri, berburu, melatih mana, hingga tiba waktunya bagi Tessia.


"Uhuk..."


"Ibu?"


"Ah... Ana? Kau sudah pulang."


Ana berjalan dengan pelan menuju tempat Tessia yang sedang menjaga telurnya, melihat Ana yang sudah tubuh besar sekarang membuat dirinya seketika ingin menangis jika diingatkan kembali dengan kejadian awal dirinya bertemu dengan Ana.


"Apa dia sebentar lagi, akan menetas ibu?" tanya Ana sambil memegang telur Siva yang saat itu belum juga menetas.


"Ya... Kita tunggu saja," balas Tessia.


"Ibu? Apa ibu baik-baik saja?" tanya Ana yang terlihat begitu khawatir dengan kesehatan Tessia.


"Aku baik-baik saja Ana."


"Owh iya, sebentar lagi ulang tahun mu yang ke 10, apa kau sudah punya rencana ingin memiliki mana apa?" tanya Tessia yang mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu Ana hanya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi wajah yang begitu sedih, "Aku tidak peduli nanti akan mendapatkan Mana seperti apa, yang aku inginkan hanya ibu bisa terus hidup sampai telur milik ibu menetas," jawab Ana yang membuat Tessia langsung terdiam.


Mendengar ucapan Ana dirinya hanya bisa terdiam, Naga sudah pasti tidak akan bertahan lama untuk bertahan hidup, itu sama saja dengan usia manusia yang memiliki waktu tertentu.


Biasanya naga betina tidak akan lama bertahan jika dirinya telah berhasil menetaskan telurnya, itu dikarenakan naga betina yang begitu banyak mengeluarkan mana agar telur miliknya tetap terjaga.


Berbeda dengan naga jantan jika dirinya sudah berhasil kawin dengan naga betina maka umur naga jantan tidak akan bertahan lama, itulah kenapa naga sering disebut mahluk hidup terkuat, sekaligus mahluk yang paling setia dengan pasangannya, sebab inilah kenapa naga begitu susah untuk dicari selain kuat jumlah mereka pun sangat sedikit.


"Hmm, Sebaiknya kau tidur sekarang, besok pagi adalah hari istimewa untuk mu Ana."


"Hmm... Baiklah," jawab Ana yang langsung menuruti ucapan Tessia.


...~*~...


Seperti yang sudah direncanakan besok paginya suasana di desa Elf begitu ramai dengan banyak kaum Elf berkumpul, termasuk dengan Ana yang saat itu baru datang bersama dengan Tessia.


Arthur menundukkan badannya ke arah Tessia yang baru saja datang begitu pula dengan banyak para Elf yang lain ikut memberi salam pada Tessia.


"Persiapkan ritualnya!"


"Baik!"


Lapangan bundar adalah tempat para Elf menemukan jati dirinya yang sebenarnya, biasanya lapangan bundar akan dipakai jika usia Elf sudah memasuki usia dewasa, yaitu 10 tahun.


"Ana berdirilah ditengah lapangan!" ucap Tessia yang langsung disetujui oleh Ana.


Dengan langkah yang pelan, Ana yang saat itu baru menginjak usia 10 tahun berjalan ke tengah-tengah kerumunan para Elf.


"Mulai ritualnya sekarang!"


Dengan patuh Arthur langsung menghentakkan tongkatnya ke lantai, membuat beberapa elemen langsung muncul mengelilingi Ana yang saat itu terlihat kebingungan.


"Sentuh lah salah satu elemen di sana, jika mereka tidak hilang, maka itulah elemen yang cocok dengan mu Ana," sahut Tessia dari jauh.


Sentuh? Yang mana yang perlu ke sentuh?


Tanpa ragu Ana menyentuh sembarang elemen di sana, membuat beberapa elemen di sana menghilang, sampai tidak ada lagi elemen yang tersisa di sana, mendapatkan bahwa tidak ada elemen yang bertahan disaat dirinya sentuh membuat Ana seketika ingin menangis.


Matanya langsung menatap ke arah Tessia yang saat itu hanya diam saja melihat Ana yang sama sekali tidak ada mendapatkan mana yang cocok dengan dirinya.


"Ibu?"


"Hah... Ritual selesai, Sekarang bisa kita simpulkan bahwa Ana hanyalah manusia biasa yang tidak ada satupun Mana dalam dirinya," sahut Tessia yang membuat semua orang langsung terdiam.


Deg!


Mata Ana langsung berkaca-kaca disaat dirinya melihat Tessia yang langsung pergi meninggalkan dirinya sendirian ditengah lapangan.


"Apa ibu marah?" gumam Ana dengan mata yang menatap kosong ke arah Tessia.

__ADS_1


"Semuanya bisa bubar, ritual ini telah selesai!" sahut Arthur yang langsung disetujui para kaum Elf.


"Ibu..." lirih Ana yang membuat air matanya seketika jatuh.


Melihat Tessia yang sudah semakin jauh meninggalkan dirinya, membuat Ana semakin dibuat sedih.


"Hiks..."


Tas!


"Nona?"


"Nona! Anda mau ke mana?" pekik Arthur.


Dengan perasaan yang begitu sakit, Ana langsung membalikkan badannya untuk pergi meninggalkan pohon emas, tentu saja hal itu tidak diketahui oleh Tessia yang sudah lebih dulu meninggalkan pohon emas.


Tap!


Tap!


Tap!


Dengan air mata yang terus keluar Ana berlari dengan kencang menuju sebuah hutan yang belum pernah dia datangi sebelumnya.


"Agh...."


Dengan pikiran yang campur aduk, Ana terus berlari dengan kencang mengabaikan tubuhnya yang saat itu terus dihantam ranting pohon, membuat beberapa goresan luka yang muncul pada tubuhnya.


"AGH..."


Srak!


Dengan badan yang memiliki banyak luka segar, Ana akhirnya keluar dari hutan itu yang membuat dirinya langsung dipertemukan oleh segerombolan manusia, yang membuat Ana seketika langsung bersikap waspada.


"Kenapa ada anak manusia di sini?"


"Keliatannya dia bukan asli Homounculus?"


"Apa dia berasal dari hutan Achilles?


Deg!


Ada di mana aku?


"Sepertinya dia memang berasal dari Achilles."


"Hey kalian cepat tangkap anak itu! Anak itu pasti akan sangat berguna untuk mengancam kaum Elf!"


Mendapatkan perintah dari atasannya membuat segerombolan manusia itu langsung menahan tubuh Ana yang saat itu ingin kabur.


"Agh... Lepas!"


"Diam kau!"


Mata Ana langsung dibuat kunang-kunang dikala dirinya banyak sekali diserang oleh orang-orang yang tidak dia kenal.


Ibu...


"AGH...."


Deg!


Suara yang begitu nyaring terdengar memenuhi isi hutan itu, membuat beberapa manusia yang tadi sedang menahan Ana, langsung melepaskan pegangannya dari lengan Ana.


"AGH!!!"


Teriakan itu kembali muncul, membuat beberapa orang serta Ana langsung menoleh ke atas.


"Ibu..."


"Naga! Ada Naga! Ternyata benar Naga itu masih ada!"


"Cepat tembak naga ITU SEKARANG!"

__ADS_1


TBC


__ADS_2