Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia

Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia
24


__ADS_3

Festival hasil panen telah diselenggarkan satu hari sebelum dirayakannya hasil panen di Istana, semua orang nampak gembira menyambut hari besar itu tidak terkecuali Teri yang ikut senang menyambut hari kebahagian itu.


"Nona, Pangeran sudah datang."


"Benarkah? Baiklah aku akan turun sekarang."


Di lantai bawah, Dylan yang sedari tadi menuggu Teri langsung dibuat diam saat melihat penampilan Teri yang begitu cantik dengan gaun pemberian darinya.


"Kau sangat cantik."


"Terima kasih atas pujiannya, Pangeran."


Dylan langsung memberikan tangannya pada Teri untuk membantu dirinya naik ke dalam kereta kuda, setelah Teri masuk barulah Dylan yang ikut masuk.


"Jalan sekarang."


Seperti ingin terbang, Teri rasanya begitu malu jika duduk bersebelahan dengan Dylan apa lagi bau parfum yang digunakan Dylan begitu terasa memasuki indra penciumannya.


Grab!


Mata Teri langsung terbuka lebar, disaat Dylan tiba-tiba saja menggenggam tangannya dengan erat, apa lagi tatapan matanya yang begitu tajam saat sedang mencium tangan Teri dengan dalam.


"Pa... Pangeran?" pekik Teri karena merasa malu.


"Setelah kita memberi salam pada para tamu, apa kau mau berkunjung ke kamar ku?" bisik Dylan yang langsung membuat kedua mata Teri terbuka lebar.


"Ada sesuatu yang ku inginkan dari diri mu!"


Aku mau pingsan saja.


...~*~...


Di dalam aula, sudah banyak orang-orang berkumpul untuk memeriahkan acara besar itu, bahkan kedua orang tua Teri pun turut hadir ke dalam acara itu termasuk dengan Iris serta teman-temannya.


"Yang Mulia Pangeran serta tunangannya Nona Ronan memasuki aula!"


Brak!


Pintu aula terbuka, Dylan dan Teri masuk secara bersamaan kedalam aula, semua pasang mata langsung melirik ke arah mereka termasuk dengan Iris serta teman-temanya.


"Nona Kalika, saya kira anda akan datang bersama Pangeran, teryata Pangeran datang bersama tunangannya?"


Tangan Iris langsung terkepal kuat melihat wajah ceria dari Teri yang sedang menebarkan senyum manis kepada para tamu yang hadir di sana, bahkan teman-temannya pun hanya bisa diam melihat Dylan yang begitu dekat dengan Teri.


"Ya wajar saja, Nona Ronan kan tunangan Pangeran, sedangkan aku hanya teman dekat Pangeran," balas Iris tersenyum.


"Tapi Nona Kalika, sampai saat ini saya masih penasaran dengan hubungan anda dan Pangeran."


"Ya? Apa yang membuat anda penasaran Nona?"


"Eh... Itu, mau dilihat bagaimana pun sepertinya mereka berdua saling mencintai."


"Apa?"


Semua pasang mata kembali fokus ke arah Teri dan juga Dylan, wajah hangat dari mereka berdua begitu terpancar jelas saat para tamu mulai berdatangan untuk memberi salam pada Teri dan juga Dylan.


Tak bisa ku biarkan, liat saja Nona Ronan hari ini adalah hari akhir bagi mu untuk bisa dekat dengan Dylan.


Dengan perasaan kesal, Iris langsung membalikkan badannya meninggalkan semua orang di sana yang masih menatap penuh kagum Dylan dan juga Teri.

__ADS_1


...~*~...


Tak terasa waktu terus berlalu, Teri memutuskan untuk memisahkan diri dengan Dylan karena sudah merasa lelah jika harus berjalan kesana-kemari menyambut para tamu.


"Agh... Capek... Kaki ku terasa ingin lepas," sahut Teri yang langsung menutup kedua matanya.


Tak


Tak


Tak


"Astaga Nona Ronan, ternyata anda ada di sini!"


Mata Teri yang tadi terpejam langsung terbuka lebar, saat dirinya ada merasakan suara Iris yang menyebut namanya.


"Nona Kalika? Sedang apa anda di sini?" tanya Teri penasaran.


"Apa saya tidak boleh berada di sini?" tanya Iris, Teri hanya diam.


"Saat anda keluar dari Aula tadi, saya melihat anda mendatangi tempat ini, makanya saya mengikuti anda."


"Apa ada sesuatu yang ingin anda sampaikan? Nona Kalika?" tanya Teri dengan sinis.


"Tidak ada, saya hanya ingin minum bersama anda, apa anda bersedia menemani saya minum?" tanya Iris yang langsung memberikan segelas soda pada Teri.


"Terima kasih."


Iris langsung duduk di samping Teri yang sedang menatap air pemberiannya, wajah Iris nampak sinis menatap Teri yang juga belum meminum air pemberiannya.


"Silahkan diminum nona," sahut Iris yang langsung meminum minumannya.


"Ya," jawab Teri yang ikut meminum air pemberian Iris.


"Agh!"


Deg!


"Nona Kalika!"


Teri langsung dibuat terkejut saat melihat Iris yang tiba-tiba saja muntah darah saat dirinya telah meminum minumannya.


"Nona apa anda tidak apa-apa? Saya akan panggilkan-"


"Ada apa ini?"


Teri langsung membalikkan badannya saat mendengar ada suara Dylan yang sedang berdiri dibelakangnya.


"Pangeran?"


Mata Dylan langsung terbuka lebar saat melihat Iris yang terus terbatuk-batuk sambil memuntahkan darah segar.


"Pa...Pangeran..." Iris mencoba memanggil Dylan dengan sedikit tenaganya yang tersisa.


"Iris apa yang terjadi dengan dirimu? bertahanlah..."


"Saya akan panggil seseorang untuk membantu, tunggulah sebentar," jawab Teri yang langsung beranjak dari tempatnya.


Teri sudah berlari keluar untuk meminta pertolongan pada orang yang lebih dewasa, tak lama kemudian keributan terjadi para tabib istana langsung mengobati tubuh Iris begitu mereka sampai di tempat.

__ADS_1


Banyak para tamu berkumpul untuk mencari tau apa yang sedang terjadi, setelah Iris selesai diobati oleh para tabib Dylan langsung bertanya pada Iris apa yang sudah terjadi pada dirinya.


"Kenapa bisa kau minum racun? Siapa yang sudah memberi mu racun?" tanya Dylan.


Mata Iris langsung menatap sayu wajah Teri yang terlihat kebingungan, kenapa Iris menatap dirinya seperti itu.


"Pangeran... Minuman itu... pemberian dari Nona Ronan!"


Deg!


"Apa!"


Semua orang yang mendengar pengakuan dari Iris nampak terkejut, bahkan Dylan sekali pun.


Teri pun sama terkejutnya dirinya dengan mata yang terbuka lebar langsung memundurkan tubuhnya memilih menjauh dari Iris dan juga Dylan, kepalanya terus menggeleng dengan kuat menolak pengakuan dari Iris.


"Tidak! Dia berbohong! Saya tidak pernah sekalipun meracuni Nona Kalika! Nona Kalika! kenapa anda berbohong! Bukankah minuman itu anda sendiri yang minumannya!" pekik Teri mencoba mencari pembelaan.


"Teri!"


Teri langsung terdiam saat melihat Dylan yang sudah berdiri dihadapannya dengan tatapan yang begitu dingin, tatapan yang sangat berbeda dengan tatapan yang kemarin dia berikan.


"Pangeran! A...Apa... Anda tidak percaya dengan saya?" tanya Teri dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Penjaga! Bawa Nona Ronan ke penjara bawah tanah sekarang!" perintah Dylan pada prajurit kekaisaran yang ada di sana.


"Baik Pangeran," jawab prajurit kekaisaran yang langsung membawa tubuh Teri menjauh.


"Tu... Tunggu! Pangeran... Pangeran... Dengarkan saya dulu, Pangeran!"


Teri menatap tidak percaya ke arah Dylan yang dengan mudahnya membuang dirinya layaknya sebuah sampah, mata Teri langsung terbuka lebar saat mendengar banyak orang yang mengatakan dirinya sebagai wanita jahat, ditambah lagi dia melihat wajah licik Iris yang sedang tersenyum tipis ke arahnya.


"Saya... saya Tidak bersalah."


Kalimat itu lah yang terus Teri ucapkan sepanjang jalan, saat prajurit kekaisaran sedang membawa dirinya ke penjara bawah tanah.


Buk!


Dengan kasar, Teri langsung dilempar begitu saja ke penjara bawah tanah yang kotor juga lingkungan yang begitu lembab.


"Saya tidak bersalah..."


Tak


Tak


Tak


Sebuah suara orang yang sedang berlari memenuhi lorong penjara bawah tanah itu sangat jelas terdengar, Regis dan Luna langsung mendatangi Teri saat mereka mengetahui bahwa putri mereka telah meracuni salah satu salah satu nona bangsawan yang hadir di acara itu.


Sesampainya didepan penjara Teri, Mereka berdua langsung terdiam dengan mata yang menatap tidak percaya kondisi anak mereka yang begitu menyedihkan.


"Sayang..."


Luna ikut terduduk didepan jeruji besi dengan tatapan yang begitu terluka, bahkan Regis hanya bisa terdiam melihat kondisi anaknya yang begitu menyedihkan.


"Ibu..."


Teri tidak tau harus bagaimana, sekeras apapun dia berteriak semua orang pasti tidak ada yang akan percaya kecuali kedua orang tuanya serta, para pelayan dikediaman Ronan.

__ADS_1


"Saya tidak bersalah bu..." isak Teri memegang kuat tangan Luna.


TBC


__ADS_2