
Karena kejadian itulah perang antar Achilles dan Homounculus terjadi, namun sebelum kejadian Ana bertemu dengan pasukan Homounculus, perang itu memang sudah lama direncanakan.
Perang itu terjadi, karena pasukan Homounculus sangat menginginkan kekuatan yang dimiliki oleh Tessia, karena bagi penduduk Homounculus, naga adalah makhluk yang sangat kuat dan sangat berbahaya, maka dari itu penduduk Homounculus percaya bahwa naga itu adalah makhluk hidup pembawa sial jika tidak dimusnahkan dengan cepat.
...~*~...
Semenjak kejadian itu pasukan Homounculus terpaksa mundur dari pertarungan melawan kaum Elf, mundurnya pasukan Homounculus, bersamaan dengan Ana yang juga hilang kesadaran.
"Sudah 10 hari Nona tertidur, menurut anda apakah Nona akan baik-baik saja?"
"Aku yakin Nona pasti akan baik-baik saja, apa lagi saat ini Anak Yang Mulia Ratu Tessia sedang dalam masa pertumbuhan," balas Arthur yang langsung melirik ke arah Siva.
"Setelah Nona Ana sadar, kita akan mulai melantik dirinya sebagai Ratu kedua di kerjaan Achilles."
Setelah berkata seperti itu Arthur langsung keluar dari kamar tidur Ana, meninggalkan Ana yang saat itu sedang dijaga oleh anak buahnya.
"Yang Mulia, Apakah kau sudah bisa hidup dengan tenang sekarang?" tanya Arthur sambil menatap ke arah langit.
...~*~...
Besok paginya disaat matahari mulai menunjukan sinarnya, mata Ana terbuka secara perlahan-lahan untuk mencerna sinar matahari yang memasuki penglihatannya.
"Ibu..."
Deg!
"Nona? Anda sudah sadar?" pekik salah satu Elf yang sedang menjaga dirinya.
"Ibu... Di mana ibu?" tanya Ana lagi.
Namun Elf itu tidak menjawab, dirinya dengan cepat langsung berlari keluar untuk melapor pada Arthur bahwa Ana telah sadar.
"Ibu... Ibu... Di mana Ibu?"
Brak!
Pintu ruangan kembali terbuka, kali ini Arthur yang datang bersamaan dengan wajahnya yang terlihat begitu khawatir.
"Nona, apa anda dengar suara saya?"
"Ibu... Ibu Di mana?" tanya Ana sambil menatap wajah Arthur.
Mendengar ucapan Ana, Arthur seketika langsung dibuat diam, kejadian akan perang yang menimpa wilayah mereka membuat banyak sekali meninggalkan bekas luka yang sangat mendalam.
"Ratu telah meninggal, tubuhnya sudah kami kubur_"
Brak!
"BOHONG! ITU BOHONG KAN?" Ana dengan mata berkaca-kaca langsung menarik kuat kerah baju Arthur.
"Sayangnya itu sungguhan."
"Kau pasti bohong... Ibu pasti masih hidup!" lirih Ana yang membuat Arthur seketika ikut dibuat sedih.
"Maafkan saya nona."
"Hah... Untuk apa kau minta maaf? Kalo memang ibu sudah tidak ada."
__ADS_1
"Nona?"
Ana dengan cepat langsung berlari keluar kamar, mengabaikan Arthur serta beberapa para Elf yang memanggil dirinya.
Srak!
Dengan perasaan yang campur aduk, Ana terus berlari menyusuri hutan menuju gua tempat Tessia dan dirinya tinggal.
"Hosh... Hosh..."
Dengan nafas yang terengah-engah Ana terus berlari dengan kencang, dibelakangnya sudah ada Arthur serta beberapa kaum Elf yang ikut mengejar Ana.
"Ibu..."
"IBU..." teriak Ana namun di sana tidak ada jawaban sama sekali.
"Nona? Tunggu..."
Tidak mau peduli dengan panggilan Arthur, Ana dengan nekat manjat ke atas tebing untuk bisa sampai ke gua tempat dirinya tinggal dulu.
"Nona! Hati-hati!" pekik Arthur dari bawah.
Ana terus memanjat dengan Arthur yang terus memanggil dirinya, setelah dirinya sampai di mulut gua, tubuh Ana seketika dibuat membeku tak kala matanya menangkap satu sosok mahluk asing di sana.
"Ibu?" panggil Ana yang mencoba untuk mendekat.
Namun mahluk itu hanya diam, Ana sendiri pun merasa tidak yakin bahwa itu Tessia karena mau dilihat bagaimana pun tubuh mahluk itu terlihat lebih besar dibanding dengan tubuh Tessia seperti biasanya.
"Nona? Tunggu!" Pekik Arthur yang berhasil sampai ke mulut gua.
"Nona tenanglah, itu bukan Yang Mulia Ratu, tapi... Dia adalah anaknya Yang Mulia Ratu."
Deg!
"Huaaa!"
Ana dan Arthur langsung menoleh ke arah naga itu yang secara tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya.
Mata naga itu terbuka dirinya langsung
menatap Ana dengan sangat lekat, begitu pula dengan Ana dan juga Arthur.
"Ibu?" Pekik Siva yang langsung terbang mendatangi Ana.
Buk!
Ana langsung dibuat duduk dilantai disaat Siva menindas tubuhnya dengan sangat kencang, membuat Arthur yang melihat kejadian itu langsung tersenyum.
"Kenapa dia menyebut ku ibu?"
"Itu pasti karena aroma Nona tercampur dengan, aroma Yang Mulia Ratu."
"Hah!"
Ana kembali duduk dengan sempurna, bersama Siva yang juga duduk dihadapannya.
"Siapa namanya?" tanya Ana sambil mengelus kepala Siva.
__ADS_1
"Yang Mulia Ratu telah memberi nama naga itu dengan panggilan Siva, Yang Mulia memberi nama ini ke anaknya agar kelak anaknya bisa mendapatkan perilaku yang sama seperti yang biasa kami lakukan pada beliau."
"Begitu... Kau pasti lebih sedih dari ku Siva," lirih Ana mengelus dagu Siva yang keras.
"Dia yang paling sedih, dia belum pernah sekalipun bertemu dengan Ibu, pasti dia sangat sedih," lirih Ana yang kembali mengeluarkan air matanya.
Deg!
"Ini semua terjadi karena mereka! Mereka yang sudah buat bu mati!"
"Nona!"
"Aku akan membalas semua perbuatannya! Mereka semua harus membayar perbuatan mereka pada ibu!"
"NONA!"
Arthur langsung menegur keras Ana yang saat itu sedang menghasut Siva yang terlihat begitu polos akan dunia luar.
"Siva..." lirih Ana mendekatkan wajahnya pada wajah Siva.
"Maukah kau ikut dengan ku?" bisik Ana yang membuat Siva langsung terdiam.
Arthur masih diam berdiri dibelakang Ana, memperhatikan Ana yang saat itu masih terlihat asik berbicara dengan Siva.
"Arthur..." Panggil Ana.
"Ada apa Nona?"
"Aku ingin bawa Siva jalan-jalan apakah boleh?"
Terlihat sekali di wajah Arthur bahwa dia tidak begitu yakin dengan ucapan Ana yang ingin membawa Siva jalan-jalan.
"Tenang saja, aku hanya membawanya disekitar wilayah Elf."
Mendengar ucapan Ana, Arthur pun langsung menyetujui keputusan Ana, "Baiklah namun anda hanya boleh membawa Nona Siva di sekitar wilayah Elf saja, lebih dari itu maka saya akan dengan terpaksa menangkap anda yang ingin kabur dari wilayah kami!" ucap Arthur yang langsung di setuju oleh Ana.
"Apakah kau dengar itu Siva?" tanya Ana tersenyum.
"Kyu~"
"Baiklah kalo begitu, ayo kita pergi sekarang," ajak Ana yang langsung disetujui oleh Siva.
Dengan perasan yang berat Arthur melihat Ana dan juga Siva, yang sudah terbang jauh meninggalkan gua tempat tinggal mereka, tidak tau ke mana Ana membawa Siva pergi yang pasti selama mereka masih ada di wilayah Elf, maka akan muda bagi Arthur untuk mengawasi mereka berdua.
Brak!
"Yang Mulia!"
Arthur yang saat itu sedang sibuk melakukan pekerjaannya, langsung dibuat kaget dengan salah satu kaumnya yang tiba-tiba saja datang ke ruang kerjanya.
"Ada apa?"
"Yang Mulia! Nona Ana dan Nona Siva telah pergi jauh meninggalkan wilayah Elf!"
"APA!"
"BAGAIMANA BISA MEREKA SAMPAI KELUAR WILAYAH? CEPAT KERAHKAN SEMUA TENAGA, DAN CARI MEREKA CEPAT!" Pekik Arthur yang langsung disetujui oleh para kaum Elf.
__ADS_1
TBC