
Besok paginya Dylan benar-benar berkunjung ke kediaman kelurga Ronan, dirinya langsung dilayani dengan baik oleh para pelayan di sana.
"Silahkan masuk Pangeran, saya akan mengantar anda ke ruang tamu."
"Baik."
Setelah Dylan sudah diantar ke ruang tamu, pelayan itu langsung berjalan mendatangi Teri yang masih berada didalam kamarnya.
"Apa! Ada Pangeran?" pekik Rita dengan ekspresi terkejut.
"Kenapa tiba-tiba sekali? Nona anda harus segera bersiap!" pekik Rita yang langsung menatap ke arah Teri.
"Tidak usah!"
"Ya?"
"Tidak usah melakukan persiapan, aku akan langsung mendatangi Pangeran sekarang."
"Apa!" pekik para pelayan di sana.
"Ta... Tapi Nona, saat ini anda masih-"
"Tutup mulut mu Rita, telinga ku jadi sakit mendengar ocehan mu pagi-pagi begini," ucap Teri memotong ucapan Rita.
Teri menatap dirinya didepan cermin, masih dengan menggunakan pakaian tidur, serta rambutnya yang baru saja disisir oleh Rita, walaupun masih menggunakan baju tidur setidaknya pakaian yang dia gunakan masih terbilang sopan, hanya tinggal menggunakan syal saja maka penampilan dirinya akan semakin sempurna.
"Berikan saja syal ku sekarang!" perintah Teri.
"Baik Nona," jawab Rita yang sudah pasrah.
...~*~...
Pintu ruang tamu terbuka Dylan yang saat itu ada di ruang tamu, langsung menolehkan kepalanya saat melihat Teri yang sudah datang dengan menggunakan pakaian tidur.
"Selamat pagi Pangeran," sapa Teri memberi salam pada Dylan.
Tanpa Dylan suruh, Teri langsung duduk di sofa yang berhadapan langsung dengannya.
"Ada urusan apa anda datang ke sini pagi-pagi Pangeran?" tanya Teri langsung.
"Baru kali ini aku melihat orang yang hanya menggunakan pakaian tidur, menemui kelurga kerjaan."
"Ah... Apa anda merasa keberatan dengan penampilan saya?" tanya Teri tersenyum.
"Tidak juga."
"Baguslah saya kira anda akan merasa tidak nyaman dengan penampilan saya saat ini."
Brak!
Mata Teri langsung terbuka lebar saat melihat Dylan yang tiba-tiba saja beranjak dari tempat dia duduk.
Srak!
"Pa...Pangeran... Apa yang mau anda lakukan?"
Wajah Teri terlihat memerah saat Dylan tiba-tiba saja mengurung dirinya dengan tatapan yang begitu tajam.
Dengan cepat Teri langsung menolehkan wajahnya ke arah lain, disaat dirinya merasakan ada hembusan kasar keluar dari mulut Dylan.
__ADS_1
Tidak! Tidak! Tidak! Ini terlalu dekat.
"Pangeran, apa anda bisa menjauh sedikit?" pita Teri sambil menyentuh dada Dylan yang begitu keras.
Dengan mata yang masih melirik tajam wajah Teri, Dylan mengambil kedua tangan Teri yang sedang menyentuh dadanya.
"Kenapa bukankah saat ini kau sedang menggoda ku?"
"Hah! Apa?"
Deg!
Mata Teri langsung terbuka lebar saat mata Dylan dengan matanya saling bertemu, seketika bibirnya menjadi kaku memandang wajah Dylan yang begitu tampan jika diliat dengan dekat.
Jantungnya semakin kuat berdetak disaat Dylan semakin mendekatkan wajahnya ke arah Teri dengan matanya yang perlahan-lahan tertutup, tentu saja melihat ekspresi Dylan Teri semakin dibuat bingung.
Cup!
Tidak mungkin, ini pasti tidak nyata ciuman pertama ku.
Dengan perasan campur aduk, bibir mereka saling bertemu, Teri mengepalkan kedua tangannya yang masih ditahan oleh Dylan, serta matanya yang langsung tertutup rapat disaat dirinya merasakan sentuhan hangat dari bibir Dylan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Bisa gila aku.
Brak!
Dylan langsung menjatuhkan tubuh Teri keatas sofa dengan bibir mereka yang masih belum lepas.
"Agh... ha... ha..."
Nafas mereka saling bersahutan, Dylan kembali melanjutkan aksinya dengan mencium leher Teri dengan dalam, sentuhan hangat dari Dylan mampu membuat dirinya merasa ingin terbang.
Apa ini semua sudah benar? Rasanya aku seperti melakukan kesalahan.
Dylan masih gencar mencium leher Teri, hingga tangannya berjalan masuk ke dalam pakaian Teri, disaat itulah kesadaran Teri langsung kembali.
Brak!
"Agh!"
"Ma...Maaf kan saya Pangeran!" pekik Teri yang langsung merasa tidak nyaman.
Mata Teri langsung terbuka lebar menatap wajah Dylan yang juga sama kagetnya, pakaian yang telah dia gunakan pun telah berantakan karena ulah Dylan.
"Ma... Maaf Pangeran," Teri berucap dengan perasaannya yang campur aduk.
Seketika susana didalam ruangan menjadi canggung setelah Teri dengan tidak sengaja mendorong tubuh Dylan menjauh.
"Apa kau takut?" tanya Dylan tiba-tiba.
Teri kembali duduk di kursinya dengan merapikan pakaiannya yang sudah diberatakin oleh Dylan.
"Entahlah."
"Sebenarnya kau ingin kan?" tanya Dylan tersenyum.
Entah kenapa rasanya malah aku yang jadi malu.
"Saya rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan Pangeran."
__ADS_1
"Apa kau mengusir ku?"
"Mana mungkin saya berani mengusir anda Pangeran."
"Kalo begitu jawab pertanyaan ku sekarang!"
Teri langsung menolehkan wajahnya ke arah Dylan, yang masih menatap tajam wajahnya.
"Jika kau begitu menyukai sentuhan ku! Lantas kenapa kau ingin berpisah dengan ku?" tanya Dylan.
"Apa?"
"Ciuman tadi, serta sentuhan yang ku berikan padamu semuanya tidak kau tolak, malah sebaliknya kau seperti menikmatinya."
"Pangeran!" pekik Teri yang mulai merasa malu.
Grab!
"Kalo bukan karena kau membenci ku, pasti ada sesuatu hal yang sedang kau sembunyikan dibelakang ku!"
Teri hanya diam dengan matanya yang masih terbuka lebar, sedangkan Dylan dengan hangat kembali menggenggam tangan Teri.
"Tidak ada yang saya sembunyikan dari anda Pangeran," jawab Teri yang langsung membuang wajahnya dari hadapan Dylan.
"Tidak ada, lantas kenapa kau ingin menolak pernikahan yang sudah diatur oleh Yang Mulia."
"Itu..."
Tidak mungkin kan aku bilang, bahwa Iris penyebab ini semua.
"Saya hanya belum siap," jawab Teri cepat.
"Apa? belum siap?" tanya Dylan bingung.
"Baiklah kalo begitu, ngomong-ngomong 5 hari lagi ada festival hasil panen di Istana, aku ingin kita berdua jalan ke istana secara bersamaan."
"Apa?"
Dylan langsung berdiri dari duduknya dengan merapikan sedikit pakaiannya yang berantakan.
"Kali ini aku tidak akan menerima penolakan mu!"
"Ta... Tapi Pangeran, bagaimana dengan Nona Kalika, bukankah anda biasa jalan bersamanya?"
"Kenapa kau begitu peduli dengan orang lain? Pikirkan saja dirimu sendiri, dan lagi tunangan ku sekarang adalah kamu bukan Nona Kalika apa sekarang kau paham!"
Deg!
Walau nada bicara Dylan begitu tinggi akan tetapi dirinya begitu senang, saat mengetahui Dylan mengakui dirinya sebagai tunangannya, rasanya jantungnya terus berdetak kencang saking senangnya dirinya saat ini.
"Aku akan pergi sekarang, kau tidak usah mengantar ku, karena aku tidak mau kau keluar hanya menggunakan pakaian tidur."
"Ba... Baik Pangeran," jawab Teri tanpa membantah.
Setelah kepergian Dylan, wajah Teri langsung berubah merah dirinya merasa sangat senang, dan juga malu jika kembali diingatkan dengan kejadian yang baru saja dia alami.
"Sentuhan itu, rasanya... Rasanya pengen ku ulang terus," pekik Teri kegirangan.
"Agh... Bisa gila aku!" pekik Teri yang kembali menyembunyikan wajahnya di bantal sofa.
__ADS_1
TBC