Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia

Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia
38


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Ian dan Penyihir itu kembali pulang ke rumahnya dengan meninggal Teri sendirian di sana.


"Nona, apa anda yakin akan menyimpan ramuan itu?" tanya Ian saat melihat Teri terus menatap ramuan itu.


"Tentu saja, Karena hanya cara ini agar bisa bertemu dengan orang itu," jawab Teri.


Mata Teri kembali menoleh ke arah Ian yang saat itu masih menatap dirinya dengan bingung, "Lalu apa kau sudah dapat petunjuk mengenai masalah mu?"


Ian hanya diam, dirinya langsung menoleh ke bawah, dengan Teri yang dengan lembut menyentuh tangan Ian.


"Tidak banyak yang saya dapat Nona, apa lagi mengenai kelurga Kalika, penyihir itu hanya bilang pada saya bahwa kedepannya hidup saya akan lebih banyak tantangan."


"Para penyihir memang sering berkata seperti itu, agar masa depan yang dia liat tidak akan berubah banyak."


Teri dan Ian kembali diam, "Untuk jaga-jaga, sebaiknya kau mulai hidup dengan waspada, kau tidak boleh gampang percaya dengan orang yang terlihat baik pada mu, ingat yang bisa kau percaya saat ini hanya aku! Apa kau paham?"


Dengan kepala yang menunduk Ian langsung menjawab ucapan dari Teri, "Tentu saja Nona, bukankah saya sudah bersumpah pada anda, bahwa nyawa saya ini hanya untuk Nona!"


Mendengar itu membuat membuat Teri langsung tersenyum lebar, "Ian, aku sangat bersyukur bahwa kau selalu berada dipihak ku," ucap Teri.


Sejak saat itu Ian dan Teri mulai hidup dengan tingkat kewaspadaan yang begitu tinggi, bahkan mereka sudah tidak mau banyak bicara lagi, karena mereka tau bahwa semua yang ada di sini adalah palsu.


...~*~...


"Nona!"


Ian datang ke ruang bawah tanah, tempat di mana Teri saat ini dikurung, sebentar lagi waktu persidangan akan di mulai, dan ini adalah kesempatan terakhir yang mereka punya agar bisa terbebas dari jeratan yang membuat mereka tersiksa.


"Ian, Apa menurutmu aku bisa melewati ini semua?"


"Jangan khawatir Nona, mau semua orang tidak mendukung anda pun, saya akan tetap percaya bahwa nona tidaklah bersalah!"


"Saya akan selalu mendukung anda Nona, Saya akan terus mendukung anda, maka dari itu berhentilah menganggap bahwa anda sendirian di sini." ucap Ian menenangkan Teri.


"Terim kasih Ian," jawab Ana sambil berusaha tersenyum.


"Ian... ini ambilah."


"Ini kan?"

__ADS_1


Ian terdiam saat Teri tiba-tiba saja memberikan dirinya botol ramuan yang mereka dapat dari penyihir kemarin.


"Tolong gantikan aku, jika aku memang gagal berubah takdir, bisakah nanti kau saja yang meminum ramuan itu!"


"Apa?"


"Penyihir itu bilang, jika aku meminum ramuan itu, maka aku bisa bertemu dengan orang yang membuat dunia ini."


"Nona... Pegang kata-kata saya, saya yakin dipersidangan nanti anda pasti bisa membuktikan, bahwa anda tidak bersalah!"


Mendengar perkataan Ian, entah kenapa perasaannya menjadi jauh lebih tenang, mungkin ini yang dia rasakan karena dirinya sudah terbiasa bartergantungan dengan Ian.


"Terima kasih Ian."


...~*~...


"Persidangan pun berjalan dengan waktu yang cukup lama, banyak dari mereka yang menolak bahwa aku bisa dibebaskan!"


"Mereka yang ada di sana ingin sekali aku mati, hanya kelurga Valantie saja yang saat itu masih mendukung ku!"


"Karena bukti yang saat itu mereka perlihatkan tidak begitu kuat, maka dari itu aku bisa bebas, walaupun aku bebas bersayarat, kau pun pasti sudah tau Ana kenapa aku bisa bebas dengan bersayarat!" ucap Teri pada Ana.


"Lalu apa yang terjadi setelah persidangan itu?" tanya Ana penasaran.


"Tentu saja kelurga ku langsung diusir dari ibu kota, bahkan ayah ku pun ikut terserat dengan kehilangan pekerjaannya, para nyonya di pergaulan kelas atas tidak ada yang mau menerima kami lagi, bahkan kelurga kerajaan!"


"Kau pasti mengalami kehidupan yang cukup sulit Teri, ini semua adalah kesalahan ku, coba saja_"


Grap!


Dengan mata yang menatap tajam wajah Ana, Teri langsung memegang kuat tangan Ana yang membuat dirinya langsung berhenti berbicara.


"Ini semua bukan kesalahan mu Ana, maka dari itu berhentilah menyalahkan diri mu sendiri!"


"Kau ada di sini karena aku, dan dunia ini ada karena kau, maka dari itu jangan menyalahkan dirimu sendiri, karena kita semua salah di sini!" ucap Teri yang mencoba menenangkan Ana.


Setelah mendengar perkataan Teri seketika dirinya menjadi jauh lebih baik, kini Teri kembali melanjutkan ceritanya.


"Setelah kejadian pengusiran itu, di rumah aku terus menatap botol

__ADS_1


ramuan itu dengan tatapan kosong, entahlah didalam kepala ku seperti ada bisikan yang mengatakan bahwa botol itu beracun, namun ada juga yang mengatakan bahwa aku harus cepat meminum botol itu!"


"Tapi kamu tetap meminumnya kan?" tanya Ana, Teri langsung menganggukkan kapalnya.


"Benar aku memang meminumnya, rasa sakit saat aku meminum ramuan itu, masih terus terasa hingga sekarang."


"Ana!" panggil Teri, Ana langsung membesarkan kedua matanya.


"Iya?"


"Setelah aku meminum ramuan itu, disitulah awal aku bisa berbicara dengan mu, awal dimana kita menangis bersama, apa kau ingat?"


Seketika suasana didalam ruangan menjadi hening, Ana dibuat diam ketika kepalanya diingatkan kembali dengan kejadian dirinya bisa bertemu dengan Teri untuk pertama kalinya.


"Berbeda dengan Nona."


Ian tiba-tiba saja angkat bicara yang membuat semua orang langsung tertuju padanya.


"Merasa bahwa Nona tidak pernah muncul lagi, saya pun bertekad untuk memantau aktivitas di kediaman kelurga Ronan, setiap hari saya terus memantau aktivitas di rumah itu, hingga akhirnya saya melihat anda keluar dari rumah itu!" ucap Ian dengan mata menatap tajam wajah Ana.


"Walau pun anda telah masuk ke dalam tubuh Nona, tapi saya bisa menilai bahwa anda bukanlah Nona Teri itu sangat terlihat jelas sekali dari bola mata anda yang sangat berbeda dengan warna bola mata Nona!"


"Apa sebegitu jelasnya?" tanya Ana, Ian langsung menganggukkan kepalanya.


"Iya itu sangat jelas, maka dari itu, saya terus berusaha mencari keberadaan dari rumah penyihir itu, untuk menanyakan keberadaan dari Nona saya, namun saat saya datang ke sana, saya sama sekali tidak bisa menemukan rumah penyihir itu lagi, dikarenakan penyihir itu hanya muncul jika memang ada pesan yang harus dia sampaikan, mirip seperti kejadian saat nona mengutus saya untuk mencari penyihir itu," ucap Ian dengan nafas naik naik turun.


"Saya sangat frustasi saat itu, karena tidak bisa mencari keberadaan nona, saya merasa bahwa saat itu saya telah gagal menjadi pelindung nona, setiap hari saya mendatangi rumah Nona dengan harapan bahwa nona telah kembali, namun apa yang terjadi? sudah lebih dari satu bulan nona tidak pernah muncul lagi."


"Namun diwaktu saat saya ingin menyerah, saya menemukan satu sosok wanita asing berdiri didepan rumah saya."


Dengan lembut tangan Teri mengelus kepala Ian, yang membuat air mata Ian seketika ingin jatuh.


"Saya bertemu kembali dengan Nona, walaupun wujud nona berbeda, namun saya bisa menilai bahwa itu adalah Nona saya."


Ian berucap dengan bibirnya yang sedang tersenyum lebar, melihat wajah Ian saat itu, Ana bisa menilai bahwa Ian sebenarnya sangat mencintai Teri, melebihi Dylan mencintainya.


"Lalu Teri, mengenai kau bisa kembali ke sini bagaimana kau bisa melakukannya? Dan apa yang sebenarnya terjadi dengan dunia ku? Apa di sana baik-baik saja?" tanya Ana penasaran.


TBC

__ADS_1


__ADS_2