
Suasana yang begitu hangat tercipta diantara mereka berdua, Ana tersenyum menatap wajah Cleo, sedangkan Cleo terlihat bingung untuk menentukan jawaban yang tidak membuat perasaan Ana hancur.
"Menurut saya, anda adalah orang misterius, yang terus menarik perhatian saya," jawab Cleo.
"Hmm?"
"Wajah anda itu sangat sulit bagi saya untuk menilainya, kadang anda tersenyum, kadang anda dingin, bahkan sekarang anda terlihat ceria, seolah-olah mengatakan bahwa kejadian tadi siang bukanlah hal besar bagi anda."
Tidak tau harus beranggapan seperti apa, namun mendengar ucapan Cleo, Ana hanya terkekeh dengan Cleo yang terus menatap wajahnya dengan dalam.
"Kenapa anda tertawa? Apakah jawaban saya ada yang lucu?" tanya Cleo bingung.
Ana langsung menggelengkan kepalanya yang membuat Cleo semakin dibuat bingung.
"Hah..."
Tuk!
"Ya...Yang Mulia?"
"Sebentar saja."
Ana langsung menutup kedua matanya, disaat dirinya dengan sengaja menyadarkan kepalanya pada pundak Cleo.
Sebuah angin yang begitu kencang membuat beberapa helai rambut mereka menjadi bergoyang, bersamaan dengan jantung Cleo yang terus berdetak kencang.
"Hu..."
Badan Cleo semakin dibuat kaku, dikala Ana tanpa rasa bersalah menghembuskan nafasnya pada lehernya yang jenjang.
Bisa gila aku.
"Cleo..."
Deg!
Dengan cepat mata Cleo kembali terbuka disaat Ana secara tiba-tiba memanggil dirinya dengan nada yang begitu berat.
"Apakah menurut mu dengan aku kembali ke Achilles semuanya akan baik-baik saja?"
"Kenapa anda tiba-tiba berkata seperti itu?"
"Entahlah aku juga tidak tau...," Balas Ana yang terlihat tidak bersemangat.
Cleo kembali diam begitu pula dengan Ana, Cleo tidak tau harus menggapai ucapan Ana seperti apa, mereka sama-sama dibuat larut dalam pemikiran masing-masing.
"Jika memang Achilles adalah tempat anda, maka saya dengan senang hati akan selalu melindungi anda, walaupun saya sendiri tau kekuatan yang saya miliki ini tidak sebanding dengan milik anda," jawab Cleo dengan tenang.
Grap!
Dalam situasi yang begitu tenang, Ana secara tiba-tiba meremas kuat celana yang saat ini Cleo gunakan, membuat Cleo secara tidak langsung menjadi terkejut.
"Yang Mulia?"
"Cleo... Se...Sebenarnya aku sangat takut..."
"Aku takut dengan terjadinya perang, aku... Aku tidak mau lagi melihat banyak manusia yang mati..."
"Apa Yang Mulia begitu takut?"
Dengan pelan Ana langsung menganggukkan kepalanya, "Tentu saja," jawabnya dengan nada yang begitu pelan.
__ADS_1
kembali Ana dibuat diam kali ini tangannya dengan pelan langsung berjalan memeluk dada Cleo yang bidang, membuat Cleo seketika dibuat diam.
"Yang Mulia?"
"Cleo," Setetes air mata jatuh pada pelupuk mata Ana, bersamaan dengan Ana yang semakin kuat memeluk tubuh Cleo.
"Yang Mulia?"
"Cleo Kenapa? Kenapa? Kenapa bayangan perang itu, terus terlintas di kepala ku? Rasanya sakit sekali saat bayangan itu terus menganggu ku, Kenapa? Kenapa Bayangan itu terus muncul?" Pekik Ana yang mulai frustasi.
"Yang Mulia?"
"Aghh... Rasanya sangat menyakitkan."
"Yang Mulia!" pekik Cleo yang langsung memegang wajah Ana dengan kedua tangannya.
"Yang Mulia, tenanglah," jawab Cleo yang mencoba untuk menenangkan Ana.
Dengan mata yang masih berkaca-kaca Ana menatap wajah Cleo yang saat itu juga sedang menatap wajahnya.
"Percayalah pada kami Yang Mulia," Ucap Cleo yang dengan lembut menghapus air mata Ana.
"Walaupun kami tau kekuatan yang kami miliki tidak sepadan dengan milik Anda, namun kami semua sudah bertekad bahwa kami pasti bisa melindungi Achilles begitu juga dengan Anda."
"Cleo..."
Dengan tersenyum Cleo mengelus pipi Ana yang basah karena air mata.
"Maka dari itu, percayalah pada kami Yang Mulia," Dengan lembut Cleo menempelkan keningnya dengan kening Ana.
"Jangan pendam semuanya sendiri, berbagilah masalah anda dengan kami Yang Mulia," lirih Cleo yang membuat air mata Ana kembali keluar.
"Hig... Te... Terima kasih Cleo," lirih Ana yang kembali memeluk tubuh Cleo.
...~*~...
Saat ini di desa Elf, Teri yang saat itu tidak ada melihat keberadaan Ana atau pun Cleo memutuskan untuk berjalan keluar untuk mencari keberadaan mereka.
Hari sudah semakin malam, dan Teri belum ada sekali pun melihat keberadaan Ana dan juga Cleo, terakhir dirinya bertemu dengan mereka disaat makan malam tadi, apa jangan-jangan mereka sudah kembali ke Achilles dan dirinya malah ditinggal sendiri di sini.
"Itu kan?"
Langkah Teri langsung terhenti disaat matanya tanpa sengaja menatap Arthur yang saat itu sedang berjalan ke arah dirinya.
"Selamat malam Nona Ronan?" sapanya pada Teri.
"Selamat malam juga, Yang Mulia," jawab Teri yang langsung menundukkan badannya.
"Apa telah terjadi masalah? Kenapa anda keluar malam-malam seperti ini?" tanya Arthur dengan tatapan bingung.
"Ah... Tidak saya hanya sedang mencari keberadaan Pangeran Achilles serta Ana."
"Iya?"
"Ma...Maksud saya Ratu Achilles," jawab Ana dengan cepat.
"Ah... Ternyata anda masih belum terbiasa dengan identitas Ratu kami," jawab Arthur sambil tersenyum ramah.
"Jika memang Ratu kami tidak keberatan dengan nama aslinya disebut, saya rasa tidak jadi masalah jika anda menyebut namanya."
"Ah... Ma... Maafkan saya," jawab Teri sambil terkekeh.
__ADS_1
"Yang Mulia! Apa yang sudah terjadi?"
Deg!
Mata Teri dan juga Arthur langsung terbuka lebar disaat mereka ada mendengar pasukan Achilles tiba-tiba saja menjadi heboh.
"Apa yang terjadi di sana?" tanya Teri yang sudah menoleh ke arah kerumunan.
"Ayo kita pergi ke sana," ajak Arthur yang langsung disetujui oleh Teri.
...~*~...
Cleo baru saja kembali dengan Ana yang saat ini sedang dia digendong, tentu saja melihat Ana yang saat itu sedang digendong oleh Cleo dengan gaya Bridal Style membuat semua orang menjadi panik, termasuk Teri dan juga Arthur.
"Yang Mulia! Apa yang sudah terjadi?" pekik salah satu pasukan Achilles yang ada di sana.
"Ini bukan masalah besar, jadi kalian tidak perlu heboh seperti itu," jawab Cleo yang kembali melanjutkan perjalanannya.
"Cleo? Apa yang sudah terjadi? Kenapa Ana kau gendong?" tanya Teri yang baru datang.
"Ini bukan apa-apa beliau hanya sedang tertidur."
"Apa?"
"Intinya dia baik-baik saja, sekarang aku ingin mengantarnya ke kamar dulu," balas Cleo yang kembali melanjutkan perjalanannya.
Setelah Cleo pergi, semua yang masih ada di sana dibuat diam, oleh Cleo termasuk dengan Teri dan juga Arthur.
"Sebenarnya mereka itu habis dari mana?" tanya Arthur penasaran.
"Mereka sangat mencurigakan," balas Teri.
...~*~...
Dengan hati-hati Cleo menaruh Ana ketempat tidurnya, wajah Ana yang terlihat tenang itu membuat Cleo seketika menjadi terdiam.
"Masih banyak yang harus anda ceritakan pada saya Yang mulia," lirih Cleo.
Dengan ekspresi yang begitu datar Cleo menatap ke luar jendela di mana cahaya bulan pada malam itu begitu terang dengan banyak bintang yang menemaninya, di tempat itu pula Cleo dibuat terpaku dengan wajah Ana yang terlihat cantik dimatanya.
"Aku pasti sudah gila," pekik Cleo yang langsung menutup kedua matanya.
Seketika hasrat ingin mencium bibir Ana muncul dipikirannya, warna bibir yang mirip seperti buah ceri serta kulit yang begitu halus, entah kenapa Ana memiliki itu semua, membuat hasrat untuk memiliki lebih muncul pada dirinya.
"Gila! Kenapa mata ku tidak pernah lepas dari bibirnya," pekik Cleo yang semakin dibuat frustasi.
"Cleo?"
Deg!
Mata Cleo langsung terbuka lebar disaat dirinya mendengar Ana yang sedang memanggilnya.
"Yang Mulia?"
"Cleo Mendekatlah," ucap Ana yang sudah merentangkan satu tangannya.
"Ada apa Yang Mulia?" tanya Cleo yang sudah mendekatkan wajahnya pada wajah Ana.
Cup!
Deg!
__ADS_1
"Apa sekarang kau puas?" tanya Ana sambil tersenyum.
TBC