
Mungkin ini akan menjadi malam yang sangat panjang bagi mereka, Ana yang saat itu berpikir bahwa dia tidak akan bisa kembali kedalam dunianya mulai mendapatkan titik terang mengenai dunia yang dia buat.
"Aku akan kembali bercerita, ini soal kehidupan mu yang terjadi di sana Ana."
Deg!
Jantung Ana berdetak sangat kencang disaat Teri mulai kembali bercerita, apakah ini merupakan titik terang baginya untuk bisa kembali ke dunia asalnya.
"Waktu itu dihari setelah kita bertemu, aku terjebak di dunia tempat kau tinggal!"
"Apa?"
"Aku sungguh tidak tau bagaimana caranya agar aku bisa kembali, aku sudah mencoba mencari cara agar aku bisa kembali, namun sekuat apapun aku berjuang aku masih tetap terjebak di dunia itu."
Ana masih diam mendengar Teri bercerita, suasana kembali hening, bersamaan dengan jantung Ana yang terus berdetak kencang.
"5 hari aku terjebak di dunia tempat kau tinggal, membuat ku sadar bahwa kehidupan yang selama ini kau jalankan begitu menyakitkan bagi ku yang sudah biasa hidup serba berkecukupan!"
Mendengar Itu Ana hanya diam, itu artinya Teri sudah tau seperti apa sifat dari keluarganya, mengetahui itu ada sedikit rasa malu pada dirinya, mengetahui bahwa orang-orang yang hidup bersama dirinya memilik sifat keras.
"Kau tau Ana? Terjebaknya kau di dunia ku, membuat tubuh mu yang ada di sana, menjadi mati!"
"Hah? Apa?"
"Mungkin ini terdengar gila bagi mu, namun saudara mu di sana tidak ada yang peduli dengan tubuh mu, bahkan mereka dengan kasar menampar wajah mu yang saat itu tidak sadarkan diri."
"Ah..."
"Ana... Apa hal seperti itu sudah biasa kau rasakan?" tanya Teri.
Dengan wajah datar Ana menganggukkan kepalanya mengatakan pada semua orang yang ada di ruangan itu memang memiliki sifat kasar seperti itu, dan itu semua sudah biasa dia rasakan.
"Lupakan saja soal kelurga ku yang ada di sana, mari kita kembali fokus! Teri katakanlah pada kami bagaimana caranya kau bisa kembali ke sini?" tanya Ana yang membuat semua orang langsung terdiam.
"Yang dia katakan benar Nona, saya pun masih penasaran bagaimana Anda bisa kembali ke sini?" tanya Ian yang ikut penasaran.
"Soal itu... Ana... Sebenarnya ada sesuatu yang harus kau tau."
"Hmm? Apa?"
"Itu... Sebenernya... Kau... Sudah meninggal."
Deg!
"Hah? Ti... Tidak mungkin, kau pasti becanda kan?" pekik Ana yang mencoba menyangkal ucapan Teri.
"Itu semua benar Ana."
Dengan terpaksa Teri menceritakan secara keseluruhan apa saja yang telah terjadi di dunia tempat Ana tinggal.
"Mengetahui bahwa kau sudah tidak sadarkan diri selama 3 hari membuat kelurga mu yang ada di sana berpikir bahwa kau sebenarnya sudah meninggal, awalanya mereka hanya berpikir bahwa kau saat itu sedang tertidur, setiap jam mereka selalu meneriaki mu untuk bangun namun kau tidak bangun-bangun bahkan mereka juga selalu berbuat kasar pada mu agar kau bisa bangun."
"3 hari berlalu, mereka mulai berpikir bahwa saat itu kau memang benar-benar sudah meninggal, mereka mulai mengecek pernapasan mu, denyut nadi mu, semuanya mereka pastikan untuk mengecek apa kau masih hidup atau tidak, dan benar saja seluruh tubuh mu memang sudah tidak ada penggerakan lagi!"
__ADS_1
"Apa?"
Tubuh Ana langsung bergetar hebat dengan matanya yang terbuka lebar, tubuhnya seketika menjadi shock mengetahui bahwa saat ini dirinya sudah meninggal.
"Saat itu kelurga mu mulai panik mengetahui bahwa kau benar-benar sudah meninggal, namun dibalik itu semua ada sesuatu yang harus kau tau Ana."
"Apa?"
"Di malam itu, saat kelurga mu ingin melapor pada polisi soal kematian mu, tiba-tiba saja seseorang yang tidak aku kenal datang menghampiri kelurga mu."
"Seorang perempuan?" tanya Ana, Teri langsung menganggukkan kepalanya.
"Benar, perempuan itu langsung berjalan ke arah paman mu yang terlihat bingung dengan perempuan itu."
"Ana... Aku tidak tau soal ini, tapi apa kau tau orang yang bernama Tia?"
"Tia?"
Tia, Saat mendengar nama itu tubuh Ana langsung teringat dengan sahabatnya yang selalu ada disaat dirinya dalam keadaan senang ataupun terpuruk, namun dibalik itu semua kenapa tiba-tiba Teri menyebut nama sahabatnya.
"Kenapa tiba-tiba kau menyebut nama Tia?" tanya Ana yang masih berusaha untuk tetap tenang.
"Soal itu karena sepupu mu menyebut nama dari perempuan itu, Ana perlu kau tau perempuan yang bernama Tia itu, bukanlah orang baik."
Deg!
"Apa?"
Tubuh Ana semakin dibuat shock mengetahui bahwa sahabat yang dia nilai baik itu, ada hubungannya dengan ini semua.
"Kau pasti becanda!"
"Tidak, aku tidak becanda," jawab Teri langsung.
"Tia, perempuan itu dia bisa melihat ku di dunia mu!"
"Hah?"
"Waktu itu aku berpikir mungkin dia tidak bisa melihat ku, namun setelah ku perhatikan lagi, dia memang benar-benar bisa melihat ku! Perempuan itu... Dia membunuh semua kelurga mu Ana."
"Apa? Tidak mungkin! Bagaimana bisa Tia membunuh kelurga ku!" pekik Ana yang langsung meninggikan nada bicaranya.
Ana seperti kehilangan suaranya mendengar ucapan Teri, badannya seakan melayang mengetahui bahwa sahabat baiknya memiliki sifat keji seperti itu.
"Tidak mungkin, Tia tidak mungkin membunuh kelurga ku!"
"Tia, perempuan itu dia membunuh paman mu dihadapan istri dan anaknya, aku yang pertama kali melihat itu pun sangat terkejut, begitu pula dengan bibi dan sepupu mu, sepupu mu saat melihat ayahnya meninggal dengan cepat langsung kabur dari hadapan Tia, namun Tia dengan cepat langsung melemparkan sebuah pisau ke arah sepupu mu yang membuat dia langsung mati ditempat dengan pisau yang masih menusuk punggungnya."
Deg!
"Tidak mungkin."
Tubuh Ana semakin dibuat bergetar, tidak bisa dipungkiri walaupun kelurga pamannya terlihat kasar padanya namun Ana tidak bisa membantah bahwa selama ini yang selalu merawatnya bahkan memberinya tempat tinggal adalah pamannya.
__ADS_1
"Setelah sepupu mu meninggal, bibi mu pun ikut terbunuh, percayalah Ana teman mu itu dia tidak sebaik yang kau pikir, bahkan disaat kau sudah tidak bernyawa pun dia..."
"Dia kenapa?" tanya Ana yang semakin penasaran.
"Dia mencium kening mu Ana."
Deg!
"A... Apa?"
"Dia seperti orang gila, matanya yang awalnya berwarna hitam, entah sejak kapan menjadi warna merah menyala... Perempuan itu dia berjalan ke arah benda yang biasa kau pakai untuk menulis."
"Benda yang ku pakai buat menulis? Apa... yang kau maksud laptop ku?" tanya Ana, Teri dengan cepat langsung menganggukkan kepalanya.
"Benar itu!"
"Untuk apa dia mengambil laptop ku?" tanya Ana yang semakin dibuat penasaran.
"Itu... Karena... Karena dia tau bahwa kau ada di sini," jawab Teri yang membuat semua orang langsung terdiam.
"Hah?"
"Matanya, matanya yang berwarna merah itu menatap ku dengan tajam," Tubuh Teri seketika dibuat bergetar saat bayangan Tia kembali terlintas di kepalanya.
"Dia bilang pada ku, bahwa ini semua salah ku!"
"Apa?"
"Dia bilang, seharusnya aku tidak mendatangi mu," Tangis Teri seketika pecah dengan tubuhnya yang semakin kuat bergetar.
"Nona..."
"Aku takut Ana," Mata Teri langsung menatap wajah Ana dengan tatapan penuh ketakutan.
"Perempuan itu... Dia sedang mencari mu Ana, dia menginginkan kau kembali!"
"Dia... Dia juga hampir membunuh ku waktu itu."
Deg!
Jantung Ana semakin kuat berdetak seakan dirinya merasakan, apa yang saat ini Teri rasakan.
"Namun sebelum dia menyentuh tubuh ku, aku berhasil kabur dengan cara masuk ke dalam tubuh mu, sejak kejadian itu aku pun dibuat sadar saat mengetahui bahwa aku telah kembali ke dunia ku!"
"Aku kembali ke dunia ini mengunakan tubuh mu." Teri berucap dengan matanya yang menatap ke arah tangan.
"Mengetahui bahwa aku telah kembali ke dunia ini, dari situlah aku langsung berpikir untuk segera menemui Ian, karena di dunia ini hanya Ian yang bisa ku percaya untuk memberitahu semua kejadian ini."
Di malam itu dengan keadaan yang sedang hujan deras, mereka sama-sama dibuat tegang dengan cerita Teri, bahkan Ana yang saat itu sempat berpikir bisa kembali ke dunianya, seakan dirinya dibuat berpikir dua kali untuk bisa kembali pulang.
"Sekarang aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di sana," lirih Ana dengan mata menatap kosong ke depan.
TBC
__ADS_1