Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia

Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia
47


__ADS_3

Suasana makan siang berjalan cukup lancar mereka semua menyantap makan siang bersama di desa kaum Elf, dan rencananya Ana akan ikut kembali ke kerajaan Achilles dengan Cleo dan serta Teri besok pagi.


"Apa ada masalah?" tanya Teri saat melihat Ana yang sedang melamun di balkon.


"Yang Mulia?"


"Hmm? Yang Mulia?" langkah Ana langsung terhenti saat dirinya mendengar Teri yang menyebut dirinya dengan formal.


"Apa saya salah bicara?"


Mendengar itu Ana hanya terkekeh, Siva hewan kesayangannya langsung terbang ke atas kepala Teri, yang membuat Teri seketika langsung menutup kedua matanya.


"Tidak usah memanggil ku Yang Mulia Teri, karena aku sudah nyaman dengan panggilan Ana, panggilan Yang Mulia itu hanya diperuntukkan bagi pengikut ku saja," jawab Ana sambil tersenyum.


"Ah... Baiklah Ana," balas Teri dengan susah payah.


"Apa yang sedang kau pikiran sampai melamun seperti itu?" tanya Ana yang ikut menaruh kedua tangannya di pagar balkon.


"Ah... Aku hanya sedang memikirkan kedua orang tua ku," jawab Teri dengan ekspresi wajah yang terlihat sedih.


"Hmm... Membicarakan soal kedua orang tua mu... Seketika membuat ku menjadi iri."


"Iya?"


"Hah... Kau tau Teri, mempunyai orang tua yang peduli dan cinta pada anaknya merupakan keinginan bagi banyak anak, termasuk dengan ku," ucap Ana, Teri hanya diam.


"Dulu aku ditemukan oleh ibu kandung Siva, saat itu ibu kandung Siva bercerita pada ku bahwa saat itu ibu kandung ku telah membuang ku ke gua tempat ibu Siva bertelur."


Mengingat kejadian itu membuat Ana langsung tersenyum lebar, "Entah apa motif ibu ku yang saat itu, membuang ku yang baru lahir, yang pasti setelah ibu ku pergi, ibu Siva pun yang mulai mengurus perkembangan ku, dari makan, berburu, pertahan diri, sampai pada dia yang mengantar ku ke desa Elf."


"Kerajaan Achilles dulu belum ada, namun melihat Siva yang sebentar lagi akan menetas, membuat ibu kandung Siva dengan cepat mencari keberadaan dari kaum Elf karena dirinya tau, bahwa hidupnya tidak akan lama lagi."


"Intinya aku sangat iri dengan mu Teri, memiliki orang tua yang lengkap dan sayang pada mu, membuatku seperti memiliki orang tua kandung, bahkan aku sempat bertanya-tanya apakah seperti ini rasanya memiliki kedua orang tua yang sayang dengan kita."


Teri hanya diam, tangannya dengan lembut menggenggam kuat tangan Ana sambil tersenyum lebar, dirinya berjanji akan selalu menganggap Ana sebagai teman, saudara, serta orang yang paling dia hormati.


"Ana, tidak masalah bagi ku, untuk menganggap orang tua ku sebagai orang tua mu juga, karena... Tanpa dirimu aku pun pasti akan dicap sebagai anak yang gagal membahagiakan orang tua ku."


"Kau pasti ingat Ana, dulu kelurga ku memiliki segalanya, harta, martabat, kehormatan, serta jabatan, semua dulu kelurga ku miliki, namun itu semua hilang hanya karena kebodohan ku sendiri."


"Teri... Kau melakukan hal itu kan juga karena ku," balas Ana dan mereka berdua langsung tertawa bersama.


"Hahaha kau benar Ana."


"Entah kenapa aku merasa bahwa Kita ini seperti orang bodoh yang membicarakan hal tak berguna seperti ini," balas Ana yang terus terkekeh.


......................

__ADS_1


Malam harinya Ana berjalan dengan Siva ke tepi danau, setelah sampai Ana pun langsung duduk ditepi danau itu dengan matanya yang menatap ke arah langit.


"Hah... Sudah lama aku tidak merasakan sensasi seperti ini, tidur di atas pandang rumput dengan ditemani Siva!"


"Hyuuu"


"Lalu langit yang dihiasi banyak bintang!"


"Hyuu."


"Nyaman sekali," seru Ana sambil menutup kedua matanya.


Tap


Tap


Tap


"Yang Mulia?"


Deg!


"Maaf Yang Mulia, Apa saya boleh bergabung?"


Mata Ana langsung terbuka saat dirinya ada mendengar suara Cleo dibelakangnya.


"Kemari lah, duduk di samping ku," ajak Ana sambil menepuk-nepuk tempat yang ingin diduduki Cleo.


Tanpa mau membantah Cleo pun langsung duduk di samping Ana, mereka sama-sama menatap danau yang ada dihadapan mereka dengan Siva yang sedang terbang kesana-kemari menangkap ikan.


"Saya tidak menyangka bahwa anda lah Ratu Achilles yang hilang itu!"


"Hmm?"


"Waktu itu Raja Elf mendatangi saya yang berada di Homounculus, beliau bilang jika kau menginginkan harta aku bisa berikan, jika kau ingin pangkat aku juga bisa berikan, asal kau bisa mengelolanya dengan baik."


"Hmm? Arthur mengatakan hal itu?" tanya Ana memastikan.


Dengan cepat Cleo langsung menganggukkan kepalanya, "Iya awalnya saya tidak percaya, namun saat Raja Elf membawa saya ke tempat ini, barulah saya percaya."


"Walaupun tidak ada Raja, ataupun Ratu di negara Achilles, namun negara ini sudah bisa dibilang cukup bagus dalam hal pertanian, waktu itu Raja Elf juga mengizinkan saya untuk membawa siapa pun untuk tinggal di Achilles termasuk, kelurga Teri, namun keluarga Teri menolak untuk tinggal di sini, dikarenakan jabatan beliau yang sudah dianggap penting di sana."


"Cleo apa aku boleh bertanya sesuatu?"


"Silahkan saja Yang Mulia?"


Mata Ana langsung melirik ke arah Cleo, "Apa kau tidak punya orang tua?" tanya Ana.

__ADS_1


Masih dalam keadaan tersenyum Cleo menjawab, "Orang tua saya sudah lama meninggal, mereka meninggal waktu perang di Homounculus terjadi 5 tahun yang lalu, waktu itu saat kami ingin melarikan diri, tiba-tiba saja orang yang tidak kami kenal datang menghampiri orang tua saya dengan membawa sebuah pedang panjang..."


Celo memberi sedikit jeda pada ceritanya, "karena tebasan pedang itu lah yang membuat ayah dan ibu saya meninggal."


"Apa kau melihat kejadian itu secara langsung?"


"Tentu saja Yang mulia, karena saat itu posisi saya sedang bersembunyi dibelakang tubuh orang tua saya."


"Aku turut berduka atas meninggalnya kedua orang tua mu," balas Ana yang langsung menutup kedua matanya.


Cleo pun juga ikut menutup kedua matanya, mereka sama-sama larut dalam pikiran mereka masing-masing hingga suara Siva datang yang membuat dirinya langsung tersadar.


Huu Ibu sedang ditatap sama Pangeran Achilles.


Deg!


Mata Ana langsung terbuka lebar, bersamaan dengan Cleo yang sudah tertangkap basah oleh dirinya.


"Pangeran Cleo? Ke... Kenapa anda menatap saya seperti itu?" tanya Ana dengan susah payah.


"Ya?"


"Ah... Apa saya tidak boleh menatap anda seperti ini?"


"Apa?"


"Maafkan saya Yang Mulia, sepertinya kepala saya seperti lepas kendali."


"Hah?" pekik Cleo yang langsung menghembuskan nafas kasar.


"Maafkan atas sikap saya yang kurang sopan Yang Mulia, sepertinya kepala saya seakan tidak mau menuruti perintah saya, Ma.. Maksud saya dia seperti tidak mau menuruti ucapan saya begitu."


Ana hanya diam melihat sikap Cleo dengan matanya yang langsung berkedip dengan cepat, tidak lama kemudian dia tertawa, Ana tertawa dengan sangat keras yang membuat Cleo langsung tersenyum lebar.


"Apa-apaan sih? Memang ada yang seperti itu."


Melihat senyum Ana yang begitu manis lagi-lagi Cleo di buat diam olehnya, entahlah sudah banyak wanita cantik yang pernah dia temui bahkan para Elf pun juga banyak yang cantik, namun entah kenapa jika bersama Ana dirinya bisa merasakan ada sesi yang begitu berbeda dan rasa ini tentu tidak akan bisa dia dapatkan di sembarang wanita.


"Cleo?" panggil Ana tiba-tiba.


"Ya?"


"Menurut mu, bagaimana aku di mata mu?"


"Apa?"


"Kenapa? Jawab saja, aku... Ingin tau aku di mata mu ini seperti apa?" tanya Ana sambil tersenyum lebar ke arah Cleo.

__ADS_1


TBC


__ADS_2