Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia

Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia
29


__ADS_3

Besok paginya disaat Ana ingin kembali berjualan, sebuah kereta kuda yang begitu mencolok mendatangi rumahnya.


Melihat ada keributan dari luar, Ana pun dengan cepat langsung turun ke bawah, untuk melihat kondisi diluar.


"Apa ini?"


Ana terkejut saat melihat begitu banyak kotak hadiah yang telah tersusun rapi diruang utama rumahnya, bukan hanya 3 atau 5 kotak hadiah, tapi ini sungguh-sungguh banyak bahkan ada satu pelayan yang mendatangi Ana dan Luna dengan membawa sekotak perhiasan.


"Nyonya Baroness dan Nona Ronan, hadiah ini diberikan untuk Nona Ronan dari Yang Mulia Pangeran."


"Apa?"


Cling!


"Eh!"


Tidak tau harus berkata apa, mau itu Luna atau pun Ana mereka sama-sama terkejut saat melihat satu set perhiasan yang diberikan Dylan khusus untuk dirinya.


"Sebentar! Aku tidak bisa menerima semua hadiah ini, apa lagi diberikan dengan cara mendadak seperti ini!" ucap Ana yang langsung menutup kotak perhiasan itu.


"Kembalikan semua hadiah-hadiah ini pada Pangeran, dan sampaikan pada beliau bahwa Nona Ronan tidak membutuhkan ini semua!" perintah Ana yang langsung beranjak pergi dari tempatnya.


Luna yang melihat perubahan sikap Ana pun hanya bisa terdiam, begitu juga dengan semua orang yang ada di sana.


"Ah? Sayang... Apa kau sungguh-sungguh menolak semua hadiah ini?" tanya Luna dengan nada yang begitu tinggi.


"Iya!" jawan Ana dari arah kamarnya.


Mendengar jawaban dari Ana, Luna pun dengan berat hati mengiyakan kemauan Ana yang menolak semua hadiah pemberian Dylan.


"Maafkan saya yang merupakan Nyonya di rumah ini, dengan berat hati bisakah kalian membawa semua hadiah ini, dan katakan pada Pangeran untuk tidak lagi memberikan hadiah seperti ini secara berlebihan," ucap Luna dengan wajah yang begitu tenang.


"Baiklah jika seperti itu kemauan dari Nona Ronan," jawab perempuan itu dengan sopan.


"Kalo begitu, kami akan undur diri dan menyampaikan pesan ini pada Pangeran."


"Iya."


Dengan tersenyum lebar, Luna merasa sangat sayang barang-barang yang terlihat mahal itu harus diangkut kembali ke dalam kereta kuda, bahkan perhiasan yang memiliki nilai jual yang begitu tinggi pun ikut dibawa.


"Agh! Sayang... Ibu perlu bicara dengan mu!" pekik Luna mendatangi kamar Ana.


...~*~...


"Semuanya dikembalikan?"


"Iya Pangeran, semuanya... Tanpa TERKECUALI!" balas Teo menjelaskan.

__ADS_1


"Apa dia benar-benar sudah berubah?" gumam Dylan tak percaya.


"Lalu... Ada di mana sekarang dia?" tanya Dylan lagi.


"Dari laporan terakhir yang sama terima, Nona Ronan masih berada di rumah, dan mungkin saja malam dia kan kembali berjualan."


Brak!


Dengan Wajah yang penuh tekanan Dylan memukul meja kerjanya disaat dirinya menyadari bahwa semua barang yang dia beli dengan harga mahal malah ditolak oleh Ana.


"Kalo begitu persiapkan pakaian yang sederhana, nanti malam aku akan mencoba bicara langsung dengannya."


"Baik Pangeran!" jawab Teo yang langsung menundukkan kepalanya.


"Sial."


...~*~...


Disaat menjelang malam, Ana memulai bisnisnya dengan menata semua cake yang dibuatnya ke atas meja, tentu saja semua cake itu sudah dia bungkus dengan rapi untuk menghindari dari debu dan kotoran yang mungkin saja akan mengotori cake buatannya.


"Selamat malam Ana!" pekik salah satu orang yang sudah cukup lama mengenali Ana.


"Owh! Selamat Malam juga Elsa!" balas Ana.


Malam yang begitu ramai dan meriah membuat suasana dimalam itu menjadi jauh lebih menyenangkan dari pada saat dirinya bekerja di dunianya dulu.


"Ana ada yang ingin membeli cake mu!" ucap Elsa memotong ucapan dari Ana.


Ana pun dengan cepat langsung melirik ke depan, disaat Elsa temannya menegur dirinya.


"Ah... Anda ingin membeli apa Tuan?" tanya Ana dengan ramah.


"Aku beli semuanya!"


"Iya?"


"Aku bilang, aku beli semuanya!" jawabnya sekali lagi.


Mata Ana seperti kemasukan sesuatu saat dirinya mendengar orang itu ingin membeli semua cakenya tanpa pikir panjang.


"Saya beli semuanya, ini uangnya jika kurang anda bisa ikuti saya ke tempat Tuan saya menunggu di kereta kuda," ucap laki-laki itu memberikan 2 koin emas ke arah Ana.


Ana seperti orang linglung saat dirinya melihat laki-laki itu memberikannya dua koin emas berlambang kekaisaran, dimana koin emas ini memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi dibanding dengan uang koin kebanyakan.


"Kalo begitu, bisakah anda membantu saya membawa cake ini ke kereta kuda yang ada di sana?" tanya Laki-laki itu.


"Saya takut cakenya akan rusak, Karena cake ini akan saya berikan ke acara yang besok Tuan saya selenggarakan."

__ADS_1


"Apa? Ah... Tentu saja sebentar saya membawa keranjang yang bisa mempermudah kita membawa cake ini," Seru Ana yang langsung mengeluarkan keranjang miliknya yang tadi dia pakai untuk membawa barang dagangannya.


"Sudah selesai, lalu dimana kereta kudanya?" tanya Ana.


"Ada di sana, mari ikuti saya."


Tanpa ada rasa curiga sedikit pun Ana mengikuti laki-laki itu berjalan mengantar dirinya ke kereta kuda yang dia tunjuk tadi.


"Ini kereta kudanya, silahkan masukan cake nya ke dalam."


"Baik!"


Ana pun langsung maju ke depan membawa kue itu masuk ke dalam kereta kuda, setelah laki-laki tadi membukakan pintu untuk dirinya.


Deg!


Bagai disampar petir tubuh Ana seketika menjadi kaku saat dirinya melihat ada sosok laki-laki yang tidak asing baginya duduk didalam kereta kuda itu.


"Kau tidak mau masuk?" tanya sambil tersenyum.


Wajah Ana langsung berbuah datar, dirinya kembali menoleh ke arah laki-laki itu lagi, yang masih berdiri dibalakang tubuhnya.


"Apa ini perintah dari Pangeran?" tanya Ana tak suka.


Namun laki-laki yang tidak dia diketahui namanya itu hanya diam, sambil terus menundukkan kepalanya, membuat Ana yang saat itu masih memegang cake jualannya seketika ingin marah.


"Maaf Pangeran," ucap Ana yang kembali menoleh ke arah Dylan.


Buat apa sih laki-laki ini terus muncul dihadapan ku? menganggu saja!


"Maaf karena sudah berbuat seenaknya, ini adalah cake pesanan anda, kalo begitu saya izin pamit semoga perjalan anda lancar sampai tujuan, dan cakenya tidak hancur saat dihidangkan!" ucap Ana yang langsung beranjak pergi dari tempat dia berdiri.


Deg!


"Apa-apaan ini?" pekik Ana saat melihat begitu banyak laki-laki yang mengelilingi dirinya.


"Masuklah, kedatangan ku ke sini bukan hanya ingin membeli cake mu, tapi juga ingin bicara denganmu!"


Tangan Ana langsung terkepal kuat saat mendengar ucapan dari Dylan, "Masuklah aku tidak suka mengulang ucapan ku berkali-kali."


Dengan wajah datar, Ana memilih untuk menuruti ucapan Dylan, dengan rasa kesal Ana kembali membalikkan badannya menghadap pintu kereta kuda, seorang laki-laki yang tadi menemui Ana langsung menyerahkan satu tangannya untuk membantu Ana naik.


Grap!


"Aku sangat membenci kalian!" desis Ana saat dirinya meremas kuat tangan laki-laki itu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2