Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia

Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia
36


__ADS_3

Dengan terburu-buru akhirnya mereka semua bisa masuk kedalam kereta kuda, tentu saja prajurit yang dibawa Ian tanpa pikir pajang langsung memukul tali kudanya untuk segera pergi dari istana.


"Tuan, sepertinya jalan menuju ke rumah tidak begitu mulus, ditambah cuaca yang saat ini tidak begitu mendukung."


"Kalo begitu, cari penginapan yang masih buka di kota."


"Baik Tuan," jawabnya dengan cepat.


Suasana didalam kereta kuda kembali hening, Ana menoleh ke belakang dimana cahaya dari istana masih terlihat jelas.


"Ana, kita aman sekarang."


Ana langsung menoleh ke arah Teri yang sedang menyentuh tangannya, sentuhan hangat dari Teri begitu terasa hingga membuat hatinya menjadi jauh lebih tenang.


"Terima kasih Teri."


Kereta kuda yang mereka tumpangi terus bergerak pelan, hingga akhirnya mereka tiba di ibu kota, yang terlihat masih ramai dengan banyaknya toko-toko yang buka.


"Tuan, kita sudah sampai!"


"Baiklah, ayo turun," ajak Ian yang langsung dituruti oleh mereka.


"Kalian masuklah lebih dulu, aku akan mengasingkan kereta kuda milik kita, agar tidak bisa dicari oleh pihak kerajaan," ucap Ian pada Teri dan Ana.


"Baiklah."


Tanpa mau membantah Ana dan Teri langsung masuk ke dalam penginapan, di sana para pengunjung menatap mereka dengan tatapan aneh mungkin karena pakaian yang mereka gunakan terlihat sangat berantakan dan juga kotor.


"Permisi kami ingin pesan satu kamar yang berukuran besar, apa masih ada?" tanya Teri pada pelayan di sana.


"Harganya 1 koin emas untuk satu malam."


"Mahal sekali, apa tidak bisa kurang!"


Dengan wajah datar perempuan yang merupakan pelayan itu menggelengkan kepalanya, "Ini sudah harga murah, jika anda merasa ini terlalu mahal, anda bisa mencari penginapan yang lain."


"Tunggu!" pekik Ana tiba-tiba.


Teri langsung menoleh ke arah Ana begitu juga dengan pelayan hotel itu, "Apa ini bisa digunakan?" tanya Ana memberikan satu cincinnya pada pelayan itu.


"Ana apa kau yakin?" tanya Teri saat melihat Ana ingin menggunakan perhiasan miliknya sebagai alat transaksi.


"Tentu saja lagian..."


Ana langsung membisikan kepada Teri bahwa perhiasan yang dia gunakan saat ini merupakan pemberian dari Dylan, jadi bagi dirinya perhiasan ini tidak begitu pentin.

__ADS_1


"Jadi bagaimana? Apa ini bisa digunakan?" tanya Ana lagi.


"Ya bisa, ikuti saya, saya akan antar anda ke kamar penginapan," ucapnya dengan wajah datar.


"Terima kasih," jawab Ana dengan tersenyum.


Ana dan Teri dibawa oleh pelayan hotel itu ke sebuah kamar yang berada dilantai dua, saat mereka sampai di kamar pelayan itu langsung memberitahukan pada Teri dan Ana benda-benda apa saja yang ada di dalam kamar termasuk dengan kamar mandi.


"Terima kasih sudah mau melayani kami."


"Sama-sama Nona semoga tidur anda malam ini terasa nyaman," ucapnya sebelum akhirnya dirinya meninggalkan Ana dan Teri di kamar.


"Baiklah Ana, sebaiknya kau pergi mandi sekarang, jika ku liat saat ini pakaian yang kau gunakan terasa kurang yaman."


Dengan semangat Ana langsung menganggukkan kepalanya, "Baiklah kalo begitu aku pergi mandi dulu," ucap Ana yang langsung masuk kedalam kamar mandi.


...~*~...


Selama Ana mandi Teri memutuskan untuk keluar mencari Ian karena, dirinya percaya bahwa Ian pasti tidak akan tau keberadaan dari kemar mereka.


"Nona!" Pekik Ian dari lantai bawah.


"Bagaimana?"


"Semuanya sudah baik-baik saja, kereta kuda juga sudah kami buang ke jurang, lalu kami juga membeli pakaian untuk kalian, maaf saya tidak tau selera kalian seperti apa, setidaknya dengan pakaian itu bisa membuat kalian merasa jauh lebih nyaman."


"Kenapa?"


"Apa kita akan tidur bersama?" tanya Ian dengan ragu.


Buk!


Dengan sekali pukulan, Teri langsung memukul pundak Ian dengan sangat kencang, membuat semua perhatian orang-orang di sana menjadi tertuju pada mereka.


"Dasar bodoh, apa ini saatnya memikirkan hal cabul seperti itu hah!" pekik Teri dengan mata menatap tajam wajah Ian.


"Berhenti memikirkan yang aneh-aneh, ikuti aku sekarang!" perintah Teri yang langsung dituruti oleh Ian dan prajuritnya.


Di dalam kamar Ana langsung dibuat kaget dengan kedatangan Teri, serta Ian dan prajuritnya, melihat Ana yang hanya memakai pakaian Kimono tentu saja membuat Ian serta prajuritnya langsung menutup kedua mata mereka.


"Ana ini ada pakaian untuk mu, ko bisa memakai pakaian ini untuk sementara," ucap Teri memberikan pakaian baru pada Ana.


"Oh... Terima kasih," jawab Ana yang langsung menerima pakaian itu dari Teri.


Ana pun kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaiannya, sedangkan Teri langsung menatap sinis wajah Ian serta prajuritnya yang terlihat sangat mencurigakan.

__ADS_1


"Ian, memikirkan soal transportasi kita nanti, apa kau sudah memikirkan cara agar kita bisa jalan besok?"


"Owh soal itu anda tidak perlu risau nona, soalnya saya sudah membeli kereta kuda yang baru dan tentu saja modelnya jauh lebih sederhana dibanding dengan kereta kuda sebelumnya."


"Baguslah kalo begitu."


Tidak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka, Ana kembali muncul dengan pakaian yang jauh lebih nyaman untuk diliat.


"Apa kalian tidak ingin mandi?" tanya Ana saat melihat semua pasang mata melirik ke arahnya.


"Ah... Kami akan mandi nanti, sebelum itu ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada mu," ucap Teri sambil tersenyum.


"Ah..."


Mereka semua langsung duduk di lantai yang sama, Teri yang saat itu masih terperangkap di dalam tubuh Ana langsung angkat bicara untuk memulai cerita.


"Jadi Ana, ada sesuatu yang ingin sekali aku sampaikan pada mu, namun saat itu aku belum sempat menyampaikannya."


"Kau ingin menyampaikan apa?" tanya Ana penasaran.


"Apa kau ingat awal pertama kali kita bertemu?" tanya Teri pada Ana.


"Awal bertemu, apa yang kau maksud dengan mimpi itu?" tanya Ana, Teri langsung menganggukkan kepalanya.


"Benar, mimpi itu, mimpi yang membuat hidup kita berubah total," ucap Teri, Ana langsung terdiam.


"Sebelum kita bertemu di mimpi itu, aku ada bertemu dengan salah satu penyihir yang mengatakan... bahwa kehidupan ku akan digantikan oleh orang lain, apa kau tau Ana? Saat penyihir itu, berkata seperti itu aku malah berpikir apakah hidup ku tidak akan lama lagi? Namun penyihir itu hanya menggelengkan kepalanya dan kembali berkata, bahwa kau tidak akan meninggal jika dia masih hidup!"


"Ha?"


Semua orang langsung terdiam begitu juga dengan Ian serta prajuritnya, seketika suasana ruangan menjadi hening.


"Waktu itu aku tidak tau apa maksud dari ucapan penyihir itu, namun saat aku mulai memimpikan mu, samar-samar aku mulai mengerti maksud dari penyihir itu!"


"Ana, jiwa kita ini saling terhubung, dan kita tidak akan mudah meninggal, jika... kau dan aku masih saling terhubung."


"Tunggu... Tunggu Aku masih kurang paham dengan apa yang kau bicarakan."


"Simpel saja Ana, selagi jiwa mu masih berada pada tubuh ku, maka kita tidak akan mudah meninggal, namun berbeda jika jiwa kita sudah berada ditempatnya, maka kematian akan mudah datang menghampiri kita!"


"Apa?"


"Jadi maksud mu, selagi kita tidak berada pada tubuh kita, maka kita masih terbilang aman?" tanya Ana dengan mata yang terbuka lebar.


"Ya, kita akan aman selagi jiwa kita belum kembali," balas Teri yang membuat Ana langsung terdiam.

__ADS_1


TBC


__ADS_2