
Wajah penuh ketegangan langsung terlihat pada dari diri Ana, berbeda dengan Luna yang terlihat ke bingung saat Marwah tiba-tiba. saja mengatakan hal aneh pada Ana.
"Ah, Maaf saya hanya sedikit terpesona dengan kesucian dari tubuh Nona Ronan," ucapnya sambil tersenyum lebar.
"Apa?" tanya Ana bingung.
"Hahaha yang dikatakan teman saya memang benar, tubuh Nona Ronan terbilang sangat unik karena begitu banyak kesucian pada tubuhnya."
Masih dalam keadaan bingung, Luna langsung menatap wajah Ana dengan rasa bangga yang luar biasa, melihat tatapan dari Luna entah kenapa ada rasa bersalah pada dirinya.
"Sebaiknya kita masuk sekarang karena waktu doa sudah akan dimulai," ajak Siva yang langsung mereka setujui.
...~*~...
Di dalam kuil suci, sudah banyak para tamu yang hadir di dalam dari kelurga kalangan bawah hingga kalangan, menengah dan atas pun turut hadir dalam mengikuti doa bersama.
Disaat acara doa bersama telah selesai, Ana memutuskan untuk berpisah diri dengan Luna karena ada sesuatu yang ingin dia cari di kuil suci, mungkin saja jika dia bertanya masalah dirinya yang terjebak disini, orang itu bisa membantunya dalam mencari jalan pulang.
"Astaga! Padahal dunia ini aku sendiri yang buat, namun entah kenapa aku sendiri tidak tau letak ruangannya," gerutu Ana sambil menyusuri lorong dari kuil suci.
Sudah hampir satu jam Ana berkeliling untuk mencari keberadaan ruang Saintees, namun dia tidak pernah sekali pun mendapatkan ruangan tersebut, yang ada dirinya malah tersesat di dalam kuil suci.
"Aw..."
Ana menghentikan langkahnya disaat kakinya sudah merasakan perih yang luar biasa, dikarenakan sepatu yang digunakan begitu tinggi.
"Kaki ku sudah terasa sakit, dan aku belum juga menemukan dimana letak ruang Saintees."
Melihat kakinya yang lecet membuat Ana seketika ingin menangis, terjebak di dunia yang asing baginya membuat Ana seketika ingin kembali ke tempat yang seharunya dia berada.
Rasa kesal pun langsung muncul pada dirinya, jika kemarin dia berkeinginan untuk membantu Teri melupakan Dylan, namun sekarang dia malah berkeinginan untuk pulang, entah siapa yang membuat dirinya bisa merindukan tempat asalnya, dirinya sendiri pun juga bingung.
"Padahal aku sudah tidak punya siapa-siapa di sana, tapi... Kenapa aku malah ingin pulang," gumam Ana.
"Ayah... Ibu... Apakah ini ulah kalian? Apakah kalian tidak mau aku berada di dunia yang sama dengan kalian? Makanya kalian membawa ku ketempat yang asing seperti ini?"
Setetes air mata jatuh di pelupuk matanya, badannya bergetar, kakinya terasa sakit, sekarang dia bingung harus melakukan apa di tempat ini, apakah dia benar-benar sudah tidak bisa kembali ke dunianya, paling tidak di sana dia masih punya teman walaupun itu hanya Tia.
__ADS_1
"Nona?"
Deg!
Mata Ana kembali terbuka saat dirinya ada mendengar suara seseorang yang memanggil dirinya, dengan mata yang masih berkaca-kaca Ana langsung menoleh ke depan dimana ada sosok laki-laki yang tidak dia kenal berdiri dihadapannya.
"Apa anda tersesat Nona? Tepat ini bukan untuk umum, Mari saya antar anda keluar," ajak laki-laki itu.
Ana hanya diam disaat laki-laki itu menawarkan bantuan untuknya, merasakan bahwa Ana hanya berdiam diri ditempat laki-laki itu pun kembali menoleh ke arah Ana.
"Nona?"
"Apa anda tau dimana ruang Saintees?" tanya Ana.
Ana bertanya dengan tangannya yang sedang meremas kuat gaun yang dia pakai, "Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan pada beliau."
Laki-laki itu hanya diam menatap Ana yang terlihat berantakan, bahkan mata laki-laki itu langsung jatuh pada kaki Ana yang sudah lecet karena sepatu yang dia gunakan.
"Sebelum saya menjawab ucapan anda, sebaiknya anda duduk dulu, saya akan mengobati kaki anda yang terluka."
"Mari ikuti saya Nona," ajak laki-laki itu.
Tanpa mau menolak Ana pergi mengikuti laki-laki itu yang sedang menuntunnya ke sebuah taman, yang terdapat kursi di sana.
"Silahkan duduk Nona, saya akan mengobati kaki anda."
Tanpa mau menolak, Ana pun duduk di kursi taman dengan tampang yang begitu datar, menatap laki-laki itu yang sedang mengobati kakinya.
"Nama saya Sean dan saya merupakan salah satu sayap sekaligus kesatria di kuil suci," ucapnya memperkenalkan diri.
Laki-laki itu kembali menatap Ana yang masih terlihat dingin," Saya tidak tau alasan anda ingin bertemu dengan Saintees, tapi perlu anda ketahui nona tidak sembarangan orang bisa bertemu dengan beliau."
"Kenapa?" tanya Ana dengan nada yang begitu pelan.
"Karena beliau tidak setiap hari ada di sini, jika pun ada beliau tetap susah untuk ditemui."
"Jika anda tidak keberatan, anda bisa bercerita dengan saya mungkin saja saya bisa membantu masalah yang sedang anda alami."
__ADS_1
Ana tidak menjawab dirinya hanya diam dengan mata yang menatap sayu wajah Sean, "Saya tidak yakin apa anda akan percaya dengan yang saya katakan."
"Kenapa?"
Ana kembali diam, "Sebenarnya... Saya bukan pemilik dari tubuh ini..."
Walau terlihat tipis namun Ana bisa melihat Mata Sean yang sedikit terbuka karena merasa terkejut dengan apa yang dia katakan.
"Ehem... Saya akan beritahu sesuatu pada anda Nona, dan mungkin saja ini ada hubungannya dengan masalah anda."
Sean kembali berdiri dan memilih untuk duduk di samping Ana, "Saya akan mulai bercerita," ucapnya tersenyum.
"Waktu itu ibu kota diributkan dengan adanya penghianat di kekaisaran, dan orang yang dituduh sebagai penghianat itu adalah putri dari salah satu kelurga Bangsawan."
Ana terdiam mendengar cerita dari Sean, "Dan Putri itu adalah aku," jawab Ana dengan datar.
Sean langsung tersenyum mendengar ucapan Ana, "Benar, namun berselang beberapa waktu dari pemimpin kelurga bangsawan itu yang diturunkan dari jabatannya, jam pasir milik kuil suci pun pecah, bersamaan dengan turunnya wahyu dari dewa."
Deg!
Mata Ana langsung terbuka lebar mendengar penjelasan dari Sean, dirinya dengan cepat menoleh ke arah Sean, "Wahyu? Wahyu apa?" tanya Ana penasaran.
"Wahyu yang berisikan, penipu pasti akan kalah dengan yang jujur, kami para sayap kuil suci masih tidak paham kenapa jam pasir sekaligus benda suci milik kuil suci mengatakan itu, namun melihat anda berkata bahwa anda bukan pemilik asli tubuh perempuan itu, sepertinya saya sudah tau maksud dari isi Wahyu itu."
Tangan Ana langsung terkepal kuat mendengar penjelasan dari Sean, "Apa pun isi dari wahyu itu saya tetap tidak peduli, yang saya inginkan hanyalah bisa kembali pulang ketempat seharusnya saya berada!"
"Anda tidak bisa kembali Nona!"
Deg!
Mata Ana dan Sean langsung terbuka lebar mendengar ada suara seseorang dibalik tubuh mereka, dengan cepat Sean dan Teri langsung membalikkan badan mereka.
"Nona Saintees?" sapa Sean
"Apa? Nona Saintees?" tanya Ana dengan tampang penuh keterkejutan menatap sosok perempuan yang ada dihadapannya.
TBC
__ADS_1