
Suara dari langkah kaki kuda begitu terdengar saat kereta kuda yang ditumpangi Teri melewati jalan yang begitu lembab menuju kediaman Kelurga Kalika.
Benar saat ini Teri pergi ke rumah kelurga Kalika untuk memenuhi panggilan Iris, yang ingin bertemu dengan dirinya, entah kenapa tiba-tiba saja Iris mengirim permintaan untuk bertemu, padahal yang dia tau urusan dengan Iris sudah selesai begitu juga dengan Dylan.
"Kita sudah sampai Nona."
"Baik."
Pintu kereta kuda terbuka menampilkan sosok pelayan kelurga Kalika, serta Iris yang sudah berdiri didepan pintu kereta kuda Teri.
"Selamat datang dikediaman kelurga Kalika, Nona Ronan," ucap Iris sambil menundukkan kepalanya.
Teri hanya diam tanpa mau membalas ucapan dari Iris, "Tidak perlu terlalu formal Nona Kalika, katakan saja secara langsung apa tujuan anda mengundang saya ke rumah anda?" tanya Teri langsung.
"Agh... Saya kira anda orang yang gila hormat, ternyata tidak ya."
"Apa maksud anda?" tanya Teri bingung.
"Seperti yang Anda tau, biasanya wanita yang akan dinikahi oleh Pangeran, rata-rata mereka itu wanita yang gila hormat."
"Saya tidak mengerti kenapa anda berkata seperti itu, tapi perlu anda ketahui bahwa saya bukanlah orang yang begitu gila hormat!" tekan Teri.
"Agh... Saya tau, makanya kan saya bilang tadi bahwa anda ternyata bukan wanita gila hormat?" balas Teri dengan ramah.
"Baiklah Nona, dibanding kita berbicara seperti ini, bagaimana jika kita masuk saja sekarang?"
"Tidak perlu, aku hanya ingin menyelesaikan urusan ini dengan cepat, setelah itu saya akan lanjut pergi."
"Wah... Ternyata anda ini orang yang sangat sibuk ya," balas Iris.
Entah kenapa mendengar ucapan Iris ada rasa kesal pada dirinya, kenapa juga wajah Iris yang biasanya terlihat hangat dan ramah malah terlihat menyebalkan dimatanya.
"Seperti yang anda liat saking sibuknya, saya sampai tidak ada waktu untuk bisa bertemu dengan Yang Mulia Pangeran!"
"Ya?"
"Kenapa? Apa saya ada salah berbicara? Bukankah kedatangan saya ke sini karena anda ingin memberi saya peringatan?" tanya Teri sambil tersenyum licik.
__ADS_1
"Wah... Ternyata anda ini orang yang sangat peka ya."
Teryata dugaan ku benar, orang seperti ini hanya baik didepan orang yang dia sukai saja, dasar penjilat.
"Baguslah jika anda peka, jadi saya tidak perlu panjang lebar untuk memberi peringatan pada anda," ucap Iris sambil tersenyum ramah.
Tatapan yang begitu tajam mereka berikan satu sama lain, tangan Teri terkepal kuat menahan emosi melihat sikap Iris yang begitu berbeda dari yang biasa dia liat, begitu juga dengan Iris yang merasa paling hebat bisa merendahkan Teri.
"Jadi... Apa inti dari anda memanggil saya ke sini?" tanya Teri yang langsung menatap sinis wajah Iris.
"Ah... Mudah saja saya hanya ingin meminta anda untuk menjauhi Pangeran, bila perlu anda memberikan penolakan atas hubungan kalian yang sebentar lagi akan bertunangan, lagian hubungan kalian kan hanya sebatas politik, dan lagi Dylan juga tidak mencintai anda!"
Deg!
Jantung Teri langsung berdetak sangat kencang mendengar ucapan Iris. matanya dengan spontan langsung terbuka lebar mantap Iris yang sedang tersenyum remeh ke arahnya.
"Apa yang barusan anda katakan?" tanya Teri mengulang.
"Apa ucapan saya masih kurang jelas? Ha... Baiklah akan saya katakan yang sebenarnya."
"Nona Ronan sebenarnya Saya dan Pangeran itu saling mencintai, hanya karena Kaisar yang tidak merestui hubungan kami. makanya kami menjalankan hubungan ini secara diam-diam dengan alasan bahwa saya teman kecil Pangeran."
"Apa?"
"Apa anda tau Nona Ronan? Anda ini termasuk ke dalam wanita yang paling egois yang pernah saya kenal, bukan hanya ingin merebut kebagian saya. tapi anda juga ingin memisahkannya, padahal dulu hubungan saya dengan Pangeran baik-baik saja sampai anda datang semuanya jadi berantakan."
Deg!
Teri seperti tidak percaya dengan apa yang diucapkan Iris, jantungnya berdetak sangat kencang entah kenapa dirinya merasa sangat takut saat ini.
"Anda ini adalah wanita yang paling jahat yang pernah saya kenal, pantas saja banyak Para Nona yang membenci anda di pergaulan kelas atas!"
"Jika anda masih punya hati, sebaiknya di pesta pertunangan kalian nanti, anda meminta pada Kaisar untuk membatalkan pertunangan anda dengan Pangeran, jika tidak sudah bisa dipastikan bukan hanya Pangeran namun para Nona di sana pasti akan menilai anda sebagai wanita egois!"
Deg!
"Apa?"
__ADS_1
"Hanya itu yang ingin saya katakan, untuk kedepannya silahkan anda lakukan sendiri, sekarang anda sudah boleh pergi."
Setelah Iris selesai berbicara dengan Teri, dirinya langsung membalikkan badannya membelakangi Teri, seketika wajahnya berubah ceria saat melihat wajah Teri yang penuh dengan tekanan batin.
Bagus, tinggal langkah terakhir aku pasti bisa mendapatkan hati Dylan dan juga Yang Mulia Kaisar, maaf Nona Ronan aku terpaksa melakukan ini agar Dylan tidak bisa kau miliki.
...~*~...
Karena terlalu banyak temakan omongan Iris, seketika perasaan Teri menjadi tidak tenang, dirinya selalu mengurung diri dikamar dengan banyak undangan berdatangan menanti kehadiran dirinya.
"Nona-"
"Hentikan! Aku bilang hentikan!" teriak Teri pada para pelayannya.
"Mereka bukan mengundang ku, tapi mereka ingin merendahkan ku, aku muak dengan mereka semua! Rasanya aku ingin mati saja!"
"Nona!" Pekik Rita yang langsung memegang kedua tangan Teri.
"Anda tidak boleh berbicara seperti itu Nona, anda itu tidak bersalah buat apa anda merasa putus asa seperti ini..."
Dengan air mata yang terus keluar Teri mengeluarkan semua isi hatinya, "Aku memang tidak bersalah, tapi semua orang menilai ku dengan sebelah mata, dunia pergaulan kelas atas itu sangat mengerikan, bahkan pesta dansa pun sangat menakutkan bagi ku."
"Rita... Aku mohon pada mu, jangan perlihatkan surat-surat itu lagi pada ku, karena aku tidak mau lagi berurusan dengan mereka, bahkan pada Pangeran sekali pun."
"Nona..."
"Aku mohon Rita, dunia luar itu sangat menakutkan bagi ku," lirih Teri, Rita dengan pelan langsung memeluk tubuh Teri dengan pelan.
"Baiklah Nona, saya tidak akan memperlihat surat-surat itu lagi dihadapan anda," balas Rita sambil mengusap dengan lembut rambut Teri.
"Terima kasih Rita," balas Teri.
hilangnya Teri dari pergaulan kelas atas membuat beberapa orang merasa curiga dengan hubungan Teri dan juga Dylan, apa lagi saat ini muncul gosip baru yang mengatakan bahwa sifat asli Teri tidak sebaik yang mereka liat, itu semua terbukti dengan ucapan para pelayan yang pernah bekerja di kediaman kelurga Ronan.
"Nona Ronan itu aslinya sangat kasar, kalian pasti tidak pernah kan ditampar hanya karena masalah sepele?"
"Apa Nona Ronan memang sekasar itu?"
__ADS_1
TBC