Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia

Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia
46


__ADS_3

Sebuah suara yang begitu melengking membuat suasana di tempat itu seketika menjadi tegang, para kaum Elf mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi.


"AGH!!!"


Suara itu semakin jelas mereka dengar, membuat semua orang yang ada di sana mulai merasa takut dengan badan mereka yang mulai bergetar, namun berbeda dengan Ana yang saat itu masih berdiri ditengah-tengah lapangan.


Siva


Hanya nama itu yang terlintas dikepalanya disaat suara itu lagi-lagi muncul di pendengaran mereka.


Mendengar suara itu membuat Ana seketika langsung kembali berdiri tegak dengan kepala yang dia naikan ke atas.


"Siva..."


"Apa yang telah terjadi dengan Ana?" pekik Teri yang mulai panik dengan perubahan sikap Ana.


Sebuah cahaya yang begitu mirip seperti akar pohon, berjalan dengan lancar mengelilingi tubuh Ana yang saat itu masih berdiam diri.


"Apa itu?" tanya Mereka saat melihat tubuh Ana mulai diselimuti oleh cahaya.


"Dia lah yang terkuat!"


"Apa?"


Mata Ana terus menatap ke atas hingga cahaya yang menyelimuti tubuhnya itu menghilang, digantikan dengan tanda emas seperti tato yang menandai tubuhnya dari atas hingga bawah.


"Ana?" panggil Teri dengan suara yang begitu pelan.


Raja Elf berjalan mendekati Ana yang saat itu sudah menjadi tenang, melihat Raja Elf mendekati Ana entah kenapa membuat dirinya tidak bisa ikut mendekati Ana, seolah-olah dirinya sadar bahwa tingkatan Ana, saat itu sangat berbeda dengan dirinya.


Semua orang terdiam melihat Raja Elf yang sudah berjalan mendekati Ana, sedangkan Ana hanya diam saat Raja Elf itu mendatangi dirinya.


"Selamat datang kembali di Achilles Yang Mulia Ratu!"


Deg!


Mata semua orang langsung terbuka lebar begitu juga dengan Teri ataupun Cleo di saat mereka semua melihat Raja Elf yang mereka agung-agungkan telah menundukkan badannya dihadapan Ana yang saat itu baru mereka kenal.


"Apa maksud ya ini semua?" tanya Teri yang masih dibuat bingung.


Ana menatap ke atas di mana para Elf serta orang-orang Achilles sedang berdiam diri menatap dirinya dengan bingung.


"Lama tidak berjumpa Arthur," ucap Ana sambil tersenyum tipis.


"Uruslah sisanya Aku ingin bertemu dengan Siva dulu!" sahut Ana yang langsung menghilangkan diri dihadapan banyak orang.


...****************...


Ibu... Ibu kau di mana? Ibu...

__ADS_1


Seekor naga dengan tubuhnya yang begitu besar serta kulitnya yang keras berwana biru gelap berteriak dekat dengan pohon emas itu, naga itu terus berteriak mencari ibunya disaat dirinya bisa menyadari bahwa ada di sekitar sini mana keberadaan ibunya.


Ibu...


Naga itu terus berteriak dengan sangat kencang membuat beberapa Elf merasa takut dan dengan nekat langsung menyerang naga itu.


"AGH!!!"


"Siva..."


Naga itu langsung berhenti berteriak disaat dirinya mendengar ada suara ibunya yang mulai mendekat, dengan cepat kepalanya langsung menoleh ke kiri dan kanan untuk mencari keberadaan ibunya.


Ibu?


"Jangan sakiti mereka Siva!" perintah Ana yang sudah berdiri didepan Naga itu.


Naga itu terlihat senang saat tau bahwa Ana telah kembali, dirinya dengan tersenyum langsung memajukan kepalanya untuk bisa Ana elus.


"Tubuh mu terlalu besar Siva, bisakah kau ubah ukuran mu menjadi lebih kecil?" tanya Ana.


Dengan patuh naga itu langsung merubah wujudnya kembali menjadi lebih kecil, berubahnya naga itu bersamaan dengan datangnya Raja Elf, Teri serta yang lainnya.


Tidak ada yang rusak di tempat tinggal Elf, saat Siva datang ke sini, yang ada malah para Elf sendiri yang menyerang Siva saat dirinya datang.


Ana melirik ke bawah, dimana sudah banyak sekali orang yang menuggu dirinya datang, termasuk dengan Teri dan juga Cleo.


"Banyak yang berubah mengenai tempat ini!" Ana tersenyum saat melihat tempat yang dulu dia pimpin telah banyak mendapatkan perubahan.


"Selama anda menghilang, tempat ini sudah saya jaga sebaik mungkin Ratu," jawab Arthur sambil menundukkan kepalanya.


"Luar biasa, owh iya Arthur, ada banyak sekali kejadian yang ingin aku ceritakan pada mu!" pekik Ana yang terlihat begitu senang.


"Hmm?"


"Arthur kau harus tau! Di sana, di luar sana masih ada dunia yang lebih canggih dari dunia kita!" pekik Ana yang terlihat begitu bersemangat.


Siva pun sama senangnya saat dirinya bisa kembali melihat Ana, dirinya begitu bersemangat bahkan Siva pun dengan semangat langsung terbang mendatangi tubuh Ana.


"Egh! Siva, sudah lama aku tidak melihat mu."


Ibu...


"Selama anda pergi kerjaan Achilles sudah lama dipimpin oleh kaum manusia, maafkan saya Ratu saya memberikan kepemimpinan kerjaan Achilles pada sembarang orang, karena bagi kami kejadian waktu itu masih membekas dijiwa kami, kami begitu takut dengan ancaman yang akan kembali datang dari para kaum demon! jika kami terus memimpin kerjaan Achilles," ucap Arthur yang sedang menjelaskan situasi.


Mata Ana langsung beralih ke wajah Teri dan juga Cleo terlihat jelas sekali bahwa mereka masih terlihat bingung dengan apa yang sebenarnya telah terjadi.


Tap


Tap

__ADS_1


Tap


Dengan langkah yang begitu ringan Ana berjalan ke hadapan Teri dan juga Cleo, mereka sama-sama dibuat bingung dengan identitas Ana yang sebenarnya seperti apa.


"Senang bisa berteman dengan mu Teri, walaupun aku sadar, bahwa aku sedikit egois mengenai takdir yang telah ku berikan pada mu," ucap Ana sambil tersenyum hangat.


Teri hanya diam, dirinya tidak berani untuk berbicara lancar seperti saat sebelum mereka pergi ke tempat ini.


Lalu Teri beralih ke wajah Cleo yang juga sedang menatap dirinya, "Aku pun turut senang bahwa Achilles telah dipimpin oleh dirimu Cleo, wibawa mu yang begitu besar membuat aku sedikit terkejut waktu kau menyuruh ku untuk memberi hormat pada Arthur."


"Maafkan saya."


"Untuk apa kau meminta maaf? sekarang Achilles sudah jadi milik mu sepenuhnya dia bukan lagi milik ku," balas Ana.


"Ada banyak sekali yang perlu kita bicarakan setelah kembali ke Achilles, namun sebelum itu..."


Mata Ana seketika dibuat tajam saat dirinya ada menemukan salah satu penyusup di sela barisan prajurit Achilles.


Srak!


Hanya dengan telunjuk jarinya, leher prajurit itu pun langsung teriris, membuat semua pasang mata di sana langsung terbuka lebar.


Tap


Tap


Tap


Dengan ekspresi yang begitu datar Ana berjalan mendatangi prajurit itu yang sudah menahan sakit akibat pendarahan yang terus terjadi.


"Lebih baik kau mati saja! Dibanding kau terus hidup!"


"Egh..."


Kembali Ana mengeluarkan sihirnya kali ini dia mengeluarkan sihir api yang membuat prajurit itu langsung terbakar hidup-hidup.


"EGH!!!"


"Cleo! Perhatikan dengan baik! Orang yang terlihat baik, belum tentu dia baik! Sam halnya dengan orang ini yang sudah lama memantau mu, bahkan perkembangan kerjaan Elf juga ikut dia pantau," ucap Ana yang membuat semua orang langsung terdiam.


Suara teriakan dari prajurit yang dibakar itu, terus terdengar memenuhi tempat itu yang membuat Cleo atau pun orang-orang yang ada di sana memilih untuk diam mendengar ucapan Ana.


"Dia bukanlah asli Achilles, orang seperti dia adalah mata-mata yang dikirim langsung dari Homounculus!"


Deg!


"Apa?"


TBC

__ADS_1


__ADS_2