Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia

Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia
30


__ADS_3

Tidak ada yang tau apa yang saat ini Dylan dan Ana bicarakan didalam kereta kuda, di karenakan semua penjaga yang mengawal Dylan menunggu diluar.


"Semua cake ini akan dipajang di pesta ulang tahun Yang Mulia besok malam."


"Owh..."


Dylan kembali diam, saat melihat respon Ana yang biasa saja, seolah-olah Ana sama sekali tidak tertarik dengan apa yang saat ini dia bicarakan.


"Hadiah yang tadi pagi aku berikan, adalah kostum yang akan kau gunakan di acara nanti, tapi kenapa kau menolaknya?"


Ana tidak menjawab dirinya hanya fokus menatap ke arah luar jendela, yang sedang menunjukan betapa ramainya pasar saat itu.


"Apa kau tidak mendengar ku?" tanya Dylan lagi.


"Tidak! Saya sangat jelas mendengar ucapan anda Pangeran."


"Jika memang seperti itu? Lantas kenapa kau tidak mau menoleh ke arah ku?"


Ana kembali mengepalkan kedua tangannya, dirinya kembali menatap wajah Dylan yang juga sedang menatap dirinya.


"Karena saya sudah tidak pantas lagi memakai, pemberian dari anda Pangeran," jawab Ana.


"Saya sungguh tidak pantas, karena... Saya adalah perempuan jahat yang pernah mencelakai teman istimewa anda Pangeran."


"Teri..."


"Jagan panggil saya Teri pangeran," Ana menjawab ucapan Dylan dengan kepalanya yang kembali menoleh ke depan.


"Panggil saya Nona Ronan, karena kita sudah tidak sedekat dulu lagi, semoga anda paham dengan itu," ucap Ana yang langsung menundukkan kepalanya.


Tangan Dylan terkepal kuat mendengar ucapan dari Ana, bahkan matanya pun tidak pernah lepas dari wajah Ana yang masih menunjukan ketidaksukaan.


"Apa... Saat ini kau sangat marah pada ku?" tanya Dylan dengan mata yang menatap lekat wajah Ana.


"Tidak akan mungkin saya berani merah pada anda Pangeran, " jawab Ana dengan kepala yang masih menunduk.


"Anda adalah orang yang sangat bermartabat yang perlu saya hormati dengan sepenuh hati, sedangkan saya, saya hanyalah perempuan rendahan yang telah diusir dari ibu kota, karena tuduhan telah mencelakai Nona Kalika."


Deg!


Seperti disambar petir bahkan tubuhnya pun ikut membeku saat Ana mengeluarkan kata-kata yang membuat hatinya sakit, apa sebegitu jahatnya dirinya pada Teri dulu, hingga Ana sampai tidak mau menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Aku ingin minta maaf," ucap Dylan penuh penyesalan.


"Aku sungguh-sungguh ingin minta maaf pada mu," Dylan dengan lembut langsung menyentuh tangan Ana yang dingin, membuat Ana seketika menjadi tercengang mendapatkan perilaku lembut dari Dylan.


"Pangeran..."


"Apa kau benar-benar tidak bisa memaafkan ku? Dan kita kembali seperti dulu lagi?"


Deg!


Jantung Ana berdetak sangat kencang, merasakan hawa yang begitu berbeda dari biasanya, seperti ada serangga yang menggelitik tubuhnya bahkan dirinya pun hanya biasa pasrah saat Dylan telah berani menyentuh tangannya.


Tidak! Tidak boleh, seperti ini? kenapa, kenapa? tubuh ku jadi seperti ini? Ingat Ana tujuan mu saat ini untuk balas dendam.


Srek!


Dengan mata yang masih terbuka lebar, Ana kembali menarik tangannya dengan pelan, nafasnya pun ikut naik turun saat dirinya merasakan hawa panas disekitar tubuhnya.


"Maaf Pangeran, sepertinya untuk bisa kembali seperti dulu begitu sulit untuk saya lakukan."


"Apa! Kenapa?" tanya Dylan dengan nada yang begitu sedih.


"Pokonya tidak bisa, dan saya juga tidak mau untuk kembali," jawab Ana dengan tegas.


"Apa?"


"Jangan buat saya menjadi bingung Pangeran, sikap anda yang lembut seperti ini tidak seharusnya anda perlihatkan kepada saya yang jahat ini."


"Teri!" pekik Dylan yang mulai marah.


"Pangeran... Untuk terakhir kalinya saya minta pada anda, jangan temui saya lagi," ucap Ana dengan wajah yang sedang tersenyum lebar.


Ana kembali menundukkan kepalanya, "Jika tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, saya izin pamit."


Mata Dylan langsung terbuka lebar saat melihat Ana yang ingin membuka pintu kereta kuda, namun sebelum itu terjadi Dylan tanpa pikir panjang langsung memeluk tubuh Ana dari belakang, yang membuat Ana seketika menjadi beku dengan matanya yang terbuka lebar.


"Pa... Pangeran..." ucap Ana terbata-bata.


"Jangan pergi," bisik Dylan ditelinga Ana.


"Apa yang sudah anda lakukan Pangeran?" pekik Ana.

__ADS_1


Alih-alih Dylan melepas pelukannya pada Ana, dirinya malah semakin kencang memeluk tubuh Ana, membuat Ana yang mendapatkan perilaku seperti itu hanya bisa diam dengan jantungnya yang terus berdetak kencang.


"Aku kan sudah minta Maaf, tapi... Kenapa kau terus menjauh pada ku?"


Ana hanya diam dirinya tidak tau harus bicara apa, disisi lain dirinya merasa senang Dylan masih menyukai Teri namun lain sisi Ana malah merasa bahwa saat ini dirinya tidak seharusnya seperti ini.


"Pangeran... Tidak seharusnya anda bersikap seperti ini pada saya," ucap Ana yang dengan pelan melepaskan pelukan Dylan dari dirinya.


"Saya kan sudah bilang pada anda, bahwa saat ini saya bukan Nona Ronan yang dulu anda kenal, anda sudah membuang saya! itu artinya anda juga sudah melupakan saya."


"Tidak! Aku tidak melupakan mu!"


"Hah? Baru sekarang anda berkata seperti ini? Dulu-dulu anda kemana saja? Bahkan disaat saya memanggil nama anda, anda tidak datang."


Tak mau Ana pergi lagi, Dylan dengan cepat langsung menyentuh tangan Ana yang terasa begitu dingin.


"Aku akui bahwa saat itu aku salah, bahkan aku merasa sangat bersalah saat tidak melindungi mu!"


Dengan mata berkaca-kaca, Ana menepis dengan lembut tangan Dylan yang masih memegang tangannya.


"Baru sekarang anda merasa bersalah, saya sungguh tidak mengerti dengan sikap anda Pangeran," Ana berucap dengan kepalanya yang menggeleng dengan pelan, "Segampang itu anda minta maaf, Hah... Minta maaf itu memang gampang Pangeran, tapi melupakan kejadian itu yang sulit!"


"Teri!"


Ana langsung memalingkan wajahnya dari hadapan Dylan, tidak tau harus merespon seperti apa lagi, hatinya begitu sakit menyadari bahwa Dylan bisa semudah itu memutar balikkan keadaan.


Hati ku sakit, apakah seperti ini perasaan Teri jika berhadapan dengan Dylan?


"Pangeran saya ingatkan lagi pada anda, jangan panggil saya Teri, karena kita sudah tidak sedekat dulu lagi, panggil saya Nona Ronan, itu baru panggilan yang cocok untuk anda gunakan," ucap Ana tersenyum ramah.


Di kekaisaran memanggil nama dengan gelar merupakan sebuah penghormatan, atau bisa juga ditujukan pada orang yang baru kenal lebih ke tepatnya bagi orang-orang yang tidak terlalu dekat, sedangkan bagi orang yang berani menyebut nama panggilan tanpa ada gelar atau pun nama keluarga maka bisa diketahui mereka begitu saling kenal satu sama lain, atau bisa juga karena mereka mendapatkan persetujuan untuk memanggil nama panggilan masing-masing.


"Hah... Sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan Pangeran kalo begitu saya undur diri dulu, semoga acara yang_"


Grap!


Lagi-lagi Dylan kembali menyentuh tangan Ana membuat dirinya kembali dibuat shock dengan perilaku Dylan.


"Mungkin ini sedikit memaksa, Nona Ronan atas nama keluarga kekaisaran, aku meminta untuk mu bisa hadir besok malam di acara yang sudah dibuat oleh kekaisaran!" ucap Dylan dengan serius.


Dengan mata yang terbuka lebar, Ana langsung menunjukan senyum hangat pada Dylan yang masih menatapnya dengan tajam, "Baiklah Jika itu sebuah perintah dari anda Pangeran," jawab Ana.

__ADS_1


TBC


__ADS_2