
Banyak yang salah menilai mengenai sifat asli dari Teri, Teri atau biasa dikenal dengan Nona Ronan walaupun dirinya tidak pernah melakukan apapun, akan tetapi orang-orang dengan sesuka hati mereka menilai sifat dari Teri yang tentu betul kebenarannya, itu dikarenakan Teri terlihat begitu tegas dan juga dingin, membuat orang-orang mengira bahwa sifat asli Teri itu juga pasti dingin.
Teri memang mempunyai wajah yang cantik, serta tubuh yang bagus, namun karena dia memiliki semua yang banyak para wanita idamkan membuat dirinya malah dinilai sombong dan hanya mementingkan diri sendiri, melihat banyak para Nona bangsawan yang menilai dirinya dengan sebelah mata, membuat Teri tetap tidak mau ambil pusing bahkan dirinya tidak pernah sekali pun memberi pembelaan atas tuduhan yang orang-orang lontarkan padanya.
Oleh sebab itu, penilaian orang-orang terhadap dirinya semakin menjadi, bahkan mereka tidak ada yang tahu apakah ucapan mereka itu memang benar, atau semua terjadi karena orang-orang mengatakan hal yang sama.
"Aku sudah muak! Dengan ini semua!"
Hari terus berlalu, dan ini sudah termasuk hari ketiga setelah dirinya pulang dari kediaman Kalika.
Dalam tiga hari ini juga Teri memilih untuk berdiam diri sambil mengamati lingkungan sekitarnya melalui surat kabar yang telah Rita bawakan setiap paginya.
"Nona... Apa anda tidak mau keluar hari ini?" tanya Rita yang mulai khawatir dengan kondisi nonanya.
Pasalnya semenjak Teri pulang dari kediaman Iris, sifat Teri tiba-tiba saja menjadi tidak terkontrol dirinya berbuah menjadi sensitif, bahkan Teri secara tiba-tiba saja sering menjadi marah hanya karena masalah sepele, menangis jika sudah tidak sanggup menanggung beban, tertawa karena hal lucu, bahkan melamun.
"Rita!"
"Iya Nona."
"Beli semua gaun yang ada di surat kabar ini!" perintah Teri.
"Ya?"
"Tapi Nona, bukankah kemarin anda baru saja membeli berlian yang senilai-"
"Apa uang yang diberikan ayah sudah habis?" tanya Teri memotong perkataan Rita.
"Tidak Nona," jawab Rita sambil menundukkan kepalanya.
"Cukup! Turuti saja ucapkan, Jika kau tidak suka! Kau bisa pergi dari hadapan ku!" ucap Teri memotong ucapan Rita.
"Hal seperti itu tidak akan terjadi Nona, kecuali nona sendiri yang mengusir saya."
Setelah berkata seperti itu Rita dengan perasaan sedikit kecewa langsung keluar dari kamar Teri, bukan karena Teri yang tadi memotong ucapannya, namun lebih merindukan sifat Teri yang dulu hangat dan ceria terhadap para pelayan dikediamannya.
Semenjak Teri kembali dari kediaman Iris, kondisi rumah di kediaman Kelurga Ronan berubah menjadi suram akibat sifat Teri yang tidak seperti biasanya.
"Tuan Duke?" Sapa Rita saat melihat Regis yang ada didepan kamar Teri.
"Apa lagi yang sekarang dia minta?" tanya Regis saat melihat Rita yang baru saja keluar dari kamar Teri.
"Tuan? Itu... Nona meminta untuk membeli semua gaun yang ada di surat kabar ini."
"Turuti saja, jika dia ingin meminta sesuatu lagi katakan saja pada ku, berapa pun yang dibutuhkan aku akan mengabulkannya."
__ADS_1
"Baik Tuan."
Bahkan kedua orang tua Teri pun kewalahan dalam mengatasi sifat Teri yang tidak seperti biasanya, hanya satu keinginan Regis dan juga Luna mereka hanya menginginkan anak mereka bisa kembali seperti dulu lagi, baik pada para pekerja dikediamannya serta bisa kembali tersenyum hangat seperti dulu lagi.
Byur!
"Astaga!"
"Maaf! Sepertinya gaun yang anda gunakan sudah kotor mau saya antarkan ke ruang ganti Nona?" tanya Teri pada salah satu Nona bangsawan yang telah dia kotori pakaiannya.
"Nona Ronan anda sudah keterlaluan!" pekik salah satu Nona di sana.
"Apa kau juga mau ku buat seperti dia?" tanya Teri dingin.
Prang!
Gelas kaca yang tadi ada ditangannya langsung terlepas begitu saja, saat dirinya sudah muak dengan tatapan orang-orang yang mulai menjelekan dirinya.
"Maaf saja, tapi aku tidak suka ada orang lain yang memakai gaun yang sama seperti punya ku! Karena gaun ini hanya cocok untuk diriku kalian harus paham soal itu!" tekan Teri.
Setelah berkata seperti itu dirinya langsung pergi dari hadapan banyak orang yang masih menatapnya dengan tatapan berbeda-beda.
"Menyebalkan!"
Tak
Tak
Tak
Masih dengan wajah yang dingin, Teri membalikkan badannya saat mendengar ada suara Iris dibelakang tubuhnya.
"Apa anda menikmati pestanya Nona Ronan?" tanya Iris tersenyum.
Inilah orang yang telah membuat Iris seperti ini, dengan posisi yang begitu santai Teri melipat kedua tangannya didepan dada menatap tajam wajah Iris yang sedang tersenyum sambil mengandeng tangan Dylan.
"Tidak! Saya sama sekali tidak menikmati acara pesta ini, karena ada satu perempuan yang telah meniru gaun yang saya pakai."
"Ya?"
"Kalian pasti tau kan, aku itu paling gak suka pakaian ku ada yang meniru, itu sebabnya kenapa aku suka sekali membeli banyak gaun."
Teri langsung mengibaskan rambutnya setelah dirinya selesai berbicara dengan Iris, dengan wajah yang tersenyum licik dirinya berjalan mendatangi Dylan yang masih menatap dirinya.
"Selamat Malam Yang Mulia Pangeran," sapa Teri pada Dylan.
__ADS_1
"Selamat malam juga Nona Ronan."
"Apa anda tau? Saat ini banyak orang yang membicarakan soal hubungan kalian?" tanya Teri sambil tersenyum licik.
"Aku kan sudah bilang pada mu, jika kau ada mendengar orang-orang membicarakan itu sebaiknya kau abaikan saja."
"Oh... Terus sampai kapan saya harus mengabaikannya? Dan apa saya memang harus menuruti ucapan anda terus?"
"Pangeran!" Panggil Teri yang semakin memajukan wajahnya kehadapan Dylan.
"Jika anda tidak suka dengan saya, lebih baik anda bilang pada Yang Mulia... Bahwa anda sudah tidak tahan lagi bertunangan dengan saya," ucap Teri sambil tersenyum lebar.
"Ya sudah kalo begitu, saya pergi, semoga kalian berdua bisa menikmati pesta ini dengan nyaman."
Tak
Tak
Tak
Semua orang yang ada disini sama saja Menyebalkannya.
Setelah kepergian Teri, Dylan dan Iris langsung masuk ke dalam aula, semua tatapan tertuju pada mereka, saat mereka baru saja masuk ke dalam aula.
"Apa yang telah terjadi?" tanya Dylan saat melihat banyak para pelayan yang sedang sibuk membersihkan lantai aula.
"Ini semua karena Nona Ronan Pangeran, hanya karena ada satu nona yang berpakaian sama dengannya, Nona Ronan malah mengotori gaun yang nona itu pakai," sahut salah satu Nona di sana.
"Apa?"
"Dylan, kenapa akhir-akhir ini sifat Teri begitu keterlaluan, dulu saja di pergaulan kelas atas dirinya pernah menarik rambut Nona Sofia."
"Iris!"
"Ya?"
"Bisakah kau berhenti memanggil Nona Ronan dengan namanya, jujur saja aku sedikit risih saat kau menyebut nama Nona Ronan."
Deg!
"Ah... Maaf aku Dylan, aku tidak akan mengulanginya lagi."
Dylan pun langsung tersenyum saat melihat Iris secara cepat menundukkan kepalanya, "Tidak apa-apa."
"Besok pagi aku akan pergi ke tepat Nona Ronan untuk membahas hal ini padanya."
__ADS_1
"Iya," balas Iris yang mulai kembali ceria.
TBC