Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia

Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia
33


__ADS_3

Seumur hidup Ana belum pernah sama sekali dirinya berdansa, jangankan berdansa latihan dansa pun dirinya tidak pernah, jika saja ini bukan karena peraturan kerjaan, sudah pasti Ana akan menolak permintaan Dylan yang mengajaknya berdansa.


Beberapa waktu yang lalu.


"Aku menunggu mu."


Ana tidak tau harus bersikap bagaimana apakah dia terima saja tawaran dari Dylan, tetapi di peraturan kerajaan, menolak permintaan kelurga kerajaan itu sama saja dengan menghinanya.


Tidak mau keluarganya kena masalah lagi, dengan berat hati Ana merima uluran tangan Dylan, tentu saja semua orang yang melihat itu sedikit terkejut, tidak terkecuali ayah dari Dylan Kaisar Homounculus.


Dylan tersenyum saat Ana mau menerima tawarannya, mereka berdua langsung berjalan ketengah-tengah aula untuk memulai dansa.


"Pangeran sebelum kita mulai berdansa, ada sesuatu yang ingin saya katakan."


"Apa?" tanya Dylan penasaran.


"Saya ini tidak pandai dalam berdansa!" ucap Ana sambil menatap tajam wajah Dylan.


Mendengar itu, Dylan hanya terkekeh dirinya dengan tersenyum tipis langsung membawa tubuh Ana masuk ke dalam pelukannya.


"Tenang saja, waktu awal debut ku pun kau sudah sering menginjak kaki ku," bisik Dylan ditelinga Ana.


"Apa?"


"Pegang saja pundak ku ini dengan erat, dan tangan ini menggenggam kuat tangan ku, maka aku akan menjaga mu agar tidak terjatuh," ucap Dylan dengan matanya menatap lekat wajah Ana.


"Baiklah, tapi jangan salahkan saya jika nanti saya banyak menginjak kaki anda," balas Ana.


Dylan hanya tersenyum, musik mulai dimainkan kaki Dylan mulai mundur dan Ana memajukan langkahnya, suara dari iringan musik mulai terdengar memenuhi ruang aula, Dylan membawa tubuh Ana berputar, semua pasang mata melirik ke arah mereka.


Dua insan saling menatap satu sama lain dengan alunan musik yang menemani mereka, sang Putra Mahkota Homounculus berdansa dengan matan tunangannya apakah ini masuk akal? bahkan Ana sendiri pun bisa merasakan tatapan tajam dari orang-orang yang sedang melirik ke arahnya.


Para pemusik terus memainkan alat musiknya, bahkan ditengah-tengah mereka berdansa Ana seperti merasa aneh dengan tubuhnya seolah-olah dirinya seperti sudah mahir dalam berdansa, padahal yang dia tau, dirinya sama sekali tidak pernah berdansa atau pun latihan.


Plak


"Aw..."


"Cepat berdiri Nona Ronan! Apa anda tidak tau dansa adalah pendidikan dasar dalam peraturan kerajaan?"


"Ma...Maaf."

__ADS_1


Dengan kaki yang bergetar kencang Teri kembali mengatur tubuhnya agar dia bisa berdiri tegak.


"Cepat atur posisi seperti semula! Masih banyak yang harus anda pelajari, selain dansa!"


"Baik"


Dengan bersusah payah Teri kembali memulai latihannya, kakinya mulai bergerak menuruti alunan musik yang kembali dimainkan.


Plak.


"NONA RONAN! Mau berapa kali saya beritahu anda, bahwa gerakan anda itu salah!"


"Maaf."


Rasanya dirinya seperti ingin mati saja, mendapatkan pendidikan yang begitu ketat dan menyakitkan, membuat kehidupan Teri menjadi tidak bebas, banyak dasar-dasar pendidikan yang harus dia kuasai termasuk dengan latihan berdansa, karena dansa adalah inti dari sebuah acara kerajaan yang selalu ada.


"Saya sudah tidak sanggup lagi."


Deg!


Plok


Plok


Plok


Dylan langsung menundukkan badannya ke arah Ana, begitu juga dengan Ana mereka saling memberi hormat setelah dansa telah selesai.


Mata Ana kembali terbuka lebar saat Dylan telah memberikan satu tangannya pada dirinya.


Sepertinya aku harus pergi.


"Pangeran Maaf," lirih Ana yang kembali menundukkan kepalanya.


"Saya harus pergi sekarang, mungkin ini terdengar lancang, tetapi bukankah seharusnya anda mengajak Nona Kalika berdansa? Dia kan tunangan anda?" tanya Ana.


Tubuh Dylan langsung membeku disaat Ana lagi-lagi menolak ajakan darinya, "Apa kau tau? Menolak permintaan kelurga kerjaan sama saja dengan menghinanya?" tanya Dylan dengan nada penuh penekanan.


Dengan tangan yang terkepal kuat Ana menatap tajam mata Dylan.


"Ayo kita pergi," ajak Dylan sekali lagi.

__ADS_1


Tidak bisa menolak permintaan Dylan, Ana dengan berat hati menerima uluran tangan Dylan.


Grap!


Setelah Ana mengulurkan tangannya, Dylan dengan cepat langsung meremas kuat tangan Ana, Samar-samar Ana bisa mendengar suara bisikan dari para tamu yang menatap dirinya dengan aneh, bahkan Dylan yang dekat dengan dirinya pun terlihat santai saat banyak para tamu yang sedang membicarakan mereka.


Tidak peduli dengan tanggapan orang lain, Dylan dengan wajah datar langsung membawa Ana pergi dari aula pesta, tentu saja sikap Dylan tersebut membuat orang bertanya-tanya kenapa Pangeran mereka bisa kembali dekat dengan matan tunangannya? Lalu kenapa dirinya mengabaikan Nona Kalika yang saat itu masih berada di dalam aula.


Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul dibenak mereka yang membuat Iris menjadi sangat malu sekaligus kesal, ini berbeda sekali dengan apa yang dia bayangkan, tatapan-tatapan tajam itu seperti duri yang menusuk dirinya.


Belum pernah dalam hidupnya, dirinya merasakan penghinaan seperti ini, bahkan air matanya pun sudah tidak bisa di tahan lagi, ini benar-benar sangat menyakitkan untuknya.


"Nona Kalika apa anda tidak apa-apa?" tanya salah satu bangsawan yang terlihat khawatir dengan Iris.


"Ah... Maaf, air mata saya keluar lagi."


Deg!


Semua orang yang ada di sana dibuat diam dengan air mata Iris, ditinggalkan oleh pasangan sendiri saja sudah begitu memalukan, apa lagi melihat pasangan kita berdansa dengan wanita lain, pasti berada diposisi Iris begitu menyakitkan bagi mereka.


"Nona Kalika, anda tidak perlu terlalu bersedih, Pangeran bersikap seperti itu pasti karena aturan kerajaan," ungkap salah satu perempuan di sana.


"Benar, Tidak lama lagi pasti Pangeran akan kembali menemui anda, dan meminta maaf karena telah buat Nona merasa sedih."


"Ah... Terima kasih sudah mau peduli dengan saya," jawab Iris dengan ramah.


Melihat Iris yang kembali menampilkan senyum lebar, membuat wajah-wajah perempuan yang mengelilingi dirinya ikut tersenyum, ini sangat menjengkelkan bagi Iris disaat impiannya sudah ingin tercapai entah kenapa lalat itu terus datang menganggu dirinya.


"Tenang saja Nona, kami semua akan selalu setia mendukung anda untuk menjadi Putri Mahkota!"


"Benar, karena kami bisa menilai bahwa andalah yang lebih pantas untuk jadi Putri mahkota."


"Tenang saja Nona, mantan tunangan Pangeran itu pernah berbuat hal yang tidak baik kepada anda, walaupun dia berhasil membujuk Pangeran dirinya pasti tidak bisa membujuk hati Yang Mulia."


"Ah... itu benar, Nona anda tidak perlu khawatir, Pangeran meninggalkan anda disini, pasti karena ingin mengusir perempuan itu! " ucap salah satu perempuan yang ada di sana.


Dengan tatapan yang terlihat terluka, Iris tersenyum dihadapan semua orang, "Terima kasih semuanya yang sudah mau mengawatirkan saya, tapi sungguh saya baik-baik saja," ungkap Iris sambil tersenyum lebar.


Ah... Sial perempuan itu, kenapa dia harus kembali lagi? Sepertinya aku harus kembali memberi pelajaran pada perempuan itu!


TBC

__ADS_1


__ADS_2