Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia

Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia
55


__ADS_3

Langkah kaki yang bergerak dengan sangat cepat bersamaan dengan suara orang meminta tolong, Arthur pemimpin dari pasukan kaum Elf itu terus bergerak maju menuju istana Homounculus yang terlihat begitu berantakan akibat ledakan dari Mana milik Ana.


Prang!


Suara dentingan pedang yang sedang beradu satu sama lain masih bisa dia dengar dengan sangat jelas, pasukan Homounculus serta pasukan Elf masih terus bertarung dengan sangat sengit untuk merebutkan kemenangan bagi mereka.


Ana jangan buat lebih jauh lagi.


Duar!


Semua aktivitas yang terjadi diluar menjadi sunyi, disaat ledakan yang cukup besar kembali terdengar di istana Homounculus, yang membuat semua orang di sana langsung dibuat diam dengan mata mereka yang tertuju pada istana Homounculus.


"Apa yang sudah terjadi? Kenapa kalian masih di sini?" tanya Arthur pada salah satu anak buahnya.


"Yang Mulia liat di sana!" pekik salah satu Elf.


"Hah?"


Deg!


"Itu... Itu Penyihir!"


Mata Arthur langsung terbuka lebar, disaat dirinya melihat ada segerombolan manusia aneh yang sedang terbang menggunakan jubah hitam memasuki balkon istana Homounculus.


"Kita harus cepat!" pekik Arthur yang kembali berlari kencang.


"Yang Mulia tunggu!"


"Kita harus cepat menemukan Ratu, jika tidak mereka yang akan mengambil Ratu."


"Apa? Apa yang sebenarnya terjadi Yang Mulia? dan siapa mereka yang sedang terbang itu?"


"Penyihir, itu penyihir, penyihir itu pasti sudah menunggu lama hari ini, hari di mana Ratu akan datang dengan sedirinya ketempat ini, tempat yang sudah mereka siapkan dengan lama untuk menangkap Ratu!"


"Apa?"


...~*~...


Berbeda dengan kondisi di luar, di dalam istana Homounculus tempat dimana Ana masih berjuang dalam memperoleh kemenangannya.


Buk!


"Agh..."


Lagi-lagi Ana terlempar cukup jauh karena ulah pria itu, namun walau dirinya sudah sering terlempar cukup jauh ataupun luka yang terus muncul ditubuhnya dia masih tidak menyerah sekalipun bahkan disaat pria itu terus menyerangnya.


"Uhuk... Uhuk..."


Lagi-lagi sebuah darah segera keluar dari mulutnya, tatapan Ana seketika menjadi tajam saat melirik pria itu, ini sangat menyenangkan baginya karena sudah lama sekali dirinya tidak merasakan rasa sakit seperti ini.


Pria ini benar-benar kuat.


Tap


Tap

__ADS_1


Tap


Suara langkah kaki yang begitu bergema memenuhi lorong istana, membuat Ana maupun pria itu langsung menghentikan pertarungan mereka, hanya untuk melihat siapa yang telah datang menganggu mereka bertarung.


Deg!


Seperti disambar petir, Ana seperti tidak percaya dengan apa yang dia liat saat ini, pakaian yang begitu glamor, dengan banyak hiasan pernak-pernik menghias baju kebesarannya itu.


"Kenapa berhenti? Bukankah ini pertarungan yang cukup menyenangkan bagi kalian berdua?" tanyanya dengan tersenyum tipis


"KAU....!"


Prang!


Dengan gerakan yang sangat cepat pria yang tadi menjadi lawan bertarung Ana, kini telah berdiri dihadapannya pria itu hanya untuk melindungi seorang pria yang juga merupakan Kaisar di kerjaan Homounculus.


"Mata itu... Mirip sekali dengan mata ibu mu!" ucapnya tersenyum lebar sambil menatap kedua mata Ana.


"Tutup mulut mu itu!" balas Ana tak suka.


"Kau... Kau yang telah membunuh ibu ku..."


"Hmm? Aku bingung jika kau berkata seperti itu, ibu yang kau maksud ini yang mana? Yang naga atau... Yang baru saja ku bunuh?"


Deg!


"Apa... Maksud mu?"


Brak!


Pintu besar yang ada dibelakangnya tiba-tiba saja terbuka lebar menampilkan segerombolan manusia berjubah hitam datang dengan menyeret salah satu mayat yang tidak asing di matanya.


Deg!


Tidak tau harus berkata apa, mata Ana seketika bergetar dengan cepat bersamaan dengan tubuhnya yang ikut bergetar melihat jasad ibu kandungnya yang sudah tergeletak dilantai bersamaan dengan darah segar menyelimuti tubuhnya.


"Dia... Adalah wanita yang sangat penurut, namun hal itu berubah disaat kau lahir dengan membawa perubahan."


Kaisar Homounculus itu berjalan dengan pelan melewati tubuh Ana yang masih terlihat shock menatap jasad ibunya.


"Apa kau tau kesalahan yang sudah dia buat?" tanyanya sambil tersenyum licik.


"Dia tidak mau memberikan tubuh mu, sebagai bahan persembahan!"


Deg!


Seketika ingatan masa lalunya kembali terlintas, disaat Tessia pernah bercerita pada dirinya di masa kecil, bahwa dia dibuang oleh ibu kandungnya ke gua tempat Tessia bertelur karena saat itu konflik di kerjaan Homounculus masih panas-panasnya dengan objek penelitian anak usia dini untuk diteliti Mana yang mereka miliki.


Tak jarang objek penelitian itu membuat banyak anak-anak terlahir sebagai, anak yang dinilai paling pintar, dan juga sangat kuat, namun dibalik itu semua ada efek samping dari objek penelitian itu, efek samping dari objek penelitian itu membuat beberapa anak meninggal, bahkan disaat mereka baru mulai untuk dijadikan sebagai objek penelitian.


"Lihat.... Inilah akibat dari dirinya yang tidak mau menuruti ucapan ku!"


"Dasar manusia gila! AGH..."


Prang!

__ADS_1


Setetes air mata jatuh dipelupuk matanya, hatinya sakit saat mengetahui bahwa ibu kandungnya hidup dengan penuh penderitaan seperti ini, tak bisa dia bayangkan betapa menderitanya ibu kandungnya selama menjalani hidup ditempat seperti ini.


"Buat dia pingsan!"


Itu adalah sebuah perintah dari ketua penyihir yang ada di dalam ruangan, mendengar perintah dari ketua penyihir itu, membuat pria yang saat ini terus beradu pedang dengan Ana menjadi lebih agresif.


"Lukai saja tubuhnya, asal jangan buat dia mati!" ucap ketua penyihir itu lagi.


Mendengar ucapan itu tentu saja membuat pria yang menjadi lawannya ini semakin agresif, bahkan Ana sendiri pun sudah dibuat kewalahan dengan pertarungan ini.


Srak!


Prang!


"AGH...."


Pedang yang tadi Ana pengang telah terlempar cukup jauh bersamaan dengan tangannya yang ikut tergores akibat dari pedang pria itu.


"Perlu kau ketahui, kau ini bukanlah tandingan ku Nona manis," sahut pria itu tersenyum, yang langsung membuat Ana seketika menjadi jijik.


"Menjijikan..."


Srak!


"AGGGGH!"


Suara teriakan Ana seketika menjadi sebuah nyanyian merdu didalam ruangan itu, mata Ana langsung terbuka lebar menatap ke atas saat sebuah senjata tajam tanpa sepengetahuan dirinya telah tertancap kuat di punggungnya.


"Apa yang sudah... Kalian lakukan?" tanya Ana dengan susah payah.


"Sepertinya anak ini sudah diikat olah naga itu."


"Jadi apa bisa anak ini digunakan?" tanya kaisar Homounculus langsung.


Dengan tersenyum licik penyihir itu langsung menganggukkan kepalanya, "Yah... Tentu saja, bahkan anak ini bisa terlahir sebagai anak yang paling kuat dan juga pintar dari pada anak-anak yang sudah berhasil kita jadikan objek."


"Hentikan..." lirih Ana dengan susah payah.


"Kalo begitu mari kita mulai ritualnya," ajak ketua penyihir itu yang langsung disetujui oleh semua orang di sana.


Srak!


"AGHHHH SAKIT!!!"


Satu senjata tajam kembali ditancapkan pada punggung Ana, yang membuat dirinya kembali berteriak kencang.


Air mata penuh kesakitan terus keluar dari pelupuk matanya, bahkan disaat kesadaran ingin menghilang tangannya dengan susah payah mencoba untuk menggapai tangan dari jasad ibu kandungnya.


"Ibu... Ini sangat menyakitkan..."


Srak!


"AGGGH!"


Tak tau harus berapa banyak lagi senjata yang akan mereka tancampkan pada tubuhnya, yang pasti disaat kesadarannya ingin menghilang, tiba-tiba saja muncul lingkaran sihir pada punggung Ana yang membuat sebuah ledakan yang cukup besar terjadi ditempat itu.

__ADS_1


DUAR!


TBC


__ADS_2