Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia

Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia
54


__ADS_3

Sosok pria berbeda besar dengan bekas luka di pelipisnya, walaupun wajah pria itu terlihat menyeramkan namun Ana masih bisa ingat siapa pria yang ada dihadapannya.


"Tutup mulut kotor mu itu!"


Pria itu langsung tertawa, mungkin dia merasa lucu dengan Ana, gadis yang dulunya terlihat ketakutan jika bertemu dengan dirinya, kini sudah berani menatapnya dengan tajam.


"Apa kau ke sini untuk balas dendam atas kematian naga itu!"


Syut!


Dengan cepat pria itu langsung menghindar saat Ana secara kilat ingin menyerang pria itu dengan mana miliknya.


"Nona, anda tidaklah boleh terlihat galak, nona itu sudah seharunya menjadi perempuan penurut!"


Syut!


Lagi-lagi Ana kembali mengeluarkan mana miliknya ke arah pria itu, yang membuat pria itu dengan cepat langsung menghindar dari serangan Ana keluarkan.


"Nona perlu anda tau, walaupun saya terlihat kuat, namun saya tidak pernah sekali pun menyerang perempuan ataupun anak-anak," jawabnya yang sama sekali tidak dipedulikan oleh Ana.


"Namun... Berbeda jika perempuan itu nakal ataupun tidak menurut."


Buk!


"AGH!!!"


"Saya akan menyerangnya tanpa memberi ampun!"


Ana langsung terlempar cukup jauh dari tempat dia berdiri, dikarenakan pria itu yang telah menendang tubuhnya dengan sangat kuat.


"Uhuk... Uhuk..."


Sebuah darah segar langsung keluar dari mulut Ana disaat beberapa anggota tubuhnya didalam telah terluka.


"Apa kau sudah mengerti bahwa kelas kita ini berbeda?" tanya pria itu tersenyum.


Kuat... Dia sangat kuat.


Sruk


Dengan kasar pria itu menarik kuat rambut Ana membuat dirinya seketika langsung memekik kesakitan.


"Badan lemah seperti ini mau balas dendam, hahaha lucu, kau mau balas dendam atau mau bunuh diri?" tanya Pria itu terkekeh.


"Lepaskan! Egh..."


Buk!


Sebuah mana berkekuatan petir muncul disaat Ana ingin menyerang tubuh pria itu, membuat pria itu seketika langsung melepaskan genggamannya dari tubuh Ana.


"Ah... Kau ini semakin membuat ku kesal."


Kali ini pria itu semakin dibuat marah dengan Ana yang terus melawan dirinya, pria itu menggoyangkan kepalanya degan pelan membuat yang membuat sebuah suara retakan terdengar.


"Kau ini benar-benar susah di atur ya?" tanya Pria itu dengan sorot mata yang menakutkan.


...~*~...

__ADS_1


Berbeda dengan kondisi tempat Ana berada, jauh dari wilayah Homounculus, Arthur pemimpin dari pasukan Elf sudah berjalan melaju menuju wilayah Homounculus bersamaan dengan para pasukan Elf yang lain.


"Yang Mulia kita sudah mau sampai!"


"Baik, kita akan berbagai 3 kelompok seperti yang sudah direncanakan, 1 kelompok menangkap Siva yang sedang membuat kerusuhan di luar, 1 kelompok menyelamatkan para warga yang menjadi korban, dan sisanya ikut aku untuk menangkap Ratu Achilles di istana Homounculus!"


"Baik!" jawab mereka serempak.


"Bergerak sekarang!" perintah Arthur yang membuat para Elf di sana menjadi terpencar belah.


Sesampainya mereka di wilayah Homounculus, keriuhan itu sudah terjadi, banyak rumah-rumah warga yang hancur akibat ulah dari Siva dan juga Ana, bahkan para korban yang berjatuhan tersebar di sembarang tempat.


"Apa tidak ada satu pun pasukan Homounculus yang menolong rakyatnya?" tanya Arthur bingung.


"Yang Mulia liat di sana?" pekik salah satu Elf yang dekat dengan Arthur.


Mata Arthur langsung melirik ke samping saat bawahannya memberitahu dirinya bahwa ada yang sedang berkelahi di sana, dari yang dia liat sepertinya orang yang berkelahi itu merupakan salah satu anggota bangsawan di Homounculus, terlihat sekali bahwa istri dari kelurga bangsawan itu berteriak ketakutan saat rakyat kecil yang jadi korban akibat keributan ini menyerang suaminya terus menerus.


Srak!


"Egh..."


Mata Arthur langsung terbuka lebar saat dirinya melihat kedua pasangan itu telah mati ditempat karena luka tusukan akibat dari rakyat itu.


"Sekarang giliran mu...." ucapnya melirik tajam ke arah anak bangsawan itu.


Prang!


Entah kapan Arthur berdiri di sana, mata anak laki-laki itu langsung terbuka lebar saat Arthur secara tiba-tiba berdiri dihadapannya.


"Siapa kau?" tanya orang itu.


Prang!


Arthur dengan cepat mendorong tubuh pria itu menjauh menggunakan tongkat miliknya.


"Yang Mulia!"


"Bawa anak ini menjauh, biar aku yang mengurus orang ini."


"Baik Yang Mulia," jawab salah satu Elf di sana yang langsung membawa tubuh anak itu pergi.


Anak laki-laki itu langsung dibawa pergi oleh salah satu Elf di sana, dari padangan anak itu dirinya tidak pernah lepas untuk melihat pertarungan Arthur yang cukup sengit melawan orang itu.


Perlu kalian ketahui bahwa sanya anak laki-laki itu merupakan Cleo yang juga anak dari salah satu kelurga bangsawan di Homounculus.


Prang!


Perang kembali terjadi, dari jauh mata memandang sudah banyak para korban yang berjatuhan, bahkan para Elf pun masih belum bisa menjinakkan Siva yang saat itu terus mengeluarkan nafas apinya.


"Kau... Kau kaum Elf yang telah membuat kekacauan ini terjadi!"


Prang!


Lagi-lagi Arthur menepis pedang pria itu yang terus menyerang dirinya, kali ini Arthur tidak bisa menjawab ucapan dari pria itu karena memang awal dari kerusuhan ini terjadi karena ulah Siva dan juga Ana.


"Gara-gara perang ini, Kelurga ku mati!"

__ADS_1


Prang!


"Kalo begitu jangan membuat kematian kelurga mu menjadi sia-sia, hiduplah dengan tenang tanpa menimbulkan rasa dendam!"


Prang!


"Enak bagi mu untuk berbicara!"


Tak ada seorang pun yang mau mengalah dalam perang itu, bahkan disaat para Elf ingin menyerah untuk menyudahi perang ini, para warga di sana malah mengambil kesempatan untuk bisa menyerang pasukan Elf.


Jika seperti ini terus, perang ini akan terus berjalan dengan banyak korban yang ikut berjatuhan.


"Maafkan aku."


"Apa?"


"Jika memang kau begitu marah atas kematian kelurga mu, maka aku akan mengantar dirimu pada kematian."


"Kau pikir kau dewa hah?" tanyanya merendahkan.


Prang!


"Mungkin bisa dikatakan seperti itu," balas Arthur sambil tersenyum tipis.


Setelah berkata seperti itu, Arthur tanpa pikir panjang langsung melontarkan mana miliknya ke arah pria itu, yang membuat pria itu seketika langsung terlempar jauh dari awal tempat dia berdiri.


Buk!


"Uhuk... Uhuk... Uhuk..."


Tap


Tap


Tap


Dengan langkah yang begitu pelan, Arthur berjalan ke arah pria itu yang sudah terduduk lemas dengan banyak darah yang keluar dari mulutnya.


"Kalian... Kalian yang membuat perang ini terjadi, tidak akan aku maafkan," ucapnya dengan nafas yang begitu berat.


"Ketahuilah perang ini tidak mungkin terjadi, jika saja pemimpin kalian tidak serakah!"


"Apa?"


"Pejamkan mata mu, mulai saat ini aku akan membawa kematian mu dengan cara yang menenangkan."


Tanpa mau menolak pria itu langsung memejamkan matanya, karena memang rasa sakit yang diberikan oleh Arthur begitu menyakitkan dan juga menenangkan, entahlah sangat sulit bagi dirinya untuk mendeskripsikan rasa sakit ini, karena di lain sisi dirinya juga merasakan ngantuk yang luar biasa.


"Semoga kau bisa bertemu kelurga mu di sana," lirih Arthur saat melihat pria itu yang sudah memejamkan matanya.


"Yang Mulia!" panggil salah satu Elf di sana, saat dirinya menghampiri Arthur.


"Ada apa?"


"Ada sebuah ledakan dari arah istana Homounculus, dari Mana yang saya rasakan sepertinya itu Mana dari Yang Mulia Ratu."


"Apa!"

__ADS_1


TBC


__ADS_2