
Dengan terjadinya ledakan itu membuat beberapa bangun di sana menjadi rusak termasuk dengan beberapa orang yang dekat dengan Ana ikut terpental jauh.
"Apa yang telah terjadi? Kenapa bisa jadi seperti ini?" tanya kaisar Homounculus.
"Uhuk... Uhuk... Itu karena dia sudah diikat oleh naga itu, makanya mananya jadi tidak beraturan," jawab kepala penyihir itu.
"Apa! Kalo sudah seperti apa yang akan kita lakukan?"
Dengan menghapus kasar darah yang keluar dari mulutnya, kepala penyihir itu kembali tersenyum licik yang membuat semua orang di sana menatap heran heran ke arahnya.
"Kita lanjutkan saja, ini akan jadi lebih menarik jika kita bisa menjinakkan anak itu!" ucapnya yang kembali berdiri untuk menghampiri Ana.
Srak!
Satu senjata berbentuk jarum kembali dia tancapkan pada punggung Ana, kali ini Ana sama sekali tidak berontak bahkan orang-orang yang ada di sana sudah nampak siaga jika saja nanti muncul ledakan lagi.
"Apa dia sudah mati?" tanya kaisar Homounculus saat melihat Ana yang hanya diam.
Srak!
Dengan masih melakukan aktivitasnya penyihir itu menjawab ucapan dari Kaisar Homounculus, "Dia tidak mati, dia hanya pingsan karena Mana yang dia miliki meledak!"
Srak!
Sudah ada 6 senjata tajam berbentuk jarum menancap pada punggung Ana yang sedang kehilangan kesadaran, semua yang ada di sana hanya bisa terdiam menatap Ana yang masih terbaring lemas, ini adalah saatnya bagi mereka untuk bisa mengembakkan senjata terkuat dari tubuh manusia, jika saja senjata ini berhasil mereka buat maka tidak akan ada lagi satupun makhluk hidup yang berhasil melawan mereka.
"Baca mantra-nya sekarang!" perintah dari ketua penyihir itu.
Tanpa mau melawan beberapa orang yang berpakaian serba hitam itu langsung mengelilingi tubuh Ana yang terlihat begitu lemah, mereka mulai membacakan beberapa kalimat yang begitu rumit dan sulit bagi beberapa orang pahami.
Ditengah perjalanan disaat mereka sedang membacakan beberapa mantra, tiba-tiba saja lingkaran sihir dengan ukuran yang begitu besar muncul dipunggung Ana, membuat ketua penyihir itu dengan cepat langsung membacakan mantra pelindung, untuk melindungi mereka dari amukan Ana yang akan terjadi.
Duar!!!
Ledakan yang kedua telah terjadi kali ini ledakannya begitu besar, yang membuat beberapa penyihir di sana langsung terlempar jauh hingga membuat mereka berhasil keluar dari istana Homounculus.
"Tetap lanjutkan, sebentar lagi ikatan naga pada anak ini akan menghilang!" pekik ketua penyihir itu yang membuat mereka dengan cepat kembali membacakan mantra pada Ana.
...~*~...
Di lain sisi, tempatnya diluar istana Homounculus Arthur serta beberapa Elf yang ikut dengannya telah berhasil memasuki istana Homounculus yang terlihat begitu berantakan.
"Ada apa Yang Mulia?" tanya salah satu Elf di sana saat melihat Arthur yang tiba-tiba saja menghentikan langkah kakinya.
Mana Ana semakin menipis.
"Kita harus cepat, Mana Ratu mulai menipis, jika terus seperti ini nyawanya akan dalam bahaya!" Pekik Arthur yang membuat beberapa Elf di sana ikut menjadi panik.
...~*~...
Di tempat Ana berada, ritual itu hampir selesai namun sebuah masalah baru muncul, Ana tiba-tiba saja membuka matanya dengan lebar, yang membuat beberapa orang di sana langsung bersiaga.
"Hah..."
Ana bangun dengan keadaan matanya berwarna putih terang, dia berdiri dengan pelan membuat semua orang di sana menjadi was-was.
Tak lama kemudian benda tajam yang menancap di punggungnya terlepas begitu saja, membuat beberapa penyihir di sana menjadi panik.
Ana menatap ke atas dengan jarinya yang terus bergerak, mengeluarkan urat berwana ungu kehitaman.
"Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia bisa bangun?" tanya Kaisar Homounculus.
__ADS_1
Ketua penyihir itu hanya diam, dirinya dengan percaya diri maju ke depan mendekati Ana yang terlihat hilang kendali.
Srak!
Belum sempat Ketua penyihir itu membacakan mantra pada Ana, mata Ana sudah menatap tajam ke arah penyihir itu yang membuat darah segar langsung keluar dari telapak tangan penyihir itu.
"AGH!!!" Pekik Ketua penyihir itu menahan sakit.
Tak lama dari insiden itu terjadi Arthur serta beberapa anak buahnya telah sampai di tempat Ana berada.
"Yang Mulia!"
Deg!
Mata Arthur langsung terbuka lebar tak kala dirinya melihat secara langsung perubahan drastis pada tubuh Ana.
"Yang Mulia, Ada apa dengan tubuh Ratu?" tanya salah satu Elf di sana, yang juga sama kagetnya.
Bahkan Arthur sendiri pun tidak mengerti kenapa tubuh Ana tiba-tiba saja berbuah seperti ini, matanya yang berwana putih terang serta rambutnya yang panjang menjadi warna silver.
"Aku sendiri pun tidak tau, yang pasti didalam tubuhnya bukan hanya mana Nyonya Tessia saja tapi ada mana gelap yang bercampur di dalam tubuh itu."
"Apa?"
Deg!
Mata Ana tiba-tiba saja menatap tajam ke arah Arthur, disaat matanya berpapasan dengan Ana, Arthur dengan cepat langsung mendorong tubuh anak buahnya.
"MENGHINDAR!"
Buk!
"Uhuk... Uhuk... Astaga Apa yang sudah terjadi?" tanya Salah satu Elf di sana.
"Apa?"
Saat ini Ana tidak mengenal siapa musuh dan siapa kawan, karena tujuan dia saat ini ialah menghabisi semua yang ada dihadapannya.
"Tangkap anak itu!" teriak kaisar Homounculus.
Tas!
Namun dengan cepat Arthur menggagalkan rencana kaisar Homounculus, yang ingin menangkap Ana.
"Ambil Ratu bagaimana pun caranya, begitu berhasil kita akan langsung pergi dari tempat ini! Pastikan bahwa Ratu tidak jatuh pada tangan orang-orang Homounculus!" perintah Arthur, yang langsung disetujui oleh pengikutnya.
Dengan susah payah, mereka bertarung satu sama lain untuk bisa mendapatkan kembali' Ana yang saat itu sedang lepas kendali.
Setiap ada orang yang mendekatinya, maka Ana tidak segan-segan untuk menyerang orang itu hingga dirinya terpental cukup jauh.
Prang!
Perkelahian antar pasukan Homounculus dan kaum Elf belum selesai sampai di situ saja, di tempat yang sama Arthur menatap tajam pada ketua penyihir, yang sedang berusaha mendekati Ana.
"Berhenti di situ! Dan jangan mendekati Ratu kami!"
"Anak itu, dari awal sudah milik Homounculus, kau yang merupakan orang asing sebaiknya pergi saja!"
Prang!
Arthur dan ketua penyihir itu terus menyerang satu sama lain, membuat tempat itu seketika menjadi hancur karena perkelahian yang terjadi di sana.
__ADS_1
"Dari awal dia memang memilik Homounculus, namun tidak untuk sekarang!"
Prang!
"Dia bukan milik Homounculus lagi, tapi dia sudah jadi pemimpin bagi wilayah Achilles!"
"Sial!"
"AGGGGHHHH!!!"
Sebuah teriakan yang begitu dahsyat membuat semua orang yang ada di sana menjadi terdiam, bahkan Arthur pun dibuat tercengang dengan kondisi Ana yang semakin lama menjadi lebih berbeda.
"Kenapa? Kau takut?" tanya ketua penyihir itu sambil tersenyum licik.
"Sebentar lagi, mantranya akan sempurna... Dan anak itu akan jadi peliharaan kami!" lirihnya yang membuat Arthur dengan cepat langsung mendorong tubuh ketua penyihir itu.
Ana!
Tidak tau harus melakukan apa, melihat tubuh Ana yang semakin lama berubah membuatnya tidak bisa berpikir jernih, bahkan teriak-teriakan itu seperti sebuah siksaan bagi dirinya.
"Yang Mulia!" pekik salah satu anak buahnya.
Sudah terlambat, Mana Nyonya Tessia yang ada pada tubuhnya telah hilang.
Setetes air mata jatuh, tubuh Arthur seketika dibuat melayang saat tau bahwa Ana yang dia liat saat ini, bukanlah Ana yang dulu dia kenal.
"Yang Mulia!"
"Tidak... Tidak ada gunanya melawan."
"Dia... Dia sudah tidak ada!"
Suara teriakan dari para Elf seperti nyanyian merdu bagi kaum Homounculus, melihat Ana yang semakin jauh dari wujud manusia membuat mereka semakin merasa senang, bahkan sebentar lagi impian bagi kaum Homounculus untuk mengendalikan tubuh Ana akan segera terwujud.
*Prang!
Deg*!
"Maya?"
"Arthur?"
Seorang wanita paru baya datang dengan menunggangi Siva anak naga dari Tessia.
"Kyu..."
Dengan semangat Siva menghancurkan bangunan itu, membuat beberapa orang yang ada di sana langsung menoleh ke arahnya.
"Ana? Apakah wanita itu Ana?" tanya wanita itu tak percaya.
Mata wanita itu melirik ke arah Ana yang terlihat begitu berbeda dari terakhir dia bertemu.
"Siva... Liat itu ibu mu!" ucapannya sambil memukul pelan kepala Siva.
"Ibu?"
"Bisakah kau membuat dia sadar?" pita wanita itu.
Siva langsung terdiam menatap tubuh Ana, termasuk semua orang yang ada di sana.
"Kyu.... Ibu....!"
__ADS_1
TBC