Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia

Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia
35


__ADS_3

Jantung Ana terus berdetak sangat kencang bahkan dirinya sendiri pun sama sekali tidak merasakan bahwa saat ini kakinya sudah lecet akibat memaksakan diri untuk berlari.


"Teri! Teri!"


"Apa dia sudah gila? Mau sampai kapan dia terus mengejar ku?" tanya Ana saat melihat Dylan masih mengejarnya.


"Pangeran ada apa? Apa ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu prajurit, yang menghampiri Dylan.


"Kalian! Cari Nona Ronan sekarang, dan bawa dia ke ruang kerja ku, sekarang!" perintah Dylan pada prajurit itu.


"Baik Pangeran," tanpa mau menolak, prajurit itu pun langsung pergi dari hadapan Dylan untuk menjalankan perintah.


"Ehm..."


"Diam, ikut aku sekarang."


Tanpa mau menolak Ana menuruti perintah pria itu, yang telah membawa dirinya ke sebuah ruangan dekat dengan dirinya.


Di dalam ruangan itu Ana bisa melihat ada sosok pria yang tidak asing baginya, serta satu orang misterius yang berpakaian serba tertutup.


"Tuan Muda Valantie?" pekik Ana saat melihat pria itu ada di dalam ruangan.


"Hay Nona, kita bertemu lagi," ucapnya sambil tersenyum.


"Kau bisa melepaskan dia sekarang."


Orang yang tadi membawa Ana pun, langsung melepaskan tangannya dari tubuh Ana, melihat ada yang aneh, Ana pun kembali menatap tubuh Tuan muda Valantie itu.


"Apa-apa ini Tuan Valantie? Kenapa tiba-tiba saya dibawa ke sini?" tanya Ana.


"Sutt, tenanglah Nona sebelum saja menjawab, panggil saya Ian agar kita bisa lebih akrab," ucapnya sambil tersenyum.


"Apa saat ini hal seperti itu penting?"


"Hah... Baiklah jika anda tidak mau menuruti ucapan saya, namun sebelum itu ada seseorang yang ingin saya perkenalkan pada anda."


"Apa?"


Mata Ian langsung tertuju pada seseorang yang berpakaian serba tertutup itu, Ana tidak tau siapa sebenarnya orang ini namun melihat orang itu yang mulai mendekatinya, Ana dengan cepat langsung memundurkan langkah kakinya.


"Siapa kau?" tanya Ana dengan penuh rasa takut.


Orang yang Ana tidak tau siapa namanya itu langsung menunjukan sebuah senyum lebar, yang membuat Ana merasa tidak nyaman dengan itu.


"Ana!"


Deg!


"Apa apa kabar?"


Deg!


Seperti disambar petir, Ana seketika menjadi batu saat nama aslinya disebut untuk pertama kalinya disini.


Orang yang tidak Ana tau namanya itu langsung membuka tudung pembungkus kepalanya, memperlihatkan kepada Ana seperti apa wujud mukanya.


"T...Tidak... Tidak mungkin."

__ADS_1


Tidak tau harus percaya atau tidak, Ana dengan spontan langsung terduduk dilantai, disaat dirinya mengetahui bahwa perempuan yang ada dihadapannya ini adalah wujud dari tubuhnya yang asli.


"Ana..."


Nafas Ana naik turun, dia tidak tau harus percaya apa tidak, kenapa wujud aslinya yang ada di dunia tempat dia tinggal, bisa berada di dunia yang dia buat, sungguh keajaiban yang sulit untuk dia percaya.


"Ana, tenangkan diri mu."


"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kau ada di sini?" tanya Ana yang masih sulit untuk percaya.


"Ceritanya sangat panjang, namun sebelum itu ada hal yang perlu kita lakukan."


"Hah?"


"Kita harus keluar dari Istana sekarang, perlu kau tau saat ini nyawa mu sedang dalam bahaya!"


"Apa?"


"Para pendukung Kalika mulai bergerak untuk melenyapkan mu, termasuk dengan Yang Mulia Putra Mahkota!" ucap Ian menjelaskan.


"Apa? Tunggu... Tunggu aku masih sulit untuk mempercayai ini, Yang Mulia juga ikut serta?"


Dengan cepat mereka menganggukkan kepalanya, "Akan aku jelaskan lebih rincinya nanti, sebelum itu sebaiknya kau pakai ini sekarang."


Ana diberikan sebuah jubah pada Teri untuk segera dia pakai, tanpa mau menolak Ana pun langsung memakai jubah itu.


"Ingat, sampai kita berjalan menuju kereta kuda, aku minta pada mu untuk jangan melepaskan tudung ini! Apa kau mengerti?"


Dengan cepat Ana menganggukkan kepalanya.


"Bagus!"


"Kalian sudah siap?"


"Iya," jawab mereka sambil menganggukkan kepala mereka.


"Bagus."


Dengan pelan Ian membuka pintu ruangan, orang yang pertama kali keluar ialah Ian baru Teri, Ana, dan traktir pria yang belum Ana kenal namanya.


"Ayo cepat!"


Dengan terburu-buru mereka berlari menyusuri lorong yang begitu sepi, tidak lupa mata mereka melirik ke kiri dan kanan untuk terhindar dari para pelayan serta prajurit yang mencari mereka.


"Tunggu!"


"Ada apa?" tanya Ana.


"Di sana ada prajurit yang sedang berjaga!"


"Apa! Sekarang kita harus bagaimana?" tanya Teri yang mulai panik.


Ian kembali berpikir keras, dia mulai mencari cara agar mereka bisa terhindar dari para penjaga, mata Ian langsung melirik ke arah prajuritnya yang saat itu sedang berdiri dibelakang Ana.


"Aku ada ide, aku akan ke sana untuk mengalihkan mereka, setelah itu kalian mulailah berjalan duluan ke kereta kuda, nanti aku akan menyusul."


"Apa kau yakin?"

__ADS_1


"Hanya ini satu-satunya cara yang aku punya," ucap Ian dengan nada pasrah.


"Baiklah jika memang harus seperti itu, semoga kau berhasil," ucap Teri sambil menepuk pundak Ian.


Dengan menghembuskan nafas kasar Ian mulai mengatur postur tubuhnya untuk memulai aksinya.


"Hah..."


Dengan berjalan santai Ian mulai melangkahkan kakinya ke arah prajurit itu yang sedang berjaga di pintu keluar.


"Teri, bagaimana jika kita keluar lewat jendela saja?"


"Apa?"


Mata Teri langsung menoleh ke sebuah jendela yang dekat dengan mereka, memang jarak lantai yang mereka injak dengan lantai yang mereka tuju tidak begitu jauh namun apa mereka yakin bisa keluar lewat sini.


"Ana, kau pasti tidak bisa lewat, liat saja gaun yang kau pakai ini!" ucap Teri.


"Teri! Ini bukan momennya kita peduli dengan pakaian yang sedang ku gunakan, sekarang yang harus kita pikirkan bagaimana caranya agar kita bisa keluar dari sini!"


"Apa anda sungguh bisa keluar lewat jendela?" tanya prajurit itu tiba-tiba.


"Tentu saja."


Dengan penuh percaya diri, Ana langsung mengangkat gaunnya hingga kakinya yang jenjang terlihat.


"Sungguh diri ku yang anggun seakan hilang," sahut Teri saat melihat Ana yang saat itu masih terperangkap didalam tubuhnya mulai memanjat jendela.


"Ayo!" pekik Ana.


Setelah berkata seperti itu, Ana tanpa pikir panjang langsung loncat dari jendela, tentu saja melihat itu Teri langsung membesarkan kedua matanya tidak percaya.


"Ana apa kau baik-baik saja?" pekik Teri dari atas.


"Aku baik-baik saja, melompat lah sekarang!" pekik Ana dari bawah.


"Baiklah, sekarang giliran ku!"


Teri pun mulai memanjat jendela, Ian yang saat itu masih belum bisa membuat prajurit penjaga menjauh langsung dibuat shock dengan aksi Teri yang sedang memanjat jendela.


Apa yang sedang mereka lakukan!


Melihat Teri yang sudah melompat dari jendela, Ian pun tanpa pikir panjang langsung berjalan keluar untuk memastikan apakah Teri baik-baik saja setelah dirinya melompat dari lantai dua.


Deg!


"Apa!"


Mata Ian semakin dibuat lebar, saat dirinya melihat bahwa Ana sudah berada dibawah, lengkap dengan gaun yang dia gunakan sudah menjadi kotor.


Apa mereka sudah gila? Bahkan perempuan itu pun sudah dibawah! Sebenarnya apa yang sedang mereka pikirkan!


Ian dengan cepat langsung berlari ke arah Teri dan juga Ana, tak lama Ian datang prajurit miliknya pun ikut mendarat ditempat mereka berdiri.


"Apa kalian pikir nyawa kalian ada 9 hah?" pekik Ian dengan nada yang penuh emosi.


"Tidak perlu memikirkan kita, sekarang di mana kereta kudanya?" tanya Ana dengan nafas naik turun."

__ADS_1


TBC


__ADS_2