Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia

Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia
50


__ADS_3

Ini adalah kejadian 4 tahun yang lalu, disaat perang antar kaum Elf dan kerjaan Homounculus sedang berlangsung.


Kejadian ini bersamaan dengan Ana yang saat itu baru menginjak usia 10 tahun serta Siva naga kesayangannya yang baru saja menetas.


"Aku akan selalu melindungi kalian, terutama kau Ana, maka dari itu berhentilah menangis."


Ana yang kala itu tau bahwa Tessia atau biasa dia panggil ibu sedang sekarat, membuat dirinya terus menerus menangis, karena Ana tau bahwa saat ini Tessia sudah diambang kematian kerena mana yang dia miliki telah banyak terbuang hanya untuk melindungi dirinya serta Siva anaknya yang baru menetas.


"Mereka sudah mulai mendekat! Aku bisa merasakan mana mereka dari sini!"


"Ibu... Bagaimana ini aku takut, apa kita bisa selamat dari orang-orang itu?"


Tessia langsung menoleh ke arah Ana yang saat itu sedang memeluk kuat tubuhnya yang besar.


"Kita pasti akan selamat aku yakin itu."


Suara keriuhan dari orang-orang Homounculus mulai terdengar memasuki wilayah Elf, yang merupakan tempat bagi Ana untuk bersembunyi.


"Arthur!"


Arthur yang saat itu merupakan pemimpin dari pasukan Elf langsung menoleh ke arah Tessia.


"Aku akan maju duluan untuk mengurangi musuh yang akan menyerang tempat ini, selagi aku maju, aku minta pada kaum mu untuk selalu bersiaga dalam melindungi tempat ini terutama pada anak-anak ku."


Dengan kepala yang menunduk Arthur tanpa mau membatah langsung menyetujui perintah dari Tessia.


"Tentu saja kami akan menjaga anak-anak anda Ratu!"


"Kalo begitu, fokuslah dalam pertahanan pastikan Ana atau pun Siva tidak tersentuh oleh mereka!"


"Baik!"


Para Elf pun mulai menyusun pondasi untuk mempertahankan tempat tinggal mereka, dari jauh Tessia sudah bisa melihat bahwa di sana ada satu pemimpin dari mereka yang membuat suasana saat itu menjadi tegang.


Dia pasti pemimpinnya?


"Ibu!"


Deg!


"Ana kenapa kau keluar?" pekik Tessia yang langsung menoleh ke arah Ana.


"Bersembunyi lah dibelakang, jangan keluar karena tempat ini belum aman," ketus Tessia yang membuat Ana langsung terdiam.


"Apa yang sudah kalian pikirkan! Cepat bahwa Nona Ana kembali masuk ke pohon emas sekarang!" teriak Arthur yang langsung dituruti oleh anak buahnya.


"Mereka mulai mendekat, SEMUA ATUR POSISI MASING-MASING!" teriak Tessia pada semua kamu Elf.


"Baik!"


Elf adalah manusia setengah peri, minoritas senjata yang mereka gunakan adalah panahan maka dari itu keuntungan dari kaum Elf dalam berperang ialah jarak jauh, jika sudah musuh memasuki wilayah yang begitu dekat dengan wilayah mereka, maka sulit bagi mereka untuk bisa bertahan.


Srak!


Tessia yang kala itu berdiri di paling depan, langsung membentakkan sayapnya dengan lebar, memperlihatkan pada semua kaum Elf yang ada di sana bahwa dirinya pasti bisa melindungi mereka dalam melewati masa perang ini.


Byur!


Byur!

__ADS_1


Dengan penuh percaya diri Tessia pun langsung terbang menuju para musuh meninggalkan kaum Elf yang masih berada di sana bersama dengan anak-anaknya.


"Ibu, semoga kau baik-baik saja!" ucap Ana yang terus berdoa untuk keselamatan Tessia.


Tessia terus terbang menuju arah musuh yang sedang berjalan menuju wilayah Elf, perlu diketahui bahwasannya wilayah Elf adalah wilayah yang begitu subur dengan hasil alamnya yang berlimpah, ditempat ini tumbuhan bisa tubuh dengan subur begitu juga dengan para mahluk hidup dalam bertahan hidup.


Selain wilayahnya yang dapat menjamin kesejahteraan penghuninya, tempat ini juga sering dijadikan sebagai bahan rebutan oleh kaum manusia yang begitu serakah pada alam.


Sakin serakahnya mereka sampai lupa dengan pemilik sebelumnya wilayah itu, banyak para binatang yang mati akibat ulah manusia bahkan tumbuhan yang tumbuh dengan subur pun ikut mereka rusak akibat keserakahan manusia yang menginginkan sebuah tambang emas, yang berada tepat dibawah kaki gunung.


"Naga itu mulai mendekat!"


"Bersiap untuk menembak!" teriak salah prajurit di sana.


Tessia semakin dekat dengan wilayah musuh, "Pergilah kalian dari wilayah ku!"


Byur!


Dengan sekali semburan, Tessia sudah mengeluarkan apinya dari dalam mulutnya yang membuat beberapa manusia yang berdiri dibarisan terdepan langsung meninggal bahkan ada yang berteriak karena api yang di sembur Tessia telah menyelimuti tubuh mereka.


"TEMBAK NAGA ITU SEKARANG!"


Karena perintah itu banyak dari mereka yang langsung melemparkan anak panah ke arah Tessia membuat dirinya seketika terluka dan berakhir jatuh dikarenakan dirinya yang tidak bisa menjaga keseimbangan.


"IBU!"


"Nona.... Anda tidak boleh keluar!"


"Ibu... Lepaskan aku! lepaskan aku! IBU!"


Waktu itu tepat didepan matanya, Tessia sekaligus ibu yang paling dia sayangi telah mati terbunuh oleh orang-orang Homounculus.


"Agh..."


"Lepaskan aku! Lepas!"


Suara tangisan Ana memenuhi tempat itu bersamaan dengan Arthur yang langsung memberi perintah pada bawahannya untuk bersiap dalam menembak.


Byur!


Ribuan anak panah terbang ke udara menusuk banyak pasukan Homounculus yang saat itu sedang berjalan ke arah wilayah mereka, tak sampai disitu sebagainya kaum Elf yang memiliki elemen tanah pun langsung berlarian ke depan agar bisa menyelamatkan Tessia yang saat itu sudah sangat sekarat.


"IBU..."


"Tolong! Lepaskan! Aku ingin menyelamatkan ibu..."


Dengan teriakan yang begitu nyaring Arthur menaikan tongkat kebesaran menandakan bahwa mereka telah siap untuk berperang.


"SERANG!"


Mau itu pasukan Elf ataupun pasukan Homounculus mereka sama-sama tidak mau mengalah dalam mendapatkan kemenangan untuk mereka.


Waktu kejadian perang itu banyak dari mereka yang gugur, bahkan Ana semakin dibuat histeris tak kala matanya dapat melihat ibu angkatnya telah disiksa oleh orang-orang Homounculus yang sangat menginginkan kelapa Tessia terpisah dari tubuhnya sebagai tanda kemenangan.


Srak!


"TIDAK!"


Kepala Tessia pun terlepas dari badannya, bersamaan dengan Ana yang seketika menjadi gila.

__ADS_1


"Nona..."


"TIDAK! TIDAK! TIDAK! TIDAAKK!"


Ana menarik kuat rambutnya dengan kedua tangannya dengan matanya yang tidak bisa lepas dari pandangan Tessia yang sudah dibuat hancur oleh pasukan Homounculus.


"AGHHH! MATI KAU ORANG-ORANG Homounculus!" Teriak Ana yang langsung melempar kuat tubuh salah satu Elf yang mencoba menahannya.


"Nona! Uhuk... Tolong tahan Nona untuk tidak keluar!" teriak seorang Elf yang tadi Ana lempar.


Ana langsung melompat dari pohon emas yang memiliki tinggi yang luar biasa, dengan cepat dirinya langsung berlari dengan kencang ke arah Tessia yang sudah terkapar.


"Semuanya! Tangkap Nona Ana sekarang!" teriak Arthur yang langsung disetujui oleh anak buahnya.


"Ibu! JANGAN SENTUH IBU!"


Byur!


Sebuah mana yang begitu kuat tiba-tiba saja keluar dari telapak tangan Ana, yang membuat pasukan Homounculus langsung terlempar jauh dari tempat Tessia berada.


"Ibu..." pekik Ana yang masih terus berlari.


Buk!


"Egh... Aku harus ke tempat ibu..."


Dengan kaki yang penuh luka Ana terus berlari menuju tempat Tessia berada, tidak peduli dengan tubuhnya serta anak panah yang terus datang menyerang dirinya.


"Ibu... Ibu..."


"Nona! Jangan ke sana berbahaya!" pekik para Elf yang terus mengejar Ana.


"Ibu..." Dengan air mata yang terus keluar Ana berhasil memeluk kepala Tessia yang saat itu sudah terpisah dengan tubuhnya.


"AGH...."


Air mata Ana terus keluar deras, bersamaan dengan dirinya yang sedang dikurung oleh orang-orang pasukan Homounculus.


"Nona!"


Para Elf pun tidak bisa menyematkan Ana karena mereka juga sama-sama dihalangi oleh pasukan Homounculus.


"Anak ini berbahaya cepat bunuh dia!"


"Baik!"


Disaat prajurit Homounculus itu ingin menusuk tubuh Ana, tiba-tiba saja sebuah cahaya yang begitu terang muncul menyelimuti tubuhnya yang kecil.


Mata Ana langsung menatap tajam ke arah prajurit yang saat itu ingin menusuknya, membuat prajurit itu langsung dibuat mundur seketika.


"Apa yang terjadi?"


"Kalian... KALIAN YANG TELAH MEMBUNUH IBU KU, HARUS DIHUKUM MATI!"


"Apa! Apa yang sudah terjadi? Egh..."


"Uhuk... Da... Darah?"


"Matilah kalian semua!"

__ADS_1


Tas!


TBC


__ADS_2