
Rambut yang berwarna hitam mengkilap dengan mata yang berwarna biru terang seperti lautan, tidak salah lagi ini pasti.
"Nona?"
"Ya," Dengan cepat Ana kembali sadar setelah dirinya melamun karena membayangkan pria yang ada dihadapannya
Astaga ini pertama kalinya aku bisa bertemu dengan dia, tunggu apa pria ini benar-benar dia?
"Terima kasih sudah mau peduli dengan saya Tuan," ucap Ana tersenyum.
"Tidak masalah Nona, apa anda datang tidak bersama partner anda?"
"Partner?"
"Melihat anda yang datang sendiri, sepertinya anda tidak memiliki partner."
Ana tidak tau apakah dia harus tersenyum atau merasa sedih disaat pria itu mengatakan hal yang sangat menyakitkan untuknya.
"Saya tidak membutuhkan partner hanya untuk bisa datang ke acara kerajaan, karena setelah saya selesai memberi salam pada kelurga kerajaan, saya akan langsung pulang," balas Ana.
"Hmm Begitu, baiklah jika itu mau anda, namun dibanding anda jalan sendiri, bagaimana jika anda jalan berdua dengan saya."
"Apa?" tanya Ana yang langsung membesarkan kedua matanya.
"Apa anda merasa keberatan Nona?" tanyanya.
Tak lama kemudian pria itu membungkukkan badannya ke arah Ana, yang membuat Ana sedikit tercengang dengan sikap pria itu.
"Sebelum itu izinkan saya memperkenalkan diri dulu, perkenalkan saya Vino Valantie selaku putra pertama dari Tuan Marques Valentine."
Deg!
"Marques Valantie?"
Astaga yang aku pekikan beneran terjadi, Pria ini memang benar putra dari Marques Valantie, karakter figuran yang banyak disukai pembaca ku.
"Nona? Bagaimana apa anda tertarik untuk jadi partner saya?"
"Ah... Iya, Saya Putri pertama dari Tuan Baron Ronan senang bisa menjadi partner anda Tuan Muda Valantie," balas Ana menerima uluran tangan dari Vino.
Melihat Ana yang menerima tawaran darinya, Vino langsung menampilkan senyum lebar dihadapan Ana, yang membuat Ana sedikit terpaku dengan itu, "Senang anda mau menerima ajakan saja Nona," ucap Vino sambil mencium tangan Ana.
...~*~...
Didalam aula, sudah begitu ramai dengan beberapa orang yang hadir dalam acara itu, kebanyakan orang yang diundang di sana merupakan orang-orang penting yang memiliki jabatan tinggi.
__ADS_1
Rasanya tidak enak sekali menjadi bahan tontonan.
Ana tidak tau apa ini benar atau salah, tangannya yang sedang memeluk lengan Vino itu langsung dia remas dengan kuat disaat dirinya merasakan tatapan tajam dari orang-orang yang melihatnya.
"Tidak apa-apa saya akan melindungi anda nona," bisik Vino pada Ana.
"Ah... Terima kasih Tuan," balas Ana yang kembali menundukkan kepalanya.
"Maka dari itu, sebaiknya anda jangan melihat kebawah, karena semakin anda menunduk orang-orang akan menilai anda dengan rendah."
Setelah mendengar ucapan Vino, Ana tanpa pikir panjang langsung mengatur posisinya dengan normal, dan kembali berjalan dengan anggun sambil mengandeng tangan Vino.
"Terima kasih sudah membantu saya Tuan Muda Valantie," bisik Ana sambil tersenyum.
"Tidak masalah."
Vino membawa Ana ke perkumpulan teman-temannya, melihat Vino yang membawa Ana ke perkumpulan mereka, membuat beberapa temannya langsung menatap sinis ke arah Ana.
"Tuan Valantie Saya tidak menyangka bahwa partner anda adalah nona Ronan," ucap salah satu perempuan yang ada di sana.
"Ya saya sendiri pun tidak menyangka akan berpasangan dengan nona Ronan," jawab Vino tak kalah ramah.
"Hmm."
Ana merasa tidak nyaman dengan perkumpulan ini apa lagi tatapan menusuk dari orang-orang membuatnya ingin segera keluar dari situasi ini.
Mendengar perkataan dari perempuan itu, Ana langsung menatap tajam wajah perempuan itu.
"Astaga liat itu, dia menatap ku dengan tajam."
Mendapatkan respon seperti itu, Ana dengan cepat kembali menundukkan kepalanya, entah kenapa dirinya merasa bahwa orang-orang yang ada di sini secara terang-terangan menunjukan kebenciannya pada Teri.
"Tidak apa-apa, jangan menundukkan kepala anda Nona," bisik Vino yang membuat Ana langsung menoleh ke arahnya.
"PERHATIAN SEMUANYA!"
Suara yang begitu keras, membuat semua perhatian para tamu tertuju pada salah satu prajurit kekaisaran yang sedang berdiri didepan pintu besar.
"YANG MULIA KAISAR, PUTRA MAHKOTA Homounculus SERTA TUNANGANNYA MEMASUKI RUANGAN!"
Brak!
Semua mata langsung tertuju pada sebuah pintu besar yang baru saja terbuka, menampilkan sosok kaisar dari Homounculus muncul bersama bersama dengan Dylan serta Iris yang mengikutinya dibelakang.
Mau dinilai bagaimana pun wajah Dylan memang yang paling tampan.
__ADS_1
"Silahkan nikmati pestanya, jangan berhenti hanya karena aku yang tiba-tiba saja datang."
Melihat kaisar Homounculus yang berbicara dengan lepas seperti itu, membuat Ana percaya bahwa karakter yang dia buat saat ini pasti sangat berbeda dengan karakter yang dia diciptakan untuk anaknya.
Jadi seperti ini gambaran yang aku tulis ke dalam cerita, suara musik yang memenuhi aula, para bangsawan yang sedang berbicara, dan dekorasi ruangan yang belum pernah aku liat sebelumnya, benar-benar dunia fiksi.
"Nona Ronan?"
"Iya?" Ana langsung menoleh saat Vino tiba-tiba saja memanggil dirinya.
"Saya ingin menemui kelurga Kerajaan, apa anda ingin ikut?"
Ana tidak langsung menjawab, namun matanya tidak sengaja menatap ke arah Ragnar yang sedang berbicara dengan para tamu di sana, disampingnya juga ada Dylan serta Iris yang turut menemaninya.
"Baiklah saya ikut, setelah saya memberi salam pada kelurga kerajaan, saya akan langsung pulang," jawab Ana sambil tersenyum.
"Begitu... Baiklah ayo kita pergi," ajak Vino sambil tersenyum.
Ditempat Dylan, beberapa para petinggi yang dari tadi meminta Dylan untuk berdansa dengan Iris sama sekali tidak dituruti olehnya, bukan karena dia yang tidak mau berdansa, hanya saja untuk dansa pertamanya dia ingin memberikannya pada seseorang yang sudah lama dia nanti.
"Selam Pada Yang Mulia, serta Pangeran Putra Mahkota."
Dylan serta semua yang ada di sana langsung menolehkan kepalanya saat Vino bersama dengan Ana datang untuk memberi salam.
"Nona Ronan? Aku tidak tau bahwa kau ada di sini," ucap Ragnar dengan wajah yang terlihat bingung.
Dengan penuh rasa hormat Ana kembali menundukkan kepalanya, "Sebuah kehormatan besar bagi saya, nona yang pernah di usir dari Ibu kota, mendapatkan undangan spesial ini dari Yang Mulia Pangeran," jawab Ana yang membuat seisi ruangan menjadi riuh.
"Apa?" Mata Ragnar langsung melirik ke arah Dylan yang terlihat membeku saat dirinya melihat penampilan Ana.
"Itu benar Yang Mulia, saya sendiri yang mengundangnya ke sini," jawab Dylan yang membuat semua orang semakin dibuat heran.
Dengan lembut Dylan melepaskan genggaman tangan Iris yang sedang memeluk lengannya, dan berjalan dengan pelan ke arah Ana.
"Nona Ronan?"
Ana terdiam saat Dylan sudah berdiri dihadapannya dengan wajah yang terlihat ceria.
"Mau kah anda berdansa dengan saya?"
Dengan badan yang sedikit membungkuk Dylan memberikan tangannya kehadapan Ana, melihat sikap Dylan tersebut membuat seisi ruangan menjadi semakin riuh, bagaimana tidak mantan tunangan Pangeran yang dituduh pernah meracuni teman kecilnya, mendapatkan perilaku istimewa secara langsung dari Pangeran.
"Aku menunggu mu?" bisik Dylan.
Ana bingung harus bersikap bagaimana, apakah dia terima saja tawaran dari Dylan?
__ADS_1
TBC