
Dengan cepat Dimas melayangkan tangannya di pipi mulus Rani.
“Bunuh aja aku sekalian Dimas, aku capek dengan semua sandiwara ini”.
“Siapa yang bersandiwara?” Dimas semakin emosi. Kamu yang memulai sandiwara ini aku hanya mengikuti permainanmu saja dan sekarang semua kebusukan mu sudah terbongkar.
Dimas mengambil handphonenya dan memperlihatkan beberapa foto dan video Rani bersama Roy.
“Kamu tadi bilang kalau kamu capek dengan semua ini, tenang besok aku akan mengakhiri semua rasa capek mu itu” kata Dimas dengan senyum mengejek.
“Besok pengacaraku akan mengurus perceraian kita”.
“Tidak, tidak Dimas. Aku minta maaf, jangan ceraikan aku. aku akan mengakhiri hubunganku dengan Roy dan akan memulai hubungan yang baru denganmu”. Rani bersimpuh di kaki Dimas dengan tangis yang dibuat-buat .
“Sayangnya semua itu sudah terlambat Rani, aku harap kamu tidak akan mempersulit keadaanku” kata Dimas sambil berlalu pergi meninggalkan Rani sendiri di dalam kamar.
“Sial. Dari mana dia dapat semua itu, aku harus beritahukan masalah ini sama Roy kalau sampai perceraian ini terjadi aku tidak akan tinggal Diam”. Ucap Rani
Keesokan harinya pengacara Dimas sudah mengurus surat perceraian itu. Sementara Ayah dan Ibu Rani yang ada di luar negeri tidak mengetahui kasus perceraian Rani karena Rani sendiri takut memberitahukan kepada orang tuanya.
“Dimas apa kamu yakin dengan keputusanmu itu” Tanya ibu Ani.
“Aku yakin Mah hubungan ini sudah tidak bisa di lanjutkan lagi”.
“Mamah dukung apapun keputusanmu nak, maafkan Mamah yang terlalu egois dengan keinginan Mamah. Sekarang Mamah percayakan semua kepada kamu, carilah wanita yang benar-benar mencintaimu bukan karena harta ataupun tahta yang kamu punya melainkan cinta dan ketulusan mu” kata Ibu Ani dengan nada sedih.
“Terima kasih Mah karena sudah mendukungku”.
“Aku akan mencari mu kembali Farah aku akan memperjuangkan cintamu. Tak perduli kamu milik siapa”. Dimas hanya bisa berharap dapat berjumpa kembali dengan Farah dan akan menikahinya.
“Aku yakin Farah adalah gadis yang baik, betapa bodohnya aku membiarkan dia pergi begitu saja. Seharusnya waktu itu aku sudah memperjuangkan cintanya. Dimas-Dimas kamu memang bodoh” Dimas tak henti-hentinya menggerutu dirinya.
__ADS_1
Sementara di tempat lain!
“Des aku sama Mas Rendi pergi ke pantai dulu yah” pamit Farah.
“Cie-cie pasangan bucin lagi pengen berduaan, baiklah aku pulang duluan yah. Ingat jaga jarak belum halal loh yah”. Ejek Desi sambil tertawa dan berlari kecil meninggalkan kedua sahabatnya itu yang saling bertatapan seakan mengerti tujuan pembicaraannya.
Sore yang indah desiran ombak yang menyambut kedatangan dua insan yang sedang di landa asmara. Dimana sang surya sesaat lagi akan berpamitan dan akan di gantikan oleh gelapnya malam. Mungkinkah sunset itu akan menjadi saksi dari kisah cinta 2 sejoli itu.
Rendi menggenggam erat tangan Farah dan mengajaknya duduk di tepi pantai. Sesaat hanya suara ombak yang mengaduh dibibir pantai.
“Mas Rendi ada yang ingin aku sampaikan kepadamu, ini menyangkut tentang kekurangan diriku. Sejak awal aku berpikir ingin jujur tentang ini padamu sebelum hubungan kita semakin jauh”.
“Katakanlah apa yang ingin kau sampaikan padaku, aku akan mendengarkan dengan setia”.
'Mas Rendi.
Sejenak Farah menundukkan kepalanya karena merasa tak sanggup untuk menatap mata laki-laki yang sangat ia cintai itu.
“Aku telah di perkosa seorang pria yang bernama Dimas. Apakah kamu akan tetap menerima aku dengan keadaanku seperti ini?” Tanya Farah dengan kepala yang masih tertunduk.
“Semua kejadian itu di luar dugaan ku, tapi ini tidak sepenuhnya kesalahan Dimas” perlahan tapi pasti Farah menceritakan semua kejadian pahit itu kepada Rendi.
“Ra aku sudah bilang aku akan menerima semua kekurangan kamu, dan aku juga bukanlah manusia yang sempurna untuk kamu. Aku hanya bisa berharap bahwa kita bisa saling melengkapi, dan menyempurnakan kekurangan kita, karena menikah itu adalah ibadah yang akan menyempurnakan sebagian agama kita dan aku ingin kamu yang akan menyempurnakan agamaku Ra”.
Rendi menghapus air mata Farah dan memeluk tubuh Farah dengan lembut.
“Apapun kekuranganmu, bagiku kamu tetaplah bidadari yang Allah kirimkan untukku. Biarkan masa lalu mu itu terkubur dalam-dalam hilang bersama sunset sore ini, terhapus oleh ombak hingga tak berbekas. Aku siap jadi imam untuk kamu Ra”.
Farah kini tersenyum manis mendengar tiap kata yang di ucapkan oleh Rendi padanya.
“Mulai saat ini aku akan menjadi lelaki sejati yanga akan selalu melindungi mu dari segala bahaya” ucap Rendi.
__ADS_1
“Memangnya tadi aku bilang bakal terima lamaran kamu yah? Pede banget sih Mas jadi orang” Farah mengejek.
Rendi menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Rendi jadi salah tingkah.
“Memangnya kamu tidak mau menerima lamaran ku? Rendi mengangkat dagunya agar mendongak ke atas.
“Ra, pandang mataku apa kamu melihat ada kebohongan disana” Rendi meraih tangan Farah dan menempelkannya di dadanya .
“Di sini hanya ada namamu Ra, Farah Andini Putri. Sampai kapanpun tak akan pernah tergantikan” Rendi menatap wajah Farah dengan serius .
“Mas, kalau akhirnya aku bukanlah jodohmu bagaimana? Farah menguji cinta Rendi dengan berbagai macam pertanyaan.
“Kalau kita tidak berjodoh di dunia, di surga kelak kau akan ku nanti. Jika aku yang Allah panggil terlebih dahulu, aku akan menunggumu di pintu surga” kata Rendi meyakinkan Farah.
“Bagaimana jika nanti aku masuk neraka karena dosaku yang terlalu banyak?”
“Aku akan berdoa memohon kepada Allah agar di beri izin untuk membawamu ke surga, malaikat tidak akan tenang bila kamu belum berjumpa dengan lelaki yang mencintai kamu dengan tulus, yang bisa menjaga hatimu dengan baik”.
“Ihh apaan sih Mas ngga usah bahas itu deh, aku takut kalau bicara tentang surga dan neraka. Aku juga tidak ingin kamu berbicara seperti tadi karena aku takut kehilangan kamu. Aku menerima lamaran mu Mas” kali ini Farah yang memeluk Rendi dengan erat seakan takut kehilangan orang yang sangat ia cintai itu.
“Terima kasih Ra, kamu sudah mau menerima lamaran ku. Aku senang sekali dan kabar bahagia ini akan aku sampaikan kepada kedua orangtuaku yang di kampung”.
“Tidak Mas, justru akulah yang berterima kasih karena kamu mau menerima aibku ini dan mau menikahi ku”.
“Terima kasih Ya Allah karena sudah mempertemukan aku dengan bidadari ku” Rendi berteriak sekuat tenaganya tanpa memperdulikan orang-orang yang memandang ke arahnya.
Farah menutup mulut Rendi dengan tangannya.
"Sudah Mas jangan berteriak malu banyak orang yang lihat. Mas kita pulang aja yah ini sudah malam”.
“Baik sayang dengan senang hati, ayo kita pulang”.
__ADS_1