Antar Aku Ke Surga

Antar Aku Ke Surga
Chapter 29


__ADS_3

Malam harinya Di rumah Farah!


Kini hanya mereka berdua disana. Farah belum mau pindah ke apartemen malam itu, ia ingin menunggu kedatangan Bi Surti agar mereka bisa sama-sama pindah ke apartemen Dimas.


Dimas pun menyetujui keinginan Farah. Ia tidak mau berdebat dengan Farah karena masalah sepele.


Malam ini Dimas merasa sangat kelelahan. Ia pun membantu Farah untuk mengantarnya ke kamar. Kemudian ia keluar dari kamar menuju ruang tengah untuk tidur disana. Sebenarnya Farah tidak tega melihat Dimas tidur di sofa, tapi dia juga tidak punya pilihan lain ia takut kalau Dimas khilaf lagi.


Dalam situasi seperti ini sebenarnya Dimas merasa terpuruk dan sakit hati. Tapi ia sangat mencintai Farah, ia tidak sanggup menolak keinginan Farah dan ia tidak sanggup melihat Farah bersedih.


Ia juga tidak mau kalau rumah tangga yang baru saja dibangun itu gagal lagi. Mengingat bahwa ini adalah pernikahan kedua bagi Dimas dan ia tidak mau gagal untuk yang kedua kalinya.


Tok...tok...tok...


Dimas mengetuk pintu kamar Farah.


"Ra bangun ini sudah pagi. Ayo kita sarapan".


Samar-samar suara Dimas terdengar di telinga Farah.


"Ya ampun sudah pagi. Aku belum membuat sarapan buat Mas Dimas".


Farah mulai panik karena ia bangun kesiangan padahal ini adalah hari pertama mereka setelah resmi menjadi pasangan suami-istri. Tetapi ia sama sekali tidak melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.


"Tunggu Mas". Teriak Farah


Farah kemudian membuka pintu kamarnya. Ternyata Dimas masih setia berdiri di depan pintu kamar Farah.


"Maaf Mas aku terlambat bangun pagi badanku terlalu lelah". Kata Farah dengan perasaan bersalah.


"sayang kenapa harus minta maaf? Kamu nggak salah kok".


Mendengar kata sayang yang terucap dari mulut Dimas membuat Farah risih saat mendengarnya.


"Mas tidak usah berlebihan memanggil ku dengan panggilan sayang" Kata Farah.


"Memangnya kenapa bukankah itu sah-sah saja? Aku kan suamimu. Apa salahnya coba?" Tanya Dimas heran.


"Tapi aku tidak suka Mas. Panggilan itu mengingatkan ku pada Mas Rendi" Gumam Farah lirih.

__ADS_1


Mendengar nama Rendi. Dimas merasa kesal tidak tahu mengapa setelah menikah ia sepertinya tidak suka jika Farah menyebutkan nama Rendi. Ia sekarang lebih cemburuan, meskipun Rendi sudah tidak ada tapi ia masih menguasai hati dan pikiran Farah. Itu yang membuat Dimas merasa cemburu dan kesal.


"Cukup Farah aku tidak mau berdebat denganmu pagi-pagi begini" Kata Dimas dengan kesal.


Tidak terima karena Dimas sudah membentaknya Farah pun tak mau kalah.


"Mas. Bukankah dari awal sudah aku katakan kalau aku tidak mencintaimu, pernikahan ini terjadi juga karena kesalahpahaman. Lalu mengapa Mas Dimas sepertinya merasa tidak suka kalau aku masih mengingat Mas Rendi? Mas Rendi itu kekasihku aku sangat mencintainya".


Farah kemudian masuk kembali ke kamarnya lalu membanting pintu kamarnya dengan kuat. Dimas sadar seharusnya ia tidak membentak Farah.


"Farah buka pintunya aku minta maaf karena sudah membentak mu. Farah tolong maafkan aku buka pintunya Ra" Kata Dimas sambil menggedor-gedor pintu kamar Farah.


Dimas kemudian tersadar bahwa pintu kamar Farah ternyata tidak terkunci. Ia pun langsung membuka pintu kamar itu. Ia melihat Farah sedang duduk di tepi ranjang. Farah terlihat sedang menangis.


Dengan ragu-ragu Dimas mencoba untuk mendekati Farah. Di hapus nya air mata Farah dengan lembut.


"Farah maafkan aku. Aku benar-benar menyesal sudah membentak mu. Maafkan Mas yah" Kata Dimas dengan nada memohon dan sambil menggenggam tangan Farah.


"Sudahlah Mas lupakan saja, aku yang salah" Kata Farah berusaha memperbaiki keadaan.


"Gitu dong cantik. Ayo kita sarapan dulu, tadi aku sudah masakin nasi goreng spesial buat kamu" Kata Dimas dengan semangat.


"Bisa dong" Jawab Dimas dengan bangga.


Dimas kemudian mendorong kursi roda Farah menuju dapur.


"Bagaimana masakan ku enakkan?" Tanya Dimas penasaran.


Farah menahan tawanya dan berpura-pura tersedak.


"Aduhh Mas masakan kamu sedikit keasinan".


"Masa sih, perasaan tadi enak kok. Coba aku cobain lagi". Dimas kemudian mengambil satu sendok nasi yang ada di piring Farah.


"Ah kamu bohong Ra. Ini enak kok".


Farah yang sejak tadi menahan tawanya kini akhirnya pecah juga.


"Kamu ngerjain aku yah?" Tanya Dimas pura-pura Marah.

__ADS_1


Farah tersenyum dengan manis menanggapi kata-kata Dimas. Dimas yang melihat senyuman itu merasa sangat bahagia.


"Farah senyuman begitu indah, ingin rasanya aku melihat senyuman ini setiap hari" Batin Dimas.


"Mas kok bengong sih. Di makan dong nasi gorengnya" Farah membuyarkan lamunan Dimas.


"Iya Ra. Setelah ini kamu minum obat yah biar cepat sembuh dan langsung istirahat di kamar biar aku yang membereskan semua pekerjaan rumah" Kata Dimas.


"Eh nggak usah Mas. Biar Bi Surti yang cuci piring dan membereskan semua nya. Bentar lagi Bi Surti datang kok".


"Tidak usah Ra, biar ku bereskan saja. Biar nanti Bi Surti pulang bisa istirahat dulu kemudian kita langsung pergi ke apartemenku".


"Ya sudah terserah Mas Dimas saja".


Tidak berapa lama kemudian terdengar suara Bi Surti berteriak memanggil nama Farah.


"Tuh orangnya datang baru juga di omongin panjang umur ya Bi Surti"


Dimas kemudian beranjak dari tempat duduknya untuk membuka pintu rumah.


"Assalamu'alaikum Tuan Dimas apakah Tuan Dimas tidur disini semalam? Maaf kalau Bibi lancang" Tanya Bi Surti heran.


"Wa'alaikumussalam. Iya semalam aku tidur disini " Jawab Dimas singkat.


Kemudian Farah menyusul Dimas di depan pintu.


"Eh Bi Surti. Untung Bibi cepat pulang" Farah menyapa Bi Surti.


"Memangnya kenapa non sepertinya Bibi merasa ada yang aneh" Kata Bi Surti penasaran. Ia merasa aneh melihat tingkah Farah dan Dimas.


Farah mengajak Bi Surti masuk ke dalam rumah lalu mereka bertiga duduk bersama di ruang tengah. Farah pun menceritakan kejadian setelah kepergian Bi Surti tentang bagaimana ia bisa menikah dengan Dimas.


Tentang kesalahpahaman antara mereka dan para tetangga yang mengakibatkan pernikahan antara ia dan Dimas terjadi.


Mendengar cerita itu Bi Surti jadi ikut sedih, tapi disisi lain Bi Surti juga bersyukur karena ia tahu kalau Dimas pasti orang baik.


"Ya mungkin memang Allah telah mengatur segalanya. Mungkin Tuan Dimas memang jodoh Non Farah, eh maksud Bi Surti Nyonya Farah. Berarti sekarang Bibi panggil Non Farah dengan sebutan Nyonya". Kata Bi Surti.


"Terserah Bibi saja".

__ADS_1


Merekapun kemudian bersiap-siap untuk berpindah rumah. Bi Surti mempersiapkan semua kebutuhan Farah dan membereskan pakaian-pakaian mereka serta peralatan dapur yang mereka butuhkan di apartemen.


__ADS_2