
Lama Dimas terdiam sampai-sampai Angga menegurnya.
"Kamu kok Diam? Gak suka yah kalau aku menikah dengan Desi? Atau kamu iri yah karena kamu nggak bisa dapatin Farah lalu menikahi nya?" Tanya Angga sekaligus mengejek Dimas.
"Yah nggak lah. Sebenarnya aku ingin memberitahukan sesuatu hal padamu Ngga. Aku dan Farah sebenarnya sudah" Dimas menggantung perkataannya.
Angga terlihat sangat serius mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Dimas sahabatnya itu. Dimas terlihat menarik nafas lalu dengan mantap ia mengatakan hal itu pada Angga.
"Aku dan Farah sudah menikah seminggu yang lalu".
Angga nampak terlihat sangat terkejut mendengar hal itu. Ia tidak menyangka bahwa Dimas bisa secepat itu menaklukkan hati Farah sampai-sampai wanita yang terlihat sangat membenci Dimas itu kini sudah resmi menjadi istri Dimas.
"Jangan bercanda deh Dim. Bicara yang benar dong" Angga masih tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Dimas.
"Iya beneran sumpah deh" Kata Dimas.
"Gimana ceritanya sampai kalian bisa menikah? apa jangan-jangan kamu memperkosa Farah lagi yah?" Tuduh Angga.
"Kurang ajar Lo enak aja. Yah nggak lah". Kata Dimas mulai emosi sambil memukul lengan Angga.
Dimas pun kemudian menceritakan kejadian tentang pernikahannya dan Farah. Tentang bagaimana para ibu-ibu tetangga Farah yang memergoki mereka di dalam rumah berdua sampai terjadi kesalahpahaman.
Sampai akhirnya ia harus menikahi Farah tetapi Dimas juga bersyukur karena ia akhirnya bisa menikah dengan wanita yang ia cintai. Walaupun memang sampai saat ini Farah belum bisa menerima kehadirannya sebagai seorang suami.
Dimas juga menceritakan bagaimana Farah memberikan persyaratan dalam pernikahan dan Dimas menyanggupi persyaratan yang Farah berikan. Angga nampak bergidik ngeri saat mendengar persyaratan Farah.
__ADS_1
"Wah gila Dim. Kamu kan suaminya yah wajarlah kamu meminta hak kamu sebagai suami dan itu adalah kewajiban dia sebagai istrimu. Walau bagaimanapun pernikahan kalian Sah dimata agama. Dosa loh kalau dia menolak keinginanmu dan menjadi dosa juga kalau kamu tidak memberikan nafkah batin pada Farah"
Angga nampak begitu bijak saat memberi masukan pada Dimas walaupun terkesan mengejek sahabatnya itu.
"Ia aku tahu pernikahan kami sah dimata agama bahkan negara pun mengakuinya. Tetapi pernikahan ini terjadi bukan atas dasar cinta. Farah tidak mencintaiku sedangkan aku begitu mencintainya dan ingin melindunginya maka aku harus mengikuti aturan mainnya" Kata Dimas terkesan pasrah.
Dimas sadar bahwa selama ini cintanya bertepuk sebelah tangan. Tetapi ia yakin suatu saat nanti Farah akan membalas tepukan cintanya itu hingga pada akhirnya akan menghasilkan bunyi.
"Sabar yah Dim, ini hanya masalah waktu saja kelak Farah akan sangat mencintaimu aku yakin akan hal itu. Kamu lihat aku dan Desi yang mati-matian memperjuangkan cinta kami untuk mendapatkan restu orang tua Desi dan pada akhirnya berhasil juga kan" Kata Angga dengan gaya cool nya.
"Makasih yah Ngga kamu sudah mau mendengar ceritaku dan sudah menjadi teman baikku selama ini"
"Santai aja lah Dim, kalau begitu aku pamit mau ketemu sama calon istriku" Pamit Angga dengan raut wajah bahagianya.
Angga pun keluar dari ruangan Dimas. Ia berjalan dengan gagahnya melewati para karyawan Dimas yang terlihat begitu mengagumi ketampanannya.
Setelah seminggu berdiam diri dirumah Desi yang terbiasa bekerja pun merasa suntuk ia ingin keluar rumah dan jalan-jalan. Tiba-tiba pagi itu Angga mengirimkan pesan untuknya. Angga mengajak Desi pergi ke taman tempat mereka kencan pertama waktu itu.
Desi pun terlihat sangat bahagia saat menerima pesan dari calon suaminya itu. Ia pun bersiap diri lalu menunggu Angga menjemputnya. Kemudian Angga datang dan merekapun langsung berangkat.
Di taman!
Mereka duduk di tempat yang agak jauh dari keramaian. Angga terlihat ingin berbicara serius pada Desi. Ia kemudian menggenggam tangan Desi lalu menatap wajah Desi dengan jarak yang sangat dekat.
"Desi dua hari lagi kita akan menikah apa kamu yakin dengan keputusan ini? Aku harap kamu tidak menyesal telah memilihku untuk jadi pendamping hidupmu" Kata Angga dengan serius.
__ADS_1
Desi yang mendengar pertanyaan itu nampak tersenyum.
"Mengapa kamu bertanya demikian? Tatap mataku Ngga, apa kamu lihat ada keraguan disana?Aku sudah yakin dengan keputusanku. Aku memilihmu karena aku mencintaimu dan aku yakin ini sudah menjadi skenario Allah bahwa kamu adalah takdirku" Kata Desi dengan sangat yakin.
Desi kemudian memilih menyandarkan kepalanya di bahu Angga. Ia nampak sangat manja pada calon suaminya itu. Ia kemudian bertanya pada Angga dengan pertanyaan yang sama.
"Justru aku yang ingin bertanya padamu bagaimana dengan hatimu? Apa kamu sudah siap dengan pernikahan ini? Menikah itu bukanlah hal main-main yang bisa di anggap remeh. Kamu punya uang berapapun jumlahnya tapi tidak bisa membeli kebahagiaan istrimu ini jika kamu tidak bisa memenuhi tanggungjawabmu sebagai seorang suami" Desi berbicara dengan nada seriusnya.
"Harta bukanlah segalanya Mas. Aku harap dalam pernikahan kita akan lebih mengutamakan kejujuran serta kesetiaan. Sikap terbuka dalam berumah tangga adalah kunci langgeng nya sebuah hubungan. Dan jika sebuah kepercayaan itu terkhianati maka akan sulit bagiku untuk percaya lagi. Layaknya sebuah kaca yang pecah, bisa di satukan tetapi tidak bisa utuh kembali. Karena selamanya luka yang kita torehkan pada orang lain akan tetap membekas walaupun dalam waktu yang lama" Kata Desi seakan memberikan nasehat pada Angga.
Angga membalikkan tubuhnya lalu menatap wajah Desi dengan lekat.
"Des kamu benar-benar sangat dewasa menyikapinya aku kagum padamu. Tak ada keraguan sedikitpun di hatiku untuk memilihmu menjadi pendamping hidupku"
Angga kemudian mengecup kening Desi dengan mesra. Desi terharu saat mendengar perkataan Angga yang menyentuh hatinya.
"Aku juga Mas, aku yakin Mas tidak akan pernah mengkhianati cinta kita" Desi kemudian mencium tangan Angga seolah menunjukkan sikap patuhnya pada sang calon suami.
"Itu tidak akan pernah terjadi sayang. I Love You Desi, I Love You more" Kata Angga dengan romantis.
Desi pun membalasnya "I Love You too Mas".
Mereka berdua terlihat begitu bahagia layaknya insan yang di mabuk cinta pada umumnya. Dunia seakan milik berdua mereka tidak memperdulikan orang-orang yang ada di taman itu.
Angga memetik bunga yang ada di dekatnya lalu bunga itu ia selipkan di rambut Desi.
__ADS_1
"Kamu terlihat sangat cantik sayang" Puji Angga
Lalu mereka tertawa bersama.