Antar Aku Ke Surga

Antar Aku Ke Surga
Chapter 33


__ADS_3

Setelah acara resepsi selesai Dimas dan Farah belum langsung pulang. Karena Farah masih ingin berbincang lebih lama dengan sahabatnya Desi karena sudah cukup lama mereka tidak saling mengobrol.


"Des ngomong-ngomong kisah cinta kalian seru juga loh" Kata Farah memecah keheningan antara ia dan Desi


"Iya Ra mungkin ini yang dinamakan jodoh. Kita tidak pernah bisa memastikan pada siapa kita nanti berjodoh" Kata Desi.


Tiba-tiba Dimas datang menghampiri mereka.


"Ra kita pulang Yuk" Ajak Dimas.


"Aduh pengantin baru pengen berdua terus bawaannya" Kata Angga menggoda Dimas.


Farah melirik Angga tanda tak suka.


"Maaf Ra cuma bercanda kok" Gumam Angga yang melihat lirikan Farah.


"Ya sudah kami permisi pulang dulu" Kata Dimas berpamitan pada mereka berdua.


Tiba-tiba Ibu Rini mendekati mereka. Ia kemudian menyapa Farah dan menanyakan bagaimana keadaan Farah. Farah menjawabnya dengan rasa ragu ia takut kalau Ibu Rini membencinya karena sudah melupakan Almarhum Rendi dalam waktu yang sangat cepat.


"Farah kami sudah mendengar kabar pernikahanmu dari Angga, kami hanya bisa berharap semoga rumah tanggamu bisa bahagia. Siapapun lelaki yang menjadi suamimu sangatlah beruntung karena memiliki istri yang Sholehah, cantik dan baik sepertimu" Puji Ibu Rini.


"Ah Tante bisa saja. Oh yah Tante perkenalkan ini suamiku" Kata Farah memperkenalkan Dimas.


"Nama saya Dimas Tante" Kata Dimas memperkenalkan dirinya sambil menjabat tangan Ibu Rini.


"Oh ini orang yang paling beruntung itu. Dimas Tante berharap kamu bisa melindungi Farah dan membahagiakan nya. Tante yakin Rendi jauh lebih bahagia bila melihat Farah bahagia disini" Kata Ibu Rini merasa terharu.


"Baik Tante aku berjanji akan selalu membahagiakan Farah" Kata Dimas berjanji.


"Baiklah Tante kami permisi dulu yah" Kata Farah mengakhiri perbincangan mereka.


"Hati-hati nak semoga cepat dapat momongan" Ucap Ibu Rini bahagia.


"Terima kasih Tante atas doanya" Jawab Dimas dengan cepat.

__ADS_1


Farah melirik Dimas dengan lirikan yang penuh arti. Dimas tahu maksud Farah ia pun kemudian langsung meminta maaf kepada Farah.


"Maaf Ra, kalaupun rumah tangga kita seperti ini tapi aku juga tidak ingin semua orang tahu tentang sandiwara kita" Kata Dimas.


"Sudahlah Mas aku capek aku ingin pulang" Kata Farah dengan nada malas.


"Baiklah bidadari ku ayo kita pulang" Kata Dimas menggoda Farah.


Entah mengapa Dimas suka saat melihat Farah menatapnya kesal. Ia merasa Farah nampak sangat cantik jika sedang marah.


Langkah Farah terhenti saat mendengar kata-kata Dimas.


"Ok. Baiklah aku minta maaf" Kata Dimas sambil senyum-senyum.


"Kalau begini terus kapan bisa dapat jatah malamnya?" Gumam Dimas dalam hati.


Mereka langsung menuju parkiran mobil. Dimas langsung mengemudikan mobilnya menuju ke apartemen pribadi miliknya. Di perjalanan pulang Farah kemudian mencoba untuk membuka pembicaraan.


"Mas akhirnya aku merasa lega setelah semua keluarga Mas Rendi tahu kalau aku sudah menikah dan mereka juga tidak merasa kecewa denganku ataupun marah padaku. Tadinya aku pikir mereka akan marah padaku atau bahkan membenciku" Kata Farah penuh syukur.


"Terima kasih Mas karena sudah mau peduli padaku" Kata Farah.


"Iya Ra, kan aku suamimu jadi urusan mu juga urusan ku" Kata Dimas lagi.


"Tidak Mas, tidak semua urusanku menjadi urusanmu ataupun sebaliknya. Itu sudah kesepakatan kita dari awal sebelum kita menikah. Aku harap kamu masih ingat itu" Kata Farah sambil turun dari mobil.


Farah kemudian turun dari mobil dan meninggalkan Dimas yang masih terdiam sendiri mendengar penuturan Farah. Dimas merasa sangat terpuruk dengan keadaan ini. Keberadaan nya yang sampai sekarang belum dianggap oleh Farah sebagai seorang suami yang seutuhnya membuat ia merasa sedikit kecewa.


Tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa dengan situasi seperti ini. Farah adalah istrinya, sebagai seorang suami wajar baginya berharap istrinya bisa mencintainya dengan tulus.


'Farah... Farah...


"Apa sebenarnya yang ada dipikiranmu sampai kamu segitu bencinya padaku. Sampai-sampai semua kebaikanku tidak berarti di matamu" Gumam Dimas lirih.


Seketika air mata Dimas jatuh membasahi pipinya. Menandakan bahwa saat ini hatinya sedang terluka dan tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Ya Allah berikanlah aku ketabahan untuk menghadapi istriku. Dan buatlah ia jatuh cinta padaku" Lirih Dimas dalam hati.


Ia kemudian turun dari mobil dan masuk ke apartemen. Ia melewati Bi Surti yang ada di ruang tengah.


"Bi. Farah Dimana?" Tanya Dimas.


"Sepertinya Nyonya Farah langsung masuk kamar Tuan" Jawab Bi Surti.


Dimas langsung menyusul Farah dikamar nya.


Ia melihat Farah sedang duduk di tepi ranjang. Ia kemudian duduk di bawah sambil memegang tangan Farah ia meminta maaf pada Farah.


"Farah aku minta maaf, kalau ada perkataan ku yang menyakiti hatimu" Kata Dimas


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Farah


"Mas tidak perlu meminta maaf" Kata Farah sambil memperbaiki tempat tidurnya dan bersiap untuk tidur.


Mereka berdua pun tidur saling membelakangi dan tidak ada yang berbicara lagi. Suasana di kamar itu nampak begitu sunyi. Mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Dimas tidak bisa memejamkan matanya kata-kata Farah masih terngiang-ngiang di telinganya. Dimas kembali terbangun dan mengambil kunci mobil lalu memutuskan untuk pergi meninggalkan Farah yang ternyata belum tertidur.


Farah memperhatikan Dimas yang tiba-tiba terbangun dan merapikan pakaiannya lalu ia melihat Dimas meraih kunci mobilnya yang ada di atas meja. Tetapi ia tidak mau bertanya kemana Dimas akan pergi malam-malam begitu.


Sementara di tempat lain!


"Sayang, ini adalah malam bersejarah bagi kita berdua. Apa kamu sudah siap untuk bertempur?" Tanya Angga sambil mendekati Desi yang masih sibuk membuka gaun pengantinnya.


"Mas jujur aku takut Mas. Aku gugup" Kata Desi sedikit ragu.


"Loh kita ini kan sudah sah menjadi suami-istri apa salahnya kalau kita melakukan hal itu. Lagian itu adalah kewajiban aku memberikan itu padamu dan kewajiban kamu tidak boleh menolak keinginanku" Kata Angga dengan lembut.


"Iya aku tahu hal itu. Tapi aku dengar kata orang-orang kalau baru pertama kali katanya sakit" Kata Desi dengan sedikit malu-malu.


Saat itu perasaan Desi campur aduk ia bahagia karena menikah dengan lelaki yang ia cintai. Tetapi malam itu ia merasa takut untuk melakukan hubungan badan dengan Angga suaminya itu. Ia pernah mendengar dari salah seorang temannya kalau melepas perawan itu katanya sakit.

__ADS_1


Mendengar hal itu ia jadi merasa takut. Tetapi ia juga kasihan melihat Angga yang mulai gelisah karena tidak di beri jatah di malam pertama.


__ADS_2