
Ibu Rini masih berusaha untuk membujuk suaminya itu.
" Ayah. Apa Ayah lebih mementingkan perasaan sahabat Ayah daripada perasaan anak kandung Ayah sendiri? Apakah persahabatan Ayah dengan Pak Yusuf lebih penting dibanding dengan keluarga Ayah sendiri? Ibu mohon hilangkan ego Ayah" Kata Ibu Rini dengan meneteskan air mata.
Semenjak menikahi Ibu Rini, Pak Ridwan tidak pernah melihat istrinya sesedih ini bahkan meneteskan air mata di hadapannya.
"Maafkan Ayah Bu, Maafkan Ayah Desi. Ayah memang salah Ayah terlalu egois".
"Baiklah, Ayah akan menghubungi Pak Yusuf untuk datang kemari dan menjelaskan semuanya. Entah dia terima atau tidak keputusan ini Ayah hanya bisa pasrah". Kata Ayah Desi dengan yakin.
Mendengar keputusan suaminya itu membuat Ibu Rini menjadi lega. Desi pun yang mendengar keputusan Ayahnya sangat bahagia. Senyuman itu kembali terukir di wajah cantiknya.Ia pun kemudian langsung memeluk sang Ayah.
"Terima kasih Yah. Desi bahagia sekali mendengar keputusan Ayah".
Desi kemudian langsung mengambil handphonenya ia bermaksud untuk menghubungi Angga.
Berkali-kali Desi menghubungi nomor Angga tapi tidak ada jawaban sama sekali. Wajah yang baru saja berseri itu pun kembali murung.
"Ada apa nak, kok mukanya di tekuk begitu?" Tanya Ibu Rini penasaran.
"Ini Bu, Angga tidak menjawab teleponku" Kata Desi dengan nada sedikit kecewa.
"Oh begitu, mungkin Angga lagi sibuk. Atau mungkin dia lagi berusaha untuk menghindar darimu agar kamu tidak berharap lagi padanya. Kan Angga tidak tahu kalau pernikahan mu dengan nak Farhan di batalkan" Kata Ibu Rini menghibur putrinya itu.
"Mungkin begitu Bu, ah sudahlah aku mau istirahat dulu" Kata Desi.
Desi sengaja menyimpan handphone nya di bawah bantal berharap Angga akan menghubungi nya kembali.
Dirumah Farah!
"Assalamualaikum Farah, apa kamu sudah siap?" Tanya Dimas
"Wa'alaikumussalam iya Pak. Aku sudah siap" Jawab Farah.
"Aku bantu yah Ra"
Dengan sigap Dimas mengangkat tubuh mungil Farah kedalam mobil.
"Pak Dimas tolong turunkan aku, aku bisa pake kursi roda" Protes Farah.
"Maaf aku terlalu semangat pagi ini" Kata Dimas cengengesan.
Farah mengerutkan keningnya tak mengerti apa yang dimaksud Dimas.
Setelah beberapa saat mereka sampai di rumah sakit!
"Apa Dokternya sudah datang?" Tanya Dimas pada salah satu perawat.
"Iya Pak. Dokternya sudah ada di dalam ruangan" Ucap seorang perawat itu.
Dimas kemudian mengetuk pintu ruangan Dokter itu.
__ADS_1
"Permisi Dok"
"Oh Pak Dimas. Silahkan masuk"
Dimas duduk di samping Farah yang terlihat sedikit tegang.
"Kamu terlihat tegang sekali Ra. Kamu tenang saja Dokter ini tidak akan memakan mu" Kata Dimas berusaha mencairkan suasana.
Dokter kemudian langsung memeriksa kondisi Farah.
"Bagaimana Dok kondisi Farah?" Tanya Dimas.
"Kalau Ibu Farah rutin check up dan melakukan terapi kemungkinan besar paling lama 1 bulan lagi Ibu Farah sudah bisa berjalan dengan normal" Kata Dokter dengan yakin.
"Tuh dengar Ra, sebentar lagi kamu bisa berjalan dengan normal" Kata Dimas.
"Iya Dok, terima kasih. Kami pamit dulu" Kata Farah.
"Pak Dimas kita ambil obat di apotek dulu yah" Kata Farah lagi.
"Baik Nyonya" Sahut Dimas.
"Kok Nyonya sih?" Protes Farah tak terima.
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara yang memanggil-manggil nama Farah.
'Farah.
'Tante.
"Tante ngapain disini siapa yang sakit?" Tanya Farah penasaran.
"Desi sedang dirawat disini Farah".
"Farah. Tante minta maaf selama kamu dirumah sakit Tante tidak sempat menjenguk kamu. Tante terlalu sibuk nak, Tante minta maaf yah" Kata Ibu Rini merasa bersalah.
"Iya Tante. Farah ngerti kok".
"Tante apa aku boleh nengokin Desi?" Tanya Farah.
"Boleh nak. Desi pasti senang bertemu denganmu, mari Tante antar" Kata Ibu Rini.
Mereka pun sampai di ruangan Desi. Desi terlihat sangat bahagia saat tahu kalau sahabatnya itu datang menjenguk nya dan ia juga merasa senang karena Farah terlihat baik-baik saja walaupun masih duduk di kursi roda. Desi juga sangat bersyukur karena Dimas masih setia merawat Farah dengan baik.
"Farah. Kok kamu bisa ada disini?" Tanya Desi heran.
"Iya Des, aku baru selesai check up" Jawab Farah.
"Farah aku minta maaf, karena aku tidak bisa membantu kamu di masa-masa sulit mu seperti sekarang ini" Kata Desi merasa bersalah.
"Iya Des tidak apa-apa kok. Jadi Bagaimana hubungan mu dengan Pak Angga apa dia sudah tahu semuanya?" Tanya Farah penasaran.
__ADS_1
Desi kemudian menceritakan semua permasalahannya pada Farah. Farah pun memeluk sahabatnya itu.
"Farah kaki kamu kenapa? kok kamu pakai kursi roda?" Tanya Desi Penasaran.
Sejak tadi ia tidak sadar bahwa Farah duduk di kursi roda.
"Kaki kananku patah Des, tapi sekarang dalam proses pemulihan In syaa Allah secepatnya akan sembuh" Kata Farah dengan yakin.
'Aamiin. Ucap mereka bersamaan.
"kita saling mendoakan yah Ra biar masalahku dan masalahmu bisa teratasi dengan baik" Kata Desi yang seolah menguatkan sahabatnya itu.
Mereka berdua pun kembali berpelukan. Sementara Dimas hanya terdiam seperti patung bernyawa yang tak di anggap sama sekali keberadaan nya.
"ehhemmm. Ada yang lagi kangen-kangenan nih, dan nggak peduli sama aku yang dari tadi berdiri di sini" Kata Dimas mulai iri.
"Eh Pak Dimas bikin kaget saja" Gerutu Desi.
"Orang baru ketemu juga gangguin aja nih" Keluh Farah.
"Oh maaf yah kalau aku mengganggu. Aku keluar aja deh" Kata Dimas merajuk.
"Eh enggak kok. Pak Dimas sangat tidak menggangu" Jawab Farah dengan malu.
Dimas terlihat menahan senyumnya ia sangat lucu melihat wajah Farah yang terlihat malu-malu padanya. Padahal ia hanya pura-pura merajuk.
"Idih Pak Dimas begitu saja kok ngambek" Ejek Desi.
"Ngomong-ngomong kalian berdua itu serasi banget loh Ra" Bisik Desi pada Farah.
"Apaan sih Des, sedikit pun tidak ada niatku untuk mencari pengganti Mas Rendi" Kata Farah dengan nada serius.
"Iya maaf Ra, kan cuma bercanda" Ucap Desi merasa bersalah.
Kemudian Farah dan Dimas berpamitan untuk pulang.
"Kami pamit dulu yah Des. Jaga kesehatan mu baik-baik. Assalamualaikum" kata Farah.
"Iya Ra kamu juga yah. Wa'alaikumussalam"
Di dalam mobil Farah tidak lagi merasa sungkan saat berdua dengan Dimas. Ia sekarang lebih banyak ngomong di bandingkan saat pertama keluar dari rumah sakit.
"Pak Dimas. Aku tak menyangka Desi bisa cinta mati begitu sama Pak Angga, padahal mereka belum lama loh jadiannya" Kata Farah heran.
"Iya aku juga baru tahu kalau mereka berdua pacaran, karena Angga tidak pernah cerita mengenai hal itu. Sudah berapa hari ini aku tidak bertemu dengannya, nanti aku akan menghubungi dia" Kata Dimas.
Tak terasa mereka sampai di rumah Farah, Dimas mengantarkan Farah masuk kedalam rumah, kemudian ia langsung pamit untuk pulang.
Hay Readers...
Happy reading jangan lupa like komen dan vote yah 🤗
__ADS_1
Oh iya nanti author akan tampilkan visual para tokoh nih😁 biar makin jadi halu nya hehehe 🤭