
Dimas menyebut nama Farah berkali-kali dengan nada suara yang sedikit meninggi. Sehingga Desi sempat mendengar dan menjadi penasaran.
"Apakah Farah yang mereka maksud adalah Farah Andini Putri? Aku jadi penasaran banget nih. Oh iya nanti aku Tanya sama Tuan Angga saja kan aku punya nomor WhatsApp nya".
Desi berusaha menerka-nerka tentang nama Farah yang di maksud.
"Ah sudahlah nanti akan ku tanyakan pada Tuan Angga". Desi bergumam dalam hati.
“Angga, kira-kira Desi tau ngga kalau Farah ada dimana sekarang? Farah kan pernah kerja disini, aku yakin Desi pasti tahu tentang Farah” ucap Dimas.
“Oh iya yah kok aku ngga pernah kepikiran bertanya sama Desi tentang Farah. Untung aku sudah punya nomor WhatsApp Desi, ya sudah Dim nanti aku akan tanyakan ke Desi” Angga berusaha menenangkan hati Dimas.
“Tapi bener yah Ngga, jangan kelamaan nanti keburu Farah udah nikah mampus aku ngga punya harapan lagi untuk memperjuangkan dia”.
“Ok siap bro, serahkan semuanya padaku. kita pulang yuk”. Angga mengajak Dimas pergi, tapi Dimas enggan untuk meninggalkan tempat itu ia masih berharap bisa bertemu Farah disana.
Dan benar saja dugaan Dimas untuk bertemu Farah disana karena yang di nanti-nanti sekarang datang ada di depan mata. Dengan senyuman manisnya Farah berjalan tanpa tahu kalau ada 2 pasang mata yang memperhatikannya.
“Assalamu’alaikum Des” sapa Farah
“Wa’alaikumussalam Ra, eh Ra kamu tahu ngga semenjak kamu ngga kerja disini lagi si Rendi kerjanya selalu ngga fokus gara-gara mikirin kamu trus” kata Desi menggoda Farah.
“Apaan sih Des, oh yah Mas Rendi mana?” Tanya Farah
Tak lama kemudian Rendi datang.
“Nih dia orangnya datang baru juga di omongin” ucap Desi
"Ehh sayang, kok kamu datangnya cepat banget, katanya tadi masih di rumah” kata Rendi dengan heran.
“Memangnya kenapa kalau aku datangnya lebih cepat, aku kan kangen sama calon imamku” ucap Farah sedikit menggoda Rendi.
Begitulah pertemuan Farah dan Rendi sepasang insan manusia yang sedang jatuh cinta serasa dunia milik berdua. Keduanya tidak memperdulikan ada orang lain di sekitar mereka.
Dimas yang menyaksikan adegan romantis itupun tersulut emosi. Dia tidak bisa lagi menahan dirinya, tiba-tiba Dimas bangkit dari duduknya dan menghampiri sepasang kekasih itu.
__ADS_1
“Farah ini aku Dimas, kamu masih kenal sama aku kan? “
Rendi menarik tangan Farah dan berdiri dengan gagah di depan Farah seakan-akan ingin melindungi Farah dari bahaya.
“Maaf pak, ada urusan apa yah dengan calon istriku?” Tanya Rendi dengan ramah.
“Itu bukan urusanmu, aku hanya ingin bicara dengan Farah berdua saja” Ucap Dimas dengan angkuh.
Sepertinya Dimas sudah tidak bisa mengontrol emosinya.
“Sekali lagi maaf pak, tapi urusan Farah juga urusanku pak karena aku adalah calon suaminya, jadi aku berhak tau semua urusannya” kata Rendi masih dengan nada lembut tanpa menunjukkan emosi di raut wajahnya.
Kesabaran Rendi adalah salah satu sifat yang sangat di sukai Farah hingga membuat ia jatuh hati pada lelaki itu.
Angga yang melihat Dimas menghampiri Farah dan Rendi dan berbicara dengan nada sedikit emosi ia pun langsung beranjak menghampiri mereka dan berusaha menenangkan Dimas.
“Dimas tenangkan pikiranmu, kita bicara baik-baik kalau begini caranya Farah akan merasa takut denganmu” ucap Angga menenangkan.
'Tuan Dimas.
“Aku pikir apa yang terjadi antara kita adalah murni suatu kecelakaan, dan tidak ada yang perlu di jelaskan lagi bahkan aku sudah memaafkan mu jauh sebelum kamu meminta maaf padaku”.
Farah berbicara sambil meneteskan air mata, ia tidak tahu apa yang ia rasakan . Perasaannya campur aduk, rasa marah, sedih, dan malu itu yang ia rasakan saat ini. Ia merasa malu di hadapan Rendi karena pada akhirnya Rendi tahu siapa lelaki itu sebenarnya. Dan sekarang Rendi sudah bertemu langsung dengan lelaki yang pernah Farah ceritakan padanya.
Rendi yang begitu peka dengan situasi dan apa yang ada dalam pikiran Farah saat ini pun langsung mengajak Farah pergi dari tempat itu.
“Maaf pak, jika tak ada lagi yang ingin di sampaikan kami permisi pak” pamit Rendi dengan sopan.
Farah dan Rendi berlalu pergi di susul oleh Desi. Merekapun berlalu meninggalkan Dimas yang masih terpaku mengingat perkataan Farah tadi.
Angga pun membujuk Dimas untuk pergi meninggalkan restoran itu.
“Dimas ayo kita pulang, bukan begini caranya mendapatkan hati wanita. Bersaing lah secara sehat kamu lelaki bukan banci jangan jadi pengecut” kata Angga menasehati lalu mereka berdua pun beranjak dari tempat itu.
Desi yang melihat kondisi Farah merasa iba dengannya. Desi pun mengambilkan segelas air putih untuk Farah .
__ADS_1
“Ra ayo minum dulu, tenangkan pikiranmu. Rendi kamu jaga Farah yah biar aku yang kerja, nanti aku kasi tahu sama om kalau kamu izin dulu hari ini” ucap Desi perhatian.
“Iya makasih Des memang kamu sepupuku yang paling baik dan pengertian” puji Rendi.
“Ah biasa aja Ren” ucap Desi lalu ia pun meninggalkan Farah dan Dimas.
“Mas Rendi aku takut, aku takut kalau Tuan Dimas melakukan yang tidak-tidak” kata Farah dengan nada ketakutan.
'Ra.
Rendi mengangkat dagu Farah yang sedikit menunduk agar menatapnya.
“Lihat aku Ra, aku sudah berjanji untuk melindungimu walau nyawa taruhannya takkan ku biarkan orang lain menyakitimu. Aku akan selalu melindungimu apapun yang terjadi, kamu tenang yah” ucap Rendi sambil menghapus air mata Farah yang sedari tadi membasahi pipinya.
Malam harinya di rumah Angga!
Wajah gadis itu masih saja menari-nari di pikirannya.
“Apakah aku sudah jatuh cinta dengannya? Kamu memang sangat manis Des, apa kamu juga merasakan hal yang sama disana atau justru perasaanku ini hanya bertepuk sebelah tangan?” Angga bertanya-tanya dalam pikirannya.
“Ahh, mengapa malam ini aku susah tidur yah, atau aku hubungi Desi deh siapa tahu dia juga belum tidur sekarang.” Angga mengambil handphonenya dan menghubungi Desi.
“Halo Des, Ini saya Angga”.
“Oh iya pak, ada apa yah?”
“Apa aku mengganggumu Des?”
“Tidak pak, memang aku belum tidur”.
“Oh iya, aku juga tidak bisa tidur. Des hari minggu besok kamu sibuk tidak? Kalau kamu lagi ngga sibuk aku mau ngajakin kamu jalan ke taman”.
“Boleh pak, kebetulan besok aku juga lagi tidak sibuk. Jawab Desi dengan semangat dan senyum-senyum sendiri”.
“Ok. Kalau begitu besok jam 9 aku jemput kamu di rumahmu yah, dan tolong kamu Sherlock alamatmu karena aku belum tahu alamat rumahmu”.
__ADS_1
“Baik pak, Sampai jumpa besok”. Desi menutup telfonnya