
Tiba-tiba dokter datang dan langsung memberi suntikan penenang pada Farah. Tak lama kemudian Farah sudah terkulai lemas dan kembali tertidur. Dimas justru panik melihat keadaan Farah.
“Ada apa dengan Farah Dok apa dia pingsan lagi?” Tanya Dimas khawatir.
“Tidak, aku hanya memberi obat penenang pada pasien agar ia bisa beristirahat dengan baik. Aku permisi dulu pak” kata Dokter itu berlalu pergi meninggalkan mereka.
Di pemakaman Rendi!
Angga ikut hadir dalam prosesi pemakaman Rendi. Dari kejauhan Angga melihat Desi yang menangisi kepergian Rendi saudaranya itu.
“Desi ingin rasanya aku menghapus air matamu itu. Tapi sayang rasanya tak mungkin bagiku untuk mendekatimu lagi” gumam Angga dalam hati.
Usai pemakaman Angga langsung pulang. Kalau mengingat nama dan wajah Desi rasanya Angga pasti mulai frustasi. Angga memutuskan untuk pergi ke sebuah Clube XXXII ia ingin melupakan semua kegalauannya itu.
Angga tiba di sebuah Clube, ia pun langsung memesan beberapa botol minuman dan menghabiskannya sendiri. Ia merasa hancur saat ini dan tidak punya teman untuk bercerita karena sahabatnya Dimas sedang sibuk mengurusi Farah yang masih sakit. Entah sudah berapa banyak ia meminum minuman haram itu.
“Katanya ingin bertemu dan menjelaskan sesuatu padaku, nyatanya mana kamu bohong Des, baru sehari kamu jadi kekasihku kamu sudah di lamar orang lain dan lucunya kamu terima begitu saja. Ha.. ha.. ha..ha..” kata Angga berbicara pada dirinya sendiri sambil tertawa sendiri layaknya orang gila.
Angga tak pernah habis pikir mengapa Desi mau menerima lamaran itu padahal ia sudah punya Angga kekasihnya. Hampir tiap malam Angga menghabiskan waktu di club itu sepertinya cintanya pada Desi sudah membutakan segalanya dan merusak akal sehatnya.
__ADS_1
Keesokan harinya ada pesan masuk di handphone Angga, Angga kemudian membuka pesan itu yang ternyata pesan dari Desi.
“Angga aku ingin kita bertemu hari ini di kafe XXXII jam 10 pagi” isi pesan Desi.
'ok.
Angga menjawab pesan itu dengan sangat singkat.
Di sebuah kafe XXXII Desi terlihat gugup menanti kedatangan Angga
“Duhh aku tidak tahu harus menjelaskan semuanya dari mana” kata Desi bingung.
“Hai Des, sudah lama?” Tanya Angga.
“Ah, belum juga kok, ayo silahkan duduk” jawab Desi.
Angga menarik satu kursi dan duduk di depan Desi. Tangan Desi sudah mulai dingin.
“Angga aku minta maaf, aku tidak tahu harus berbuat apa. Ayahku telah menjodohkanku dengan lelaki yang tidak aku kenal namanya Farhan dia anak dari sahabat Ayah” kata Desi sambil meraih tangan Angga.
__ADS_1
“Ngga tolong katakan padaku apa yang harus aku lakukan aku mencintaimu, aku tidak ingin menikah dengan pilihan Ayah” kata Desi sambil menangis.
Ia sangat berharap bahwa Angga akan membantunya dan mau memperjuangkan cinta mereka.
“Desi aku tahu itu adalah pilihan yang sangat sulit untukmu tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk mendapatkan cintamu lagi” kata Angga pasrah.
“Angga kamu tidak boleh berpikiran seperti itu, aku ingin kita berjuang bersama, kita tidak boleh menyerah begitu saja” kata Desi meyakinkan Angga.
“Desi apa kamu mau menjadi anak durhaka menentang kedua orang tua mu hanya karena cinta” Tanya Angga.
“Angga sekarang aku ingin bertanya padamu apa kamu benar-benar mencintaiku atau memang tidak ada cinta di hatimu untukku sehingga kamu melepaskan cintaku begitu saja” Tanya Desi dengan nada sedih.
'Hiks…hiks…
Tangis Desi semakin pecah di saat ia tahu Angga tak ingin berjuang untuk dirinya. Angga berusaha menenangkan hati Desi, dengan sigap Angga menghapus air mata Desi.
“Des asal kamu tahu aku yang lebih terluka setelah tau semua ini. Jangan pernah kamu meragukan cintaku Des, aku memang lelaki pecundang yang tidak bisa mempertahankan kamu di sisiku. Asal kamu tahu Des aku hanya tidak mau melanjutkan hubungan ini tanpa restu orang tua”.
“Kalau memang kamu tidak setuju dengan pernikahan itu lebih baik kamu katakan sekarang kepada kedua orang tua mu sebelum semuanya terlambat. Di hati ini tidak ada seorangpun wanita yang bisa menggantikan posisimu” jelas Angga panjang lebar.
__ADS_1
Kemudian Angga berdiri dan berlalu pergi meninggalkan Desi. Desi hanya diam dan terpaku melihat kepergian Angga.