Antar Aku Ke Surga

Antar Aku Ke Surga
chapter 18


__ADS_3

Angga merupakan salah satu pelanggan tetap tempat Desi dan Farah bekerja. Disana lah rasa cinta Desi tumbuh dalam diam kepada Angga. Di sisi lain pula perjodohan ini merupakan keinginan orang tua Desi yang tidak dapat terbantahkan. Farah hanya berpesan kepada Desi untuk mengikuti kata hatinya.


“Des ikuti kata hatimu dan jangan lupa minta pertolongan Allah untuk menentukan pilihan dalam sholat istiqhoroh. Aku yakin Allah pasti member jalan terbaik untukmu. Jangan mengambil keputusan yang akan buat kamu menyesal pada akhirnya nanti” kata Farah memberikan masukan kepada Desi.


“Terima kasih Ra kamu memang teman terbaikku”.


“Sama-sama Desi, aku harap kamu bisa sabar dan kuat yah Des. Aku tutup dulu telfonnya Assalamu’alaikum”. Farah menutup telponnya.


“Apa yang di katakan Farah memang benar aku tidak boleh putus asa, aku harus bertemu dengan Angga untuk menjelaskan semuanya. Angga harus tahu bahwa pernikahan ini bukanlah keinginanku” Desi bergumam dalam hati.


Dengan mengumpulkan segala keberanian Desi mencoba untuk menghubungi Angga untuk bertemu di suatu tempat. Sementara Angga masih bingung dengan apa yang terjadi pada Desi. Kemudian Angga pun menyetujui pertemuan itu.


Di pagi yang cerah dimana mentari memberi sinar tulus tanpa batas di muka bumi. Setulus hati Rendi yang menerima Farah apa adanya.


“Kira-kira Farah sudah siap nggak yah, atau justru dia malah lupa untuk ketemuan hari ini. Ah, atau aku pergi kerumahnya saja menjemput Farah”.


Kali ini Rendi berpenampilan maskulin sambil berkaca Rendi berkata pada dirinya sendiri.


“Jarang-jarang loh aku berpakaian seperti ini tapi tidak mengurangi ketampanan ku” katanya sambil senyum-senyum sendiri di depan kaca.


“Biarlah berpenampilan begini mungkin ini penampilan pertama dan terakhir aku memakai pakaian seperti ini. Ra aku sangat mencintaimu 3 minggu lagi kamu akan menjadi permaisuri dalam istanaku,aku berharap bahwa kamu lah yang kelak akan menjadi bidadari ku di surga” kata Rendi dengan penuh harapan.


Dengan motor kesayangannya Rendi berangkat menjemput pujaan hatinya dengan penuh rasa bahagia. Tak lama kemudian Rendi tiba di halaman rumah Farah ia pun langsung mengetuk pintu. Sekitar 5 menit Farah pun membuka pintu rumahnya dan menjawab salam Rendi.


Melihat penampilan Rendi yang sedikit berbeda membuat Farah sedikit pangling melihatnya. wajah Rendi terlihat lebih segar dan maskulin mampu membuat mata Farah melotot hampir tak berkedip karena aura ketampanan yang di pancarkan dari wajah Rendi.


Rendi berusaha melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Farah untuk membuyarkan lamunan Farah hingga Farah terkejut dengannya.


“Kenapa sayang, kok melihatku seperti itu apa aku kurang tampan?” goda Rendi.


“Apaan sih pagi-pagi udah mulai gombal aja” elak Farah


“Tapi jujur Mas kamu terlihat lebih tampan seperti ini” kata Farah malu-malu.


“Jadi kita langsung berangkat nih” Tanya Rendi.


Farah hanya mengangguk tanda setuju. “tapi aku ambil tas dulu di kamar”.


Saat Farah berjalan melewati ruangan tengah yang terdapat foto Rendi disana tiba-tiba tak sengaja Farah menyenggol foto Rendi yang ada di atas meja.


'Brukk!


bingkai itu jatuh dan pecah berserakan di lantai.

__ADS_1


“Ada apa ini mengapa tiba-tiba perasaanku tidak enak” kata Farah dengan gugup dan perasaannya kini tidak tenang.


“Ya Allah semoga ini bukan pertanda buruk” gumam Farah dalam hati.


Karena Rendi sudah lama menunggunya di depan, Farah tidak sempat membereskan pecahan bingkai itu.


“Yuk kita berangkat” kata Farah.


Sepanjang jalan Rendi tak mau melepas tangan Farah. Ia justru menggenggam erat tangan itu dan terus mencium nya berkali-kali.


“Ra peluk aku dengan mesra dong, masa kamu di bonceng diam saja di belakang kesannya kita seperti tukang ojek dan penumpang dong. Sekali-sekali bolehkan bermesraan di atas motor” kata Rendi dengan nada mesra.


“Emmm aku merasa ngga enak Mas, malu tahu” Farah menarik kembali tangannya dari genggaman Rendi.


“Ra kalau aku udah ngga ada apa kamu bakalan rindu padaku?” Tanya Rendi penasaran.


“Kok ngomongnya gitu sih mas, jangan bicara seperti itu aku ngga suka dengarnya” jawab Farah dengan nada sedikit sedih.


“Loh kan aku Cuma nanya Ra, kok gitu aja marah sih” kata Rendi masih ingin menggoda Farah.


"Siapa yang marah hanya saja aku tidak berani berpikir jauh seperti itu” jawab Farah lagi.


“Tenang Ra, walaupun aku tidak ada di sampingmu aku akan tetap mencintaimu cintaku abadi untukmu” kata Rendi yang terus menggoda Farah.


Rendi hanya menjawabnya dengan senyuman.


Setelah itu tak ada lagi yang berbicara di antara mereka. Mereka asik dengan pikiran mereka masing-masing.


Tiba-tiba di depan ada sebuah mobil truk dan…


'aaaaaaaa!!!


kecelakaan itu terjadi.


Farah dan Rendi tak sadarkan diri.


Sementara Dimas juga melewati jalan tersebut.


“Duh kok bisa-bisa nya jalanan macet panjang kayak gini sih, di depan ada apa tuh kok rame banget” Tanya Dimas.


“Mungkin ada orang yang kecelakaan pak” jawab Yoga asisten pribadi Dimas.


“Coba kamu turun dan cek siapa yang kecelakaan?” kata Dimas

__ADS_1


“Loh untuk apa pak?” Tanya Yoga heran.


“Siapa tahu salah satu dari mereka kita kenal, kamu di suruh begitu saja protes sudah bosan bekerja denganku?” Tanya Dimas dengan nada dingin.


“Baik pak, aku turun” kata Yoga lalu turun dari mobil.


Yoga kemudian menghampiri orang yang kecelakaan tersebut. Yoga pun terkejut saat melihat ternyata Farah dan Rendi tergeletak di jalan setelah mengalami kecelakaan. Ia pun bergegas pergi memberitahukan kabar buruk itu kepada Dimas.


'Apa?


Dimas tak kalah terkejut setelah mendengar perkataan Yoga.


“Yoga ayo kita antar mereka berdua ke rumah sakit, cepat” perintah Dimas dengan nada sedikit berteriak.


“Sabar sayang aku akan menyelamatkanmu” air mata Dimas tak henti-hentinya mengalir melihat kondisi Farah.


Setelah sampai di rumah sakit kedua korban kecelakaan itu segera di tangani oleh dokter. Mereka di masukkan ke dalam ruangan yang berbeda.


“Siapa keluarga pasien?” suster bertanya pada Dimas dan Yoga


'Aku sus.


Dimas segera menghampiri Suster tersebut.


“Kalau begitu ikut aku pak. Pasien laki-laki itu sudah sadarkan diri dan dia bertanya siapa yang sudah mengantarkannya kemari” kata suster itu.


'Baik sus.


Dimas mengikuti langkah suster itu ke ruangan Rendi di rawat.


Setelah sampai di ruangan, Rendi melihat yang datang bersama suster adalah Dimas.


'Pak Dimas!


Suara Rendi terdengar sangatlah lemah.


“Iya ini aku, aku yang telah mengantarkan kalian kesini. Bertahanlah pak Rendi dokter akan melakukan yang terbaik untuk keselamatan kalian” kata Dimas meyakinkan Rendi.


“Tidak pak.. rasanya ajal ku sudah semakin dekat” kata Rendi dengan terbata.


“Jangan berkata seperti itu pak Rendi bukankah pak Rendi sebentar lagi akan menikah? Bertahanlah untuk Farah”.Kata Dimas berusaha memberikan semangat hidup kepada.


“Pak… Di… mas” masih dengan suara tergetar Rendi berusaha menyampaikan sesuatu kepada Dimas.

__ADS_1


“Aku serahkan Farah kepadamu, jaga dia baik-baik jangan sakiti ia, jangan biarkan air mata duka menghiasi wajahnya. Karena aku tak akan tenang disana melihatnya ” Kata Rendi.


__ADS_2