Antar Aku Ke Surga

Antar Aku Ke Surga
chapter 19


__ADS_3

Dimas memang menginginkan Farah untuk menjadi pendampingnya tapi tidak seperti ini caranya. Dimas hanya bisa menangis melihat kondisi Rendi yang semakin memburuk. Rendi kemudian memegang tangan Dimas dengan erat lalu berkata.


“Belajarlah menjadi calon imam yang baik untuk Farah” Kata Rendi.


Dengan tiga kali hembusan nafas membuat Rendi akhirnya menutup mata.


Tubuh Dimas lemas seketika rasanya tak percaya dengan semua itu.


“Yoga tolong hubungi Desi, biar dia tau kalau saudaranya telah pergi untuk selamanya” kata Dimas dengan nada sedih.


“Baik pak" jawab Yoga patuh.


“Suster bagaimana dengan keadaan Farah apakah dia sudah sadar?” Tanya Dimas penasaran.


"Belum pak sekarang pasien di pindahkan ke ruangan ICU, karena kondisinya cukup parah, sepertinya kaki pasien sebelah kanan itu patah” kata suster.


“Ya Allah cobaan apa lagi ini, sungguh aku tidak sanggup melihat Farah terpuruk. Andai bisa di tukar biar nyawa aku saja yang jadi gantinya. Aku sudah ikhlas Rendi dan Farah bersatu kalau memang Rendi adalah sumber kebahagiaan Farah” kata Dimas dengan nada sedih.


Dimas hanya bisa berdoa untuk kesembuhan Farah.


Tak lama kemudian Desi tiba di rumah sakit tempat Rendi dan Farah di rawat.


“Pak Dimas bagaimana ceritanya semua ini bisa terjadi” kata Desi sambil menyentuh lengan Dimas dari belakang hingga membuat Dimas kaget.


“Desi kamu datang dengan siapa?” Tanya Dimas.


“Aku datang bersama ayah dan Ibu, pak Dimas tahu bagaimana kronologis kejadian ini?” selidik Desi.


“Tidak Desi, aku tadi tidak sengaja melihat mereka sudah terkapar tidak berdaya di jalanan lalu aku mengantarkan mereka kemari. dokter sudah melakukan yang terbaik untuk Rendi, namun Tuhan berkehendak lain Allah lebih sayang sama Rendi. Rendi sudah pergi meninggalkan kita semua” Kata Dimas tak mampu menyembunyikan kesedihannya atas kepergian Rendi.


Tanpa Desi sadari ia telah memeluk Dimas menumpahkan rasa sedihnya itu dalam pelukan Dimas.


“Maaf pak aku hanya” belum selesai Desi melanjutkan katanya Dimas langsung memotong.


“Tidak apa-apa aku mengerti, sekarang kalian bisa bawa pulang jenazah Rendi untuk di semayamkan, aku sudah mengurus administrasinya. Biar aku yang menjaga Farah disini, aku takut jika dia sadar dan mencari Rendi” kata Dimas.


Desi kemudian langsung menghubungi Angga bahwa mereka belum bisa ketemuan hari ini karena ia akan mengurus pemakaman Rendi.


“Angga aku minta maaf, kita belum jadi ketemu hari ini. Karena aku sedang mengurus pemakaman Rendi” pesan Desi melalui WhatsApp.

__ADS_1


Angga yang membaca isi pesan itu kaget bukan main.


“Sungguh tak ada yang menyangka Rendi harus pergi dengan cara seperti ini. Angga teringat pada Dimas langsung menghubungi Dimas ia berniat untuk memberitahukan Dimas tentang kejadian ini. Setelah mendengar penjelasan Dimas, Angga justru malah shock mendengar penjelasan dari Dimas. Ternyata Dimas lah yang menjadi sosok pahlawan untuk mereka.


Di rumah sakit!


Dari tadi Dimas mondar-mandir menunggu Farah untuk siuman.


“Pak ini pakaian ganti Bapak dan ini makanan juga buat Bapak” kata Yoga sambil menyerahkan pakaian dan makanan.


“Tidak Yoga aku hanya butuh pakaian ganti , karena dari tadi pakaianku sudah bau amis karena terkena darah. Makanan itu buatmu saja, aku tidak lapar” kata Dimas.


“Maaf pak tapi dari tadi Pak Dimas belum makan. Kalau pak Dimas sakit siapa yang akan merawat nona Farah” kata Yoga membujuk Dimas.


Mendengar bujukan Yoga, Dimas segera meraih makanan itu dan langsung di santap olehnya. Kurang lebih 5 jam setelah kejadian itu Farah baru siuman. Farah mulai menggerakkan jari-jarinya dan perlahan-lahan mulai mengerjap-ngerjapkan matanya.


“Ahh..kepalaku sakit sekali, dimana aku?” kata Farah sambil terbata.


Seketika pikirannya berputar mengingat kembali kejadian naas yang telah menimpa dirinya dan Rendi.


'Mas… Mas Rendi!


Suara Farah terdengar sampai di luar ruangan Dimas kemudian berlari dan mendekati Farah.


“Farah kamu sudah siuman? Alhamdulilah Ya Allah” ucap Dimas penuh syukur.


“Farah kamu tidak boleh terlalu banyak bergerak dulu, kamu itu masih sakit” kata Dimas.


“Pak Dimas apa yang sebenarnya terjadi bagaimana bisa bapak ada di sini?” selidik Farah.


“Aku yang menemukan kalian kecelakaan dan aku yang mengantarkan kalian kesini” kata Dimas dengan lembut.


Farah masih saja memegang kepalanya yang masih terasa sakit dan pusing.


“Dimana Mas Rendi pak Dimas? Aku ingin melihatnya apakah dia baik-baik saja?”


Dimas bingung harus menjawab apa, ia takut kalau kejujurannya malah membuat kondisi Farah tambah drop. Tapi di sisi lain Farah berhak tahu. Dengan penuh ragu Dimas mengatakan yang sebenarnya.


Mendengar hal itu langit seakan runtuh, bagaikan petir menyambar permukaan bumi begitu sakit dan terlukanya hati Farah saat mendengar itu semua.

__ADS_1


'Tidak!


'Tidak!


“Itu tidak mungkin terjadi, aku tahu Bapak pasti berbohong padaku” kata Farah tak percaya.


“Mas Rendi tidak mungkin meninggalkan aku” Farah menangis sejadi-jadinya.


Tangis pilu itu membuat air mata Dimas juga jatuh tak tertahankan. Farah berusaha untuk turun, namun Dimas berusaha untuk mencegahnya.


“Farah kamu mau kemana, kamu harus istirahat” kata Dimas mencegah Farah untuk turun dari tempat tidur.


“Tidak pak Dimas tolong antarkan aku ke ruangan Mas Rendi aku yakin dia pasti mengkhawatirkan aku” kata Farah yang masih tidak percaya dengan apa yang di katakana Dimas.


“Cukup Farah” kata Dimas dengan nada suara yang tinggi.


“Dan saat ini Desi dan keluarganya sedang mengurus pemakaman Rendi” kata Dimas masih dengan suara yang tinggi.


“Bohong, Bapak pasti bohong” kata farah masih belum percaya.


'Hiks…hiks…hiks…


Dimas mendekat dan memeluk tubuh Farah. Dimas berusaha menenagkan hati Farah.


“Kamu harus sabar Farah, kamu harus ikhlas biar Rendi tenang disana” kata Dimas menenangkan Farah.


Tiba-tiba Farah mendorong tubuh Dimas.


“Jangan katakan itu padaku, aku tahu Mas Rendi masih hidup”


Farah tidak bisa menerima kenyataan itu, Dimas pun tidak putus asa dan kembali mendekati Farah dan mengelus punggung Farah. Tiba-tiba Farah menarik kedua tangan Dimas dan meletakkannya ke bagian lehernya, Farah bermaksud agar Dimas mencekek lehernya sampai ia mati.


“Apa-apaan ini Farah apa maksud kamu?” Dimas menarik kedua tangannya.


“Pak Dimas, kalau Bapak tidak bisa mengantarkan aku untuk bertemu dengan Mas Rendi, bunuh saja aku. Antar Aku Ke Surga untuk bertemu dengan Mas Rendi".


'Hiks… hiks…


kata Farah sambil menangis.

__ADS_1


“Apa kamu sudah gila, tidak ada surga yang menanti bagi orang yang bunuh diri” kata Dimas.


__ADS_2