Antar Aku Ke Surga

Antar Aku Ke Surga
Chapter 38


__ADS_3

Pagi itu Dimas terbangun dari tidurnya. Ia kemudian mandi dan langsung menuju dapur untuk sarapan. Di dapur ia melihat Farah dan Bi Surti, ia memutuskan untuk menyapa mereka berdua.


"Pagi Bi, Pagi Farah" Sapa Dimas.


'Pagi'


Jawab Bi Surti dan Farah dengan kompak.


"Permisi Tuan, Nyonya, Bibi permisi mau beres-beres dulu" Ucap Bi Surti sambil berlalu meninggalkan mereka.


Bi Surti sengaja memberikan kesempatan kepada mereka berdua.


"Mas, aku buatkan kopi yah?" Tanya Farah mencoba untuk mencairkan suasana.


"Tidak usah Ra, aku cuma pengen makan" Jawab Dimas.


"Baiklah aku ambilkan makanan" Ucap Farah menawarkan.


Lagi-lagi Dimas menolak tawaran Farah. Wajah Farah benar-benar kecewa melihat sikap Dimas yang sangat dingin padanya.


"Ra malam ini aku mungkin tidak akan pulang, kamu tidak perlu menungguku untuk makan malam" Kata Dimas sambil memasukkan roti ke mulutnya.


"Loh emangnya Mas Dimas mau kemana?" Tanya Farah penasaran.


"Malam ini aku mau menginap di rumah temanku" Jawab Dimas.


"Mengapa harus menginap di rumah teman, Apartemen ini juga tidak terlalu jauh jaraknya dengan kantor?"


Mendengar penuturan Farah, Dimas menghentikan aktifitasnya yang sedang mengunyah makanan sambil memandang ke arah Farah dengan raut muka yang tidak bisa di tebak.


"Farah kenapa akhir-akhir ini kamu selalu protes dengan apa yang aku perbuat? Ini bukan urusanmu" Bentak Dimas.


"Aku hanya ingin berbagi pikiran dengan sahabat lamaku Dokter Miska" Sambungnya.


Wajah Farah terlihat sangat sedih mendengar bentakan dari Dimas yang biasanya selalu bersikap baik dan lembut padanya. Matanya kini mulai berkaca-kaca. Ia berusaha menahan agar air matanya jangan sampai jatuh.


"Baiklah Mas, aku minta maaf karena sudah mencampuri urusanmu" Ucap Farah sambil berdiri dari kursinya dan pergi meninggalkan Dimas.


Dimas memang sengaja menghindar dari Farah, dia hanya ingin menguji perasaan Farah.

__ADS_1


"Ada apa dengan Farah? Mengapa dia banyak bertanya sekarang?" Gumam Dimas, kemudian melanjutkan aktifitasnya mengunyah makanan.


Kemudian sejenak ia berpikiran bahwa Farah sudah mulai jatuh cinta dengannya. Ia pun tersenyum penuh arti dan setelah itu ia berlalu pergi.


Di dalam kamar Farah semakin resah.


"Mengapa aku merasa sedih saat Mas Dimas membentakku? Lalu mengapa aku terlalu ikut campur dalam urusan pribadinya? Bukannya aku yang memberikan syarat padanya agar kami tidak boleh saling ikut campur dalam urusan kami masing-masing? Tanya Farah pada dirinya sendiri.


"Ya Allah ada apa ini? Apa yang kurasakan saat ini mengapa aku terlalu egois untuk mengakui perasaanku pada Mas Dimas?"


Farah terus bertanya pada dirinya sendiri. Ia begitu bingung dengan apa yang ia rasakan saat ini. Ia sadar kepeduliannya pada Dimas sudah berlebihan.


Seharian Farah mengurung diri di kamar. Dia tidak sarapan, makan siang pun ia lewatkan. Hari pun sudah semakin malam, Farah kembali melewatkan makan malamnya. Bi Surti pun mulai panik, ia mencoba untuk menghubungi Dimas namun tak ada respon.


Bi Surti mengetuk pintu kamar Farah.


"Nyonya, Nyonya Farah harus makan. Dari tadi pagi Nyonya belum makan, nanti Nyonya Farah bisa sakit lagi. Kalau Nyonya sakit, Bi Surti akan kena marah dari Tuan Dimas. Ayo Nyonya keluarlah" Bujuk Bi Surti.


Tak ada jawaban dari dalam kamar itu.


Di tempat lain!


"Mengapa Bi Surti menelfon ku sebanyak ini? Tidak biasanya ia menelfon ku sampai berkali-kali?" Tanya Dimas heran.


"Apa mungkin Farah lari dari apartemenku? Sepertinya aku harus balik ke apartemen" Gumam Dimas, ia pun memutuskan untuk pulang.


Sebenarnya Dimas berbohong pada Farah. Ia tidak ada pertemuan dengan Dokter Miska. Ia hanya ingin melihat bagaimana reaksi Farah saat mengetahui dirinya pergi ke tempat teman perempuannya.


Saat ini Dimas sedang berada di kantor karena banyaknya pekerjaan yang menumpuk, ia berencana menginap di kantornya. Tetapi saat melihat panggilan dari Bi Surti ia pun memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Ia takut terjadi apa-apa pada Farah.


"Sekarang sudah jam 2 malam aku harus pulang. Yoga kamu pulang saja biar besok kita selesaikan semuanya" Kata Dimas lalu mengambil kunci mobilnya.


"Baik Pak" Jawab Yoga.


Dimas melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata. Kondisi jalanan yang memang sedang sepi di jam seperti itu membuat ia leluasa untuk melajukan mobilnya.


Tak butuh waktu lama ia pun sampai di apartemennya. Bi Surti yang mendengar suara mobil Dimas langsung menemui Dimas dengan raut wajah panik.


"Kenapa Bi, ada apa dengan Farah?" Tanya Dimas penasaran.

__ADS_1


"emm anu Tuan, Nyonya Farah dari tadi pagi belum keluar-keluar kamar. Nyonya juga seharian tadi tidak makan. Bibi sudah berusaha untuk membujuknya tapi Nyonya tidak merespon" Jelas Bi Surti.


Mendengar penjelasan dari Bi Surti, Dimas langsung berlari menuju kamar tidur mereka.


'Farah.


Panggil Dimas dengan nada lembut sambil mengetuk pintu kamarnya.


"Farah buka pintunya, kalau tidak akan ku dobrak" Kata Dimas sedikit panik.


Namun tetap saja tidak ada respon dari Farah.


Dimas dan Bi Surti semakin panik. Dimas pun memutuskan untuk mendobrak pintu kamar itu. Dan tak butuh waktu lama ia berhasil melakukannya. Kini ia melihat tubuh Farah tergeletak di lantai.


'Farah.


Dimas berlari dan mengangkat tubuh Farah ke atas ranjang.


"Farah bangun. Ini aku Dimas, apa yang terjadi padamu Ra? Tolong maafkan aku, jangan kau menyiksa dirimu seperti ini" Kata Dimas dalam isak tangisnya.


Bi Surti juga ikut sedih melihat Farah yang kini tak sadarkan diri. Dimas kemudian mengambil handphonenya dan menghubungi Miska agar segera datang ke apartemennya.


"Bi apa tadi Bibi mendengar Farah menangis?" Tanya Dimas.


"Bibi tidak tahu Tuan. Yang jelas ketika Tuan Dimas pergi ke kantor, Nyonya Farah juga tidak sarapan dan langsung masuk kamar. Dan sejak itu Nyonya tidak keluar kamar lagi"


"Sudah berkali-kali Bibi mengetuk pintu kamar. Tapi Nyonya sama sekali tidak merespon" Jelas Bi Surti.


Tak lama kemudian suara bel berbunyi.


"Bi tolong bukakan pintu. Itu mungkin Dokter Miska" Perintah Dimas.


"Baik Tuan" Jawab Bi Surti lalu kemudian ia menuju ke depan untuk membuka pintu.


"Assalamu'alaikum apa Pak Dimas nya ada di dalam?" Tanya Miska dengan ramah.


"Wa'alaikumussalam iya Bu Dokter, Tuan Dimas nya ada di kamar. Mari Bibi antar" Kata Bi Surti sambil mengantar Miska menuju kamar tidur Majikannya.


Miska berusaha menyempatkan diri untuk memenuhi panggilan Dimas di tengah malam seperti itu. Selain itu memang adalah tugasnya sebagai seorang Dokter melayani masyarakat. Ia pun juga punya tujuan lain, yaitu ingin mengetahui sosok istri dari Dimas Saputra lelaki yang ia cintai sejak SMA namun cintanya tidak terbalas.

__ADS_1


__ADS_2