Antar Aku Ke Surga

Antar Aku Ke Surga
chapter 5


__ADS_3

Sementara di tempat lain!


“Halo Farah ini saya Ibu Tuti tetanggamu, ini bibi kamu telah meninggal nak beberapa menit yang lalu”. Kata ibu Tuti


'Apa?


Farah terkejut dengan pernyataan tetangganya itu.


“Sekarang bibi dimana?” Tanya Farah


“Dia belum kami mandikan, kami masih menuggu kamu nak”. Ucap ibu Tuti lagi.


“Iya tante tunggu aku, aku akan segera kesana.


Ya Allah ujian apalagi ini rasanya bumi berhenti berputar. Kini tiada lagi tempatku bersandar”. Ucap Farah lagi.


“Desi tolong antar aku kerumah bibi, aku rasa sudah tidak sanggup lagi untuk hidup Des. Aku kehilangan semua yang aku sayangi”. Ucap Farah sedih


“Sudah jangan bicara seperti itu, disini masih ada aku yang akan jaga kamu. Yuk kita pergi sekarang”. Kata Desi


Sampai dirumah bibinya tangis Farah pecah dan menyesal karena tidak bisa menjaga bibinya dengan baik. Semua orang merasa iba dengan Farah.


“Yang sabar nak”. Kata ibu Tuti


“Sebenarnya Ibu Ima sudah sakit parah tapi dia tidak mau kalau aku menyampaikan berita ini kepada kamu. Dia takut kalau kamu terbebani. Ini ada surat-surat rumah ini yang di wariskan atas namamu Farah”. Jelas Bu Tuti.


Farah mengambil surat-surat tanah dan mengucapkan terima kasih kepada Ibu Tuti.


“Oh yah satu lagi pesan Ibu Ima kamu sebelum menikah tinggallah dirumah ini”. Lanjut ibu Tuti


“Baik tante”. Ucap Farah


Setahun sudah berlalu Farah masih tetap bekerja di tempat yang sama walau jaraknya agak jauh dari rumah bibinya. Sepulang kerja Farah menyimpan tas dan berbaring di kasur empuknya. Farah teringat akan kisah hidupnya dimana waktu itu ia masih berusia 8 tahun. Ia harus kehilangan kedua orang tuanya karena kecelakaan maut. Untunglah waktu kejadian itu ia di tinggal bersama bibi Ima yang juga belum punya anak. Akhirnya Bi Ima membesarkan Farah dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Setelah 2 tahun Farah tinggal bersama Bi Ima dan suaminya, tiba-tiba Allah kembali menunjukkan kekuasaannya dengan mengambil suami Ibu Ima, dan pada saat itu Farah berusia masih 10 tahun. Setelah sepeninggal suami Bi Ima Farah semakin ingin mandiri agar bisa membantu Bi Ima dalam memenuhi kebutuhan mereka.


Setelah lulus SMA Farah memutuskan untuk tidak kuliah dengan alasan biaya kuliah yang terlalu mahal. Sampai ia kembali bertemu dengan teman semasa sekolahnya yang bernama Desi. Desi mengajaknya bekerja di restoran pamannya. Ada satu momen yang tidak bisa Farah lupakan yaitu ketika ia menerima gaji pertamanya dengan kerja keras dan hasil keringatnya sendiri, dengan ikhlas ia memberikan semua uang dari hasil kerjanya itu pada bibinya.


Tak terasa air mata Farah kembali membasahi pipinya. Sekarang ia hidup sebatang kara tanpa sanak saudara, Farah merasa hidupnya begitu rumit. Farah melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 2 malam. Farah bergegas mengambil air wudhu lalu mengambil mukena yang ada di dalam lemari dan mengenakannya. Lalu Farah berdiri di depan kaca dan memandangi dirinya.


“Mungkinkah ini hidayah Mu Ya Allah. Masih pantaskah aku menyebut namamu?” lirih Farah


Farah lalu melaksanakan sholat tahajud. Setelah selesai sholat Farah lalu membuka Al-Qur’an dan membacanya. Dengan suara terbata-bata Farah memulai bacaannya dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya. Pagi hari Farah tetap beraktifitas seperti biasa dan selama kurang lebih setahun ini Farah tak pernah lagi bertemu dengan Dimas.


“Dimas ingat yah 2 minggu lagi hari pernikahan kamu dengan Rani. Mamah harap kamu tidak berubah pikiran”. kata ibu Ani


Rani yang mendengar hanya tersenyum penuh kemenangan.


“Sayang, nanti kita bulan madu dimana?” Tanya Rani, sambil menggandeng tangan Dimas dengan mesra.


“Terserah kamu saja”. Jawab Dimas dengan nada dingin.


“Seandainya ini bukan permintaan ayah, aku tidak akan melakukan pernikahan ini”, gumam Dimas


Rani masih mendekati Dimas dengan alasan harta, sedangkan ia masih menjalin hubungan dengan Roy.


“Dimas kamu dengarkan kata Rani tadi?” Tanya Ibu Ani


Ibu Dimas berusaha meyakinkan Dimas.


“Iya mah. Aku permisi dulu”. Kata Dimas sebelum berlalu pergi berlalu dari hadapan ibunya dan Rani.


“Sabar yah Rani, perlahan Dimas akan mencintaimu kembali”. Kata Ibu Ani


“Iya tante, aku juga mau pulang dulu sudah sore”. Jawab Rani


“Hati-hati nak sampaikan salam ku kepada ibumu. By by” ucap Ibu Ani lagi

__ADS_1


Sementara di tempat Farah.


“Farah. Ini kamu Farah kan kamu cantik banget Farah dengan hijab ini?” ucap Desi yang dibuat pangling dengan penampilan baru Farah.


Desi hampir tak mengenal Farah dengan penampilan barunya karena sudah menggunakan hijab yang justru menambah kecantikannya.


“Aku takjub melihatmu seperti ini. Kamu benar-benar terlihat lebih cantik sungguh sangat cantik”. Puji Desi


“Ah biasa aja Des, jangan terlalu memujiku. Yuk kerja lagi”. Kata Farah


Akhir-akhir ini Dimas hanya menghabiskan waktunya dengan minuman dan selalu pulang malam.


“Dimas kamu dan Rani rencana mau bulan madu dimana? Mamah sudah tidak sabar mau punya cucu”. Tanya ibu Ani dengan semangat


“Apa sih Mah, nikah aja belum sudah pengen punya cucu”. Jawab Dimas agak kesal


“Mah aku mau bicara sesuatu sama mamah, boleh?” kata Dimas sambil menyandarkan kepalanya di bahu Ibunya seperti ingin bermanja-manja.


“Mah sebenarnya aku tidak punya perasaan lagi dengan Rani. Dia sudah mengkhianati aku dengan menjalin hubungan dengan sahabatku Roy. Dan jujur aku sudah punya wanita lain Mah, tapi dia dari kalangan orang yang sederhana dan yang aku tahu dari Angga dia adalah seorang yatim piatu. Tapi aku sendiri tidak tahu apakah ini cinta atau hanya perasaan bersalah saja. Sejak kejadian malam itu dan sampai sekarang aku tidak bisa melupakannya Mah”. Dimas bercerita dengan tulus kepada ibunya.


“Mamah mau tau apa yang aku lakukan pada wanita itu?” Tanya Dimas


“Apa yang telah kamu lakukan Dimas?” Tanya ibu Ani penasaran.


“Aku sudah menodainya Mah, aku merenggut kesuciannya dengan paksa. Farah gadis baik mah aku sempat menawarkan untuk bertanggung jawab tapi dia menolak. Dia takut kalau Mamah tidak menerima kehadirannya”. Lanjut Dimas


“Baguslah kalau dia tahu diri, mau di taruh dimana muka mamah kalau punya mantu yang berasal dari kalangan rendahan” kata ibu Ani dengan santainya


“Ternyata memang benar apa yang dipikirkan oleh Farah”. Gumam Dimas dalam hati


“Dimas, Mamah harap kamu tidak memikirkan wanita itu lagi mamah ngga suka” kata Ibu Ani dengan nada tidak suka.


Dimas bangun dan pergi ke Clube tempat ia membawa kegundahan hatinya dan sudah di pastikan pulang dalam keadaan mabuk.

__ADS_1


Hari demi hari berganti akhirnya hari pernikahan itu pun tiba.


__ADS_2