Antar Aku Ke Surga

Antar Aku Ke Surga
chapter 15


__ADS_3

Mendengar hal itu Angga menarik napas panjang dan mengeluarkannya dengan kasar.


“Sial banget aku hari ini, baru juga pertama berkencan sudah apes kayak gini”. Gumam Angga dalam hati.


“Ya sudah aku turun mau beli pembalut”.


Desi melihat tingkah Angga yang rela membeli pembalut hanya karena takut kebanjiran darah.


Setelah selesai membeli pembalut. Angga kembali ke mobil dan memberikan pembalut itu kepada Desi.


Ini pembalutnya. Angga menyerahkan kantong plastik yang berisi pembalut.


Terima kasih pak, tapi aku mau turun dulu mau cari toilet umum untuk memakai pembalut. Mumpung belum tembus, aku kan tidak bawa pakaian dalam cadangan. Kata Desi sambil turun dari mobil dengan membawa pembalut tersebut.


Ihh menyebalkan banget sih, baru saja niat pengen nembak dia udah bikin aku sebal aja. Tapi Desi terlihat lugu dan polos sekali aku suka itu. Gumam Angga.


Desi kembali ke mobil!


Pak terima kasih yah atas bantuannya.


“Santai aja”. Jawab Angga dengan nada dingin.


Angga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak lama kemudian mereka sampai di taman XXXII .


“Ayo turun, kita duduk di sebelah sana di sana jauh lebih sejuk”. Kata Angga sambil menggandeng tangan Desi.


“Silahkan duduk”. Angga menggeser sedikit kursi untuk Desi.


“Terima kasih pak. Di sini ramai yah kalau hari minggu, aku suka tempatnya indah dan bersih”. Kata Desi dengan penuh semangat.


“Kalau kamu suka tempatnya aku bisa membawamu kemari setiap hari itu pun kalau kamu mau”. Angga mulai menggoda Desi.


“Des apa benar kamu masih jomblo, belum punya pacar ?” Tanya Angga penasaran.


Desi hanya menganggukkan kepalanya yang menandakan bahwa apa yang di katakan Angga itu memang benar.


“Desi mau kah kamu jadi kekasihku?” Tanya Angga penuh harap.

__ADS_1


“Aku tahu Des, mungkin ini terlalu cepat tapi aku memang sudah jatuh cinta padamu sejak awal aku melihatmu di restoran itu”. Kata Angga dengan nada serius.


“Ah bapak bisa saja gombalnya”. Kata Desi yang tidak percaya dengan yang di katakan Angga.


Lagi-lagi Desi menanggapinya dengan candaan.


“Aku serius Desi”. Kata Angga sambil memegang kedua tangan Desi dengan lembut.


“Desi aku telah jatuh cinta padamu dan kamu satu-satunya wanita yang mampu meluluhkan hatiku dan mampu mengobati luka yang ada di hatiku. Desi cintaku tulus untukmu”. Kata Angga dengan harapan Desi akan menerima cintanya.


“Pak sejujurnya aku juga merasakan hal yang sama. Tapi aku sadar diri karena tidak mungkin untuk kita bersatu”. Kata Desi dengan nada putus asa.


“Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu Desi? Pikiranmu sempit banget. Apa karena derajat kita yang berbeda? Asal kamu tahu Des, harta tak ada gunanya jika tanpa cinta, tapi ketika kita punya cinta tetapi tak punya harta pun jauh terasa nikmat jika kita mampu untuk mensyukurinya” kata Angga dengan bijaknya.


“Des aku kasih tahu ke kamu yah. Aku ini anak ke 2 dari 3 bersaudara. Kakak ku seorang wanita ia telah di persunting oleh seorang lelaki yang hidup dari keluarga sederhana. Secara materi mungkin lelaki itu belum mapan, tapi dalam hal agama dia lebih mantap dari keluargaku. Hal itu yang membuat ayahku salut dengan pikiran kakak ku”kata Angga menceritakan kehidupan dalam keluarganya.


“Dulu ayahku menginginkan semua anak-anaknya menjadi orang yang sukses terutama dalam segi materi. Setelah kakak ku yang bernama putri menikah dengan lelaki yang bernama Akbar, cara berpikir ayahku berubah 180 derajat. Dia sadar bahwa harta bukanlah segalanya. Kita hidup di dunia bukan hidup selamanya jika kita mengejar dunia tidak akan pernah ada habisnya, karena tujuan kita hidup di dunia ini adalah mencari bekal untuk ke akhirat kelak”. Lanjut Angga


Desi mendengarkan Angga dengan seksama dan mulai merasa kagum dengannya.


Angga masih melanjutkan obrolannya dengan Desi perihal keluarganya yang perlahan-lahan mendalami ilmu agama.


“Kamu tahu Des penyesalan terberat Ayahku apa?”


“Apa pak?”


“Beliau menyesal karena sejak kecil mengapa kami sebagai anaknya tidak di perkenalkan nilai-nilai agama sedini mungkin. Dari kecil kami di ajarkan sopan santun, tata karma yang baik, tapi kami tidak pernah di ajar bagaimana itu sholat dan bagaimana membaca Al-Qur’an sungguh miris bukan? Ayah hanya sibuk dengan bisnisnya hingga pada akhirnya ustadz Akbar datang ke keluarga kami menjadi pelita yang menerangi kehidupan keluarga kami secara islami”. Kata Angga lagi yang masih asik bercerita.


“Mungkin Allah mendatangkan hidayah ke dalam keluarga pak Angga melalui ustadz Akbar?” Tanya Desi dengan serius.


“Iya Des aku pikir begitu. Sekarang Ayah dan ibu sepakat untuk membiarkan anak-anaknya mencari kebahagiaan nya masing-masing.


Jadi aku pun berpikir kalau aku tidak salah jatuh cinta denganmu Des” Angga masih berusaha meyakinkan Desi.


“Tapi itu bukanlah alasan yang tepat untuk memilih diriku, aku sendiri tidak lah sempurna. Dan untuk pengetahuan agama aku pun masih butuh bimbingan” kata Desi merendah.


“Nah justru itu Des setelah kita menikah nanti, kita sama-sama untuk memperbaiki diri dan memperdalam ilmu agama kita, dan kebetulan ayah kamu seorang imam masjid sekalian kita bisa belajar bersama. Siapa tahu nanti aku bisa jadi ustadz juga” kata Angga dengan gaya Pedenya.

__ADS_1


“Di terima jadi pacar aja belum kok sudah bahas nikah” balas Desi.


Di sela candanya tiba-tiba Angga terdiam lalu bertanya.


“Apa kamu menolak cintaku Desi? Apa memang aku tidak pantas untukmu?” Tanya Angga dengan nada galau.


“Emmm tidak pak, bukan begitu aku tadi hanya bercanda” Desi mengelak.


“Justru dari penuturan kamu tadi tentang keluarga kamu yang tidak memandang rendah orang seperti aku. aku menerima cintamu Pak Angga”


“Serius Des, kamu terima cintaku? Tanya Angga dengan raut wajah yang bahagia.


Desi hanya menganggukkan kepalanya.


“Terima kasih Des karena telah memberikan aku kesempatan untuk mencintaimu” kata Angga sambil mengecup tangan Desi dengan mesra.


“Pak Angga kata ayah ngga boleh cium-ciuman kalau belum halal” kata Desi mengerjai Angga yang hendak ingin mencium pipinya.


“Baiklah kalau begitu minggu depan kamu aku halalkan biar kita bebas mau ngapain”.


Lagi-lagi Angga merasa kecewa karena tidak bisa mencium pipi Desi. Desi hanya tertawa mengejek Angga.


“Emang ada orang pacaran 1 minggu langsung di lamar?”Tanya Desi polos.


“Ada, nih aku orangnya. Aku akan lamar kamu secepatnya biar ngga ada fitnah dan jauh dari godaan setan” kata Angga dengan serius.


“Wah wah benar-benar calon ustadz nih Pak Angga”


“Ini beneran Des, ada kok orang yang di jodohkan bertemu saja tidak pernah sekalinya ketemu langsung di pelaminan ehh tau-tau nya nikah bahagia juga kok. Jadi kita pacaran setelah menikah saja biar jadi kekasih halal” tawar Angga.


“Aku pikir-pikir dulu deh”


“Jangan kelamaan mikirnya Des, nanti cintaku kadaluarsa”


“Kadaluarsa gimana sih Pak? Emang cintanya pak Angga ada tanggal ekspayer nya yah?”


“Ia nanti kalau cintaku sudah kadaluarsa bisa-bisa kamu keracunan cintaku loh” jawab Angga sambil tertawa.

__ADS_1


__ADS_2