Antar Aku Ke Surga

Antar Aku Ke Surga
chapter 9


__ADS_3

Di jalan pulang menuju tempat kerja Desi terus terbayang-bayang wajah Angga yang tampan.


“Udah ganteng, kaya, sopan aduhh kok aku kepikiran dia terus yah, sadar Desi kamu bukan tipenya. Tapi bagaimana kalau aku berjodoh dengannya kan jodoh ngga ada yang tahu".


"Ya Allah kalau dia bukan jodohku maka jodohkanlah jadi istri kedua juga nggak apa-apa, halu dikit boleh dong yah” Desi terus berbicara pada dirinya sendiri sampai dia tidak sadar kalau dia sudah sampai di tempat kerjanya.


“Farah ini minuman buat kamu, Rend ini juga buat kamu” kata Desi sambil memberikan minuman kepada Farah dan Rendi.


“Kalian tahu ngga tadi di supermarket aku bertemu dengan seorang pria tampan, sopan dan sepertinya dia orang kaya".


"Dan yang paling penting dia memperkenalkan namanya padaku. Angga Prasetya, yah Tuan Angga Prasetya aku begitu mengaguminya” ujar Desi.


Tiba-tiba raut wajah Farah berubah menjadi cemas dan memucat mendengar nama itu.


“Des kamu yakin nama laki-laki itu Angga Prasetya?” Tanya Farah


“Iya beneran. Kamu kenapa seperti orang ketakutan begitu Ra?”


“Ahh ngga aku ngga apa-apa kok”.


“Mungkinkah yang dimaksud Desi adalah Tuan Angga temannya Tuan Dimas?Farah bertanya-tanya dalam pikirannya. Seketika ia teringat kembali pada masa lalunya.


“Tenang-tenang Farah itu mungkin orang lain”. Hati dan pikiran Farah terus beradu.


'Ra.


Rendi membuyarkan pikiran Farah .


“Ah iya ada apa mas”


“Kamu tidak lagi sakit kan” ucap Rendi sambil menempelkan tangannya di kening Farah.


“Tapi kamu tidak”.


Farah menepis tangan Rendi “apaan sih memang aku sedang tidak sakit, aku baik-baik saja”.


“Ya udah minum tuh minumannya, kasian loh Desi sudah capek-capek beli minuman buat kita” ujar Rendi.


“Rendi, Farah aku duluan pulang yah” Pamit Desi.


“Hati-hati Des” Farah mengantar Desi ke depan sampai punggung Desi tak terlihat lagi, lalu Farah kembali ke tempat Rendi duduk.


'Farah.


Rendi menggenggam tangan Farah dengan lembut.


“Aku berniat untuk melamar mu, apa kamu siap menjadi pendamping hidupku?”

__ADS_1


Kata-kata itu menyentuh hati Farah dan membuat air mata tulus mengalir di pipinya.


“Mas Rendi aku bukanlah wanita yang sempurna, begitu banyak kekurangan yang aku miliki” jawab Farah di sertakan dengan isak tangis.


“Aku tahu tak ada yang sempurna di dunia ini, akupun juga bukanlah manusia sempurna tapi aku yakin kalau kita bisa saling menyempurnakan” kata Rendi meyakinkan Farah.


Tangis Farah justru semakin pecah “aku belum bisa menjawabnya sekarang Mas, beri aku waktu dan tolong antar aku pulang”.


Di perjalanan pulang semuanya saling bisu, tak ada yang berbicara. Akhirnya mereka sampai di halaman rumah Farah, Farah langsung turun.


“Terima kasih mas sudah mengantarku pulang”


“Ra, aku minta maaf jika aku mengambil keputusan begitu cepat”


“Enggak Mas, kamu ngga salah aku Cuma butuh waktu untuk menjawabnya aku harap mas bisa mengerti itu”.


“Baiklah Ra, jangan lupa makan dan sholat yah dan jangan terlalu banyak pikiran yah sayang”.


Rendi berusaha memberikan perhatian ke Farah agar suasana tidak terlalu canggung di antara mereka.


“Makasih mas atas perhatiannya, aku masuk dulu yah Assalamu’alaikum”.


“Wa’alaikumussalam”.


Di dalam kamar Farah bingung harus bagaimana di sisi lain dia benar-benar cinta sama Rendi. Namun dia juga ingin jujur bahwa dirinya sudah ternoda. Farah takut kalau Rendi kecewa dan tidak bisa terima lalu meninggalkan dirinya.


Kemudian Farah berpikir untuk menghubungi Desi


“Halo Assalamu’alaikum Des”


“Iya Wa’alaikumussalam Ra tumben malam-malam nelpon?”


“Aku bingung Des, Mas Rendi ingin melamar aku. Aku cinta sama Mas Rendi tapi aku takut kalau nanti tidak terima kalau ternyata aku sudah ternoda oleh lelaki lain” kata Farah dengan nada putus asa.


“Farah dengar yah ikuti kata hatimu katakanlah sejujurnya walau itu menyakitkan dari pada bermanis-manis dengan kebohongan. Karena nanti jika kamu menikah rahasia itu akan tetap terbongkar apa salahnya kalau kamu jujur dari sekarang”.


“Aku belum siap mengatakannya Des, aku takut Mas Rendi meninggalkan aku”.


“Ra, kalau Rendi laki-laki yang benar-benar mencintaimu apa adanya dia pasti akan menerima kekuranganmu. Aku yakin Rendi pasti mengerti karena itu hanya sebuah kecelakaan, dan itu bukan salahmu. Aku janji aku akan bantu kamu Ra untuk menjelaskan pada Rendi kalau Rendi tidak percaya padamu”.


“Terima kasih Desi, In Syaa Allah besok aku akan berterus terang pada Mas Rendi. Maaf sudah mengganggumu malam-malam begini, aku tutup telfonnya yah Assalamu’alaikum” pamit Farah.


“Wa’alaikumussalam”.


Keesokan harinya.


"Pagi Des".sapa Farah

__ADS_1


“Pagi” balas Desi.


“Apa mas Rendi sudah datang?”


“Belum Ra, mungkin dia masih di jalan. Ra bagaimana keputusanmu hari ini apa kamu akan berterus terang pada Rendi??


“Mungkin dengan berterus terang adalah jalan terbaik, aku sudah mempersiapkan mental dan hatiku untuk menerima semua kemungkinan yang terjadi”.


Farah menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya dengan pelan.


“Aku salut sama kamu Ra” Desi memeluk sahabatnya itu, “ aku tahu kamu wanita yang tegar dan kuat”.


“Terima kasih Des kamu sudah menyemangati ku dan selalu ada untuk aku”.


Tak lama kemudian Rendi datang


“Lagi pada bahas apa ini, pagi-pagi sudah pada gosip”.


“Siapa yang lagi gossip” elak Desi.


“Ya sudah kalau begitu mari lanjut kerja lagi nanti ketahuan sama bos gaji di potong baru tahu rasa semua” ucap Rendi.


“Mas Rendi, pulang kerja boleh tidak kita pergi ke pantai untuk melihat sunset di sore hari?” Tanya Farah.


“Boleh lah, apa sih yang ngga boleh untuk bidadari ku”.


“Ihh apaan sih nanti kedengaran orang loh”


“Mana orang, ngga ada tuh” tiba-tiba Rendi langsung mencium pipi Farah. Membuat pipi Farah semakin merah karena menahan malu.


Farah langsung mendorong tubuh Rendi


“Belum halal tahu”.


“Makanya aku mau cepat-cepat menghalalkan kamu biar ngga ada dosa, takut khilaf Ra kalau lagi berduaan begini” jawab Rendi asal.


“Ini juga dosa Mas, kalau ada yang lihat gimana?”


“Tenang, aku sudah memastikan bahwa tidak ada orang disini jadi aman kok”.


“Ihh mas ayoo kerja ngga usah gombalin aku terus”. Ucap Farah sambil menarik lengan Rendi.


DiApartemen Dimas!


“Dari mana saja kamu, jam segini baru pulang? Oh iya aku lupa kamu pasti habis kencan dengan Roy simpanan kamu itu kan dasar perempuan jalang” ujar Dimas dengan nada suara yang tinggi.


“Hei kena angin apa kamu Dimas nanyain aku, apa kamu lagi sakit, baru ingat kamu kalau kamu punya istri hah? Aku selingkuh bukan urusan kamu, sejak kapan kamu peduli denganku?"

__ADS_1


"Sebagai istri aku sudah tidak tahan lagi dengan sikapmu yang tidak pernah menganggap aku ada” kata Rani pun dengan nada emosi.


__ADS_2