
Farah yang melihat Dimas sedang melamun pun merasa heran 'kenapa tiba-tiba ini anak melamun?' Gumamnya.
Kemudian ia membuyarkan lamunan Dimas.
"Hey Bapak ngapain datang pagi-pagi begini, memangnya tidak masuk kantor?" Tanya Farah.
"Aku kan Bosnya jadi aku bebas dong mau masuk kantor atau tidak" Jawab Dimas bangga.
"hmm iya deh Pak Bos. Tapi sepertinya saat ini aku belum butuh bantuan Pak Bos" Canda Farah.
Mendengar celotehan itu Dimas pun tertawa. Ia sangat bersyukur Farah mulai menerima kehadirannya walaupun ia tahu Farah belum punya perasaan apa-apa padanya.
Farah sengaja tidak menutup pintu rumah nya agar tidak terjadi fitnah di antara ia dan Dimas. Tapi ternyata tanpa mereka sadari bahwa sejak tadi ada yang memperhatikan mereka berdua dari kejauhan. Ada seorang tetangga Farah yang tingkat kekepoan nya sangat tinggi.
Pagi itu tidak sengaja Ibu Rahma lewat halaman rumah Farah. Ia melihat sebuah mobil mewah terparkir rapi di halaman rumah Farah. Ia juga melihat pintu rumah Farah terbuka, dari kejauhan Ibu Rahma melihat kebersamaan Farah dan Dimas nampak sedang tertawa bahagia. Ia pun berusaha menerka-nerka bahwa pemilik mobil mewah itu mungkin saja kekasih Farah yang menginap semalaman dirumah Farah.
Ibu Rahma kemudian mendekati para Ibu-ibu lainnya yang sedang berkumpul di tempat penjual sayur.
"Ehh ibu-ibu pagi ini aku lagi ada berita hot"
"Berita hot apaan sih Bu?" Tanya ibu yang lain.
"Tadi tidak sengaja aku lihat mobil mewah terparkir di halaman rumah Farah, aku perhatikan pemilik mobil itu sepertinya kekasih Farah. Nampaknya ia sering mengunjungi Farah dirumah nya" Kata Ibu Rahma.
Kemudian seorang Ibu-ibu lainnya menyahut membenarkan apa yang di katakan oleh Ibu Rahma.
"Iya Bu Rahma. Aku perhatikan ia sering datang ke rumah Farah biasanya sampai larut malam baru pulang".
"Kayaknya ini tidak bisa di biarkan Bu. Kita datangi saja Farah di rumahnya jangan sampai mereka berbuat yang tidak-tidak. Apalagi Bi Surti sedang tidak ada dirumah itu, Bi Surti sekarang lagi pulang kampung. Itu berarti hanya ada mereka berdua disana." Kata Ibu Rahma berusaha mengkompori ibu-ibu yang lain.
__ADS_1
Mereka pun bergegas menuju rumah Farah.
"Pak Dimas aku mau ke kamar dulu mau ambil handphone ku, Pak Dimas tunggu disini saja".
"Jangan Farah biar aku yang mengambilnya kamu duduk disini saja yah".
Akhirnya Dimas berdiri menuju kamar Farah untuk mengambil handphone Farah yang ada disana. Di dalam kamar itu Dimas melihat beberapa foto kebersamaan antara Farah dan Almarhum Rendi. Kalau boleh jujur saat itu hati kecil Dimas terasa sakit tetapi apa boleh buat Farah lebih bahagia bersama orang yang ia cintai.
"Farah terlihat begitu bahagia saat bersama Rendi" Gumam Dimas lirih.
Dimas masih mencari-cari dimana Farah menyimpan handphone itu. Tapi tak kunjung ia temukan.
'Farah.
'Ra. Teriak Dimas.
"Di sebelah mana kamu menyimpan handphone nya? Aku tidak menemukan nya disini".
Farah yang duduk di kursi roda berniat ingin duduk di tepi ranjang. Ia pun kemudian mencoba untuk berdiri, baru saja satu langkah Farah berjalan ia pun kemudian terjatuh dan dengan refleks ia menarik tangan Dimas merekapun terjatuh.
Farah hampir tidak percaya kalau saat ini posisinya ada di bawah Dimas.
Sementara pasukan Ibu Rahma yang kini ingin menggerebek rumah Farah seolah menangkap basah Farah dan Dimas. Mereka memasuki rumah Farah tanpa persetujuan pemiliknya karena sejak tadi mereka mengucapkan salam namun tak ada jawaban dari dalam. Kemudian mereka masuk ke dalam rumah itu lalu mendapati pintu kamar yang terbuka dan betapa kagetnya mereka saat melihat apa yang dilakukan oleh Farah dan Dimas saat itu.
'Astaga apa yang kalian lakukan?
"Kalian lihat sendiri kan Ibu-ibu apa yang aku katakan memang benar mereka melakukan perbuatan mesum" Teriak Ibu Rahma.
Mendengar teriakkan Ibu Rahma, Farah dan Dimas langsung berdiri memperbaiki posisi mereka masing-masing. Wajah Farah terlihat panik apa yang ia takutkan terjadi.
__ADS_1
"Bagaimana kalian bisa masuk kemari?" Tanya Dimas emosi.
"Sejak lama kami sudah mewanti-wanti kalian berdua akhirnya kami memutuskan untuk menggerebek kalian dan ternyata ini yang kalian lakukan yah saat Bi Surti tidak ada disini" Ibu Rahma terus memanas-manasi situasi.
"Ibu-ibu semua ini tidak seperti yang kalian lihat" Kata Farah mencoba membela diri.
"Mana ada maling mau ngaku. Begini saja kalian ikut kami, dan kalian harus segera dinikahkan agar tidak melakukan hal-hal terlarang diluar pernikahan" Kata ibu-ibu yang lain.
Mata Farah melotot mendengar hal itu. Sementara Dimas masih memutar otaknya bagaimana mengatasi ibu-ibu yang sudah salah paham atas dirinya dan Farah.
"Sudahlah kalian harus dinikahkan karena kalau tidak rumah ini akan dibakar oleh warga kampung sini. Memangnya kamu mau Farah kalau rumah peninggalan Bibi mu ini dibakar oleh warga?" Gertak Ibu Rahma.
Dimas berusaha untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada ibu-ibu kampung yang rempong itu. Tetapi baru saja Dimas berbicara Ibu Rahma sudah memotongnya seolah tidak memberikan celah untuk mereka membela diri.
Para ibu-ibu itu tetap kekeh bahwa Dimas dan Farah harus dinikahkan hari itu juga. Sementara Dimas mencoba untuk bernegosiasi dengan mereka agar mau menunda pernikahan itu sampai hari esok karena ia harus memberitahukan kepada keluarganya.
Awalnya para ibu-ibu itu menolak penawaran Dimas karena mereka pikir Dimas akan lari dari tanggung jawabnya pada Farah. Tetapi Dimas berusaha untuk meyakinkan mereka bahwa ia akan menikahi Farah setelah meminta restu pada orang tuanya.
Akhirnya setelah beberapa saat mereka berdiskusi Ibu Rahma sebagai pemimpin pasukan Ibu-ibu rempong itupun mengiyakan penawaran Dimas. Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Dan pernikahan antara Farah Dan Dimas akan dilangsungkan esok harinya di rumah Farah. Itu semua adalah keputusan ibu-ibu tadi.
Setelah kepergian pasukan Ibu-ibu rempong itu. Di rumah itu kini tinggal mereka berdua.
Farah menatap Dimas penuh kebencian, Ia sangat marah pada Dimas karena Dimas tidak pernah mau mendengar perkataannya untuk tidak datang ke rumah itu apalagi saat tidak ada Bi Surti.
"Ini semua karena ulah Pak Dimas, coba kalau Pak Dimas dengar bicaraku ini semua tidak akan terjadi. Apa yang dipikirkan oleh keluarga Mas Rendi nanti, belum genap 40 hari kepergian Mas Rendi tetapi aku sudah menikah dengan lelaki lain".
'Aku malu Pak Dimas.
__ADS_1
'Aku Malu.
Farah benar-benar tidak dapat menahan emosinya lagi. Ia pun menangis sejadi-jadinya menumpahkan perasaannya yang sejak tadi terasa sesak.