Antar Aku Ke Surga

Antar Aku Ke Surga
chapter 3


__ADS_3

Lain halnya dengan Dimas yang sesungguhnya begitu mencintai Rani. Karena menjalin hubungan sudah 5 tahun lamanya, bagaimana bisa ia melupakan Rani begitu saja. Dia frustasi melihat kemesraan Rani bersama Roy. Rani tetaplah Rani ia mendekati Roy karena nafsu saja. Sejak menjalin hubungan dengan Dimas mereka tak pernah melakukan hal yang terlarang. Dimas selalu menjaga kesucian cintanya kepada Rani. Sehingga Rani memutuskan untuk mencari pelampiasan nafsunya.


Dimas meneguk minuman entah sudah berapa banyak yang dia habiskan. Farah berusaha mencegah bahkan memarahinya namun hanya di abaikan begitu saja. Saat Farah pergi ke toilet Rani mencari kesempatan untuk mendekati Dimas dalam keadaan mabuk.


Rani berfikir Farah telah pergi karena kesal terhadap Dimas. Akhirnya Rani meluncurkan aksi yang telah ia rencanakan sebelumnya.


“Obat perangsang. Yah aku harus memberi kamu obat ini sayang, mungkin ini caraku agar kamu menjadi milikku”. Gumam Rani dengan rasa penuh kemenangan.


Rani pun mulai menyimpan obat ke dalam minuman Dimas. Dimas yang sudah tidak terkontrol lagi langsung meminum minuman itu.


'Bagus


"Misi ku pasti berhasil”. Kata Rani penuh yakin


Tak lama kemudian Farah datang dan mendekati Dimas.


“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Farah kepada Rani.


Rani hanya bisa menjawab dengan mengejek Farah “Kamu pikir kamu siapa, kamu pasti hanya wanita jalang yang di bayar Dimas kan?” selidik Rani.


“Jaga mulutmu, aku bukan seperti wanita yang kau pikirkan”. Sahut Farah dengan nada sedikit emosi.


Dimas menjadi pusing dengan perang adu mulut di antara mereka berdua.


“Stop”. Dimas berteriak dan menarik tangan Farah pergi.


“Sial”. Rani marah karena rencananya gagal.


“Tuan Dimas, apa Tuan yakin bisa membawa mobil sampai rumah?"


"Atau aku minta tolong sama Tuan Angga untuk mengantar Tuan pulang? Atau biar aku cari taksi saja?”. Tanya Farah sedikit memaksa.


“Jangan, tidak perlu aku masih sadar kok” Sahut Dimas.


“Ihh ini orang, bikin kesel aja baru juga semalam kencan dengan dia sudah buat saya stress. Bagaimana kalau seminggu?” ucap Farah lirih.


Farah terlihat frustasi dengan tindakan Dimas. Di perjalanan pulang tidak ada percakapan di antara mereka. Sesekali Dimas melirik penuh arti ke arah Farah. Farah yang menyadari mulai merasa risih.


“Ada apa Tuan, mengapa Tuan memandang saya seperti itu?” Tanya Farah


“Enggak, aku cuma mau bilang malam ini kamu terlihat jauh lebih cantik”. Jawab Dimas

__ADS_1


Farah semakin takut dan risih dengan tatapan Dimas. Sementara Dimas baru menyadari ada hal yang aneh dengan dirinya.


“Kenapa aku merasa panas. Badanku terasa panas, ah apa mungkin ada yang mencoba untuk menjebak ku tadi? Atau jangan-jangan ini kerja si Rani wanita jalang itu. Bagaimana ini aku sudah tidak tahan lagi?” Gumam Dimas dalam hati.


"Juniorku semakin menegang dan terasa sesak disana".


“Farah kita mampir di apartemenku dulu yah ngga lama kok” Kata Dimas.


Farah yang polos dan lugu itu menurut saja dengan apa yang di katakan Dimas.


“Baik Tuan tapi jangan lama-lama, aku takut bibi mencari ku”. Sahut Farah


“Ok. Tidak lama hanya sebentar”. Lanjut Dimas


Sesampainya di apartemen Dimas langsung mengunci pintu. Farah kaget dan bertanya dengan raut wajah panik.


'Tuan…


"apa yang Tuan lakukan? Aku mau pulang” Ucap Farah.


Farah semakin panik ketika Dimas mulai mendekatinya.


“ Maksud Tuan apa aku tidak mengerti?” Tanya Farah sedikit ketakutan.


Farah semakin bingung harus berbuat apa. Dimas semakin mendekat dan akhirnya meraih tubuh mungil Farah.


'Lepas.


"Lepas Tuan aku takut”. Farah merintih ketakutan


Dimas tak perduli dengan tatapan Farah. Dia semakin mengeratkan pelukannya, meraba setiap inci tubuh Farah. Meronta pun percuma, tubuh Farah terlalu kecil untuk lari. Dimas telah dikuasai oleh obat setan itu. Ia merobek baju Farah dengan paksa, Farah hanya bisa pasrah dan menangisi penyesalan yang sudah tiada guna untuk di sesali.


Dimas yang sudah seperti kerasukan setan semakin ganas dan liar, ia mendorong paksa tubuh mungil Farah ke atas kasur empuk. Dan menindih tubuh polos Farah, tak sedikitpun ia menghiraukan isak tangis Farah. Sampai akhirnya penyatuan itu terjadi.


Setelah melakukan aktivitas panas Dimas terkulai lemas dan tertidur. Sementara Farah hanya menangis dan merintih. Karena lelah menangis Farah pun ikut tertidur di samping ranjang yang di tiduri oleh Dimas. Dimas terbangun merasakan kering pada tenggorokannya.


“Ah. Kenapa kepalaku jadi berat dan pusing seperti ini?” ucap Dimas dengan suara khas bangun tidur.


Melihat tubuhnya polos tanpa sehelai benang. Dimas berusaha memutar otaknya sekilas terlintas di pikirannya kejadian semalam.


'Farah.

__ADS_1


"Dimana gadis itu?” ucap Dimas lirih


Matanya mulai mencari-cari keberadaan Farah. Seketika matanya terhenti di sebuah sprei yang bernoda bercak darah.


'Ya Allah.


"Apa yang telah aku lakukan?"


"Aku...ahh” ucap Dimas menyesal.


Saat Dimas hendak melangkah, ia terkejut melihat Farah yang tertidur di lantai. Dimas memutuskan untuk memakai baju lengkap dan kembali mengangkat tubuh Farah ke atas ranjang. Dimas berusaha untuk membangunkan Farah.


Sementara di tempat lain Bibi Ima sedang mengkhawatirkan keadaan Farah yang belum pulang dan tidak bisa di hubungi.


“Aduh Farah dimana yah, kok sudah jam segini Farah belum juga pulang. Aku jadi khawatir, di hubungi juga ngga aktif lagi. Farah dimana kamu nak?” ucap Bibi Ima dengan nada khawatir


Bibi Ima semakin resah memikirkan Farah yang belum pulang dan tak ada kabar.


Farah mulai terbangun dan mengerjapkan matanya. Farah hanya menangis menahan sakit yang ada di sekujur tubuhnya, namun tak separah sakit yang ada di hatinya. Luka yang tertoreh begitu dalam yang mungkin sampai mati tak akan terlupakan.


Melihat Farah yang menangis memeluk kedua kakinya Dimas mendekati Farah dan berkata dengan penuh penyesalan.


“Maaf. Aku minta maaf, Farah aku betul-betul menyesal telah melakukan ini padamu”. Ucap Dimas


'Aku…


Lama Dimas terdiam lalu melanjutkan perkataannya


“Aku akan bertanggung jawab".


"Aku akan bertanggung jawab kepadamu Farah, aku akan menikahi mu”. Lanjut Dimas


Melihat Farah yang semakin histeris Dimas justru ikut menangis dan memeluk tubuh Farah yang hanya berbalut selimut.


“Tidak Tuan”. Ucap Farah sambil mendorong tubuh Dimas.


'Cukup Tuan.


"Biarkan aku pergi membawa luka dan kenangan pahit ini. Aku tahu antara kita berdua sangat jauh perbedaannya, bagaikan langit dan bumi, Sampai kapan pun tak akan pernah menyatu".


"Tolong biarkan aku pergi, anggap saja kejadian ini tidak pernah terjadi” Lanjut Farah.

__ADS_1


__ADS_2