Antar Aku Ke Surga

Antar Aku Ke Surga
Chapter 35


__ADS_3

Tidak bisa di pungkiri sebagai seorang istri ia sangat khawatir sama Dimas karena sejak semalam ia tidak pulang ke rumah.


"Bi apa Dimas belum pulang?" Tanya Farah.


"Loh emangnya Tuan Dimas kemana Nyonya?" Tanya Bi Surti balik.


"Semalam Mas Dimas pergi tanpa berpamitan denganku. Mungkin dia kecewa padaku karena belum bisa melupakan Mas Rendi dan menerima kehadirannya sebagai suamiku" Ucap Farah sedih.


"Yang sabar Nyonya" Kata Bi Surti menenangkan hati Farah.


Bi Surti memang tahu persis apa yang terjadi dalam rumah tangga mereka. Hanya saja Bi Surti memilih untuk diam karena dia cukup tahu diri untuk urusan itu.


Sekarang jam 08:30 Dimas belum juga datang. Hati Farah kini sudah mulai gelisah.


"Mas dimana kamu sekarang, aku minta maaf kalau aku salah" Lirih Farah.


Sejak tadi ia mondar-mandir menanti kedatangan Dimas .


Sementara di rumah Miska!


"Dimas bangun, Dimas ini sudah siang. Aku sudah mau berangkat ke rumah sakit" Kata Miska membangun Dimas dengan pelan.


Dimas membuka matanya.


"Sekarang jam berapa Mis?" Tanya Dimas.


"Sekarang sudah jam setengah sembilan, ayo bangun karena aku mau pergi" Miska memaksa Dimas untuk bangun.


"Kalau kamu mau sarapan ada makanan di meja makan. Tadi aku sudah menyiapkan nasi goreng" Kata Miska menawarkan.


"Tidak usah Miska, aku harus pulang karena aku juga mau ke kantor. Thanks yah karena sudah mengizinkan aku nginap disini. Kapan-kapan kalau aku mampir lagi boleh yah" Kata Dimas sambil tersenyum.


"Boleh dong, yang penting kamu tidak ada niat jahat denganku" Kata Miska sambil tertawa.


"Enak aja yah nggaklah. Aku nggak nafsu sama kamu tau. Ya sudah aku mau pulang dulu" Kata Dimas lalu bangkit dari tempat tidur itu.

__ADS_1


Di dalam mobilnya Dimas berkali-kali mengecek handphonenya berharap ada panggilan atau pesan dari Farah.


"Ah, ternyata memang kamu memang tidak peduli padaku Ra" Lirih Dimas dengan nada kecewa.


Tak berapa lama kemudian ia sampai di apartemen pribadi miliknya.


"Assalamu'alaikum Bi. Apa Nyonya ada di dalam?" Tanya Dimas.


"Wa'alaikumussalam iya Tuan. Sejak tadi Nyonya Farah menunggu Tuan" Jawab Bi Surti.


"Oh ya benarkah? Sejak kapan ia memperdulikan aku?" Kata Dimas tak percaya.


Farah yang mendengar suara Dimas kemudian langsung menghampiri Dimas dengan wajah paniknya ia mencoba untuk bertanya pada suaminya itu.


"Mas kemana saja semalam kok nggak pulang?" Tanya Farah cemas.


"Tumben kamu tanya-tanya bukannya kamu sendiri yang bilang kalau urusanku bukan urusanmu dan begitu sebaliknya" Kata Dimas dengan senyum mengejek.


Kata-kata itu berhasil membuat Farah tak berkutik.


"Ya, ada apa Tuan?" Tanya Bi Surti.


"Tolong siapkan air hangat untukku aku mau mandi, setelah itu tolong siapkan baju dan sarapanku, karena aku mau ke kantor" Kata Dimas.


"Mas biar aku yang menyiapkan semuanya" Tawar Farah.


"Sudah Ra kamu istirahat saja biar semua Bi Surti yang mengurusnya" Tolak Dimas.


"Tapi Mas aku kan tidak sakit buat apa disuruh istirahat, lagian aku ini kan istrimu Mas. Jadi itu sudah jadi kewajiban ku" Jelas Farah panjang lebar.


"Oh yah apa kewajiban seorang istri itu hanya sebatas itu-itu saja?" Kata Dimas dengan penuh penekanan.


Farah sempat tercengang tak menyangka kalau Dimas bisa berbicara seperti itu. Farah kemudian melangkah pergi meninggalkan Dimas. Ia pergi menenangkan diri di halaman belakang rumah. Di sana Farah menumpahkan semua rasa sesal yang sedari tadi ia tahan. Rasanya ia ingin menjerit dengan keras meratapi nasibnya yang begitu malang.


Dimas kemudian menyusul Farah. Ia melihat Farah duduk sendirian di halaman belakang.

__ADS_1


"Farah maafkan aku yang lagi-lagi membuatmu sedih dan menangis. Tapi aku juga manusia biasa, aku bukan malaikat yang tidak punya rasa marah" Gumam Dimas dalam hati.


Setelah itu ia langsung sarapan seorang diri. Setelah selesai sarapan ia pun menuju kantor tanpa berpamitan pada Farah. Sebenarnya Dimas tidak tega memperlakukan Farah seperti itu. Tapi Dimas berpikir mungkin dengan cara seperti ini Farah akan menyerah dan meninggalkan dia. Sebab Dimas sendiri tak bisa melepaskan Farah dengan sendirinya. Ia benar-benar tidak sanggup.


Di kantor Dimas tak bisa fokus dengan pekerjaannya. Bayangan wajah Farah yang terlihat sedih itu selalu terbayang-bayang di matanya. Sementara Farah yang tahu bahwa Dimas sudah berangkat kerja tanpa berpamitan padanya justru membuat dia merasa semakin bersalah. Ia kemudian memutuskan untuk pergi ke makam Rendi.


"Bi, aku pamit pergi ke Makam Mas Rendi sebentar ya Bi" Pamit Farah.


"Tapi Nyonya kalau nanti Tuan Dimas datang dan bertanya apa yang harus aku katakan?" Tanya Bi Surti kebingungan.


"Bi Surti tidak perlu khawatir, aku tidak lama kok. Aku pamit Bi" Kata Farah berlalu meninggalkan apartemen Dimas.


Dengan hati yang gusar Farah pergi ke pemakaman Rendi. Di sana Farah mencurahkan semua isi hatinya. Tangisnya semakin pecah disaat ia mengenang semua kebahagiaan nya bersama Rendi.


"Mas mengapa kamu harus hadir dalam hidupku kalau hanya sesaat dan pergi meninggalkan aku untuk selamanya?. Mengapa kau lukiskan kenangan indah denganku lalu kau ubah semuanya menjadi sebuah kenyataan yang pahit yang harus ku jalani seorang diri?" Farah bertanya pada kuburan Rendi.


Hiks... Hiks... Hiks...


"Mas Rendi katakanlah aku harus bagaimana, apa yang harus aku perbuat? Aku sudah menuruti keinginanmu agar menikah dengan Mas Dimas. Tapi sampai sekarang hatiku masih mencintaimu, hatiku tidak bisa berbohong untuk bisa melupakanmu. Tak ada sedikitpun yang ada di dirimu ku temukan dalam diri Mas Dimas. Apa yang harus aku lakukan Mas?" Farah terus berbicara pada kuburan Rendi dan menangis sesenggukan sambil menggenggam tanah yang ada di atas kuburan Rendi.


"Bantu aku untuk mengikhlaskan mu Mas. Sungguh aku benar-benar tidak sanggup kehilanganmu. Aku hanya berharap agar kamu menantiku di Surga Mas" Kata Farah masih terus menangis.


Tangisan pilu itu masih saja terdengar. Farah seperti orang gila menangis di atas pusara kekasihnya itu. Lama ia menangis dan setelah merasa tenang ia memutuskan untuk pulang. Dam ternyata benar dugaannya bahwa Dimas belum pulang dari kantor.


"Ini sudah waktunya makan siang, mungkin Mas Dimas makan siang di kantor" Gumam Farah.


"Bi, tolong temani aku makan siang yah Bi" Kata Farah dengan nada sedikit memohon.


"Baik Nyonya" Jawab Bi Surti.


"Bi, aku boleh nggak menganggap Bi Surti seperti Ibuku sendiri?" Tanya Farah. Tanpa sadar air matanya lolos begitu saja.


"Nyonya, Bibi sangat berterima kasih kalau Nyonya mau menganggap Bibi sebagai Ibu Nyonya sendiri. Dan Bibi juga sudah menganggap Nyonya Farah sebagai anak Bibi sendiri" Jawab Bi Surti dengan terharu.


"Nyonya Farah berhak untuk di cintai semua orang karena Nyonya orang baik" Kata Bi Surti.

__ADS_1


Farah berdiri dan memeluk Bi Surti sambil menangis.


__ADS_2