
Kini Dokter Miska sudah berada di dalam kamar Farah dan Dimas.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan istrimu?" Tanya Miska penasaran.
"Aku juga tidak tahu" Jawab Dimas seadanya.
"Baiklah aku akan memeriksa kondisi Farah" Ucap Miska sambil mengeluarkan alat yang ia butuhkan dari dalam tasnya.
Dokter Miska kini memeriksa detak jantung dan urat nadi Farah.
"Dimas, istri kamu pasti belum makan. Dia hanya kelaparan dan sepertinya dia sedikit tertekan. Atau mungkin akhir-akhir ini dia lagi banyak pikiran?" Tanya Miska memastikan.
"Aku juga tidak tahu Mis, tapi yang jelas kata Bi Surti memang seharian ini Farah tidak makan. Dan mungkin dia lagi banyak pikiran sampai dia kurang nafsu makan" Jawab Dimas.
Sebenarnya ada rasa bersalah yang dirasakan oleh Dimas. Karena perbuatannya yang berlebihan pada Farah membuat Farah stress sampai membuat ia kembali drop dan jatuh sakit.
"Kamu harus memperhatikan istrimu dengan baik. Karena ini terlihat sepele, tapi dampaknya sangat besar jika terus dibiarkan" Miska berusaha menjelaskan pada Dimas.
Tak lama kemudian Farah membuka matanya perlahan-lahan. Ia melihat sosok wanita yang cantik yang tidak ia kenal.
"Hai Farah, apa kamu sudah merasa baikan sekarang?" Tanya Miska sambil tersenyum kecil.
Sayangnya Farah tidak menjawab pertanyaan itu.
"Kamu siapa?" Tanya Farah heran.
Dimas kemudian langsung menjawab pertanyaan Farah.
"Ra, ini Dokter Miska yang pernah aku ceritakan sama kamu" Kata Dimas menjelaskan.
__ADS_1
Farah hanya terdiam sambil menatap wajah Miska.
"Farah kamu harus makan sekarang, aku harap kamu jangan terlalu banyak pikiran dulu untuk saat ini biar nanti kamu cepat pulih kembali" Kata Miska memberi pemahaman pada Farah.
"Dimas, aku pulang dulu" Pamit Miska.
Dimas tiba-tiba menahan lengan Miska dan berkata "Miska sekarang sudah larut malam, bahkan hampir subuh kamu tidak usah pulang kamu tidur disini saja nanti aku minta Bi Surti menyiapkan kamar untukmu".
Namun Miska menolak tawaran Dimas. Akhirnya Dimas pun meminta untuk mengantarkan Miska sampai ke rumahnya. Dimas takut terjadi apa-apa dengannya di jalan karena saat ini jalanan sepi dan banyak begal. Ia khawatir membiarkan Miska pulang sendirian, ia merasa bertanggung jawab karena ia yang memanggil Miska untuk datang ke apartemennya.
Farah yang melihat ke khawatiran di wajah Dimas, merasa semakin terpuruk dan ia berpikir bahwa Dimas sudah menduakan dia. Apalagi saat ini sikap Dimas berubah menjadi semakin dingin padanya. Rasanya ia ingin menutup mata untuk selamanya ia tidak sanggup melihat perselingkuhan Dimas.
Refleks Miska kemudian mencubit pipi Dimas dengan gemas.
"Dimas, dari dulu kamu tidak pernah berubah yah, selalu keras kepala" Kata Miska sambil tersenyum manis pada Dimas.
"Baiklah Dimas, aku ingin beristirahat. Kamu jaga istrimu dengan baik, Bi tolong antarkan aku ke kamar tamu" Kata Miska sambil meninggalkan kamar tidur Dimas dan Farah.
Di kamar itu sekarang tinggal mereka berdua. Sejenak tercipta kecanggungan di antara mereka. Dimas berusaha memecahkan kecanggungan itu dengan mulai membuka suara.
"Farah, aku ambilkan makanan untukmu yah. Kamu harus makan" Kata Dimas
Farah tidak menjawab, ia hanya diam. Dimas kemudian langsung menuju dapur mengambil makanan untuk Farah.
"Ra ini makanannya, kamu harus makan. Aku suapin yah" Bujuk Dimas dengan lembut dan penuh kesabaran.
Dimas kemudian membenarkan posisi duduk Farah.
Sedikit demi sedikit Dimas menyuapi makanan itu ke mulut Farah. Ia sangat telaten dalam hal itu. Saat ini ia benar-benar merasa takut kalau kondisi Farah semakin parah, ia merasa sangat bersalah atas hal itu.
__ADS_1
"Mas, mengapa hatiku tiba-tiba luluh dengan sikapmu ini. Mungkinkah di hatiku sudah ada ruang untuk kamu tempati?" Farah membatin.
Dimas yang melihat Farah bengong sambil menatap dirinya pun merasa heran.
"Farah, kok kamu menatapku seperti itu apa ada yang salah?" Tanya Dimas heran.
"Tidak Mas. Aku mau minta maaf sama kamu karena selama ini aku belum bisa menjadi istri yang baik yang bisa melayani kamu seutuhnya. Dan maaf karena selama ini aku selalu merepotkan kamu" Kata Farah sambil menundukkan kepalanya.
"Terima kasih Mas, karena selalu ada buatku" Lanjut Farah.
Kini mata Farah sudah berkaca-kaca. Kini ia baru menyadari bahwa semua kebaikan Dimas adalah sebuah ketulusan bukan paksaan untuk mendapatkan simpati agar Farah kembali jatuh hati.
Dimas kemudian menggenggam tangan Farah.
"Farah justru akulah yang berterima kasih padamu. Karena kamu masih mau memberikan maaf padaku atas semua perbuatanku dimasa lalu. Aku sadar walaupun saat ini aku memiliki ragamu, namun aku tahu betul bahwa hatimu bukanlah untukku. Aku tahu di hatimu masih ada Rendi. Aku siap menunggu sampai kamu mencintaiku walaupun aku tahu entah sampai kapan hal itu bisa terjadi". Jelas Dimas dengan raut wajah yang putus asa.
Kali ini Farah memberanikan diri untuk menatap wajah Dimas dengan lekat.
"Mas Dimas, pandang mataku. Apakah disana masih ada rasa benci terhadapmu? Kamu salah Mas, saat ini cinta suciku yang telah hilang bersama Mas Rendi, telah ia kembalikan lagi padaku, di tatanya kembali hatiku, di dudukkan kembali jiwaku pada ragaku, karena dia tahu bahwa ada orang lain yang membutuhkan semua itu dariku" Kata Farah dengan suara bergetar.
Ia tidak menyangka dari mana ia mendapatkan keberanian untuk mengungkapkan apa yang saat ini ia rasakan.
"Aku sendiri pun tak tahu kapan dan dimana Mas Dimas mendapatkan kembali kunci pintu hatiku yang sudah sekian lama hilang tak berjejak. Mas aku yakin dan berharap kelak Mas Dimas akan selalu bertahta didalam hati dan jiwaku. Meski dulu Mas Rendi sempat singgah disana memberikan lukisan cinta yang indah dan akhirnya meninggalkan serpihan duka dan menjadikan sebuah bingkai kenangan di masa laluku. Tapi kali ini aku sangat berharap agar Mas Dimas tidak hanya sekedar singgah memberikan kenangan. Justru menetap mengisi segala kekosongan ruang-ruang yang ada di hatiku melukiskan kebahagiaan yang sudah lama hilang dari diriku" Ucap Farah panjang lebar tanpa terasa air mata itu lolos dengan sendirinya di pipi mulus Farah.
Mendengar kata-kata Farah hati Dimas tersentuh. Ia kini memeluk tubuh sang istri. Keduanya berpelukan sambil menumpahkan segala rasa yang terpendam selama ini. Farah menangis penuh penyesalan karena terlalu egois dan tidak bisa melihat ketulusan Dimas padanya selama ini.
"Maafkan aku Mas" Gumam Farah dalam hati.
Rasanya saat ini ia tidak ingin jauh dari suaminya itu. Kini ia merasakan kembali bagaimana kehangatan yang pernah diberikan oleh Rendi padanya.Dimas mampu memberikan apa yang ia butuhkan dan selalu menjadi yang terbaik untuknya.
__ADS_1