
Kemudian Angga berdiri dan berlalu pergi meninggalkan Desi. Desi hanya diam dan terpaku melihat kepergian Angga.
“Angga aku akan berjuang untuk cinta kita , aku akan buktikan kepadamu bahwa aku sangat mencintaimu".
"Aku juga akan buktikan kepada Ayahku bahwa kamu adalah lelaki terbaik untuk aku” lirih Desi.
Lagi-lagi Angga pergi ke Clube XXXII untuk menenangkan dirinya. Tapi kali ini ia minum hanya sedikit hingga tidak pulang dalam keadaan mabuk. Ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
Baru saja Angga masuk ke halaman rumahnya tiba-tiba ia melihat sosok wanita yang berdiri di depan pintu.
“Desi. Apa itu Desi”
Angga segera turun dari mobil dan langsung mendekati Desi.
“Desi apa yang kamu lakukan disini?" Tanya
Angga.
“Angga aku ingin kabur dari rumah tolong bawa aku pergi sejauh mungkin dari sini”. Kata Desi.
Angga menarik tangan Desi dan membawanya masuk kedalam rumah.
“Desi apa kamu tidak bisa berpikir secara jernih, lari dari masalah itu bukan solusi yang tepat".
"Tapi Angga aku tidak tahu lagi harus bagaimana, aku juga takut berkata jujur pada Ayahku” kata Desi sambil menangis.
Angga mendekati Desi lalu memeluknya,ia tahu saat ini Desi butuh bahu untuk bersandar. Ia pun turut merasakan betapa terpuruknya Desi saat ini. Desi pun menangis dalam pelukan Angga, ia merasa sangat nyaman berada dalam pelukan Angga. Rasanya bebannya kini berkurang.
Angga mengajak Desi duduk.
“Des aku ambil air minum dulu untukmu”.
Setelah beberapa saat Angga datang membawa segelas air untuk Desi.
“Minumlah Des” kata Angga sambil menyerahkan segelas air.
“Desi aku tahu cintamu begitu besar dan begitu pun dengan diriku. Tapi aku tidak mau kalau kita menjadi anak pembangkang dan akhirnya di usir oleh orang tuamu. Sungguh aku tidak bisa membayangkan hal itu” kata Angga
menenangkan Desi.
“Angga biarkan aku tidur disini malam ini, aku ingin bersamamu malam ini” kata Desi dengan yakin.
“Bagaimana mungkin Des, kita memang saling mencintai tapi bukan berarti kita bebas melakukan apa saja yang di luar batas” kata Angga dengan tegas.
__ADS_1
Angga berusaha membujuk agar Desi mau pulang ke rumahnya. Tetapi justru Desi nekat ia pun membuka bajunya dan membuangnya ke sembarang tempat hingga yang tersisa hanya pakaian dalam saja yang melekat di tubuhnya.
Sementara Angga adalah seorang lelaki normal yang sudah pasti tertarik saat melihat tubuh mulus Desi yang setengah telanjang, tetapi perasaan itu cepat-cepat ia tepis dari hati dan pikirannya.
Angga kemudian berdiri berniat untuk memungut baju Desi.
“Apa yang kamu lakukan Desi pakai bajumu” kata Angga dengan nada emosi.
Desi justru hanya mendekatkan tubuhnya dan berusaha memeluk dan merayu Angga. Ia terlihat sangat agresif, sesaat Angga meladeni ciuman panas itu. Lalu Angga mulai tersadar dan mendorong tubuh Desi.
“Desi maafkan aku apa yang kita lakukan ini salah ini bukan cinta suci, ini adalah nafsu. Pakai bajumu dan aku akan mengantarkan kamu pulang" Kata Angga dengan tegas.
Desi kemudian memakai pakaian lengkap dan kembali menangis dalam pangkuan Angga.
“Bawa aku pergi Ngga, kalau tidak aku akan bunuh diri” kata Desi mulai frustasi.
Angga menutup mulut Desi dengan jari telunjuknya.
“Kamu tidak boleh seperti ini, baiklah kita akan berjuang bersama. Tapi kamu harus berjanji kamu harus berkata jujur pada Ayah dan Ibumu kalau kita saling mencintai” kata Angga sambil mengecup kening Desi.
“Ini sudah larut malam aku akan mengantarkan mu pulang” kata Angga lagi.
Di rumah sakit!
Lama Farah tertidur dalam pengaruh obat penenang, dan akhirnya Farah mulai terbangun dan di lihatnya Dimas masih setia menjaganya disana.
'Dokter!
'Dokter!
Teriak Farah dengan panik.
Dokter pun datang ke ruangan Farah.
“Ada apa Bu? Tanya dokter.
“Dok kenapa kakiku tidak bisa di gerakkan Dok, apa aku lumpuh” Tanya Farah dengan ragu?
“Maaf Bu, waktu kecelakaan itu kaki kanan ibu patah dan mungkin bisa saja terjadi kelumpuhan tapi itu hanya sementara saja asal ibu rajin check up dan melakukan terapi” kata Dokter menjelaskan.
Farah menutup mulutnya seakan tak percaya dengan cobaan yang seakan bertubi-tubi datang menghampirinya.
“Untuk Ibu Farah, sebenarnya kesehatan Ibu Farah sudah agak lumayan tetapi aku sarankan sebaiknya ibu harus di rawat kurang lebih tiga hari lagi. Biar kami lebih mudah untuk mengontrol kesehatan Ibu".
__ADS_1
"Oh iya pak ini resep obatnya” kata Dokter sambil memberikan resep obat pada Dimas.
Dimas lalu pergi ke apotek untuk menebus obat Farah dan setelah itu ia berniat untuk pulang ke rumahnya.
Di rumah Dimas!
“Dimas Mamah mau bicara” kata Ibu Ani.
Dimas kemudian mendekati Ibunya yang sejak kemarin menanti kedatangan anak tunggalnya itu.
“Ada apa Mah? Tanya Dimas.
“Akhir-akhir ini Mamah perhatikan kamu sepertinya terlalu sibuk".
"Apa ada masalah dengan kantor?" Tanya Ibu Ani penasaran.
“Tidak Mah urusan kantor semuanya beres tanpa kendala. Hanya saja aku lagi sibuk mengurusi Farah” kata Dimas.
“Apakah dia wanita yang pernah kamu cerita sama Mamah waktu itu? Selidik Ibu Ani
“Iya Mah, maaf aku baru bisa cerita sekarang” kata Dimas.
Dimas kemudian menceritakan semua kejadian itu dan keinginannya untuk menjaga serta melindungi Farah.
“Apa Mamah setuju jika aku ingin menjaga Farah? Tanya Dimas.
“Terserah kamu saja nak, tapi kamu jangan hanya sibuk mengurus wanita itu. Pikirkan juga dirimu yang sudah berumur, kapan mama bisa menimang cucu kalau kamu belum ingin menikah lagi?” kata ibu Ani dengan penuh harap.
“Tenang Mah nanti kalau juga jodoh Dimas pasti menikahi wanita yang Dimas cintai” Kata Dimas yakin.
“Awas jangan lama-lama kalau kelamaan nanti Mamah jodohkan lagi dengan anak teman Mamah” Ancam Ibu Ani.
“Ia Mah ini hanya masalah waktu saja. Aku pamit ke rumah sakit dulu Mah” pamit Dimas.
“Dimas apa Mamah boleh ikut?” Tanya ibu Ani.
“Boleh Mah, kalau Mamah mau” kata Dimas lagi.
Akhirnya Dimas dan Ibunya pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Farah.
Di perjalanan menuju rumah sakit, Ibu Ani ingin membeli buah-buahan sebagai buah tangannya nanti.
“Dimas, kita singgah di depan sebentar yah. Mamah mau beli buah-buahan sebentar buat Farah” kata Ibu Ani.
__ADS_1
“Baik Mah” Dimas hanya menurut.
Mereka pun singgah di tempat penjual buah, Ibu Ani terlihat begitu bersemangat saat membeli buah untuk Farah, dari raut wajahnya yang terlihat sangat ingin bertemu langsung dengan seorang wanita yang mampu membuat putra semata wayangnya itu tergila-gila.