
Di sepanjang jalan Farah tak bersuara, seperti tak ingin berbicara pada Dimas.
"Yoga setelah ini kamu langsung kekantor dulu yah, dan tangani semua pekerjaan disana" Kata Dimas pada asisten pribadinya itu.
'Baik Pak.
"Ra apa kamu lapar?" Kata Dimas memulai percakapan.
Dimas berusaha memecahkan keheningan di antara mereka, namun Farah masih jua membisu. Ia hanya menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu mau sesuatu? kalau kamu mau sesuatu bilang saja padaku jangan sungkan nanti aku akan belikan untukmu" Kata Dimas.
Lagi-lagi Farah hanya menggelengkan kepalanya tanda tak mau. Akhirnya Dimas terpaksa ikut diam.
"Sepertinya aku harus ekstra sabar kalau begini" Gumam Dimas dalam hati.
Tak lama kemudian mereka sampai di halaman rumah Farah!
"Nah sekarang kita sudah sampai, sini aku bantu Ra".
Dengan sigap Dimas mengangkat tubuh Farah dalam gendongannya untuk masuk ke dalam rumah. Para tetangga Farah yang ada di luar pun memperhatikan mereka berdua.
"Pak Dimas turunin aku dong, ini kan ada kursi roda. Malu dilihat tetangga" Kata Farah agak kesal.
"Biarin. Pakai kursi roda kelamaan". Jawab Dimas dengan santai.
"Kamu mau langsung ke kamar atau mau duduk di ruang tamu dulu?" Tanya Dimas.
"Aku mau duduk disini dulu, sambil menunggu asisten rumah tangganya datang" Jawab Farah.
"Baiklah aku hubungi dulu orang itu yah. Kamu tenang saja semua keperluan mu aku yang biayai" Kata Dimas dengan lembut.
"Terima kasih Pak. Aku tidak tau lagi harus membalasnya dengan apa" Kata Farah.
"Ra sudah berkali-kali aku katakan kalau ini semua tidak sebanding dengan apa yang pernah aku lakukan padamu. Jadi kamu tidak perlu sungkan kalau kamu butuh sesuatu, kamu bilang saja padaku" Kata Dimas dengan tulus.
Setelah beberapa saat kemudian asisten rumah tangga itupun datang ke tempat Farah.
"Nah itu orangnya datang, mari Bu".
Dimas mempersilahkan ART itu masuk.
"Perkenalkan ini Farah yang akan Ibu bantu disini, dan aku Dimas temannya Farah" Kata Dimas.
"Baik Tuan. Nama saya Surti. Saya seorang Janda, punya 2 orang anak dan sudah menikah semua". Kata Bi Surti memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Baiklah Bi. Disini aku harap Bibi bisa bekerja dengan baik. Dan kalau ada masalah hubungi aku secepatnya" Jelas Dimas pada Bi Surti.
"Farah aku pamit pulang dulu, kamu harus istirahat dengan baik. Ingat seminggu lagi kita check up ke Dokter".
"Bi. Aku titip Farah yah" Kata Dimas.
"Baik Tuan" Ucap Bi Surti menurut.
Setelah itu Dimas berlalu pergi meninggalkan rumah itu.
Dimas begitu penuh perhatian pada Farah. Dimas tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini lagi untuk menebus segala kesalahannya di masa lalu.
"Non Farah apa Non mau makan?" Tanya Bi Surti.
"Belum Bi. Aku mau tidur dulu. Oh ya Bi, Bibi tidak perlu sungkan padaku anggap saja ini rumah Bibi sendiri yah" Kata Farah dengan tulus.
"Baik Non. Mari Bibi antar" Kata Bi Surti.
Didalam kamar Farah hanya bisa menangis melihat semua foto-foto Rendi saat bersamanya dulu.
Sekilas kenangan indah itu terlintas dipikirannya.
"Kamu bohong Mas, kamu sudah berjanji akan selalu menjagaku tapi mengapa kamu pergi meninggalkan aku?" Gumam Farah dengan air mata yang tak terbendung lagi.
'hiks...hiks...hiks...
"Jangan kamu pikir bahwa cintamu akan tergantikan oleh orang lain. Aku akan mencintaimu dan selalu mencintaimu sampai kapanpun. Tunggu aku di surga, aku pasti datang untukmu" Gumam Farah masih dengan air mata yang membasahi pipinya.
Farah akhirnya tertidur dalam keadaan memeluk bingkai foto kekasih tercintanya itu.
Dirumah Desi!
"Desi ayo makan dulu nak, kalau kamu begini terus kamu bisa sakit" Kata Ibu Desi khawatir.
Ibu Desi kemudian berjalan mendekati Desi yang sedang tertidur.
'Des.
Ibu Rini makin penasaran karena tidak ada respon dari Desi. Ia pun langsung duduk di tepi ranjang.
"Des, Desi bangun nak"
Ibu Rini masih berusaha membangunkan Desi namun tetap tak ada respon. Ia pun membalikkan tubuh Desi dan betapa kagetnya ia saat melihat kondisi Desi. Wajah Desi terlihat begitu pucat. Ternyata Desi sudah pingsan entah sejak kapan.
'Yah.
__ADS_1
'Ayah...
Teriak Ibu Rini pada suaminya.
"Ada apa Bu?"
'Desi pak.
"Desi pingsan. Sepertinya dia sakit dan pasti ia kelaparan karena akhir-akhir ini Desi mogok makan".
'Hiks...hiks...hiks...
Ibu Rini menangis karena cemas dengan keadaan putrinya itu.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang Bu" Kata Pak Ridwan yang tak lain adalah Ayah Desi.
Setelah mendapatkan pertolongan dari rumah sakit. Desi akhirnya siuman.
"Bu, aku dimana? kok bisa ada disini?" Tanya Desi yang baru saja siuman.
"Tadi kamu pingsan, dan langsung kami bawa kemari" Kata Ibu Rini.
"Sebenarnya mau kamu apa Des? apa kamu mau mati menahan lapar? apa kamu sudah tidak sayang pada Ayah dan Ibumu?" Tanya Ayah Desi dengan penuh selidik.
"Yah, bukankah sebaliknya. Bukankah Ayah dan Ibu yang tidak sayang sama Desi? sehingga Desi dipaksa untuk mengikuti ego kalian" Kata Desi yang ingin menumpahkan kemarahannya.
"Desi hanya ingin hidup bahagia bersama pilihan Desi sendiri Yah. Apakah itu salah? Cinta tidak bisa dipaksakan, buat apa Desi menikah dengan lelaki pilihan Ayah kalau disini tak ada cinta" Kata Desi sambil memegang dadanya.
"Apa Ayah berpikir cinta akan tumbuh dengan sendirinya. Seiring berjalannya waktu mungkin itu semua ada benarnya tapi bukan dengan cintaku. Percuma Ayah membawaku kemari karena aku sendiri sudah putus asa untuk hidup". Kata Desi mengeluarkan semua keluhan yang selama ini di pendam nya sendirian.
"Ayah berpikir menikahkan aku dengan lelaki itu agar aku bisa hidup bahagia? tidak Yah, justru Ayah dan Ibu akan melihat aku mati secara perlahan" Desi pun menangis sejadi-jadinya menumpahkan segala kesedihannya.
Mendengar semua itu hati Ayah Desi sepertinya luluh.
"Ayah biarkan Desi yang menentukan hidupnya" Kata Ibu Rini.
Kali ini Ibu Rini sudah angkat bicara. Ia tidak sanggup lagi melihat anaknya tersiksa seperti ini.
"Ayah, Desi adalah anak kita satu-satunya , dia adalah harta yang paling berharga buat kita. Tak ada seorang pun Ibu di dunia ini yang tega melihat anaknya menderita"
"Aku mohon Yah batalkan saja pernikahan itu, mumpung waktunya juga masih lama" Kata Ibu Rini dengan nada memohon.
Ibu Rini berusaha membujuk suaminya itu.
"Tapi Bu bagaimana dengan perasaan Pak Yusuf dan keluarganya? Bagaimana dengan persahabatan kami?" Kata Pak Ridwan kebingungan.
__ADS_1
Pak Ridwan merasa dilema dalam situasi ini di satu sisi ia tidak ingin mengecewakan sahabat baiknya itu. Di sisi lain ia kasihan melihat putrinya menderita.