
Di rumah sakit.
“Assalamu’alaikum Ra. Farah kenalkan ini Mamahku, Mah kenalkan ini Farah” kata Dimas membuka pembicaraan.
“Apa dia sering menceritakan aku pada Ibunya?” Farah bergumam dalam hati.
“Bagaimana keadaanmu nak apa sudah membaik?” Tanya Ibu Ani perhatian.
“Sudah agak mendingan sih Tante, hanya saja saat ini aku belum bisa berjalan” Kata Farah dengan nada sedih.
“Sabar yah Farah semua pasti akan baik-baik saja” kata Ibu Ani meyakinkan Farah.
"Makasih Tante karena sudah mau menjengukku” kata Farah .
Dimas hanya bisa mendengar percakapan kedua wanita yang ia cintai itu.
“Jujur Tante sudah tahu semua tentang kamu dan kehidupanmu dari Dimas. Tante minta maaf atas kesalahan Dimas kalau ia pernah menyakitimu” kata Ibu Ani dengan tulus.
“Ia Tante aku sudah memaafkan semua kesalahan pak Dimas jauh sebelum pak Dimas meminta maaf padaku, bahkan kejadian itu sudah aku kubur dalam-dalam” kata Farah dengan tulus.
“Tante yakin kamu anak baik-baik kamu harus kuat. kalau kamu butuh bantuan Tante, Tante siap membantu kamu, Tante tidak akan keberatan kok” kata Ibu Ani dengan lembut.
“Terima kasih sebelumnya Tante” kata Farah bahagia.
“Dimas kamu disini saja jagain Farah, Mamah pulang duluan. Tante pamit pulang dulu yah nak” pamit Ibu Ani.
Farah meraih tangan Ibu Ani lalu menciumnya rasanya Farah kembali menemukan sosok Ibu lagi.
“Hati-hati tante” ucap Farah penuh perhatian.
“Pak Dimas terima kasih sudah mau merawat ku dan melindungi ku” kata Farah.
“Sudahlah Farah ini semua tidak sebanding dengan dosa yang sudah aku lakukan ke kamu. Sekarang kamu harus istirahat dan jangan banyak pikiran biar cepat sembuh. Kamu tidak mau kan kalau Mas Rendi mu itu ikut sedih melihatmu seperti ini” kata Dimas perhatian.
Mendengar nama Rendi air mata Farah jatuh dengan sendirinya, seperti belum ada keikhlasan disana setelah kematian kekasihnya
itu.
“Rend aku mencintaimu, sangat mencintaimu” kata Farah dalam isak tangisnya.
“Maaf Farah kalau kata-kataku tadi melukai perasaanmu” kata Dimas merasa bersalah.
Di rumah Desi!
__ADS_1
Sejak tadi Ayah Desi mondar-mandir di dalam rumah, setelah tahu kalau ternyata Desi tidak ada di dalam kamarnya.
“Ibu bukankah tadi ibu bilang kalau Desi sedang tidur, lalu mengapa tiba-tiba ia bisa menghilang? Kata Ayah Desi heran.
“Memang benar Yah tadi Desi sedang tidur, pas Ibu masuk ke kamarnya untuk mengajaknya makan malam ternyata Desi sudah ngga ada” jawab Ibu Desi panik.
Saat Ayah dan Ibu Desi mulai kebingungan karena hilangnya Desi. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok…tok…tok…
Dengan langkah cepat Ayah Desi membuka pintu rumah.
“Assalamu’alaikum Om, Tante” kata Angga.
“Kamu, dari mana kalian?” kata Ayah Desi yang sudah tersulut emosi.
“Desi cepat masuk kamar” perintah Ayah Desi dengan nada marah.
“Maaf om, tolong jangan salahkan Desi. Ini adalah salahku aku yang sudah membawanya pergi tanpa pamit” kata Angga membela Desi.
“Apa? Beraninya kamu melakukan hal itu, asal kamu tahu sebentar lagi Desi akan menikah” Kata Ayah Desi dengan tegas.
“Tapi om kami berdua saling mencintai tolong berikan kesempatan untuk aku, biar aku buktikan pada om kalau aku pantas untuk Desi” kata Angga serius.
Angga berusaha meluluhkan hati Ayah Desi.
Desi hanya berusaha mendekati Angga dan menggenggam erat tangan Angga. Seolah ia ingin menyalurkan keberanian untuk menghadapi sang Ayah.
“Apa yang di katakan Mas Angga itu benar Yah, kami saling mencintai dan aku tidak akan pernah menikah dengan lelaki lain walaupun itu adalah lelaki pilihan Ayah” tegas Desi.
“Oh begitu yah sekarang kamu sudah berani menentang Ayah? Tanya Ayah Desi dengan nada suara meninggi.
Desi yang melihat tangan Ayahnya yang sudah melayang, ia hanya bisa menutup mata menunggu apa yang terjadi selanjutnya.
Plak!
Sebuah tamparan keras berhasil mendarat tapi bukan di wajah Desi. Desi membuka mata saat mendengar suara tamparan itu. Ternyata Angga telah berdiri didepannya untuk menghalangi tamparan dari Ayah Desi.
Darah segar mengalir dari sudut bibir Angga.
"Apa yang kamu lakukan Ngga?" Tanya Desi.
Desi menangis dan segera berlutut di kaki Ayahnya. Ibunya yang melihat drama itu hanya bisa menangis, hatinya pilu dan terluka saat melihat anaknya terpuruk seperti itu. Tapi di sisi lain ia juga tak kuasa menantang keinginan suaminya.
__ADS_1
Angga yang melihat Desi bersimpuh di kaki Ayahnya pun ikut bersimpuh di bawah kaki Ayah Desi.
"Om hukum aku saja, jangan sakiti Desi hatinya sudah terluka jangan lukai fisiknya lagi".
Kali ini Angga memohon dengan tulus dengan berlinangan air mata ia meminta pada Ayah Desi untuk merestui hubungan mereka berdua.
"Berdirilah sekarang. Ayah tahu maksud kalian tapi ini sudah terlambat, bagaimana Ayah menjelaskan pada Pak Yusuf dan Farhan?"Ayah sudah tidak punya pilihan selain tetap melangsungkan pernikahan ini".
"Angga, kalau kamu memang mencintai Desi ikhlaskan dia untuk orang lain". Kata Ayah Desi dengan nada sedikit bersalah.
Mendengar kata-kata itu Desi langsung berlari ke kamarnya dan menangis sejadi-jadinya menumpahkan semua kesedihan yang ia rasakan saat ini.
Angga yang sedari tadi berusaha tegar kini ia tak berdaya dan kehilangan harapan untuk hidup bersama wanita yang ia cintai itu.
Tak ada lagi jalan untuk memperjuangkan cinta mereka, kini hanya air mata yang jatuh berderaian di pipinya.
"Baik Om, kalau itu sudah menjadi keputusan Om".
'Aku pergi!
Dengan langkah yang begitu berat Angga harus meninggalkan rumah itu.
Di rumah Angga!
Sudah hampir subuh mata Angga belum juga terpejam. Tiba-tiba ia teringat kakak iparnya Ustadz Akbar. Angga berniat ingin pindah dari kota itu dan tinggal bersama kakaknya.
Ia juga berniat belajar mendalami ilmu agama. Angga merasa ini adalah keputusan terbaik untuk dirinya dengan mengikhlaskan Desi menikah dengan lelaki lain.
Dirumah sakit!
"Selamat pagi Farah" Sapa Dimas.
"Akhirnya hari ini kamu sudah boleh pulang" kata Dimas dengan nada bahagia.
'Ia Pak.
"Kok mukanya cemberut kayak gitu, belum mau pulang yah?" Goda Dimas.
"Tidak Pak, aku hanya sedih. Selama aku terbaring disini tak seorang pun keluarga Mas Rendi datang menjenguk ku. Apa mereka membenciku?" Kata Farah dengan nada sedih.
"Sudahlah Ra, kamu tidak perlu berpikiran seperti itu mungkin mereka memang lagi sibuk. Justru sekarang kamu harus berpikir bagaimana caranya biar bisa jalan lagi".
"Ra aku ingin membawamu kerumahku biar kesehatanmu tetap terkontrol" Kata Dimas dengan tulus.
__ADS_1
"Tidak perlu Pak, kan kemarin aku sudah bilang kalau aku akan pulang kerumahku saja" Kata Farah.
"Baiklah, aku antar kamu pulang dan nanti kalau sudah sampai sana baru aku hubungi asisten rumah tangga untukmu" Kata Dimas.