Antar Aku Ke Surga

Antar Aku Ke Surga
chapter 14


__ADS_3

Setelah menutup telfonnya Desi berfikir sejenak. ia merasa heran mengapa tiba-tiba Angga mengajaknya jalan-jalan.


“Kenapa pak Angga tiba-tiba ngajakin aku jalan. Apa ada yang ingin dia tanyakan padaku tentang Farah. Ah bodoh amatlah yang terpenting besok aku akan jalan bareng dengan Tuan tampan idamanku”. Desi bergumam sendiri.


Kemudian Desi menarik selimutnya lalu terlelap dalam mimpi-mimpi indahnya.


Bunyi alarm membangunkan Desi yang masih tertidur pulas.


“Aduhh…berisik banget sih”


Tiba-tiba Desi teringat pada pertemuannya dengan Angga. Desi melirik jam yang ada di meja kecilnya. Desi pun terkejut karena ternyata jarum jam itu menunjukkan angka 08:30 yang berarti 30 menit lagi jam 09:00.


“Bagaimana ini 30 menit lagi jam 09:00 pasti sebentar lagi Tuan tampanku itu sedang menuju kemari”


Tanpa aba-aba Desi bergegas ke kamar mandi, setelah itu dia berdandan yang cantik ala-ala Desi.


“Desi kamu sudah bangun nak, ayo makan Ayahmu sudah menunggu di meja makan” kata Ibunya Desi


“Iya Bu sebentar”


Desi keluar kamar dan berjalan menuju ke meja makan. Mereka sarapan dengan tenang hanya terdengar suara sendok dan garpu yang sedang beradu saat itu. Setelah menghabiskan makanannya Desi memulai pembicaraan.


“Ayah, Ibu hari ini Desi ada janji sama teman mau pergi jalan-jalan ke taman XXXII, boleh kan Ayah? Pamit Desi dengan nada sedikit memohon.


“Loh pantasan sudah berdandan cantik sekali seperti ini, memangnya anak Ibu mau jalan sama siapa sih? Tanya ibu Desi penasaran.


“Sama pak Angga Bu”


“Oh, teman apa teman hayoo ngaku?” Tanya Ibu Desi sedikit menggoda putrinya itu.


Mendengar celotehan ibu nya itu Desi pun menjadi salah tingkah.


“Apaan sih Bu, Pak Angga itu pemuda tampan sekelas bangsawan bukan level kita. Jadi gimana Ayah Ibu kasi ijin Desi buat pergi? Tanya Desi.


Belum sempat Ayah Desi menjawab, terdengar bel rumah yang berbunyi.


“Sebentar aku buka pintu dulu yah” ujar Desi sambil berdiri.

__ADS_1


Desi membuka pintu dan sejenak ia terdiam melihat sosok yang ada di hadapannya itu. Angga terlihat begitu tampan dengan menggunakan kaos oblong berwarna putih dan celana yang hanya selutut di tambah lagi dengan kacamata yang ia kenakan menambah ketampanannya. Penampilan Angga kali ini sangat berbeda dengan penampilan yang biasa di lihat oleh Desi yang menggunakan jas dan Nampak berwibawa.


Sama hal nya dengan Desi, Angga yang juga terpesona melihat penampilan Desi yang terlihat sangat cantik dengan pakaian sederhananya. Mereka berdua hanyut dalam lamunan masing-masing dan saling mengagumi satu sama lain.


“Siapa yang datang Des?”


Suara ibu Desi mengejutkan keduanya.


“Assalamu’alaikum tante” Angga mengucapkan salam pada Ibu nya Desi.


“Wa’alaikumussalam” jawab Ibu Desi dengan ramah.


“Mari masuk silahkan duduk pak” Desi mempersilahkan Angga duduk.


Ayah dan Ibu Desi duduk di samping Angga.


“Om, tante perkenalkan namaku Angga Prasetya, aku temannya Desi.


Aku mau minta ijin sama om dan tante untuk mengajak Desi pergi jalan-jalan di taman XXXII” kata Angga dengan sopan.


“Nak Angga, ini baru pertama kalinya Desi di ajak jalan dengan seorang lelaki, om serahkan semuanya sama kamu. Om Cuma berharap kamu bisa menjaga Desi dan juga mengantarkannya pulang ke rumah ini” kata Ayah Desi.


Angga dan Desi pun berpamitan kepada orang tua Desi.


“Pak terima kasih yah sudah mau menjemput ku”.


“Des sebagai lelaki sejati menemui orang tua mu lalu berpamitan itu adalah bentuk rasa hormatku pada mereka”. Jawab Angga yang membuat Desi semakin kagum padanya.


“Des apa betul yang di katakana Ayahmu tadi, bahwa baru aku lelaki yang pertama mengajakmu keluar rumah?”


Iya. Jawab Desi singkat.


“Apa mungkin aku orang pertama yang singgah di hatimu? Tanya Angga pada Desi.


Masih di perjalanan menuju taman XXXII, belum sempat Desi menjawab pertanyaan Angga tiba-tiba Desi merintih kesakitan.


“Aaawwww”…

__ADS_1


Mendengar suara Desi merintih Angga langsung menginjak rem mobil dengan cepat.


“Ada apa Des?” Tanya Angga khawatir.


“Aduh pak perutku terasa sakit”. Jawab Desi sambil menekan-nekan bagian bawah perutnya.


“Mungkin karena belum sarapan Des?” Tanya Angga lagi.


Desi terdiam ia bingung bagaimana mengatakannya pada Angga ia juga merasa malu untuk jujur pada Angga bahwa ia sedang datang bulan. Desi lupa bahwa hari ini memang sudah tanggal nya dan sebelum berangkat tadi tamu bulanan itu belum ada, tetapi setelah duduk di dalam mobil Desi merasakan ada sesuatu yang keluar dai bagian intimnya.Kemudian Desi merasakan nyeri dan sakit pada perutnya.


“Apa yang harus aku katakan sama pak Angga?” Gumam Desi dalam hati.


“Ada apa Des, apa kamu belum sarapan? “


“Tidak pak, eh anu emmm sepertinya aku lagi kedatangan tamu”. ucap Desi dengan malu-malu.


“Tamu? Kenapa kamu tidak bilang dari tadi kalau kamu ada tamu, kan kamu bisa tunda dulu pertemuan denganku”. Kata Angga yang tidak paham dengan tamu yang di maksud oleh Desi.`


“Ihh ngga peka banget nih orang”. Desi bergumam kesal di dalam hati.


“Bukan pak, maksud aku tamu itu aku mau datang bulan. Nih darahnya udah terasa banget mau keluar”. Kata Desi dengan polos.


“Apa Des kamu berdarah? Kamu jangan main-main Des aku takut dengan darah, sekarang kita ke rumah sakit aja yah di sana kamu di periksa sama dokter dan nanti kamu bakal di kasi obat biar darahnya tidak keluar lagi. Jangan sampai darahmu keluar di mobil ini aku bisa pingsan melihatnya”. Kata Angga dengan nada sedikit panik dan raut muka yang berubah menjadi ketakutan.


Desi yang mendengar hal itu justru tertawa sejadi-jadinya.


“Hahahaha apa Bapak takut dengan darah?” Ejek Desi.


“Ini tuh Cuma darah haid pak, kenapa mesti takut. Lagian siapa juga yang mau memperlihatkan darah haid dengan seorang lelaki, malu tahu”. Kata Desi lagi.


Angga yang mendengarnya pun menjadi salah tingkah di buat Desi.


“Maaf Des, aku pikir darah haid itu bisa banyak dan mengalir kemana-mana gitu”. Kata Angga dengan polosnya.


Desi yang mendengar ucapan Angga tadi menghentikan tawanya. Dan berpikir untuk minta tolong pada Angga.


“Pak boleh minta tolong nggak? Tolong belikan aku pembalut merek XXXII di supermarket itu dong”. Kata Desi dengan nada lembut.

__ADS_1


“Aku tidak mau, masa cowok setampan ini beli pembalut. Enggak ah, aku malu”. Kata Angga menolak permintaan Desi.


“Ya sudah, biarkan saja darah ini keluar terus tembus dan mengalir sampai banjir di dalam mobil”. kata Desi sambil berusaha menahan tawanya.


__ADS_2