
Desi sedikit kesal dengan suaminya itu. Karena tidak pernah merasa puas dengannya.
"Kalau begini terus bisa-bisa badanku semakin kurus dibuat Mas Angga" Gumamnya dalam hati.
"Mari aku bantu kamu untuk membuat sarapan" Ajak Angga.
"Emangnya Mas bisa masak?" Tanya Desi yang meremehkan kemampuan suaminya itu.
"Ya iyalah. Kamu pikir aku nggak bisa masak, asal kamu tahu yah aku dan Dimas itu sering masak bareng. Kalau lagi sama-sama galau, Pasti kami akan kumpul saling curhat sambil memasak masakan kesukaan kami" Kata Angga menceritakan bagaimana persahabatannya dengan Dimas.
"Kalau begitu ayo buktikan padaku" Kata Desi dengan menantang Angga.
"Baiklah sayangku. Kamu cukup duduk, diam dan memperhatikan bagaimana chef Angga memasak. Kemudian berikan hadiah kalau masakan ku terasa enak Ok" Kata Angga dengan semangatnya.
"Baik aku akan menunggu masakan mu disini" Kata Desi.
Angga pun kemudian langsung melakukan aksinya. Tak ada gerakan yang kaku saat Angga hendak memulai pekerjaannya. Ia betul-betul terlihat sudah seperti seorang koki yang profesional.
'Tarang...
"Ini nasi goreng spesial untuk bidadari ku. Ayo sayang silahkan di cicipi, semoga kamu suka" Kata Angga dengan penuh semangat.
Desi mencoba untuk memasukkan makanan itu ke mulutnya, sejenak ia berhenti untuk mengunyah makanan itu.
"Ada apa sayang. Apa rasanya tidak enak?" Tanya Angga penasaran karena melihat ekspresi Desi yang sedikit tegang.
"Wah. Harus aku akui kalau suamiku memang koki terbaik" Kata Desi memuji masakan suaminya dengan tulus.
"Jadi masakan ku rasanya enak?" Tanya Angga penasaran.
Desi hanya menganggukkan kepalanya.
"Nah berarti sebentar malam ada hadiah plus-plus dong" Kata Angga dengan senyuman nakal.
Mata Desi terbelalak mendengarnya.
__ADS_1
"Kenapa sayang bukan kah tadi sudah aku bilang kalau masakan ku enak berarti aku berhak meminta hadiah" Angga mencoba mengulangi kata-kata nya tadi sebelum ia memasak.
"Ih dasar Mas Angga mesum. Kalau aku tahu tadi begini akhirnya mending aku bilang masakannya keasinan". Lirih Desi.
Mendengar jawaban Desi. Angga tertawa kecil kemudian ia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum berangkat ke kantor.
Setelah beberapa lama Angga sekarang sudah siap untuk berangkat ke kantor. Desi kini mengantarkan suaminya ke depan pintu dan mencium punggung tangan suaminya itu dengan lembut. Angga pun membalas dengan mencium kening Desi.
"Ingat kamu tidak boleh keluar rumah tanpa seizinku, dan jangan izinkan tamu masuk kalau kamu tidak kenal. Aku takut terjadi sesuatu denganmu, karena kamu adalah segalanya bagiku sayang" Kata Angga penuh perhatian.
Angga benar-benar suami idaman setiap wanita. Ia begitu perhatian, tampan, romantis dan tajir. Mana ada wanita yang tidak tergila-gila dengan lelaki seperti dia.
"Baik Mas aku akan menuruti semua perintahmu" Kata Desi dengan senyum manisnya.
"Baiklah kalau begitu Mas mau berangkat dulu. Kalau ada apa-apa langsung kabari Mas yah" Pamit Angga.
"Iya Mas, hati-hati di jalan jangan telat makan dan jangan pulang kemalaman yah, karena aku menunggumu dirumah untuk makan malam bersamaku" Kata Desi dengan manja.
"Siap Ibu Bosku. Assalamu'alaikum" Kata Angga dengan gaya hormatnya pada Desi sambil tertawa kecil.
Mobil Angga pun meninggalkan halaman rumah itu menuju kantor tempat ia bekerja. Desi kemudian masuk ke dalam rumah dengan perasaan penuh syukur atas nikmat yang Allah berikan yaitu lelaki yang sangat mencintainya dengan tulus.
Ia pun kini menuju dapur untuk membereskan dapur tempat suaminya memasak tadi. Sesekali ia tersenyum saat mengingat tingkah lucu suaminya itu saat meminta sesuatu layaknya seorang anak kecil yang sedang bermanja pada ibunya.
Begitulah rumah tangga Desi dan Angga yang penuh kebahagiaan yang berbanding terbalik dengan kehidupan rumah tangga antara Dimas dan Farah yang dipenuhi sandiwara.
Di Apartemen Dimas!
Hari ini Dimas pulang agak larut malam.
"Assalamu'alaikum Bi" Kata Dimas memberi salam pada Bi Surti yang membukakan pintu untuknya.
"Wa'alaikumussalam Tuan" Jawab Bi Surti.
Dimas kemudian langsung menuju ke kamarnya, ia menemukan Farah duduk di atas ranjang sedang memainkan handphonenya.
__ADS_1
"Eh Mas, Mas sudah pulang. Biar aku siapkan air hangat untuk Mas yah, biar tidak kedinginan" Kata Farah mencoba untuk berdamai dengan kenyataan bahwa ia harus melayani suaminya itu dengan baik.
"Tidak perlu repot-repot Ra. Aku belum mau mandi" Kata Dimas sambil meletakkan jasnya.
"Kalau begitu biar aku siapkan makan malam saja yah, kebetulan aku juga belum makan. Aku mau nunggu kamu Mas" Kata Farah lirih.
"Farah aku minta maaf karena aku juga lagi nggak nafsu makan sekarang. Aku capek, aku hanya ingin istirahat" Kata Dimas dengan nada lelahnya.
Ia sengaja tidak mau memandangi wajah.
"Kalau kamu lapar kamu makan saja sendiri, aku belum lapar. Lain kali kamu nggak perlu nungguin aku untuk makan malam, kalau sudah waktunya makan malam kamu langsung makan saja, jangan sampai kamu jatuh sakit lagi" Kata Dimas sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
"Baik Mas, aku juga mau minta maaf Mas" Kata Farah tertunduk.
"Minta maaf untuk apa Ra, kamu nggak bersalah. Sudah sana makan ini sudah larut malam. Aku juga mau membersihkan badan sebentar lalu kemudian tidur" Kata Dimas sambil beranjak dari sofa.
Dimas kemudian menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi Dimas merasa benci dengan dirinya sendiri yang mungkin saja tingkah lakunya kali ini sudah berlebihan dan sudah sangat menyakiti perasaan Farah.
Sementara Farah sangat merasa kecewa dengan penolakan yang dilakukan oleh Dimas.
"Mas sesungguhnya aku ingin perbaiki semua ini Mas. Apakah aku sudah terlambat untuk memperbaiki semua kesalahanku?" Gumam Farah lirih.
Farah kemudian memilih untuk langsung tidur. Ia terpaksa menahan rasa lapar yang sedari tadi ia rasakan. Dimas yang baru saja keluar dari kamar mandi, kini melihat Farah yang sudah terlelap tidur justru merasa kasihan dengan Farah yang tidur sambil memegang perutnya.
"Apa sebenarnya yang ada dipikiran Farah, mengapa tadi ia tiba-tiba berubah seperti itu. Ah entahlah aku tidak ingin terhanyut dalam sandiwara ini" Gumam Dimas dengan lirih.
Ia pun kemudian langsung mendekati sofa yang tidak jauh dari tempat tidur Farah. Ia pun merebahkan tubuhnya di atas sofa itu dan terlelap dalam mimpi indahnya.
Farah terbangun dari tidurnya saat mendengar adzan subuh berkumandang. Ia pun menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu melakukan sholat subuh. Setelah selesai sholat ia melirik Dimas yang masih tertidur pulas.
"Mas kamu pasti capek " Kata Farah sambil memakaikan selimut untuk Dimas.
"Saking capeknya Mas Dimas sudah lupa untuk memakai selimut" Ucap Farah lirih sambil tersenyum.
Kemudian ia langsung menuju dapur untuk membantu Bi Surti menyiapkan sarapan.
__ADS_1