Antar Aku Ke Surga

Antar Aku Ke Surga
chapter 4


__ADS_3

Mudah untuk mengatakannya tapi tidak dengan hatinya. Farah betul-betul terluka bahkan merasa hancur saat ini. Dimas berdiri dan mengambil baju di lemarinya, untung saja Rani pernah tinggal di apartemen itu beberapa hari yang lalu dan meninggalkan beberapa lembar baju disana.


“Ini baju untuk kamu, bersihkan tubuhmu dan pakailah pakaian ini. Maaf karena aku sudah merusak bajumu”. Kata Dimas sambil memberikan baju untuk Farah.


Tanpa basa-basi Farah mengambil baju itu lalu pergi ke kamar mandi. Di bawah guyuran air Farah menangis sejadi-jadinya. Tak lama kemudian Farah keluar dengan memakai baju bekas Rani.


“Farah mari kita makan dulu aku sudah memesan makanan untuk kita berdua” Bujuk Dimas.


“Tidak Tuan aku pergi saja, Bibi pasti mencari ku” Tolak Farah.


“Tapi bagaimana dengan lehermu yang penuh dengan tanda merah itu. Apa bibimu tidak akan curiga?” ucap Dimas


Sejenak Farah berpikir apakah langsung pulang kerumah bibi atau kerumah Desi? Tapi sama saja pasti keduanya akan bertanya hal yang sama.


“Ya Allah kemana lagi aku pergi sungguh aku benar-benar hancur”. Farah merintih dalam hati.


'Hey…


Dimas membuyarkan pikiran Farah.


"Apa yang kamu pikirkan Farah aku sudah bilang aku akan bertanggung jawab. Tolong berikan aku kesempatan untuk menebus kesalahanku Ra” Ucap Dimas.


Lagi-lagi Farah menolak.


“Tidak Tuan aku takut keluargamu tidak bisa menerimaku yang miskin ini. Aku takut Tuan”. Kata Farah


“Itu urusanku Farah”. Dimas membujuk Farah dengan lembut.


“Maaf Tuan aku tidak bisa, aku harus pergi”. Ucap Farah lagi


Saat Farah hendak berdiri Dimas menarik tangannya dan berkata “bagaimana kalau kau hamil anakku, apa kamu siap menanggung beban itu”. Tanya Dimas


“Biar semua aku yang menanggungnya Tuan”. Jawab Farah


“Baiklah kalau itu pilihanmu, aku tidak bisa memaksamu kalau kamu tidak siap menikah denganku. Tapi jika suatu saat kamu hamil anakku, aku harap kamu datang menemui ku”. Tegas Dimas


Farah hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.

__ADS_1


“Aku pamit pulang Tuan”. Ucap Farah


Dimas hanya bisa menatap punggung wanita itu sampai hilang di balik tembok.


“Ya Allah kemana aku harus pergi, sepertinya pertahanan hidupku sudah runtuh aku merasa sudah tidak layak lagi untuk hidup”. Ucap Farah sedih


Sejenak Farah berpikir untuk pergi ke rumah Desi. Farah mengetuk pintu dan berharap Desi ada disana. Ternyata benar dugaan Farah, Desi membuka pintu dan terkejut melihat penampilan Farah yang tidak karuan.


“Ada apa Farah, apa yang terjadi?” Tanya Desi


Farah hanya memeluk Desi dan menangis.


“Ayo Farah kamu duduk dulu, aku ambil air minum dulu untuk kamu”. Bujuk Desi


“Terima kasih Desi”. Kata Farah sambil mengambil air dari tangan Desi.


“Desi bolehkah aku tinggal di rumahmu?” Tanya Farah


“Maksud kamu apa Ra? Kamu akan meninggalkan bibimu sendirian?” Tanya Desi heran


Farah semakin bingung dengan pertanyaan Desi itu.


'Aku…


Farah mulai menceritakan kejadian sesungguhnya kepada Desi.


'Apa?


Desi terkejut saat mendengar penjelasan itu


“Farah kalau aku boleh kasih saran, kamu terima saja permohonan dari pak Dimas itu".


"Apa yang kamu ragukan dengan dia. Pak Dimas Tampan, kaya, dan pasti dia mau bertanggung jawab. Ayolah Farah mumpung belum terlanjur aku takut kamu menyesal nantinya". Bujuk Desi


Desi terus membujuk sahabatnya itu. Tapi Farah masih teguh dengan pendiriannya.


“Aku takut dengan keluarganya yang tidak sederajat dengan aku. Aku takut kelak ketika aku mulai mencintai dia. Justru dia akan berpaling dariku. Aku betul-betul takut Des”. Ucap Farah

__ADS_1


“Baiklah kalau itu keputusanmu aku tetap ada untukmu Ra”. Kata Desi sambil memeluk sahabat sejatinya itu.


Farah memutuskan untuk menghubungi bibinya untuk memberitahu bahwa ia sekarang berada di rumah Desi.


“Halo Assalamu’alaikum Bi. Ini aku Farah, maaf yah tadi malam aku tidak beri kabar. Aku pulang larut malam dan menginap di rumah Desi. Oh yah mungkin aku agak lama tinggal disini mengingat jarak tempat kerja disini lebih dekat. Dan akhir-akhir ini aku kebanyakan lembur. Boleh yah Bi, nanti aku bisa kirim sedikit untuk kebutuhan bibi”. Jelas Farah panjang lebar.


“Baiklah nak jaga kesehatan dan ingat jangan keluyuran ngga jelas”. Kata Bibi dengan nada sedikit sedih.


“Baik Bi, terima kasih Bi. Bibi juga jaga kesehatan ya, Assalamu’alaikum”. Farah menutup kembali telfonnya.


“Maaf Bi, aku terpaksa harus berbohong aku takut jika membuat bibi malu dengan apa yang aku perbuat”. Gumam Farah lirih


Di rumah Tuan Dimas


“Dimas kamu kenapa nak pakaian kamu acak-acakan begitu?


"Dari mana saja kamu, baru ingat jalan pulang, atau baru ingat kalau masih punya keluarga?” Tanya Ibu Ani agak kesal.


Ibu Ani tak henti-hentinya berceloteh tentang anaknya yang sudah kurang lebih 1 bulan tidak pulang ke rumah.


“Sudahlah mah aku capek, aku butuh istirahat”. Jawab Dimas


Tanpa menghiraukan ibu Ani yang marah, Dimas pergi begitu saja ke kamarnya dan meninggalkan ibunya yang lagi kesal.


“Malam Mah”. Sapa Dimas kepada ibunya yang dari tadi menunggunya di meja makan.


“Dim, bagaimana dengan hubungan kamu dengan Rani masih berjalan dengan baik kan? Soalnya Ayah Rani terus bertanya pada Mamah kapan kamu melamar anaknya?”kata Ibu Ani dengan semangat.


“Maaf Mah aku sudah putus dengan Rani sebulan lalu”. Ucap Dimas


“What? Kenapa bisa Rani gadis yang baik, cantik, seksi dan yang penting dia dari keluarga yang terpandang”. Kata Ibu Ani.


“Ia Rani memang berasal dari keluarga yang terpandang tapi sikapnya yang tukang selingkuh itu sangat tidak terhormat mah”. Ucap Dimas jujur.


“Cukup Dimas. Pokoknya mamah tidak mau tau kamu harus menikahi Rani karena itu adalah permintaan terakhir ayah kamu Dimas. Dan mamah akan mengurus pernikahan kamu secepatnya”. Kata Ibu Ani


Akhirnya makan malam jadi berantakan. Dimas kembali ke kamar. Kata-kata mamah nya tadi terus terngiang di telinganya.

__ADS_1


“Untuk menikahi Rani rasanya tidak mungkin Mah”. Lirih Dimas


“Bagaimana kabar Farah apakah dia baik-baik saja? Mungkin aku harus mencari anak itu” Lirih Dimas lagi.


__ADS_2