Antar Aku Ke Surga

Antar Aku Ke Surga
chapter 7


__ADS_3

Farah melirik jam dinding ternyata sudah waktunya sholat maghrib.


“Aku sholat dulu biar aku merasa lebih tenang”.


Sementara di tempat lain Rendi juga sedang melaksanakan sholat maghrib. Setelah selesai sholat Rendi mengambil Al-Qur’an lalu melantunkan ayat-ayat Allah dengan suara merdunya. Itulah Rendi seorang lelaki tampan nan religius, berhati tulus dan apa adanya.


“Sudah jam 8 Farah pasti sudah menungguku disana”.


Hanya dengan bermodal motor matic miliknya. Rendi dengan semangat menjemput wanita pujaannya.


“Assalamu’alaikum” ucap Rendi


Tak lama kemudian Farah keluar lalu menjawab salam Rendi “Wa’alaikumussalam”.


“Sudah siap?" Tanya Rendi.


"Sudah dong” jawab Farah dengan senyum manis. Senyum yang mampu membuat lelaki akan terhipnotis melihatnya.


“Akhirnya kita sampai juga, kamu mau pesan apa?" Tanya Rendi.


"Terserah kamu aja Rend” Jawab Farah.


“Baiklah” ucap Rendi sambil berdiri untuk memesan makanan


“ Mba saya pesan bakso 2 dan es teh 2 gelas yah” kata Rendi.


Setelah memesan makanan Rendi kembali ke tempat Farah. Memang tempatnya sederhana tapi tempat itu adalah tempat favorit Rendi karena baksonya terkenal enak. Tak lama kemudian pesanan pun datang.


“Yuk di makan Ra” Rendi menawarkan


“Iya makasih Rend” ucap Farah.


Setelah selesai makan mereka kembali ke tempat parkir.


“Ra kamu mau langsung pulang atau masih mau menghirup udara malam ini” Tanya Rendi.


“Terserah kamu saja Rend” jawab Farah singkat.


“Kok terserah terus sih? Protes Rendi.


“Kalau aku minta di cium terserah juga” Tanya Rendi sambil menahan tawa.


Sementara pipi Farah sudah merah merona karena malu.


“Apa-apaan sih kamu belum pacaran sudah minta di cium” ucap Farah


“Oh berarti kalau sudah pacaran nanti boleh yah di cium” lagi-lagi Rendi membuat Farah semakin malu.


Farah mencubit pinggang Rendi sambil berkata “Ihh kalau kamu masih terus menggodaku aku pulang sendiri aja”.

__ADS_1


Di perjalanan pulang tak ada sepatah kata pun yang mereka ucapkan. Masing-masing merasakan kebahagiaan tersendiri.


“Kok berhenti di taman? Tanya Farah heran.


“Aku mau duduk disini dulu Ra, bolehkan” ucap Rendi


“Baiklah”


Hening. Jangan tanyakan pada jantung Farah yang sudah seperti suara gendang yang tiada henti-hentinya berdegup kencang.


Rend. Farah memulai pembicaraan.


“Aku sudah memikirkan jawaban dari perasaanmu kepadaku. Dan semoga keputusan ini tidak salah”.


Rendi menatap Farah dengan serius dan penuh harap


“Aku menerima cintamu Rend” Farah tertunduk malu.


Mendengar jawaban dari Farah, Rendi sangat bahagia tanpa sadar ia langsung memeluk tubuh mungil Farah dengan erat.


“Terima kasih Ra, aku mencintaimu Ra” Rendi berteriak kencang hingga orang yang ada di taman itu memperhatikan mereka berdua.


Farah mendorong tubuh Rendi “apaan sih malu tahu”.


“Maaf yah Ra. Aku Cuma lagi bahagia aja karena cintaku terbalas. Aku janji akan menjagamu dengan sepenuh hati. Apa yang sudah ku genggam enggan untuk ku lepas” prinsip Rendi yang membuat Farah kagum padanya.


“Kita pulang Rend, ini sudah jam 10 malam aku takut ada fitnah” kata Farah.


Kata sayang yang di ucapkan oleh Rendi membuat mata Farah melotot.


“Lho kenapa ekspresinya begitu, sekarang kamu kan pacarku jadi boleh dong aku panggil kamu dengan sebutan sayang” rayu Rendi.


'Terserah.


Kata Farah sambil tersipu malu.


“Sekarang naiklah tuan putriku kita pulang” ucap Rendi.


Rendi sengaja melajukan motor dengan kecepatan tinggi agar Farah memeluknya.


“Jangan laju-laju Rend aku takut jatuh”


“Peluk aja yang kencang pasti ngga jatuh”


“Ihh kamu modus lagi yah”


“Engga sayang aku sengaja melajukan motornya biar cepat nyampenya”


Tak lama kemudian mereka sampai di depan rumah .

__ADS_1


“Farah mau masuk dulu, mas hati-hati yah” ucap Farah


“Iyah kamu juga hati-hati yah di rumah sendirian, jaga diri baik-baik semoga mimpi indah Assalamu’alaikum” pamit Rendi


“Wa’alaikumussalam.


Dua bulan sudah berlalu hubungan antara Rendi dan Farah yang semakin dekat bahkan Rendi berkeinginan untuk melamar Farah. Lain halnya dengan rumah tangga Dimas, semakin hari justru semakin kacau. Dimas tidak pernah menghiraukan keberadaan Rani sebagai istrinya, dia justru memilih untuk menghabiskan waktunya di kantor.


Dimas justru memberikan tanggung jawab kepada asistennya yang bernama Yoga untuk selalu memantau semua aktivitas Rani.


“Semua barang bukti sudah ada di tanganku Tuan. Sekarang istri Tuan berada di hotel XXXII bersama Roy. Yoga melaporkan tentang istri Dimas yang sedang bermesraan di sebuah hotel.


“Bagus cepat kirimkan foto dan videonya” perintah Dimas.


“Sejak dulu aku memang tidak percaya padamu Rani” gumam Dimas.


Tiba-tiba Angga datang memberikan kejutan pada Dimas


“Selamat pagi bro”.


Dengan wajah datar Dimas menjawab


“Pagi”.


“Kamu kenapa Dimas sudah seperti mayat hidup , sikap dingin kamu sudah semakin menjadi-jadi saja. Oh ya aku minta maaf karena tidak bisa hadir ke pesta pernikahanmu. Bagaimana hubunganmu dengan Rani apa baik-baik saja? Tanya Angga penasaran.


“Dari mana aja kamu mengapa sejak pesta pernikahan sahabat kita Andre kamu tiba-tiba menghilang. Kamu tahu apa yang terjadi malam itu? Semua itu karena ulah kamu Ngga” kata Dimas dengan nada agak kesal.


“Maksud kamu apa?” Angga tidak terima di salahkan seperti itu.


“Gadis yang kamu perkenalkan sama aku untuk menjadi teman kencan ku selama seminggu itu” Dimas menggantung kalimat itu.


“Kenapa, ada apa dengan Farah Dim. Dimas tolong jawab ada apa dengan Farah? Angga semakin penasaran.


Dimas mencoba menceritakan semuanya kepada Angga tentang kejadian waktu itu Angga terkejut seolah tak percaya.


“Bagaimana bisa Dim. Jadi dimana Farah sekarang apa dia tidak hamil?


“Aku tidak tahu, sejak kejadian malam itu aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Aku sempat berpikir untuk mencarinya waktu itu, tapi mamah tidak setuju. Justru dia tetap memaksaku untuk menikah dengan Rani. Bahkan sampai sekarang aku belum menyentuh Rani, aku jijik sama dia Ngga” kata Dimas.


“Gitu aja kok repot Dim, kamu tinggal ceraikan saja dia”


“Aku akan lakukan itu jika semua bukti sudah di tanganku. Karena mamah tidak pernah percaya padaku kalau Rani bukan wanita baik-baik. Aku hanya butuh bukti yang kuat buat mamah agar dia percaya” .


“Angga sebenarnya selama ini kamu kemana, apa kamu ada masalah dengan Nia kekasihmu? Tanya Dimas kepo.


“Sebenarnya aku ada masalah dengannya Dimas. Dan aku sudah tidak bersamanya lagi” Angga memulai pembicaraannya dengan nada sedikit sedih.


“Masalah apa Ngga. Kok bisa?”

__ADS_1


“Dia lebih memilih mengejar mimpinya untuk melanjutkan S2 di Belanda tanpa menghiraukan aku, dan tidak menganggap aku sebagai bagian dari masa depannya” kata Angga curhat.


__ADS_2